
"Aku muak sekali melihatnya! Mama lihat kan bagaimana wajah songongnya tadi? Bisa-bisanya dia berlagak seperti itu," gerutu Angela. Ia masih ingat jelas bagaimana dirinya di hina oleh Alin.
"Pakai segala membalikkan fakta lagi. Apa dia pikir sudah hebat? Sudah berkuasa setelah mendapatkan Daniel begitu? Rasanya aku ingin mencakar wajahnya jika saja tidak ada papa di sana."
Warda mengangguk setuju. Ia juga jadi korban atas tindakan Alin tadi yang membalikkan ucapannya.
"Apalagi dia yang mengatakan kalau Mama ahli dalam hal rebut-merebut. Apa dia pikir sudah wah begitu? Kalau bukan karena bantuan Daniel, dia tidak akan jadi apa pun!" Warda sama marahnya.
"Aish, aku kesal! Harusnya aku yang menikah dengan Daniel, tapi kenapa dia malah menikah dengannya? Harusnya dia mati saja waktu itu supaya tidak merepotkan seperti ini!" Angela sampai menggebrak meja karena merasa kesal.
"Sangat sulit untuk mendapatkan perhatian Daniel. Bahkan aku menggodanya saja tidak mempan baginya. Tapi setelah aku berhasil menaklukannya kenapa malah dirusak begitu saja?!"
Warda sampai menutup telinga karena mendengar teriakan anaknya. Ia juga pusing, tapi tambah pusing juga melihat Angela yang seperti itu. Akibat dari berita itu, ia sampai dibenci oleh rekan-rekan arisannya dan dicemooh sebagai wanita yang murahan. Bukankah itu sudah sangat memalukan?
"Tapi untuk saat ini kita harus mengalah. Kita ikuti rencana dia dulu," ungkap Warda.
"Kenapa?" Sebelah alis Angela terangkat.
"Kita terlalu berbahaya untuk melanjutkan sekarang. Apalagi kan ini berhubungan dengan papamu dan Daniel. Jika kita tidak mencari aman, bisa-bisa mereka akan mendepak kita."
Angela memalingkan muka lantas berdecih.
"Juga, kita harus datang ke acara pernikahan mereka."
"Mama gila!" sentak Angela.
"Lantas harus bagaimana lagi? Kalau kita tidak datang itu semakin membuat kita terlihat buruk. Jadi, kita harus datang bagaimana pun keadaanya." Wanita paruh baya itu tetap pada pendiriannya, meskipun mendapatkan penolakan dari Angela.
"Ck, bagaimana bisa aku datang di pernikahan mantannku sendiri?" Angela masih tidak terima dengan itu.
"Bisalah. Lagipula bukannya menikah dengan Daniel bukan karena cinta, lalu kenapa malah tersaikit seperti ini. Angela, cepatlah lupakam si Daniel itu. Masih banyak pria tajir di luar sana," jawab Warda.
Angela memalingkan muka dengan kesal. Benar juga, ia menikahi Daniel karena harta waktu itu, tapi sekarang jika melihat dia menikah dengan wanita lain, Angela merasa sesak melihatnya.
"Cepatlah move on. Anak mama itu cantik, dan bisa mendapatkan yang lebih. Ayolah, masa hanya karena seorang Daniel sampai galau seperti ini?" Warda memegang tangan anaknya dengan erat. Menaikkan sebelah alis.
__ADS_1
"Ck!"
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kita pergi ke mall atau salon begitu. Tidak ada gunanya bersedih-sedih seperti itu."
Angela akhirnya mengikuti ibunya. Ia juga sudah muak dengan yang terjadi. Mungkin merefresh diri bisa mengembalikan Angela yang strong lagi.
***
"Alin, ini ada hadiah untuk kamu. Nenek secara khusus memesankannya untukmu," ucap Sasi sambil memberi bingkisan itu kepada Alin.
"Wah, terima kasih, Nek. Kenapa repot-repot seperti ini? Alin kan jadi merasa bersalah."
"Merasa bersalah bagaimana? Kamu kan sebentar lagi jadi bagian di keluarga Maheswara, itu artinya kamu juga bakalan masuk ke keluarga ini." Sasi menimpali.
Alin tersenyum. Lalu menatap bingkisan yang diberikan oleh Sasi. Lantas ia membuka bingkisan tersebut, dan ternyata adalah sebuah tas yang sangat cantik. Dan Alin pastikan tas ini belum dirilis di mana pun.
"Cantik sekali, Nek. Alin suka," ucap Alin.
"Harus, dong. Itu tas yang Nenek pesankan dari desainer ternama. Itu dibuat secara khusus dan hanya ada satu di dunia. Khusus untuk Nyonya Maheswara." Sasi dengan antuasias menceritakan.
Alin sampai menutup mulutnya karena terkejut. Tidak menyangka se-spesial itu dirinya. Sampai dibuatkan secara khusus seperti itu.
"Sama-sama. Nenek juga senang kalau kamu suka," jawab Sasi.
Alin tersenyum lebar, lantas mengembalikan tas di dalam bingkisan itu. Menyimpannya dengan segera. Tidak sia-sia ia berkunjung ke rumah Daniel, malah mendapatkan hal istimewa ini.
"Bukankah tadi Nenek sibuk? Memangnya mau ada acara apa?" tanya Alin.
"Oh, itu, nanti ada teman-teman arisan nenek. Jadi, ya, mau menghidangkan sejumlah makanan sebagai sambilan." Sasi menjawab.
"Oh, begitu. Apa yang bisa Alin bantu, Nek? Barangkali kan bisa meringakan pekerjaan."
"Nenek sudah suruh bibi mengurus semuanya. Mulai membuat makanan, mengambil pesanan dan lain sebagainya. Jadi, sepertinya sudah beres. Tidak usah membantu," jawab Sasi sambil minum teh panas di gelas kesayangannya.
"Alin kira tadi ada yang dibantu begitu. Memangnya teman Nenek berapa yang datang ke sini nanti?" Alin menatap Sasi.
__ADS_1
"Sekitar dua puluhan orang kalau tidak salah." Sasi lumayan lupa karena kegiatan arisan sempat beberapa kali tertunda karena adanya suatu masalah.
"Banyak juga, ya?"
"Lumayan lah. Kamu nanti kalau mereka sudah datang, ikut nenek, ya? Sekalian Nenek mau kenalin kamu ke mereka. Biar mereka tahu siapa calon menantu Nenek," ucap Sasi.
"Tapi Alin malu, Nek." Sebenarnya Alin takut kalau dirinya dijadikan bahan hinaan.
"Malu kenapa? Masa harus malu segala, sih. Kamu itu calon Nyonya Maheswara. Posisimu lebih tinggi, jadi jangan malu lagi." Sasi mencoba memberikan penjelasan. Sementara Alin di sana nampak menerimanya.
Alin mengangguk. Lantas ia menoleh ke arah rumah mencari letak keberadaan Arlo. Bukankah bocah itu beberapa menit lalu bermain di depan televisi?
"Arlo di mana? Bukankah tadi ada di sini?" Alin bingung.
"Lah, iya. Di mana anak itu?" Sasi juga ikut mencari. "Coba cek di kolam renang, barangkali dia di sana."
Alin mengangguk. Lantas ia berjalan menuju kolam renang samping rumah untuk mengecek apakah Arlo ada atau tidak. Benar saja ada suara gemericik air yang diyakini Alin adalah berasal dari perbuatan Arlo.
"Arlo?"
Daniel dan Arlo yang tengah berenang itu segera menoleh ke sumber suara. Sementara Alin di sana hanya berdiri dengan gugup. Pria di sana hanya mengenakan celana pendek dengan bagian atas terbuka, sehingga menampakkan dada bidangnya.
"Mom? Ada apa? Arlo lagi renang sama Daddy," jawab Arlo.
"Oh, mommy kira di mana. Ya, sudah kalau begitu. Jangan lama-lama terus nanti ganti baju," ucap Alin terbata-bata, lalu melangkah pergi.
Arlo di sana hanya mengernyitkan kening bingung. Ibunya pergi begitu saja, padahal kan tadi menanyakan dirinya.
"Dad, mommy kenapa ya kok mukanya merah? Apa jangan-jangan mommy demam? Gawat, Dad, kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Arlo.
Daniel terkekeh. Tadi mengamati Alin yang menurutnya juga aneh.
"Entahlah, mommymu itu kenapa. Daddy juga tidak tahu."
--
__ADS_1
Ekhem, ada yang tahu Alin kenapa?
Komen di bawah, ya...