
"Daniel, ini namanya Merta––anak rekan bisnis Papa. Dia cantik, pintar, berpendidikan dan yang pasti setara dengan keluarga kita. Tidak seperti wanita pilihanmu itu," ucap Pras kepada Daniel.
Daniel menaikkan sebelah alis. Ayahnya itu sungguh berbuat nekat. Padahal berulang kali dia mengatakan tidak mau, masih saja dipaksa.
Pras mengunjungi kantor Daniel dengan anak dari rekan kerjanya memang. Pria paruh baya itu berniat baik untuk memberikan Daniel pendamping waktu acara komverensi pers nanti.
"Maksudnya?" Daniel bertanya.
"Dia wanita yang mendampingi kamu nanti waktu jumpa pers. Papa sudah mengaturnya. Katakanlah bahwa kalian sudah bertunangan, jadi isu itu biar teralihkan. Otomatis pandangan media pasti tertuju dengan hubungan kalian."
"Papa gila!" sentak Daniel.
Mana mungkin Daniel akan mengatakan kebohongan itu? Lagipula Daniel tidak mengenal wanita pilihan papanya itu, sudah main diatur saja.
"Om, mungkin Daniel butuh waktu untuk nerima aku." Wanita bernama Merta itu menimpali.
"Butuh waktu bagaimana? Kau itu wanita idaman para pria, bagaimana Daniel bisa menolaknya begitu saja?" Pras berusaha mengalihkan.
Sementara Daniel di sana nampak mengeram rendah. Ia tidak terima dengan keputusan ayahnya itu.
"Aku punya pilihan sendiri, Pa! Jangan mengaturku lagi!" sentak Daniel.
"Mengatur bagaimana? Ini yang terbaik buat kamu!"
"Aku?!" Daniel menunjuk dirinya sendiri.
"Apa kau pikir bisa menghadapi berita itu tanpa bantuan Papa? Kau pikir siapa yang membantu mengalihkan isu itu, hah?" Pras menatap dengan tajam.
Daniel hanya terdiam, tapi dalam pikirannya ia begitu ingin menghajar ayahnya itu.
"Papa tidak mau tahu, nanti waktu konverensi pers ajaklah Merta juga. Bilang kalau kalian bertunangan dan segera menikah," tegas Pras.
"Daniel juga tidak mau tahu, Daniel tidak akan membawa wanita itu. Daniel punya pilihan sendiri, dan Papa tidak berhak melarang apa pun!" sentak Daniel. Pria itu langsung berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah pergi.
Pras kesal karena Daniel tiba-tiba pergi, padahal dia belum selesai bicara.
"Daniel! Kurang ajar kamu!"
Daniel tidak mengindahkan, ia segera pergi dan langung pergi yang diikuti oleh Vano di belakangnya. Kepergian Daniel itu sontak membuat karyawan yang bekerja melongo tidak percaya.
Daniel mengintruksikan Vano untuk mengantarnya ke suatu tempat. Ia ingin meluangkan waktu sejenak untuk merefresh pikiran.
Setibanya Daniel di apartemen, ia langsung memasukkan kode kunci sehingga pintunya bisa dibuka dari luar. Baru saja Daniel membuka pintu, langsung disambut pelukan di kaki oleh Arlo.
"Dad," panggil Arlo.
__ADS_1
Daniel yang tadinya dibalut dengan amarah langsung mereda mendengar suara anaknya. Daniel berjongkok, menatap mata anaknya dalam.
"Apa kesibukanmu hari ini, huum?" tanya Daniel.
"Tidak ada, hanya mengutik-utik laptop," jawab Arlo.
"Untuk apa?"
"Belajar." Arlo menjawab.
"Biasalah, Arlo memang suka begitu. Dulu pun suka mengotak-atik laptop. Entah apa yang diperbuat," sahut Alin dari belakang––meletakkan nampan berisi minuman di atas meja.
Daniel bangkit dari duduknya, lalu mengajak Arlo duduk di sofa. Dipangkunya anak kecil itu lalu menatap wanita yang saat ini tengah duduk di sofa itu.
"Tumben kau pulang cepat, ada masalah?" tanya Alin.
"Aku ingin mengajakmu ke konferensi pers nanti malam," ungkap Daniel.
"Aku?" Alin menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Sekaligus mengungkap hubungan kita ke publik."
Alin menatap lekat. Ia menatap ke arah pria yang baru mengucapkan kata itu. Daniel terlihat serius mengatakannya, tapi Alin masih sedikit khawatir akan akibatnya nanti.
"Baiklah, kalau itu yang terbaik. Aku akan ikut." Alin memutuskan.
***
Banyak orang media yang berkumpul di salah satu gedung tempat konferensi pers malam ini. Para kolega dan rekan bisnis saling bersapa membicarakan tentang isu yang terjadi. Banyak argumen yang menjatuhkan, banyak juga yang mendukung isu itu.
Daniel nampak casual dengan balutan jas hitam dipadupadankan kemeja putih yang berkelas. Di sebelahnya juga tidak kalah modis seorang wanita berbalut gaun merah marron selutut dengan aksen bagian punggung yang terbuka. Rambutnya dicepol keatas sehingga menampakkan leher jenjang nan putih yang menggoda.
"Siapa wanita itu?"
"Bukankah itu wanita yang ada di berita itu? Kenapa dia bisa ada di sini?"
Alin menatap sekeliling dengan aneh. Semua orang menatapnya penuh curiga. Daniel yang merasakan itu segera menggenggam tangan Alin supaya tidak takut. Memberi kekuatan pada Alin.
"Tuan Daniel," sapa salah satu rekan kerja Daniel.
"Tuan An? Senang bertemu dengan Anda. Terima kasih sudah hadir dalam acara kami," ungkap Daniel.
"Hmmm. Siapa wanita di sebelahmu itu, Tuan Daniel?" Pria tersebut menunjuk Alin.
"Dia Alin. Calon istriku."
__ADS_1
Alin hanya tersenyum sebagai balasan sapaan. Ia mulai asing dengan situasi ini.
"Oh, oke. Sebenarnya ada sesuatu yang aku ingin bicarakan, tapi teman-temanku ada di meja sana. Bisakah kita berbincang sebentar?"
Daniel berpikir sejenak. "Baiklah. Alin, bisakah kau tunggu aku di sini sebentar? Aku akan segera kembali."
Sebenarnya Alin tidak rela, ia takut dengan situasi ini. Namun, Alin tidak bisa membiarkan Daniel melewatkan kesempatan. Ia hanya bisa mengangguk, lalu menyetujuinya.
Alin yang ditinggal hanya bisa menatap sekeliling dengan takut. Ia menuju ke salah satu meja, mengambil sebuah minuman yang tersaji sambil menenggaknya.
"Hai," sapa seseorang.
Alin menoleh. "Oh, hai?"
"Perkenalkan aku Merta. Siapa namamu?"
"Alin." Alin menyambut uluran tangan itu.
"Senang bertemu denganmu, Alin. Mm, kau berada di sini pasti ada kaitannya dengan perusahaan E-Commerce kan? Kau dari keluarga mana? Apa pekerjaanmu saat ini? Ah, kutebak pasti punya usaha besar, secara kan kau bisa berdiri di sini. Di sini tempat bukan untuk sembarang orang," ucap Merta.
Alin hanya menatap dengan aneh. Kenapa dia merasa wanita itu sedang merendahkannya?
"Aku tadi bersama Daniel ke sini," jawab Alin.
"Hah? Oh, apa kau rekan bisnis Daniel yang baru? Daniel memang seperti itu orangnya, selalu memerlakukan koleganya dengan baik." Merta menimpali.
Alin mengernyit. Kenapa Alin merasa bahwa wanita itu sangat kenal dengan Daniel?
"Merta, cepat ke sini!" panggil Pras.
Merta menoleh. "iya, Om. Mm, Alin aku pamit dulu, ya. Soalnya calon mertuaku memanggil. Sampai jumpa."
Alin hanya menganguk. Melihat Merta bersama Pras timbul beberapa pertanyaan di benak Alin. Ia merasa ada sesuatu yang janggal.
"Perhatian semuanya."
Alin mendengar suara seseorang yang mengatensi pandangan semua orang. Alin berbalik dan melihat seseorang yang berada di atas panggung. Merta dan Pras.
"Sebelumnya terima kasih telah hadir dalam acara malam ini. Ada info penting yang ingin saya sampaikan mengenai berita yang beredar waktu itu. Berita itu adalah hoax, karena anak Saya––Daniel––akan segera menikah dengan Merta, anak rekan kerja saya," ungkap Pras.
Perkataan Pras cukup mengejutkan semua orang. Banyak orang yang kaget dan mengucapkan selamat secara bersamaan mengenai berita itu.
Berbeda dengan Alin yang hanya menatap dengan kosong. Bagaimana bisa Daniel mempermainkannya seperti ini? Kenapa pria itu malah menyuruhnya datang dalam acara pempublishan hubungan mereka?
"M-menikah?"
__ADS_1