
"Sayang, ada apa denganmu? Kamu hari ini sangat aneh," pungkas Daniel menghampiri istrinya yang tengah duduk di kursi dekat meja rias. Istrinya sedang menyisir rambut dengan tatapan kosong.
Daniel yang tidak mendapatkan jawaban lantas mengguncang bahu istrinya. Alin terkejut, ia menoleh ke sana dan ke mari karena kaget dengan sentuhannya tadi. Baru Alin sadari bahwa suaminya sudah berdiri di sebelahnya menatap penuh keheranan.
"Iya. Kenapa?" tanya Alin.
Daniel berdecak. "Apa yang kamu pikirkan, huum? Sedari tadi aku lihat kamu kurang fokus dan sedikit sensitif."
"Aku baik."
"Katakan, apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kamu terlalu aneh untuk hari ini. Bahkan memarahi Arlo hanya karena masalah brokoli. Aku yaki ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku, Alin." Daniel memegang bahu istrinya yang nampak menatap lekat kaca besar di hadapannya.
Daniel keheranan. Tidak biasanya Alin bersikap aneh seperti ini. Alin seperti seseorang yang sangat rapuh, bahkan sekali disenggol saja sudah pasti akan tersulut emosi. Terlampau sensitif dan sesekali Daniel lihat Alin menangis tanpa sebab. Hal ini cukup membingungkan untuk Daniel.
"Apa jangan-jangan ..." Daniel mengarahkan pandangannya kepada perut sang istri, lalu mengelusnya perlahan. "Kamu hamil?"
Alin sontak dengan kasar melepaskan tangan suaminya yang berada di perutnya. Berdiri dengan tatapan penuh kebingungan membalas dugaan dari suaminya. Alin menggelengkan kepala, seolah tidak menyetujui ucapan itu.
"Aku nggak hamil," jawab Alin.
"Aku cuma menduga, Sayang. Dan juga, kenapa kamu nampak khawatir?" Daniel bingung. Alin seperti orang linglung.
Alin meneguk ludahnya dengan kasar. Matanya berkeliaran memandang benda di sekitarnya. Tingkah aneh Alin tidak luput dari pandangan Daniel yang merasa istrinya itu benar-benar sangat aneh.
"Kamu nggak ke kantor, Niel? Aku mau ke bawah dulu, tadi aku mau masak," kilah Alin lalu beranjak dari meja rias dan hendak pergi sebelum Daniel mencekal satu tangannya.
Daniel mencegahnya. Menatap dua bola mata indah istrinya yang nampak berkaca-kaca. Daniel merasa bahwa istrinya kalang kabut, takut bahkan hendak pergi dari hadapannya.
"Kenapa?"
"Niel, aku mau masak. Nanti malam kita mau ke pernikahannya Nola, kan? Kamu tunggu di sini, ya?" Alin melepaskan cekalan tangan suaminya dan segera berlari dari kamar.
***
Malam tiba, keluarga kecil Daniel sudah bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan Nola dan Vano. Daniel nampak tampan dengan jas berwarna hitam, Arlo nampak gagah memakai jas warna hitam, juga Alin yang memakai dress warna hitam dengan aksen mutiara melingkari pinggang.
__ADS_1
Pernikahan ini digelar di salah satu gedung yang lumayan mewah. Daniel memberikan sejumlah dana untuk membantu Vano memeriahkan pesta. Sebenarnya Vano menolak dengan tegas bantuan itu karena uangnya sendiri sudah terkumpul dengan cukup untuk pernikahannya. Namun, Daniel terus bersikeras dan akhirnya ia nenerimanya.
"Nola, selamat atas pernikahanmu, ya. Semoga kalian bahagia selamanya," tukas Alin sambil memeluk tubuh Nola yang berbalut gaun hitam senada. Mencium ala-ala wanita lalu tersenyum haru.
"Terima kasih, Alin." Nola menatap sahabatnya juga suami dan anak Alin. "Terima kasih juga karena kalian sudah berkenan datang."
"Bibi, selamat atas pernikahanmu dengan paman Vano, ya?" Arlo berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Nola berjongkok. Mencubit-cubit pipi Arlo yang semakin gembul. "Terima kasih, Arlo. Astaga, kamu semakin tampan sekarang."
"Pastilah, Bi. Aku akan mengalahkan ketampanan Daddy segera," jawab Arlo dengan percaya diri.
Daniel menaikkan sebelah alis. "Mengalahkan Daddy? Mana mungkin bisa. Tetap Daddy yang paling tampan."
"Bisa saja. Kata siapa tidak bisa? Lebih tampanan aku atau Daddy, Mom?" Arlo melihat ibunya yang tengah berdiri sambil tersenyum ke arahnya.
"Kamu." Alin tersenyum menjawab.
"Tuh, kan." Arlo tersenyum bangga. "Tapi menjadi tampan sangat merepotkan. Aku dari awal masuk ke sini, sudah banyak yang mencubit pipiku sampai rasanya sakit."
"Ya ampun, mana yang sakit?" Nola berpura-pura mengelus pipi Arlo, meneruskan sandiwara lucu bocah kecil itu.
"Tapi kenapa Daddy memilih Mommy?"
Daniel menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Sebelum Vano akhirnya datang dan menjawab pertanyaan Arlo tadi.
"Karena Daddy mencintai Mommymu," sahut Vano dari belakang dan langsung memeluk pinggang Nola posesif.
"Astaga, pengantin baru ini rupanya tidak sabaran," pungkas Alin sambil terkekeh. Apalagi melihat sahabatnya yang risih karena pelukan posesif tadi.
"Kita pun sama dulu, Sayang." Daniel pun ikut menyahut dan malah memeluk mesra Alin di sebelahnya.
"Vano, akhirnya kamu menikah juga." Seorang wanita paruh baya datang memberikan selamat kepada pengantin baru. Sasi memang datang dengan Pras, tidak satu mobil dengan Daniel.
"Terima kasih, Nyonya. Sudah berkenan datang ke pesta kecil ini," ucap Vano berterima kasih.
__ADS_1
"Astaga, jangan sungkan seperti itu." Sasi menepuk pundak Vano. "Semoga kalian langgeng dan segera diberikan keturunan."
"Terima kasih."
"Nyonya Sasi, terima kasih sudah berkenan datang di pernikahan anakku." Seorang wanita yang juga berperan sebagai ibunya Vano menyambut penuh senyuman Sasi selaku keluarga dari Maheswara.
"Sama-sama. Menantumu sangat cantik. Pantas saja Vano menyukainya."
"Ah, terima kasih." Pandangan wanita itu teralihkan kepada Arlo. "Ini cucumu, Nyonya? Tampan sekali."
"Iya, ini cucuku. Arlo, ayo jabat tangan Tante Rumi," suruh Sasi. Arlo menurut saja dan menyalami.
"Lucu sekali. Ini cucu pertama, kan? Kapan, nih, mau menambah cucu lagi? Mumpung masih muda loh, Daniel."
Daniel tersenyum menanggapi.
Sasi beralih menatap Alin yang berdiri tidak jauh dari sana. "Benar juga. Arlo sudah besar, Alin. Apa kamu belum mau memberikannya adik?"
Alin tersenyum canggung. Senyumnya meluntur sejak awal pembicaraan itu. Namun, ia tetap harus profesional dalam menyikapi hal ini.
"Tidak usah terburu-buru. Lagipula Arlo kan masih kecil. Kan, Alin?" sahut Nola menengahi pembicaraan itu. Sementara Alin hanya mengangguk menanggapi.
"Ma, sudahlah. Hari ini hari pernikahanku jangan membahas hal yang diluar malam ini. Oke?"
"Mama hanya bertanya, Vano."
Vano merangkul bahu ibunya dan tersenyum. "Sudahlah. Mari kita berpesta saja daripada membicarakan yang tidak-tidak. Semuanya, mari berpesta!"
Musik dimainkan. Semua orang berbondong-bondong menuju ruang dansa dan menari bersama. Berbeda dengan Alin yang hanya memakan makanan sambil duduk melihat orang-orang yang berdansa romantis.
"Sayang, ayo kita berdansa," ajak Daniel penuh semringah.
"Aku capek. Lain kali saja, ya?"
----
__ADS_1
Ini hanya tambahan bab saja, ya. Bukan season 2 atau semacamnya.
Jangan lupa juga baca cerita baru aku yang akan segera aku publish. Terima kasih.