Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Salah Tingkah


__ADS_3

"Aku mau."


Alin menatap dengan senyuman. Hal itu mengundang lengkungan di bibir Raka yang kian mengembang. Pria itu menatap tidak percaya kepada wanita yang ada di depannya itu.


Raka bahkan sudah berani untuk memegang tangan Alin dengan erat. Menatap penuh senyuman di sana. Tidak percaya dengan keajaiban yang terjadi itu.


Alin pun sama tersenyum. Ia membalas tatapan itu. Tatapan yang sama dengan beberapa tahun lalu. Alin tahu, dan Alin masih merasa.


Sampai Raka ingin membuka suara, Alin lebih dulu menyela dengan perkataan yang membuat Raka merasa sakit.


"Kecuali kalau aku wanita bodoh yang diperdayai oleh cinta," sambung Alin.


Raka melongo. Ia kembali menatap Alin dengan tatapan yang sulit diartikan. Baru saja ia dilambungkan tinggi, sekarang ia dijatuhkan dengan kasarnya.


"A-apa maksudmu?"


"Kenapa kau sangat tidak tahu malu, Raka? Kau berselingkuh dengan adik tiriku sendiri, disaat kita akan melangsungkan pernikahan. Kenapa kau dengan tidak malunya meminta kembali denganku? Apa kau sudah tidak waras?" Alin menatap sengit. Raka sudah berhasil memancing amarah dari wanita itu.


"A-aku khilaf waktu itu. Sebenarnya aku juga––"


Alin dengan tiba-tiba saja mengguyur wajah Raka dengan air jus yang ia pesan tadi sehingga pria itu basah kuyup. Alin yang berdiri itu lantas menatap dengan sengit ke arah Raka yang tengah mengusap air jus itu dari wajahnya.


"Itu balasan atas kekhilafanmu itu!"


Alin langsung mengambil tasnya dan pergi dari restoran begitu saja. Hal itu membuat Raka berdiri dan meneriakinya.


"Alin!"


Raka mengumpat. Sudah bajunya basah, Alin pergi meninggalkannya.


Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi mengernyit keheranan ketika melihat Raka basah dengan Alin yang sudah melangkah pergi. Ia melihat makanan yang dipesan masih belum tersentuh sedikit pun.


"Ada apa ini? Kenapa Alin pergi?" tanya Daniel tergesa-gesa. Pria itu langsung beranjak ingin mengejar Alin.


"Tuan Daniel!"


Daniel tidak mengindahkan, ia terus berlari mengejar Alin yang hendak pergi. Ketika ia tahu Alin akan menaiki taksi, tangannya lebih dulu mencekal. Ia butuh penjelasan dengan kejadian ini.


"Kau mau ke mana?" tanya Daniel. Melihat Alin yang terlihat tergesa-gesa.


Alin mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil. Namun, bisa Daniel lihat bahwa wanita itu berkaca-kaca. Sebenarnya apa yang terjadi ketika ia pamit ke kamar mandi tadi?

__ADS_1


Bodohnya tadi Daniel tidak menyuruh BABO untuk menjaga Alin dan malah memerintahkan asistennya itu untuk duduk di meja lain. Jika sudah seperti ini, maka Daniel yang kelabakan sendiri. Tidak tahu jika terjadi hal yang tidak diinginkan ini.


Ekor mata Alin menangkap siluet seseorang berada di depan restoran. Alin tidak pikir panjang, menarik dasi yang dikenakan Daniel sehingga pria itu membungkuk. Alin mencuri satu kecupan di pipi Daniel. Selang beberapa menit, baru menarik diri kembali.


Daniel hanya bisa membulatkan mata kaget. Masih bisa ia ingat jelas bagaimana bibir itu mengecup pipinya dengan lembut. Terkesan dan tulus. Dan Daniel tidak bisa menjabarkan perasaanya lagi. Sungguh, rasanya ingin pingsan di tempat.


Alin terdiam setelah melakukan itu. Namun, bisa ia lihat Raka tengah mengepalkan tangan di sana. Itu memang niat awal Alin untuk membuat Raka cemburu. Lihat saja, benar berhasil.


Berhasil untuk Raka, dan tidak baik bagi kesehatan Daniel.


Setelah itu Alin langsung masuk ke taksi dan pergi dari sana tanpa sepatah kata. Sedangkan Daniel masih berdiam di sana sambil memegangi pipinya yang memanas.


Sial, kenapa Daniel malah salah tingkah seperti ini?


***


"Nenek," panggil Daniel lemas.


Sasi yang melihat cucunya pulang lebih awal itu langsung meletakkan koran di atas meja. Langsung heran ketika melihat Daniel terlihat lemas sambil memegangi dadanya.


"Ada apa, Daniel? Tumben pulang cepat, dan ini kenapa memegangi dada? Dadamu sakit?" Sasi khawatir ketika Daniel meringis berulang kali.


"Tolong kenapa?" Sasi semakin khawatir.


"Sakit, Nek." Daniel meringis sambil memegangi dadanya. Keringat di dahinya juga muncul.


"Sakit kenapa? Bilang sama Nenek."


"Jantung Daniel serasa mau copot, Nek," ungkap Daniel seraya tersenyum malu.


Sasi melongo. Dia sudah khawatir setengah mati, tapi rupanya Daniel hanya bergurau padanya. Kesal, Sasi mengambil bantal di sofa lalu memukulkannya kepada Daniel, hingga pria itu meringis.


"Mau, ya, kamu lihat Nenek serangan jantung!" sentak Sasi tidak suka.


Daniel menatap heran. "Ini serius, Nek. Dada Daniel memang sakit."


"Sakitmu itu yang bukan sakit betulan, Daniel! Astaga, Nenek sampai darah tinggi gara-gara kamu!" Sasi mengelus dadanya karena kesal.


Daniel tersenyum tipis. Melihat neneknya seperti itu malah membuat Daniel merasa senang.


"Kenapa kamu kayak anak ABG jatuh cinta seperti ini, hah? Senyum-senyum tidak jelas," tegur Sasi.

__ADS_1


Daniel menegakkan tubuh. Menampilkan wajah datarnya.


"Tidak apa-apa."


"Yakin? Kamu pikir Nenek bisa dibohongi?" Sasi menyipitkan mata.


Daniel menatap neneknya lekat. Lalu setelahnya bergelayut manja layaknya seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan.


"Eh, eh, kenapa ini?" Sasi heran. Sudah lama cucunya tidak bermanja seperti ini. Jangan salah, ibarat kata, Daniel itu dingin dan sarkas di public, manja dan kekanakan di privat.


"Mau aja," kata Daniel. "Mm, Nek?"


"Iya?"


"Nenek dulu waktu dekat sama kakek gimana?" Sasi mengernyit, tapi ia beberapa menit baru paham.


"Nenek tipe yang suka langsung action daripada omongan. Apalagi kalau dikasari, hmm Nenek akan langsung mem-blacklist nya dari hidup Nenek." Sasi menatap lekat. Dia jadi teringat dengan almarhum suaminya di masa mudanya dulu. Sayang, sekarang hanya tinggal kenangan saja.


"Tapi kalau dikasari karena tidak mau kehilangan bagaimana?" Daniel mencoba curhat.


"Kasar karena takut kehilangan? Itu malah yang bikin kamu semakin kehilangan, Daniel," jawab Sasi.


"Kenapa?"


"Ya, mana ada wanita yang mau dikasari? Kalaupun ada, itu sangat langka. Semakin kamu kasar, semakin tinggi kamu akan kehilangan."


"Jadi, Daniel harus lembut untuk bisa mendapatkan dia?" Daniel menatap dengan lekat.


"Kadang sudah lembut pun masih sulit didapatkan. Itu artinya kamu harus usaha lebih ekstra." Sasi memberikan penjelasan. Padahal dia tahu bahwa Daniel sepertinya memang mengalami kejadian itu.


Daniel mengangguk paham. Ia mulai mengerti apa maksud dari neneknya itu.


"Sebenarnya siapa wanita yang kamu maksud, Daniel? Apa jangan-jangan kau sudah punya kekasih?" selidik Sasi. Sengaja menguji Daniel.


Daniel menggeleng. "Tidak, siapa? Daniel cuman menceritakan kisah teman Daniel saja, Nek. Bukan masalah pribadi Daniel."


"Terus, terus saja bohong," tukas Sasi.


Daniel tersenyum. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi nyaring menandakan ada seseorang yang memanggilnya--yang ternyata dari Vano. Daniel langsung mengangkat panggilan itu.


"Tuan, ada berita bagus. Hasil tes DNA-nya sudah keluar!"

__ADS_1


__ADS_2