
"Bu Guru, apa mommy belum menghubungi?"
"Belum, Arlo. Mungkin dia masih sibuk dengan urusannya."
Arlo mendesah kecewa. Kembali ia duduk dalam salah satu kursi depan sekolahnya setelah mendapatkan kabar itu. Ini sudah waktunya pulang sekolah dan ibunya sampai sekarang belum menjemputnya.
Arlo menendang kerikil ketika rasa bosan mulai menghampiri. Entah ke mana ibunya itu yang jelas sekarang Arlo ingin segera pulang ke rumah.
"Arlo?" panggil seseorang.
Arlo mendongak, menatap siapa yang ada di depannya.
"Paman? Kenapa bisa sampai ada di sini?" Arlo bingung.
Daniel hanya tersenyum. Perlahan ia mulai melangkah dan menghamburkan pelukan kepada anak kecil itu. Arlo yang mendapat serangan tiba-tiba itu hanya menatap dengan bingung.
"Apa mommymu belum menjemput?" tanya Daniel.
"Belum."
"Sekarang bangkitlah, biar paman yang mengantarkanmu pulang."
"Beneran, Paman?" Mata Arlo berbinar.
"Iya. Paman tidak bohong."
"Baiklah. Bu Guru, Arlo akan pulang bersama paman ini. Jadi, Bu Guru bisa pulang," kata Arlo kepada sosok wanita yang berstatus gurunya itu.
"Tapi, Arlo, apakaah dia orang baik?" tanya guru itu sedikit berbisik.
"Aku mengenalnya, Bu Guru. Tenang saja." Arlo mengibaskan tangan.
"Baiklah, kalau itu maumu."
Arlo mengangguk, lantas ia bangkit dari kursi dan berpamitan kepada gurunya sebelum ia beranjak pergi. Daniel di sana hanya menunggu di depan mobil hendak membukakan pintu untuk bocah itu. Hal itu dengan sepengetahuan Vano juga.
"Apa dia anaknya, Tuan?" tanya Vano.
"Benar. Bagaimana, sangat mirip denganku, kan? Aku seperti melihat diriku sendiri waktu kecil," ungkap Daniel dibalas dengan anggukan.
Daniel tersenyum ketika Arlo mulai mendekat. Ia membukakan pintu mobil lalu ikut masuk ketika anak itu sudah memosisikan diri. Mengintruksikan Vano untuk menjalankan mobil dengan segera.
Arlo hanya diam saja sambil mengamati lingkungan luar dari jendela. Bosan, tidak sengaja ia menyenggol berkas yang berada di sampingnya hingga berjatuhan. Arlo memungut berkas itu yang ternyata berisi gambar desain sebuah bangunan.
"Apa desain ini buatan paman?" tanya Arlo sambil menunjukkan bukti itu.
__ADS_1
"Bukan, tapi di rumah ada miniatur gedung seperti itu juga. Apa kamu mau lihat?" tawar Daniel.
"Mau!"
"Oke, kalau begitu, kita mampir dulu ke rumah Paman, baru setelah itu pulang." Daniel mengelus kepala Arlo dengan lembut.
"Eh, jangan memegang! Arlo masih marah ya sama paman! Arlo masih tidak percaya!" Arlo menyentak. Di balas kerutan di dahi oleh Arlo.
"Kenapa paman harus menculik mommmy segala hanya karena belum membayar hutang?"
"H-hutang?" Daniel mengerjapkan matanya berulang kali. Tidak tahu dengan apa yang dibicarakan oleh anak kecil itu.
"Iya! Mommy orang yang baik, pasti akan segera membayar hutangnya. Tapi untuk sekarang, mommy belum bisa." Arlo menjelaskan.
"Apa mommymu mengatakan dia memiliki hutang padaku?" selidik Daniel.
"Iya. Tolong kasih waktu dulu. Mommy pasti bisa membayarnya," ungkap Arlo.
Daniel mengangguk saja. Ia mulai menangkap maksud itu. Pasti Alin lah yang mengatakan kebohongan itu agar Arlo tidak menanyakan lebih dalam.
"Kalau tidak, aku akan bekerja dengan paman. Sebagai gantinya, hutang mommy harus lunas."
Daniel tergelak. Begitu juga dengan Vano yang mendengarnya.
"Kerja? Bocah seusiamu memang bisa apa?" Daniel mencubit hidung Arlo karena terlampau gemas.
"Tidak, maksudku anak seusiamu pasti baru bisa bermain kelereng? Kamu mau mengajak paman bermain bersama denganmu begitu?" Daniel tergelak. Ia menatap bocah itu dengan gelengan kepala.
Sebenarnya Daniel sedang menertawakan masalahnya sendiri. Tidak tahu saja kalau yang meretas perusahaannya adalah orang yang sedang ia tertawakan itu.
Arlo yang merasa direndahkan, ingin buka suara. Ia tadi berkata serius, tidak main-main. Mungkin ia bisa membantu mematikan bisnis musuh, misalnya.
"Bukankah saat ini paman ingin mendapatkan hak agensi karya busana Tuan Alex?" kata Arlo.
Seketika tawa Daniel meluntur. Menatap heran kepada anak kecil di depannya itu. Bagaimana bisa ia tahu rahasianya? Sampai Vano pun menggeleng tidak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
"Bukankah karya istrinya sedang di lelang? Itu caranya," jawab Arlo.
Daniel menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap Vano di sana tidak kalah bingung. Bagaimana bocah itu mengerti urusan bisnis padahal usianya masih dini?
"Aku bahkan bisa mematikan bisnis paman saat ini juga," kata Arlo.
Daniel meneguk ludah kasar. "Ancamanmu itu sungguh mengerikan, Boy."
Daniel lalu terkekeh melihat Arlo. Sebenarnya ia takjub, tapi sedikit bingung juga. Ancaman itu terdengar dua sisi secara bersamaan.
__ADS_1
Mobil kembali menelusuri jalanan. Setelah melewati hari panjang, kini mereka tiba di salah satu rumah mewah milik Daniel. Arlo mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu bergumam takjub.
"Untuk apa terus di situ? Ayo masuk," ajak Daniel.
Arlo mengangguk. Ia mengikuti Daniel dari belakang. Pria itu hanya tersenyum tipis lalu membimbing langkah Arlo untuk masuk ke rumah.
"Nenek! Nenek! Lihat, siapa yang Daniel bawa!" teriak Daniel menggema satu ruangan.
Sasi yang saat itu tengah berada di dapur segera mendekat ketika mendengar suara cucunya itu. Ketika ia hendak menyapa, ia dilahirkan dengan kehadiran sosok anak kecil yang tengah bersama Daniel.
"Daniel?"
"Hai, Nek." Daniel tersenyum manis. Sementara Sasi memandangi bocah kecil itu.
"Dia siapa, Daniel?" tunjuk Sasi kepada Arlo.
Arlo menatap Daniel lekat. Ia juga sama menatap bingung ke arah wanita paruh baya itu.
"Dia Arlo, cucu Nenek," ungkap Daniel.
"C-cucu?" Mata Sasi melebar. Dibalas dengan anggukan mantap dari Daniel.
Wanita paruh baya itu kaget, menatap lekat ke arah anak kecil yang tampak mengerjap polos. Tidak lama lagi, Sasi berjongkok dan memeluk tubuh Arlo dengan erat.
"Astaga, cucu nenek," ungkap Sasi sambil memeluk.
Arlo yang dipeluk hanya mengerjap berulang kali. Ia tidak paham dengan situasi ini. Namun, kerap melihat Daniel yang tersenyum, Arlo membiarkan begitu saja.
Sasi membingkai wajah Arlo lalu mengecup kedua pipi anak kecil itu untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Astaga, kamu sangat mirip sekali dengan Daniel kecil," ungkap Sasi.
Arlo mengerjap. "Daniel kecil?"
"Mmm, Arlo, ini nenek paman. Namanya Nenek Sasi." Daniel memperkenalkan.
"Oh, hai, Nek," sapa Arlo hangat. Sementara Sasi menatap aneh ke arah Daniel karena panggilan Arlo untuk pria itu.
"Nanti Daniel jelaskan, Nek," putus Daniel yang sudah tahu kode itu.
Sasi bangkit dari jongkoknya, lalu mengamati kedua orang di depannya.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama? Kebetulan Nenek baru membuat waffle."
"Waffle? Arlo suka!" sahut Arlo antusias.
__ADS_1
"Arlo suka? Baiklah, kalau begitu, ayo segera meluncur ke dapur!" ajak Sasi menggandeng tangan Arlo untuk beranjak ke dapur.
Sementara Daniel hanya memandangi aktivitas keduanya dengan intens. Sesekali terkekeh juga. Kenapa baru hari ini ia tahu bahwa Arlo adalah darah dagingnya sendiri?