
"Daddy, ayo ke sini! Lihat, boneka besar ini! Apa boleh dibawa pulang?" Arlo mendekati boneka beruang besar yang berdiri di pinggiran. Padahal boneka itu isinya adalah orang. Tidak malu untuk memeluknya.
Daniel terkekeh. Gemas terhadap anak kecil itu. Tingkah Arlo yang menurutnya aktif itu mampu membuat Daniel kewalahan. Memang dirinya yang mengajak Arlo beserta Alin untuk merefresh diri dan pergi ke salah satu tempat bermain, tentunya dengan banyak wahana permainan.
"Hih, kok bergerak," tukas Arlo yang melihat boneka itu bergerak.
"Itu ada orangnya di dalam." Daniel memberi tahu.
"Orang? Oh, hai, paman." Arlo melambaikan tangan ke arah boneka itu, dibalas juga dengan lambaian membuat anak itu tersenyum ceria.
"Dad, aku mau naik itu." Arlo menunjuk ke arah komedi putar yang banyak orangnya.
"Boleh," kata Daniel.
Arlo menggandeng tangan Daniel dan menariknya untuk menuju ke area permainan. Anak itu terlihat sangat antusias sampai-sampai Daniel kewalahan menghadapinya.
Berbeda dengan Alin, wanita itu hanya membuntuti langkah kedua orang itu. Ia berdiri di sebelah permainan itu, melihat bagaimana Daniel dan Arlo tengah berusaha menaiki kuda-kudaan itu.
"Mom, ayo!"
"Kamu aja yang naik," kata Alin.
"Ah, Mommy nggak asik! Dad, bujuk Mommy." Arlo menarik ujung jas yang dikenakan Daniel.
Daniel menatap ke arah Alin. "Apa kau tidak mau ikut?"
"Kalian saja." Alin menolak.
Daniel lantas menatap Arlo. "Kita saja. Mommy lagi capek."
"Oke!"
Alin berdiri tidak jauh dari sana. Sambil melipat tangan di atas dada, ia mengamati bagaimana anaknya terlihat bahagia bersama dengan Daniel. Arlo seperti ada dalam versi berbeda.
Alin pun tidak tahu. Kenapa semua ini harus terjadi padanya. Alin pun juga tidak tega jika harus menjauhkan Arlo dengan ayahnya sedangkan dia sudah tahu bahwa memiliki seorang ayah. Arlo pun pasti tidak akan setuju.
Selama beberapa menit, setelah terpuaskan Arlo dan Daniel turun dari wahana. Mendekati Alin yang masih setia berdiri di sana. Wanita itu mengusap keringat di dahi Arlo yang lumayan banyak menggunakan tisu.
"Astaga, keringatmu banyak sekali," keluh Arlo.
"Tadi seru sekali, Mom!" Arlo tersenyum senang.
"Arlo, sekarang mau mencoba apalagi?" Daniel mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
"Mmm, sepertinya mau masuk itu." Arlo menunjuk ke arah wahana rumah itu yang terdengar banyak suara jeritan.
"Yakin berani?" tantang Daniel.
Arlo menegakkan badan. Memukul dadanya sendiri layaknya seseorang yang sudah kuat dan gagah. Menatap ayahnya tidak kalah sombong.
"Beranilah. Arlo tidak takut apa pun," ucap Arlo sombong.
"Di sana ada hantunya, loh. Mukanya seram-seram. Nanti kaget lagi."
"Arlo berani, kok!"
"Beneran? Jangan sampai di dalam nanti ngompol." Daniel menyentil kening Arlo dengan pelan.
"Arlo tidak akan mengompol." Arlo menatap sinis.
"Sebaiknya jangan yang itu. Nanti Arlo takut lagi." Alin ikut menyahut. Menurutnya juga itu bukan wahana yang bagus untuk anak seusia Arlo.
"Kita pilih yang lain, ya?" tawar Daniel. Ia juga berpikir sedikit berisiko.
"Tapi mau yang itu." Arlo merajuk, masih menunjuk tempat tersebut.
Daniel menghela napas kasar. Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana lagi. Daniel menatap Alin, meminta persetujuan.
"Baiklah kalau begitu. Jangan sampai menangis di dalam sana."
Berulangkali suara mengerikan itu muncul, Arlo nyaris memegangi kaki Daniel karena takut. Ketika dirinya hendak berjalan tiba-tiba saja ada sesuatu yang menakutinya. Membuat Arlo berlari ke arah Daniel dan memeluk pria itu.
"Daddy," rengek Arlo sambil menutup mata.
Daniel mengangkat Arlo hingga tubuh kecil itu berada dalam gendongannya. Ia menatap Alin dan mengintruksikan wanita itu untuk pergi karena Arlo sudah tidak kuat lagi.
Setibanya di luar, Arlo masih menangis keras. Anak kecil itu menyembunyikan wajahnya di leher Daniel karena malu. Ia tadi berjanji untuk tidak takut, tapi nyatanya sekarang malah menangis seperri itu.
"Katanya tadi berani," sindir Daniel.
"Ya, itu ada yang kagetin." Arlo menyahut, meskipun dengan terisak.
Daniel mengelus punggung Arlo lembut. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Ini seperti bukan Arlo yang Daddy punya."
"Arlo, apa kamu mau es Krim?" tawar Alin yang sudah tahu kebiasaan Arlo. Jika menangis, dengan makan es krim akan sedikit meredakannya.
"Mau, Mom."
__ADS_1
"Yaudah, sekarang berhenti menangis dan kita beli es krim."
Arlo turun dari gendongan Daniel dan menggandeng tangan Alin untuk membeli es krim kesukaanya. Setelah mendapatkanya, mereka bertiga duduk di salah satu bangku dengan posisi Arlo yang di tengah.
"Enak?" tanya Daniel.
"Enak banget!" Arlo senang.
"Kalau gitu cepat habiskan, keburu meleleh."
Arlo mengangguk patuh. Lalu mulai menjilati es krim yang dipegangnya. Anak itu terlihat bahagia dengan momen itu, bersama dengan keluarganya yang utuh.
Arlo berdiri di kursi, lalu melihat ke arah dua orang yang mengapitnya.
"Arlo senang sekali bisa seperti ini. Arlo berharap kita bisa terus bersama seperti ini, ya, Mom, Dad." Arlo memandang ke arah dua orang berharganya itu.
Baik Alin maupun Daniel saling mengulum senyum. Melihat binar kebahagiaan dari anak kecil itu membuat hatinya sedikit sakit.
"Arlo mau dicium," tukas Arlo sambil membungkukkan badan sehingga wajahnya tepat berada di tengah-tengah Alin dan Daniel.
Alin dan Daniel sama-sama mendekat hendak mencium. Mereka tidak tahu bahwa Arlo sudah mengantongi rencana licik di otaknya. Ketika melihat kedua orang tuanya sudah mendekat, ia segera menarik diri sehingga orang tuanya lah yang saling mencium.
Daniel dan Alin sama-sama terkejut. Apalagi ketika bibir mereka berdua bersatu. Selang beberapa detik, mereka berdua menarik diri dan memalingkan muka karena malu.
"Hmmm, Mommy, Daddy," ejek Arlo sambil cekikan.
Alin di sana hanya menatap anaknya sinis.
"Sekarang kamu mulai jahil, ya, sama Mommy?" Alin sinis. Meskipun dalam hatinya begitu malu dengan kejadian tadi.
"Aih, pipi Mommy merah!" tunjuk Arlo langsung diiringi dengan cekikan. "Daddy juga!"
Anak kecil itu tertawa di atas kecanggungan dua insan itu. Seperti terlihat bahagia sekali. Daniel hanya menggeleng, lalu menggelitiki tubuh Arlo sehingga dirinya merasa geli.
"Awas kamu, ya. Sudah mulai nakal," tukas Daniel.
"Ah, ampun, Dad! Arlo salah." Arlo berusaha menghindar. Dia beranjak dari kursi dan menghadap kepada Daniel.
"Sengaja, kan, kamu?" Daniel menyelidik.
"Memang! Wleeee." Arlo menjulurkan lidahnya mengejek. Selanjutnya ia terkekeh melihat ekspresi Daniel yang nampak tidak terima.
"Oh, mulai berani ya kamu." Daniel bangkit dari kursinya dan hendak meraih bocah itu sebelum menghindar.
__ADS_1
"Wleee, kejar Arlo kalau bisa!" Arlo menjulurkan lidah lalu berlari kembali.
"Arlo, sini kamu!"