
"Tuan Daniel," sapa Raka yang melihat Daniel sudah tiba di restoran tempat mereka janjian.
Daniel membuka kancing jasnya dan duduk berhadapan dengan Raka. Mereka berdua memang ada janji untuk membahas rencana kerja sama kedua belah pihak perusahaan di sebuah restoran ternama.
"Maaf sudah menunggu lama," tukas Daniel.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan." Raka membalas dengan senyuman.
"Tidak usah formal, panggil nama saja." Daniel menangkis.
"Bagaimana bisa? Saya harus tetap hormat," pungkas Raka.
"Bisa saja. Seperti kau yang melakukan kejahatan bersama kekasihmu itu," timpal Daniel.
"A-apa maksud Anda?" Raka menaikkan sebelah alis.
Daniel tersenyum sekilas, lantas ia menepuk tangan untuk memanggil pelayan––memesan makanan. Setelah selesai, ia kembali menatap Raka sebagai pengalihan.
"Sebenarnya aku cukup tertarik dengan perusahaanmu, dan berniat bekerja sama," kata Daniel membuat Raka mengeluarkan binar di mata.
"Benarkah?" Raka antusias.
"Iya. Tapi ..." Daniel menggantungkan ucapan. "Aku tidak suka dengan dirimu."
"A-apa?" Raka bingung.
"Ya, aku tidak suka jika rekan bisnisku adalah pria yang bejat. Jadi, aku memutuskan untuk tidak menerima tawaranmu."
Raka membulatkan mata, ia tidak tahu alur apa yang terjadi sekarang. Dan apa katanya tadi, tidak jadi kerja sama?
"Aku tahu rencanamu, kalian berhubungan kan waktu aku akan menikah dengan Angela?" Daniel menatap tegas.
Raka kembali terbuat terkejut, tapi ia tetap menormalkan mimik wajahnya.
"Kau mengkhianati Alin dan berselingkuh dengan Angela, tapi apa kau yakin bahwa Angela tidak berselingkuh juga?" ketus Daniel.
Raka kembali dibuat bertanya. Ia mencerna omongan itu. Memang akhir-akhir ini Angela selalu bersikap dingin kepadanya.
"Aku berkata seperti ini bukan peduli padamu, tapi aku hanya ingin kau tidak melakukan hal bodoh kedua kalinya lagi," sambung Daniel.
"Apa maksud Anda mengatakan ini? Jika ingin menghina kekasih saya, rasanya itu sangat melenceng dengan pembahasan kerja sama kita," jawab Raka yang akhirnya membuka suara.
__ADS_1
Daniel tersenyum culas, sudah dalam dugaanya Jika Raka tidak akan terima dikatakan seperti itu. Lantas Daniel menatap Raka dalam sambil melirik objek yang sebelumnya sudah ia rancang sedemikian rupa.
Daniel tersenyum tipis. "Perhatikan arah jam tiga, meja nomor 13."
Raka awalnya ragu, tapi ia mengikuti intruksi dari Daniel. Ia menatap ke arah yang sudah disuruh. Dan Raka melihat seorang wanita dan pria.
"Perhatikan wanitanya. Kau mengenalnya?"
Raka menyipitkan mata, ia merasa tidak asing dengan wanita itu secara rambut dan postur tubuh. Namun, Raka tetap menepis pikiran buruknya. Tidak mungkin kalau Angela wanita itu?
Daniel diam-diam tersenyum melihat apa yang ditatap Raka. Ia juga sama menatapnya. Dan Daniel sudah pastikan bahwa wanita itu adalah Angela.
"Coba telepon kekasihmu," suruh Daniel.
Raka menaikkan sebelah alis, untuk apa menelepon? Ini sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali!
Pada akhirnya ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Angela, dan langsung tersambung di sana. Deringannya juga berbunyi berasal dari wanita yang ada di nomor 13.
"Halo, Angela kau di mana?" tanya Raka.
"Aku sedang berada di rumah, kenapa?"
Raka awalnya tidak yakin, tapi ketika ia menghubungi nomor Angela, wanita di seberang sana juga menerima telepon. Hal itu semakin diperkuat dengan wanita itu yang berbohong.
"Lihat, kan? Dia tidak sungguh-sungguh cinta. Dia hanya ingin hartamu saja, dan sekarang kau sedang diujung tanduk tapi dia malah mencari pria lain. Kau dibuang begitu saja," sindir Daniel.
Raka sudah mengepalkan kedua tangan, ia menatap nyalang sosok wanita di sana. Ia susah mencari jalan untuk tidak bangkrut, tapi kekasihnya malah mencari orang yang lebih kaya.
"Pilihanmu itu. Berselingkuh tapi tidak dapat yang lebih baik," cibir Daniel.
Raka semakin menatap sengit. Ia semakin panas mendengar omongan Daniel tadi. Ia terbakar amarah.
"Nyatanya kau akan kalah dengan pria lain yang lebih kaya."
Daniel tersenyum sinis melihat ekpresi Raka. Memang ini rencananya dengan mengadu domba kedua belah pihak supaya bersiteru. Daniel sudah merancang semua sedemikian rupa supaya ia bisa membalaskan dendam.
"Aku akan berkerja sama denganmu, tapi dengan satu syarat," pungkas Daniel.
Raka langsung menoleh ketika mendengarkan hal itu. Menaikkan sebelah alis karena pria di depannya itu tiba-tiba bersikap aneh kepadanya. Tadi saja Daniel berkata tidak ingin bekerja sama. Namun, sekarang malah berkata seperti itu, membuat Raka heran.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Aku akan menyetujui permintaanku, jika kau menuruti syaratku. Putuskan Angela, buat dia tersiksa, lalu tinggalkan dia dengan luka yang mendalam."
"Apa?!"
Raka membulatkan mata kaget. Bagaimana bisa ia melakukan itu? Bukankah itu sangat kejam?
Namun, jika dibanding dengan Angela, bukankah wanita itu juga sama kejamnya?
"Kenapa? Kesulitan? Kejam? Lalu apa yang dia lakukan itu tidak kejam menurutmu?" sahut Daniel.
"Kau boleh cinta, tapi ini sudah tidak normal. Gunakan akal sehatmu itu."
Raka terdiam. Benar, Angela sudah berani mengusik hidupnya sehingga ia putus dengan Alin, dan sekarang setelah sudah bersama malah berselingkuh dengan pria lain karena keadaan Raka yang sedang susah.
Seharusnya Angela selalu ada di saat dirinya merasa susah, tapi malah memilih pria yang lebih kaya dan meninggalkannya. Raka tidak bisa terima ini.
"Jika kau melakukannya, aku sudah pasti akan menerima tawaran kerja samamu dan membantu perusahaanmu untuk bangkit," sambung Daniel
Raka mengepalkan kedua tangan di samping badan. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Sampai pada akhirnya Daniel bangkit dari kursinya.
"Aku tunggu jawabanmu segera. Pikirkan matang-matang. Pilih cintamu, atau perusahaanmu itu," kata Daniel yang langsung berbalik dan melangkah pergi.
Raka mengamati Daniel yang sudah pergi, ia lantas kembali menatap Angela di sana yang sudah bersama pria lain. Berani-beraninya Angela berselingkuh, sementa dirinya berjuang mati-matian untuk tetap bersama?
Daniel pergi dengan asisten yang siap siaga di belakangnya. Daniel menatap Vano lekat.
"Van, berikan sejumlah uang bagi pria itu. Buat Angela bergantung pada pria itu, dan suruh dia meninggalkanya segera setelah Angela tunduk."
"Baik, Tuan."
Pria yang bersama Angela adalah orang suruhan Daniel. Intinya adalah pria bayaran yang Daniel gunakan untuk menghancurkan Angela. Dan sesuai rencana, hari ini tepat sasarannya. Mereka berdua pastinya akan bertengkar hebat.
Mudah sekali untuk mengelabuhi Angela, wanita itu akan langsung berpaling kalau ada saja pria yang bergelimang harta. Jadi, Daniel mengutus seseorang untuk berpura-pura kaya dan menuruti semua omongan Angela, setelah terikat Daniel akan menyuruh orang suruhannya pergi meninggalkan.
Daniel tersenyum culas, lalu pergi dari sana.
***
Suportt cerita ini dengan like, coment, dan berikan vote supaya cerita ini bisa berkembang..
terimakasih..
__ADS_1