
"Berapa hargamu? Katakan berapa nominalnya. Aku akan membayar sesuai yang kau inginkan, tapi sebagai balasan tinggalkan Daniel untuk selamanya."
Gila! Benar-benar gila!
Alin tidak habis pikir dengan pria paruh baya di depannya itu. Kenapa Alin diibaratkan sebagai barang tengahan seperti ini? Layaknya seorang wanita panggilan yang pergi setelah dibayar.
"Apa maksud Anda?" Alin menaikkan sebelah alis.
"Aku tahu kau tidak begitu bodoh dengan maksud dari perkataanku tadi. Sebutkan berapa nominalnya, akan aku penuhi," jawab Pras.
Alin semakin dibuat kesal. Seumur-umur dia diperlakukan seperti ini ya dengan ayahnya Daniel ini. Jika Alin memang gila harta waktu itu dia tidak akan pergi ke london untuk menjauhi Daniel.
Pras yang melihat raut wajah kebingungan itu mengerti. Lantas mengambil sesuatu dari balik saku celananya dan meletakkan di atas meja. Sebuah kertas cek dan bolpoint hitam.
"Kau ingin menulisnya sendiri, kan? Isilah sesuai maumu," tukas Pras.
Alin menatap nanar sebuah cek di depan matanya itu. Lalu kembali menatap ke arah Pras yang nampak menyeringai di sana.
Alin memegang bolpoint dan cek itu yang mana membuat Pras menarik sudut bibir karena berhasil memancing wanita itu. Namun, sedetik kemudian kesimpulannya teralih ketika Alin memilih mengembalikan cek itu dan menolak pemberiannya.
"Saya tidak semurah itu," tutur Alin.
Pras mengernyitkan dahi. "Lalu, kau melewatkan kesempatan ini? Akan kupastikan setelah kau lepas dari Daniel, hidupmu akan terjamin."
"Maaf, tapi saya tidak berniat mengambil tawaran itu. Terima kasih." Alin menolak halus.
Pras menatap dalam. Kemudian menghela napas kasar. Memasukkan sebuah cek itu ke saku celananya lagi. Bersandar di sofa dengan kedua tangan direntangkan seperti layaknya seorang raja yang menguasai kerajaan.
"Oh, aku tahu. Cerdik juga rencanamu ternyata. Katakan, apa motifmu sebenarnya mendekati anakku? Tidak mungkin kan kau akan menutup tangan dari keluarga Maheswara? Keluarga ini terlalu besar untuk kau genggam." Pras berkata penuh sindiran.
Alin meneguk ludah kasar. Lama-lama ia juga tidak tahan ketika dirinya terus menjadi korban.
"Sebenarnya apa motif Anda ingin memisahkan saya dengan Daniel? Apa saya begitu menjijikkan di mata Anda?" tanya Alin.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Daniel mendapatkan jodoh terbaik," jawab Pras.
"Terbaik yang Anda katakan sangat menyiksa Daniel." Alin menyangkal.
"Atas dasar apa kau bisa mengatakan itu? Aku yang merawatnya dari kecil, dan aku tahu pasti apa yang terbaik untuknya." Pras juga tidak mau kalah dengan menyangkal.
"Anda merawatnya, tapi tidak dengan mengenalnya. Anda hanya tahu satu sisi Daniel, sementara dia punya banyak sisi yang masih disembunyikan," jawab Alin tegas.
Pras menaikkan sebelah alis. Wanita di sebelahnya itu cukup berani untuk mengatakan hal demikian.
"Bukan ini yang Anda maksud, saya tahu ada alasan lain. Apa salah saya hingga saya diminta pergi dari hidup Daniel?" Alin masih tegas bertanya.
Pras menatap dengan sinis, sampai dia menjawab, "kau terlalu rendahan untuk anakku yang punya segalanya."
"Siapa yang rendahan?"
Sahutan itu berasal dari bocah yang berdiri tidak jauh dari tempat kedua orang itu beradu mulut. Arlo yang sudah berganti pakaian berniat memberi tahu ibuny tentang dirinya yang mendapatkan nilai seratus. Akan tetapi, ketika sampai di area sofa ia dikejutkan dengan perdebatan ibunya dan seorang pria yang tidak ia kenal.
"Apa maksudnya mengatakan mommyku itu rendahan?" sinis Arlo.
"Arlo, sopan sedikit. Dia kakek kamu, ayahnya Daddy," peringat Alin.
"Senang bertemu denganmu, Kek. Arlo sangat senang bisa bertemu dengan kakek setelah sekian lama. Tapi Arlo tidak suka dengan perkataan kakek mengenai mommyku," kata Arlo sambil menatap Pras.
Pras yang dikatai hanya bisa diam sambil mengamati wajah anak kecil di depannya. Begitu piawai dalam berkata seolah orang dewasa, sampai Pras lupa kalau anak itu masih berusia lima tahun.
"Apa maksudnya membayar mommy seperti itu? Aku sangat suka hidup dengan Daddy dan aku tidak mau dipisahkan lagi." Arlo masih menimpali.
"Apa Kakek pernah berpikir bahwa Daddy tidak bahagia dengan keputusan Kakek? Arlo memang masih kecil, tapi Arlo tahu mana yang pura-pura bahagia dan bahagia betulan," timpal Arlo.
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku kakek? Kau bukan cucuku," sahut Pras masih tidak luluh.
"Aku anaknya Daddy. Daddy yang mengakuiku. Arlo hanya menghormati kakek sebagai ayahnya Daddy, tapi sepertinya kakek terlalu keras untuk menerima itu." Arlo menjawab lagi sampai Alin kaget mendengarnya. Anaknya benar-benar menjadi seseorang yang berbeda.
__ADS_1
Kerutan di dahi Pras semakin terlihat. Kenapa anak itu mirip dengan Daniel yang selalu membangkang?
"Arlo, jangan begitu. Itu tidak baik," peringat Alin.
"Mom, Arlo hanya menjawab saja. Kalau tidak benar, bukankah seharusnya tidak tersinggung?" Arlo mengerjap menatap ibunya. Sementara Alin hanya diam saja.
"Kek, jika ini caranya kakek untuk tidak kehilangan Daddy, kakek salah besar. Justru ini yang semakin menjauhkan daddy dari kakek," kata Arlo. Sementara Pras di sana masih enggan berbicara.
"Arlo tahu rasanya kehilangan. Arlo bahkan bertahun-tahun hidup tanpa ayah, Arlo juga sering diejek karena tidak punya ayah. Tapi Arlo senang sekali masih ada mommy yang selalu jagain dan sayangin Arlo sampai sekarang. Dan saat ini, Arlo sudah ketemu daddy––Arlo tidak diejek lagi. Jangan memisahkan kami, Kek. Arlo begitu menyayanginya," jelas Arlo panjang dan lebar.
Sementara Pras di sana hanya membisu tapi tatapannya tidak beralih dari Arlo. Anak kecil itu terlalu menurutnya.
Pras mengamati interaksi di antara keduanya itu. Lama-kelamaan terdengar suara pintu yang dibuka dengan paksa dari luar. Pras menoleh dan mendapati Daniel tengah berdiri di sana. Sepertinya terburu-buru karena melihat langkahnya yang tidak seirama.
Daniel berdiri dengan napas tersengal. Ia mendapatkan informasi dari asistennya bahwa Pras berkunjung ke apartemen. Karena Daniel khawatir akan ayahnya berbuat sesuatu kepada anak dan kekasihnya, ia bergegas dari kantor menuju apartemen miliknya.
"Untuk apa Papa ke sini?" sinis Daniel. Menatap ayahnya yang duduk dengan tenang itu.
"Daniel, duduk dulu." Alin mencoba memberikan pengertian. Ia tidak mau memperkeruh suasana.
"Apa yang Papa ingin lakukan lagi? Kenapa Papa tidak pernah puas?!" gertak Daniel.
Pras hanya diam saja ketika dibentak.
"Daniel," cicit Alin takut jika Arlo melihat pertengkaran itu.
Daniel menatap ke arah anak kecil yang berada di depan Alin. Lantas ia mendekat dan menggendong Arlo di badannya. Menatap sang ayah yang masih membisu saja.
"Dia Arlo, anakku. Darah dagingku. Dan Papa tidak akan bisa memisahkan kami sampai kapan pun itu!"
---
Gimana, geregetan?
__ADS_1
Tulis kesan di kolom komentar, ya...