
"M-menikah?"
Alin membulatkan mata. Kakinya terasa jeli––enggan beranjak dari sana sebelum benar-benar mengerti. Di atas panggung sana tengah tersenyum lebar seorang wanuta mengumumkan berita pernikahannya. Dan Alin––bak patung, mendengar semuanya.
Daniel yang waktu itu masih berbincang dengan koleganya seketika terhenti ketika mendengar pengumuman dari ayahnya. Ia marah, tapi lebih marah lagi ketika melihat respon Alin di sana. Wanita itu hanya terdiam sambil memegang gelas di tangannya.
"Tuan Daniel, selamat, ya."
"Aku tidak menyangka Anda akan secepat ini menikah, Daniel. Selamat untukmu."
Daniel tidak mengindahkan ucapan itu, lantas ia mendesak kerumunan lalu mendatangi Alin yang nampak hanya terdiam di sana. Daniel langsung memegang tangan Alin untuk memberikan sebuah penjelasan.
"Apa kau mempermainkanku?" Alin nyaris tercekat.
Daniel menggeleng. Ia tidak mengatakan apa pun lagi selain menggandeng tangan Alin dan membawanya ke atas podium. Karena Daniel tahu seberapa pun sangkalan, Alin tidak akan percaya.
Daniel menggeser posisi ayahnya sehingga dia berposisi di depan mic. Dengan tangan yang satunya menggenggam tangan Alin, Daniel menatap tegas kepada semua orang yang berada di sana.
"Perhatian semuanya, saya tidak akan menikah dengan Merta atau siapa pun yang dibicarakan oleh papa saya tadi. Karena di sebelah saya ada wanita yang sangat saya cintai, Alin Pramudya." Daniel menatap Alin.
Bisik-bisik rendah tamu undangan terdengar di sana. Seperti tidak asing dengan marga wanita di sebelah Daniel.
"Pak Daniel, apakah wanita yang di sebelah Anda adalah wanita yang sama pada berita beberapa waktu lalu? Apakah benar isu itu bahwa dia penghancur pernikahan Anda?" tanya salah satu wartawan.
"Tidak ada yang namanya penghancur, semua sudah saya setting sedemikian rupa. Berita itu tidak benar, semua direkayasa oleh orang yang ingin menjatuhkan saya. Dan perlu diketahui, bahwa wanitaku bukanlah seorang perebut," tegas Daniel. Dan Alin diam-diam mencuri pandang pada pria itu.
"Lalu bagaimana dengan mantan kekasih Anda waktu itu? Apakah ada hubungannya dengan wanita ini? Di berita di muat bahwa nona ini memaki ibu dari mantan kekasih Anda."
"Tidak. Semua itu kesalahkanku. Dan untuk masalah memaki, kukira kalian hanya memandang sebelah mata soal itu. Padahal kejadian sebenarnya mereka lah yang menjilat lebih dulu."
Daniel mengode tangan kepada Vano. Untung saja asistennya itu cepat tanggap dan memberikan flashdisk kepada Daniel.
__ADS_1
"Semua jawaban dari pertanyaan kalian ada di file ini. Lihat dan simpulkan sendiri," kata Daniel sambil melemparkan benda tersebut ke salah satu wartawan tersebut.
Daniel menatap tegas semua orang yang ada di sana.
"Saya minta maaf atas kesalahpaham yang membuat ribut beberapa waktu lalu akibat dari berita itu. Saya––Daniel, meminta maaf atas kesalahan yang saya perbuat." Daniel menunduk, lalu menegakkan tubuh kembali.
"Dan untuk kawan media yang masih gempar menyebarkan berita hoax itu saya tidak segan-segan akan bertindak tegas."
Semua orang di sana hanya terdiam mengamati. Tidak ada yang berani berbicara.
"Sekedar informasi, saya akan meresmikan hubungan saya dengan Alin dalam waktu dekat ini," kata Daniel sambil menatap Alin dalam. Alin pun sama.
Wartawan yang berada di sana lantas menyorot Alin yang nampak tegap berdiri di sebelah Daniel.
Kabar itu cukup booming dan mengejutkan semua orang. Termasuk Pras dan Merta yang berdiri tidak jauh dari sana. Mereka sama-sama terkejut sekaligus tidak percaya dengan langkah yang Daniel ambil.
"Kapan pernikahan akan dilaksanakan, Pak Daniel?"
"Bagaimana dengan wanita yang dibicarakan Tuan Pras tadi? Apakah kalah dengan wanita ini?"
Daniel tidak mengindahkan semua pertanyaan itu. Ia terus saja menatap wajah Alin yang nampak memukau malam ini. Meskipun banyak kamera yang menyorot, tetap saja Daniel tidak peduli.
Alin pun sama. Ia merasakan jemari Daniel menyingkirkan helai rambut dan menyelipkan di telinganya. Alin kira, ia akan dipermainkan. Dan Daniel berhasil mematahkan pikiran negatif Alin itu.
"Daniel," cicit Alin. Wanita itu berbisik rendah.
Daniel meletakkan jari telunjuk di bibir Alin, menyuruh wanita itu untuk berhenti.
"Jangan bicara apa pun."
Alin pun terdiam. Namun, bisa ia rasakan bahwa pria di depannya itu semakin mengikis jarak. Pandangan Alin langsung meredup. Kian tak tertahankan lagi ketika Daniel memiringkan wajah dengan tangan satunya berada di pinggang Alin.
__ADS_1
Kedua bibir itu saling menyatu. Pelan dan penuh perasaan. Bisik rendah maupun jeritan histeris para penonton di bawah podium pun tidak membuat buyar konsentrasi kedua insan yang saling memangut itu.
Sementara Pras di sana hanya membulatkan mata sambil memegangi dada. Ia terkejut dengan kelakuan nekat putranya itu. Bagaimana bisa Daniel melakukan itu di depan awak media seperti ini?
Semua orang yang melihat adegan itu hanya bisa berbisik, ada juga yang memotret dan menyebarkannya ke sosial media. Pun tidak kalah para orang media mengabadikan momen itu untuk dijadikan bahan berita selanjutnya.
Daniel menarik diri––memberi jarak untuk bisa melihat wajah Alin yang memerah. Pria itu menatap dalam, masih mengumpulkan sisa kewarasan setelah terbuai dalam goda bibir merah muda itu. Selain itu pun, Daniel ingin merealisasikan hubungannya dengan Alin kepada publik.
Berbeda dengan Alin di sana yang melebarkan mata sambil membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangan. Ia tidak menyangka Daniel berbuat senekat ini di hadapan publik, terlebih di hadapan ayahnya sendiri.
"Perlu kalian ingat, mulai sekarang tidak ada marga Pramudya lagi. Sekarang marga Maheswara sudah lekat pada wanitaku. Jadi, mulai saat ini namanya adalah Alin Maheswara." Daniel menatap Alin.
Alin kembali dibuat tercekat.
Semua kamera kembali menyorot Alin. Mencari kebenaran dari perkataan Daniel tadi.
"Nona, bagaimana perasaan Anda diklaim oleh keluarga Maheswara?"
"Apakah benar Nona mencintai Tuan Daniel?"
"Nona, bisa ucapkan sepatah kata saja untuk konfess dari Tuan Daniel malam ini?"
Alin hanya diam saja dipandangi oleh massa. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sementara dirinya saja masih tidak tahu apa yang terjadi saking terkejutnya. Namun, semua itu cepat dihalau oleh Daniel mengerti situasi sudah tidak kondusif.
"Mohon maaf, kami tidak bisa berlama-lama lagi. Masih ada urusan yang harus diselesaikan," putus Daniel sambil membawa Alin pergi.
Tentunya kepergian Daniel itu membuat awak media langsung mengikuti dan menanyakan beberapa pertanyaan. Untung saja Daniel dibantu oleh beberapa penjaganya sehingga ia bisa keluar dari gedung dengan selamat.
Berbeda dengan Pras di sana yang masih terdiam, tapi menyimpan kekesalan. Ia semakin pusing ketika wartawan mulai menanyai pendapatnya tentang ungkapan Daniel nanti. Ketika dia mulai pusing, Pras memutuskan untuk pergi dari sana tanpa sepatah kata.
---
__ADS_1
Hai, hai, makasih sudah membaca sampai part ini. Maaf aku nggak bisa balas satu-satu komennya, tapi aku baca semua kok masukannya.
Ikuti terus kisah Daniel dan Alin ya...