Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Maukah Kau Menikah Denganku?


__ADS_3

"Tuan, di bawah ada banyak wartawan!"


Daniel berdiri dari duduknya karena mendapatkan berita itu. Sudah ia duga, bahwa penyebaran berita itu cepat sampai ke telinga wartawan. Sudah Daniel pastikan nanti akan timbul beberapa pertanyaan atas benar atau tidaknya berita itu.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Sepertinya memang ada dalang di balik semua ini. Sekarang di lantai bawah sudah banyak reporter dan terus mendesak ingin bertemu dengan Anda," ungkap Vano.


"Sial, amankan kondisi dulu. Bilang saja kalau aku tidak bisa diganggu. Kita susun rencana lebih dulu untuk menghadapinya," titah Daniel.


"Baik, Tuan." Vano mengangguk, lalu pamit dari ruangan.


Alin ikut berdiri melihat Daniel yang nampaknya lelah. Apakah karena dirinya jadi runyam seperti itu?


"Daniel, bagaimana caranya kau akan menghadapi mereka?" tanya Alin.


"Aku akan menyelesaikannya setelah agak reda. Sebelumnya aku juga sudah mengutus Vano untuk menghapus semua artikel itu." Daniel menjelaskan.


"Apa karenaku semua jadi seperti ini?" Alin menatap dalam.


Daniel menoleh. "Tidak, ini pasti ulah orang yang tidak suka denganku. Kau tahu kan kalau aku banyak musuh?"


"Apa ini perbuatan Angela?" Alin mengemukakan pendapatnya.


"Entah, aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya tidak hanya dia saja. Aku masih punya musuh lainnya."


Arlo mendengar pembicaraan intens itu. Sebenarnya ia juga bingung dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Namun, Arlo masih mencoba memahaminya.


Barangkali ia bisa membantu ayahnya dengan masalah ini dengan kemampuan IT-nya yang tinggi.


"Adanya isu ini pasti menimbulkan beberapa masalah. Termasuk kemungkinan kalian akan diikuti oleh orang yang ingin informasi," ungkap Daniel.


"Bagaimana kalau kalian tinggal di apartemen dulu? Aku takut mereka berbuat jahat dan melukai kalian. Jika ada di apartemen, aku akan mudah mengawasi kalian," sambung Daniel.


Alin mengerjap. Ia tidak tahu. Namun, ada benarnya yang dibicarakan Daniel. Pasti akan banyak orang yang mengganggunya setelah ada berita gempar ini.


"Aku takut mereka melukai, kau tahu sendiri kan bagaimana kerjanya mereka? Jika di apartemen, lokasinya aman, juga tidak mudah ditemukan oleh wartawan."


Alin masih diam saja. Bagaimana jika sewaktu-waktu orang itu mencelakainya? Apalagi Arlo masih kecil.


Daniel mengerti kebingungan itu. Namun, sebetulnya dia yang lebih khawatir jika ia tidak bisa menjaga kedua orangnya itu. Apalagi kegilaan wartawan akan sangat berbahaya bagi Alin dan Arlo nantinya.

__ADS_1


Daniel menatap Alin dalam. Lalu memegang tangan wanita itu dengan erat. Mendekat untuk mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pendam.


"Alin, izinkan aku memperbaiki semuanya. Aku menginginkanmu, aku menginginkan Arlo, aku menginginkan kalian bersamaku."


Alin hanya menatap dengan bingung kepada pria di depannya. Bingung juga dengan Daniel yang bersikap berbeda.


"Aku mencintaimu, Alin! Aku sangat mencintaimu!" ungkap Daniel.


Alin membulatkan matanya kaget. Ada rasa yang menyelingkup di hatinya ketika Daniel dengan tegas mengatakan itu. Seperti Alin mendapatkan sengatan listrik.


Daniel pun sama. Ia harus melawan diri dan egonya sendiri untuk bisa mengungkapkan kata itu. Beberapa hari ia memikirkan itu, sampai rasanya kepalanya mau pecah.


"Di sini, disaksikan oleh Arlo, aku ingin meminangmu sebagai istriku––pendamping hidup dan matiku. Alin Pramudya, maukah kau menerima lamaranku?" tanya Daniel.


Alin lebih kaget lagi ketika pria itu berlutut di depannya. Tidak menyangka juga ia akan dilamar seperti ini. Ia mengamati Arlo yang mengangguk tanda menyetujuinya. Sementara Alin masih bingung dengan perasaanya sendiri.


Namun, melihat ketulusan Daniel selama ini Alin perlu mempertimbangkannya. Bagaimana pria itu diam-diam membantunya dalam kesulitan, selalu ada ketika Alin membutuhkan, hal itu menjadi pertimbangan bagi Alin.


Akan tetapi, Alin tidak bisa mementingkan dirinya sendiri. Ada Arlo yang menginginkan status yang jelas di sini. Ia tidak bisa memisahkan hubungan antara anak dan ayah.


Alin menatap Daniel dalam––pria itu nampak menantikan jawaban atas pertanyaannya. Alin memejam, mengembuskan napas pelan sebelum mengemukakan jawaban.


"Aku bersedia," jawab Alin diiringi dengan senyuman.


"Terima kasih. Terima kasih banyak," ungkap Daniel sambil memeluk.


Keduanya saling berpelukan. Melepaskan rasa yang membuncah masing-masing. Mereka saling melengkapi dan menerima apa yang sebelumnya pernah menimpa. Berkomitmen menjadi satu keluarga.


Arlo yang melihat itu hanya melipat tangan di atas ada. Kemesraan orang tuanya itu sungguh membuatnya iri. Bagaimana bisa ia dilupakan begitu saja seperti ini?


"Ekhem, Arlo dilupakan ini?" sindir Arlo.


Daniel dan Alin melepaskan pelukan, sama-sama terkekeh melihat Arlo yang nampak kesal karena diabaikan. Daniel langsung menggendong tubuh Arlo dan mendekati Alin lagi.


"Marah?" tanya Daniel.


"Tidak. Hmm, ini Arlo ceria, ini, ceria!" Arlo memaksakan senyum. Kesal dengan pertanyaan Daniel.


"Ck, ditinggal sebentar juga," celetuk Daniel.


"Aish, menyebalkan! Ini anakmu marah, loh, Dad! Dibujuk kenapa!" Arlo kesal.

__ADS_1


"Uluh-uluh anak mommy ngambek?" Alin menoel pipi Arlo menggoda.


"Mommy juga!" sentak Arlo.


Daniel dan Alin sama-sama terkekeh. Lalu pria itu mendekat dan memeluk lagi. Dengan Arlo yang berada di tengah-tengah.


"Yaudah, sini, kita pelukan bertiga."


Ketiganya langsung berpelukan layaknya keluarga yang bahagia. Meski dalam kesulitan, Daniel merasa sejenak bebannya hilang hanya dengan melihat keluarganya berada di sisinya.


"Udah, Arlo kegencet!"


"Maaf, Boy." Daniel menurunkan Arlo dari gendongannya ke sofa.


"Huh, kepala Arlo pusing karena terjepit. Ini semua gara-gara Daddy," gerutu Arlo sambil cemberut.


"Siapa suruh tadi mau ikut peluk?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Ya, kalian melupakan Arlo di sini sendirian. Arlo kan mau," tukas Arlo.


"Dasar," gerutu Daniel sambil mencubit hidung Arlo yang dibalas dengan ringisan sakit.


"Jangan mencubiti hidungku, Dad!" Arlo merajuk.


"Biar tambah mancung," jawab Daniel.


"Mana ada tambah mancung, tambah sakit iya." Arlo mengeluh.


Alin hanya terkekeh melihat interaksi keduanya. Ia bahagia melihat Arlo bahagia. Jika dengan jalan ini Arlo bisa mendapatkan apa yang sebelumnya belum didapatkan, Alin akan setuju.


Daniel berhenti setelah puas menggoda Arlo. Anak itu sangat lucu menurutnya. Lantas menatap Alin di sana yang nampak tersenyum.


Alin yang dipandangi hanya bisa tersenyum sekilas. Alin merasa gugup ketika Daniel memandanginya dengan lekat. Lantas tangannya kembali digengam erat oleh Daniel.


"Setelah semuanya beres, aku akan secepatnya menikahimu, dan kita akan jadi keluarga yang bahagia."


"Iya," jawab Alin sambil senyum.


Daniel kembali memeluk Alin lebih erat dari sebelumnya. Ia begitu bahagia dengan hari ini. Tinggal beberapa langkah lagi Daniel bisa mewujudkan impiannya bahagia bersama dengan orang yang dia sayang.


"Tunggu, tunggu aku menyelesaikan semuanya dulu," ungkap Daniel masih memeluk.

__ADS_1


Tidak memerhatikan bahwa Arlo tengah cemberut melihat kemesraan mereka berdua. Masih kesal saja ketika Arlo kembali dilupakan. Anak itu memang tidak bisa membiarkan kedua orang tuanya hidup tenang.


"Daddy ...!"


__ADS_2