
"Ma! Aku pulang!" Sambil membawa beberapa kantong belanja, Angela memasuki rumah dengan senyuman lebarnya.
Angela yang melihat ibunya berada di sofa ruang keluarga, ia berjalan mendekat. Merebahkan diri di sofa lalu mengangkat semua barang belanjaan ke atas meja untuk diperlihatkan kepada ibunya.
"Hei, Ma. Lihat, barang belanjaanku. Banyak, kan?" Angela tersenyum lebar sambil memperlihatkan barangnya.
Warda meletakkan remote televisi di atas meja lalu mengamati banyak barang yang di bawa oleh Angela.
"Tumben belanja banyak, Raka dapat bonus gede, ya?" tebak Warda.
"Bukan dari Raka. Aku dapat dari Om Burhan. Raka mah udah miskin, mana bisa beliin barang mahal seperti ini lagi," kata Angela.
"Siapa itu om Burhan? Terus, bagaimana sama Raka?"
"Om Burhan itu pria tua yang aku temui secara tidak sengaja di mall waktu itu, sampai sekarang malah bersama. Dia juga sangat loyal, Ma, ya aku manfaatin aja." Angela menjelaskan panjang.
"Kalau soal Raka, aku udah putusin dia."
"Apa?!" Warda terlonjak kaget.
"Iya. Soalnya dia selalu sibuk, apalagi sekarang kan perusahaanya lagi terancam bangkrut. Ya, aku cari yang lain lah."
"Memangnya kamu tidak mencintainya, hah?" Warda menaikkan sebelah alis.
"Cinta? Lantas bagaimana dengan Mama sendiri, mana mungkin Mama mau sama papa yang sekarang kalau bukan karena dia kaya, kan?" Angela menjawab lugas, yang mana malah mendapat timpukan dari Warda.
"Kau mengingatkannya lagi."
"Lagian Mama, waktu itu Mama juga kan yang kepincut sama papa karena kaya? Mama juga kan yang mengotaki pembunuhan istrinya almarhum papa?"
Warda dengan cepat membungkam mulut Angela dengan kuat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat adanya orang atau tidak. Bisa-bisa jika ada yang mendengarnya, pasti akan mendapatkan masalah yang besar.
"Angela, pelankan suaramu itu," desis Warda.
Angela menepis tangan ibunya di mulutnya. "Kenapa? Papa kan juga tidak di rumah. Jadi aman kan?"
"Bagaimana kalau ada yang mendengarnya? Pembantu? Atau satpam, hah? Bisa-bisa Mama celaka," tukas Warda.
Angela menoleh melihat kondisi. Ia rasa memang sudah aman. Tidak ada orang selain mereka.
__ADS_1
"Tidak ada, Ma. Tenang kan pikiran Mama."
"Lagian kenapa harus membahas masa lalu, hah? Sudah jelas-jelas kita hidup enak sekarang," kata Warda.
"Kan Mama duluan yang mulai." Angela tidak mau kalah.
Warda merotasikan mata. "Terus, tadi bagaimana sekarang? Apa rencanamu setelah putus dengan Raka?"
"Ya, aku akan bersama om Burhan. Dia terlihat cinta sekali padaku, Ma. Jadi, bisa dengan mudah aku manfaatkan dan kuras hartanya. Setelah itu, ditinggalkan seperti biasa," jawab Angela sambil tersenyum culas.
Warda mengangguk. "Bagus. Teruskan. Tapi jangan sampai ketahuan papamu, kalau tidak pasti kau akan ditendang karena tahu putus dengan Raka."
"Aman itu. Tenang saja." Angela mengangkat satu tangannya. Menyuruh ibunya untuk tetap berusaha tenang.
"Beli apa saja? Baju buat Mama ada tidak?" Warda melihat beberapa bingkisan itu.
"Ada, dong. Tadi aku lihat ada baju cantik banget, makanya aku beli dan pasti Mama cocok memakainya. Ini." Angela menyerahkan satu paperbag berisi baju yang ia beli tadi.
Warda menerima dan membuka paperbag itu. Ia jinjing sebuah baju berwarna keemasan dengan aksen putih yang nampak menyatu di bagian dada. Ia mencoba menempelkan di tubuhnya, seolah mencocokkan kiranya sesuai atau tidak.
"Bagaimana?"
"Nah, pas sekali. Mama jadi semakin cantik." Angela memuji sambil mengamati ibunya itu.
Tanpa mereka sadari di depan pintu rumah seseorang tengah menaikkan sebelah alis melihat barang belanjaan Angela yang terlampau banyak. Darma melangkah mendekat, melihat barang banyak ia jadi terkejut.
Hal itu membuat Angela menjadi gugup. Ingin menyembunyikan barang, tapi sudah tidak ada waktu lagi. Ayahnya sudah terlanjur mendekat dengan tatapan yang seperti meragukan atas apa yang dilihat.
"Dari mana kau dapatkan barang sebanyak ini, Angela? Bukankah perusahaan Raka sedang tidak baik? Apa dia dapat bonus?" tanya Darma beruntun.
Angela menormalkan detak jantungnya, lantas menatap ayahnya. "Mm, pakai uang sendiri, Pa."
"Uang sendiri? Bukannya beberapa hari lalu kau bingung minta uang?"
Angela gelagapan. "Ya, aku masih ada sedikit uang dari hasil butik. Makanya bisa belanja."
"Bukannya butik sepi semenjak kasusmu itu, hah?" selidik Darma lagi.
"Pa, kok udah pulang jam segini? Sini, duduk dulu. Aku bikinkan kopi," sela Warda mengalihkan topik. Ia lantas mendekat dan menarik Darma untuk istirahat di sofa.
__ADS_1
Angela juga berdehem, membereskan barang belanjannya dari meja supaya tidak diintergosi lagi. Tidak lama kemudian, Warda membawa secangkir kopi dan menghidangkan di atas meja.
Cukup pintar, batin Angela. Ibunya itu tahu situasi dengan mengalihkan topik pembicaraan. Angela langsung saja menyembunyikan barang-barang itu supaya tidak menjadi bahan curigaan lagi.
"Ini kopinya."
Darma meraih cangkir itu dan menyesap kopi di dalamnya. Lantas ia meletakkan kembali di atas meja. Kembali menatap Angela yang rupanya di sana nampak sedang berada dalam kegugupan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Raka? Kapan dia akan menikahimu?"
Angela meneguk ludah dengan kasar. Tidak mungkin kan kalau dia mengatakan sudah putus dengan Raka? Itu sama saja dengan mencari masalah.
"Kenapa diam saja?"
Angela yang sudah terpojok, menemukan sebuah akal yang bisa menyelamatkannya. Wanita itu lantas mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. Terisak seolah tengah merasakan sedih yang teramat dalam.
"A-aku dan Raka sudah putus, Pa," ucap Angela. Sambil berwajah pilu, ia mencoba memutar balikkan fakta.
"Apa?! Kenapa bisa?" Darma kaget. Pada awalnya Darma berharap bahwa hubungan keduanya akan langgeng.
"Dia ternyata sudah berselingkuh di belakangku, Pa. Dia berselingkuh dengan sekretarisnya di kantornya sendiri. Dia tega menduakanku, padahal aku sudah setia bahkan ketika dia dalam keadaan yang sulit sekalipun." Angela mengelap air mata buayanya itu.
"Selingkuh?" Darma menaikkan sebelah alis.
"Iya, Pa. Aku memergokinya berduaan di hotel. Karena tidak tahan, aku memutuskannya saat itu juga," sambung Angela.
Darma menatap sengit. Raka berselingkuh lagi? Memang Darma tahu bahwa Raka berselingkuh dengan Angela dulu, dan sekarang berselingkuh lagi? Itu sangat mungkin terjadi.
"Karena aku sakit hati, aku tidak mau berhubungan lagi, Pa. Hatiku masih sakit saat ini." Angela memegang dadanya.
Darma yang merasa pusing lantas beranjak dari sofa.
"Terserahlah. Papa capek mau istirahat." Darma langsung pergi menuju ke kamarnya.
Angela melihat ayahnya yang sudah tak terlihat. "Papa percaya kan, Ma?"
"Pastilah. Dia kan selalu mudah dibohongi. Jangan khawatir, dia tidak akan mencari tahu."
"Syukurlah. Kalau begitu aman. Ternyata kilahanku pas juga. Pintar juga."
__ADS_1
Warda terkekeh. "Cih, dasar pembohong."
"Mama juga," timpal Angela sambil terkekeh juga.