Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Kiriman Misterius


__ADS_3

"Mommy, kenapa banyak barang yang diantar ke sini? Ada mainan juga!" Arlo yang menemukan mainan langsung bersorak ria sambil mengangkat mainan itu.


"Akhirnya bisa punya robot! Mom, lihat ini." Arlo meletakkan robot di atas meja lalu men-settingnya menggunakan remote control.


Alin hanya tersenyum sebagai balasan. Ia pun heran, kenapa hari ini banyak menerima barang-barang. Mulai dari perabotan rumah tangga, makanan pokok, sampai mainan untuk Arlo semua dikirim ke rumahnya. Alin bingung siapa yang mengirim semua ini kepadanya, dan apa motif di balik semua ini.


"Mommy kenapa diam saja? Apa mommy tidak senang? Lihatlah, sekarang sudah ada kulkas, jadi Arlo bisa menaruh es krim dan mommy bisa menaruh sayuran agar tidak busuk." Arlo menatap ibunya yang masih nampak kebingungan.


"Mommy malah bingung kenapa mendapat semua ini, Arlo. Bagaimana kalau pengirim barang ini berniat mencelakai kita?"


Arlo terdiam, lalu menatap semua barang yang ada di rumahnya. "Hmm, ini memang aneh, sih, Mom."


Di antara keheningan keduanya, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu depan. Alin bergegas membukakan pintu di sana rupanya ada Nola yang datang dengan raut wajah gembira.


"Kenapa wajahmu terlihat sangat senang, hah?"


"Aku naik jabatan, Alin!" Nola langsung memeluk tubuh Alin dengan erat, menyalurkan rasa senangnya. Alin yang dipeluk hanya membalasnya.


"Bagus, dong, kalau begitu. Akhirnya impianmu terwujud kan?"


"Iya. Eh, kenapa di sini banyak barang? Kau habis membeli satu mall, Lin?" Nola heran melihat banyak barang di rumah sahabatnya, karena Nola tahu kondisi financial sahabatnya itu sedang memburuk untuk membeli banyak barang seperti ini.


"Maka dari itu aku juga heran, aku tidak membeli semua barang ini, tapi tadi tiba-tiba ada kurir yang mengantarkan semua ini. Aku juga bingung kenapa." Alin bersikap dada.


Nola melihat sahabatnya lekat. Apa mungkin Alin punya pengagum rahasia? Sampai mengirimkan banyak barang kebutuhan seperti ini?


Tidak lama kemudian, suara pintu diketuk kembali membuat atensi tiga orang di dalam rumah teralihkan. Arlo dengan segera bangkit dari kursi dan bergerak untuk membuka pintu.


"Biar aku saja, Mom. Itu pasti paman pengantar barang lagi," celetuk Arlo yang dibalas dengan anggukan. Sementara dirinya langsung bergerak ke arah pintu.


Arlo membuka pintu yang langsung disambut kerutan di dahi oleh si tamu. Arlo sendiri pun bingung, ia kira itu adalah orang pengantar barang, tapi hanya seorang pria paruh baya yang berdiri dengan tangan kosong.


"Mana barangnya, Paman?" tanya Arlo.


"B-barang apa? Kau siapa?" tanya balik pria itu.


"Arlo, siapa itu!" Suara Alin dari dalam sana menggema.


"Arlo tidak tahu, Mom! Paman ini sepertinya bukan yang mengantar barang!" teriak Arlo. Sementara orang di depannya hanya menatap dengan aneh.


Alin dari dalam langsung bergegas pergi ke depan karena mendengar Arlo berteriak. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat siapa yang menjadi tamunya kali ini.


"P-Papa?" Mata Alin melebar.


"Alin," panggil Darma lembut. Menatap anaknya sendu.


"Mom, siapa?" Arlo berbisik sambil menarik ujung baju Alin.


"Alin, anak kecil ini siapa? Kenapa dia bisa ada di sini?" Darma kebingungan.


"Lebih baik Papa masuk dulu. Nanti aku jelaskan," putus Alin yang langsung mempersilahkan ayahnya untuk masuk ke rumah.


Alin menyuruh ayahnya untuk duduk di salah satu kursi, sementara ia bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelah selesai kembali ke ruang tamu sedangkan Arlo sudah duduk di pangkuan Nola.


"Apa selama ini kau tinggal di rumah ini, Alin?" tanya Darma melihat sekeliling.

__ADS_1


"Iya, lumayanlah."


Darma memegang tangan anaknya. "Alin, kembalilah ke rumah. Di sini kurang layak untukmu. Di rumah kita lebih nyaman."


"Pa, di sini lebih nyaman daripada di rumah. Alin tidak suka tinggal dengan orang-orang yang bermuka tebal," tolak Alin menatap ayahnya.


"Apa maksudmu ibu dan kakak tirimu? Alin, Papa berjanji akan menasihati mereka untuk berubah jika kau kembali ke rumah."


"Pa, manusia mana yang tahan hidup dengan seorang penjilat?" Alin berharap ayahnya memihaknya kali ini.


"Alin, Papa tahu kau membenci mereka, tapi apa tidak bisa memaafkan mereka?"


"Pa, bagaimana kalau aku mengatakan bahwa mereka yang membunuhku waktu itu?"


Darma mengerutkan kening, lalu setelahnya menepis omongan itu.


"Mana mungkin mereka melakukannya, meskipun mereka––"


"Kan, sudah kuduga Papa tidak akan percaya."


Beginilah Alin, sudah tahu tidak akan didengar oleh ayahnya.


Darma yang melihat itu hanya terdiam. Lambat laun ia mulai melihat ke arah Arlo yang sedari tadi nampak serius mendengarkan.


"Lalu mereka siapa, Alin? Kenapa ada di sini?"


Alin menoleh ke samping. "Ini, Nola temanku."


"Halo, Om," sapa Nola.


"C-cucu?" Darma syok, bahkan ia sampai memegangi dadanya karena kaget. Apa katanya tadi? Cucu?


Alin membalas dengan anggukan. Sementara ia mengode Arlo untuk mendekat. Alin memangku Arlo dan menghadap ke ayahnya.


"Benar, Arlo adalah cucumu, Pa. Anak kandungku sendiri."


"Astaga." Darma menutup mulutnya sendiri. Berulang kali mengamati wajah Arlo yang terkesan gemas.


"Mom, kalau aku cucunya berarti dia kakek aku?" tanya Arlo polos.


"Iya, Arlo. Gih, salim sama kakek," suruh Alin.


"Halo, Kek." Arlo hendak menyalami tangan Darma, Darma yang melihat itu langsung mengulurkan tangan.


"Kau benar cucuku?" tanya Darma kaget.


"Benar, Pa. Selama lima tahun aku menghilang, aku memang sudah memiliki anak." Alin menyahut.


"Astaga. Sini, Kakek mau peluk." Darma merentangkan tangan yang disambut hangat oleh Arlo. Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat. Sampai dilepaskan setelah keduanya terpuaskan.


"Tapi di mana suamimu, Alin? Kenapa tidak mengenalkannya kepada Papa?" tanya Darma.


"Dia ...."


"Dia?"

__ADS_1


"Dia Daniel, Om. Mantan pacarnya Angela." Nola langsung menyahut ketika Alin tidak segera bicara.


"J-jadi ucapanmu hari itu benar? Bagaimana bisa?" Darma masih bingung.


"Waktu itu Alin pergi ke club dan menghabiskan satu malam dengan Daniel, Om. Alin tidak tahu kalau dia akan hamil anak pria itu, jadi Alin memutuskan untuk pergi. Jadi, mereka masih belum memiliki ikatan sampai sekarang," jelas Nola.


Darma menatap anaknya yang membisu. Lalu memegang bahu rapuh itu dengan kuat.


"Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya, Alin? Papa bahkan hampir stress memikirkanmu lima tahun silam!"


Alin diam, tapi ia melihat ke arah Nola.


"Nola, ajak Arlo ke kamar."


Nola yang mengerti itu lantas menggandeng tangan Arlo. "Ayo, Arlo. Katanya tadi banyak PR, kan? Ayo kita kerjakan."


"Tapi kenapa, Bi? Arlo masih mau di sini sama kakek," tutur Arlo.


"Arlo, ikut Bibi Nola," suruh Alin.


"Baik, Mom." Arlo ikut saja ketika Nola menggandengnya. Ia juga tidak mau membantah ibunya.


Alin yang melihat Arlo sudah hilang, segera menatap ke arah ayahnya kembali.


"Pa, waktu itu aku sakit hati karena Angela berselingkuh dengan Raka waktu itu." Alin menjelaskan.


"S-selingkuh?"


"Iya. Waktu aku pulang dari luar negeri harusnya aku menemui Raka, tapi Raka malah berduaan dengan Anggela di dalam kamar. Dan mereka ... mereka ...."


Darma langsung memeluk tubuh Alin dengan erat. Merasakan getaran hebat anaknya cukup membuat Darma terenyuh. Ia tidak tahu dengan semua yang dilalui anaknya sampai bisa sesakit ini.


"Maafkan Papa, Sayang. Papa tidak becus menjalankan tugas sebagai seorang ayah. Maaf," ungkap Darma.


"Tidak apa, Pa." Alin tidak kalah membalasnya dengan erat. Menyalurkan semua rasa sakitnya.


Setelah selesai, keduanya saling menguraikan pelukan.


"Lalu apa Daniel sudah tahu kalau Arlo itu anaknya?"


Alin menggeleng.


"Kenapa tidak memberitahunya?"


"Aku takut dia mengambil Arlo, Pa. Aku tidak bisa hidup tanpa Arlo." Alin menunduk.


"Tapi bagaimana dengan Arlo? Bukankah dia juga butuh sosok ayah? Apa dia tidak pernah menanyakan keberadaan ayahnya?"


Alin mendongak dengan tatapan sendu. Ia ingat Arlo pernah menanyakan beberapa kali di mana ayahnya berada, dan Alin selalu mengatakan kalau ayahnya sudah tiada.


"Papa tidak tahu pasti, tapi sepertinya Daniel pria yang baik, Alin. Sekarang Papa juga sedang mengalami masalah pada perusahaan. Gara-gara keluarga Maheswara semuanya jadi kacau," ungkap Darma.


Alin menatap ayahnya dalam. Menutup diri, membuat Alin tidak tahu apa pun mengenai masalah rumah atau perusahaan. Namun, melihat ayahnya seperti ini, Alin tidak tega.


"Katakan yang sejujurnya pada Daniel. Arlo membutuhkan ayahnya, dan Papa perlu Daniel untuk memajukan perusahaan. Bagaimana?"

__ADS_1


Kenapa kalimat ayahnya terdengar toxic?


__ADS_2