
"Selamat datang, Tuan Daniel. Mari saya antarkan ke ruangan Anda."
Daniel mengangguk, ia lantas mengode Alin untuk mengikuti langkahnya masuk. Sementara dirinya menggendong Arlo yang nampak manja hari ini karena tidak mau berjalan sendiri. Agenda mereka bertiga sekarang adalah pergi ke salah satu butik terkenal untuk memilih gaun pernikahan.
"Sesuai pesanan Anda, Tuan. Ini beberapa gaun yang direkomendasikan untuk pernikahan Anda."
Setibanya di sana sudah ada karyawan yang menunjukkan beberapa model gaun pengantin. Daniel mendudukan Arlo di sofa dekat kaca sementara dirinya menyuruh Alin untuk melihat.
"Lihat-lihat saja dulu. Pilih lah yang kau suka," kata Daniel.
Alin mengangguk. Lantas ia melangkah ke beberapa manekin yang dipakaian baju tersebut dan memilahnya. Menurutnya semuanya sangat bagus dan tentunya cukup mahal.
"Dad, hanya mommy yang mencari baju? Memangnya Arlo tidak beli, ya?" tanya polos Arlo langsung dihadiahi kekehan oleh Daniel.
"Astaga, Arlo. Tidak sabaran sekali." Daniel menggeleng lantas menatap satu karyawan yang berjaga.
"Mbak, pakaian untuk anak kecil di bagian mana, ya?" tanya Daniel.
"Ada di sebelah sini, Tuan." Salah satu karyawan lainnya menunjukkan.
"Aku akan kembali sebentar lagi, sementara itu kau pilihlah yang kau sukai. Aku akan mencari baju untuk Arlo. Ayo, Arlo." Daniel mengajak Arlo untuk memilih salah satu baju untuk acara pernikahan. Dibalas anggukan oleh Alin.
Alin kembali melihat gaun-gaun. Ada berbagai model dan Alin sangat mengaguminya. Setelah lama melihat, pandangan Alin jatuh pada gaun yang sangat memukau menurutnya. Lantas ia memegangnya.
"Gaun ini dibuat khusus oleh desainer terkenal dari Prancis, Nona. Gaun ini hanya dibuat satu di dunia dan suatu keistimewaan jika Nona memakainya di pernikahan Nona nanti," ucap salah satu karyawan menjelaskan.
"Benarkah? Bisa dibilang aku yang pertama memilikinya?"
"Iya, Nona."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan memilih gaun ini." Sesuai perintah karyawan tadi mengambilkan baju dan membawanya ke ruang ganti.
Alin mengikuti. Ia tidak sabar mencoba gaun yang dibuat satu-satunya di dunia itu. Jika terasa bagus, Alin memutuskan untuk memakainya di hari pernikahannya nanti.
Sementara di ruangan sebelah, nampak Daniel tengah mempertimbangkan bagaimana pakaian anak itu. Arlo berdiri dengan balutas jas berwarna putih yang nampak di badan mungilnya. Dasi kupu-kupu berwarna hitam juga menambah kesan imut.
"Bagaimana, Dad?"
"Hmm, sepertinya kurang masuk dengan tema nanti. Mbak, tolong diganti style yang kedua, ya?" suruh Daniel kepada karyawan butik.
"Baik, Tuan." Karyawan tersebut lantas membawa Arlo ke ruang ganti untuk berganti pakaian.
Sementara menunggu, Daniel memilih jas untuknya sendiri. Kira-kira jas mana yang akan cocok ia kenakan nanti di acara pernikahannya. Daniel harus tampil memukau di acara pentingnya.
"Bagaimana, Dad?"
__ADS_1
Daniel membalikkan badan. Arlo sudah berganti pakaian. Sekarang ia mengenakan jas berwarha hitam dengan kemeja putih yang dipadupadankan dengan dasi hitam pula. Penampilan Arlo berubah casual ketika ditambahkan dengan sapu tangan putih di bagian saku.
Daniel bertepuk tangan karena saking bagusnya. Anaknya terlihat sangat tampan dari biasanya.
"Benar-benar luar biasa. Sangat tampan, Arlo. Mbak, saya akan mengambil yang ini," kata Daniel.
"Baik, Tuan." Karyawan itu mengajak Arlo ke ruang ganti lagi.
Daniel mengambil baju yang ia akan kenakan nanti, lalu berjalan menuju ruang ganti untuk memakainya. Setelah dicoba sangat bagus menurutnya. Lantas ia kembali lagi untuk melihat Arlo, sudah atau belum bergantinya.
"Sudah?"
"Sudah, Dad." Arlo berjalan menuju ayahnya.
"Bagaimana tadi? Suka dengan bajunya?" tanya Daniel.
"Suka. Tadi Arlo terlihat tampan dengan setelan itu. Pasti nanti semua pada terpukau pada Arlo." Arlo tersenyum dengan bangganya.
"Harus, dong. Anak Daddy harus terlihat memukau di acara nanti. Apalagi kan banyak dihadiri oleh banyak orang," jawab Daniel.
"Arlo saja banyak suka di sekolah, apalalagi nanti." Arlo tersenyum sombong.
"Benarkah?"
"Iya. Kan Arlo sangat tampan, makanya mereka suka."
"Auh, sakit!" Arlo mengeluh sakit.
"Segitu doang sakit. Katanya jagoan, disenangi banyak perempuan, dicubit saja sakit. Bagaimana itu?" sindir Daniel.
"Itu beda cerita," jawab Arlo. "Bagaimana dengan Mommy ya, Dad? Apa mommy sudah dapat gaunnya?"
Daniel mengelus dagunya. "Benar juga. Kita harus melihat mommy bagaimana."
Daniel lantas menyerahkan jas yang ia pilih tadi kepada karyawan tadi. Ia tidak sabar untuk melihat Alin bagaimana penampilannya dengan gaun pernikahan pilihannya.
"Sekalian yang ini, Mbak."
"Baik, Tuan."
Daniel menatap Arlo di sana, lalu menggandeng tangannya kembali.
"Ayo kita lihat mommy," ajak Daniel.
Arlo menurut saja. Setibanya di sana ia melihat seseorang yang berdiri di depan kaca dengan gaun yang melekat indah di tubuh. Daniel sampai melongo melihatnya.
__ADS_1
Benar-benar cantik. Warna dan modelnya sangat pas di badan. Daniel tidak bisa menjabarkan lagi bagaimana wanita di depannya itu. Mungkin saja definisi bidadari yang jatuh dari kayangan?
"Wah, cantik sekali mommy," puji Arlo. Anak kecil itu sampai bertepuk tangan melihatnya.
Alin di sana tersenyum malu. Lantas ia menatap gaun yang melekat di tubuhnya. Ia rasa juga sangat pas dengan dirinya.
"Benarkah? Apa mommy terlihat memukau memakai baju ini?"
"Bukan memukau lagi. Mommy seperti putri kerajaan. Arlo sampai tidak mengenali Mommy. Itu artinya Mommy benar-benar cantik. Benar, kan, Dad?" Arlo mengacungkan dua jempol, lalu menatap Daniel.
"Ah? Ya, benar," jawab Daniel gugup.
"Lihat, kan, Daddy saja sampai melongo melihatnya." Arlo meledek sambil terkekeh.
"Melongo apanya? Kamu yang melongo," tukas Daniel.
"Aih, tidak mengaku. Padahal tadi Arlo lihat Daddy sampai ileran melihat Mommy," ledek Arlo.
"Ileran bagaimana?" Daniel mengusap bibirnya.
Alin yang melihat interaksi itu terkekeh. Perdebatan antara anak dan ayahnya menggemaskan menurutnya.
"Hahah, Daddy ternyata bisa malu juga." Arlo sampai menutup mulutnya karena tidak mau tawanya semakin besar.
Daniel menyipitkan matanya. Anaknya itu sungguh berubah. Dan jika dikatakan terpesona, Daniel sudah terpesona. Bahkan dari awal pertemuannya dengan Alin.
Alin hanya menggeleng melihatnya. Meskipun ia malu juga ketika dilihat dengan intens seperti itu, membuat rona merah di pipinya semakin terlihat.
"Kalau begitu kita pilih yang ini saja. Bagaimana Daniel? Apa kau setuju?" tanya Alin. Meminta pendapat.
"Aku setuju. Aku menyukainya," jawab Daniel.
"Suka gaunnya atau suka Mommy, Dad?"
Daniel mendelik ketika Arlo bertingkah jahil. Sementara Arlo di sana menatap sipit sambil menutup mulutnya menggunakan satu tangan. Meledek ayahnya.
Daniel menyipitkan mata, sebelum akhirnya menggelitiki Arlo dengan cepat.
"Kenapa tengil sekali, hah?" Daniel gemar menggelitiki sampai Arlo kewalahan.
"Ampun, Dad!"
Suport cerita ini dengan like, komen, dan berikan vote sebanyak-banyaknya. Sisipkan hadiah juga sebagai dukungan novel ini.
__ADS_1
Terima kasih...