
Daniel menyalakan lampu sehingga sinarnya mampu memberikan efek terang dalam ruangan. Akhirnya, ia bisa membawa Alin dan Arlo untuk sementara waktu tinggal di apartemennya sebelum kondisi kembali aman. Pasalnya akan sangat berbahaya jika sewaktu-waktu ada yang mencelakai.
"Selamat datang," sambut Daniel.
Alin dan Arlo berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama menatap ke arah ruangan yang luas itu.
"Untuk sementara kalian tinggal dulu di sini selama kondisi masih belum kondusif. Jangan khawatir akan ada dua orang yang berjaga di luar. Jadi akan aman," ungkap Daniel.
"Daddy tidak tidur di sini?" tanya Arlo lugu.
"Iya, Sayang. Daddy akan menemani kamu di sini." Daniel mengelus kepala anaknya dengan sayang.
"Yey, asik!" Arlo bersorak.
"Tapi bagaimana dengan sewa rumahku? Bagaimana juga dengan sekolah Arlo?" Alin lah yang giliran bertanya.
"Untuk rumahmu aku sudah mengurusnya, untuk sekolah, Arlo lebih baik jangan sekolah dulu. Takutnya nanti ada hal yang membahayakannya," jawab Daniel.
"Yah, jadi di sini aku melakukan apa kalau tidak sekolah?" Arlo menatap ayahnya.
"Kan bisa nonton televisi, bermain game, banyak yang bisa dilakukan. Nanti bagaimana kalau Daddy temani bermain game bersama? Daddy jago loh." Daniel menawarkan langsung mendapatkan tanggapan antusias dari Arlo.
"Boleh! Arlo pasti akan mengalahkan Daddy dengan mudah!" teriak Arlo antusias.
"Kita lihat saja nanti," tantang Daniel.
Arlo mendengus. Lalu ia memegangi celananya karena dirasa mau buang air kecil.
"Dad, toilet di mana? Arlo mau pipis," tukas Arlo.
"Kamu masuk kamar, lalu di dalam kamar ada kamar mandi. Di situlah." Daniel menunjukkan arah letak kamar mandi.
"Oke!"
Bocah kecil itu langsung berlari karena merasa tidak bisa menahan lagi.
Kini tinggalah Alin dan Daniel yang ada di sana. Terjadi kecanggungan sebentar. Sebelum Alin menanyakan sesuatu?
"Apa di sini ada sesuatu yang bisa diseduh?" tanya Alin sambil berjalan ke arah dapur, memeriksa apakah ada yang bisa dibuat minuman.
Daniel mengikuti gerak wanita itu. Ketika ia melihat Alin menuju ke dapur, Daniel membuntutinya dari belakang. Lalu tanpa diduga melingkarkan tangan di pinggang Alin sehingga posisinya memeluk dari belakang.
Alin di sana meremang. Terlebih ketika merasa embusan hangat napas Daniel menyapa lehernya.
"Aku lelah. Biarkan seperti ini dulu," gumam Daniel.
__ADS_1
Alin lama kelamaan relax. Ia mulai tidak takut dan membiarkan Daniel memeluknya. Mungkin itu bisa mengurangi sedikit rasa lelah pria itu.
Tanpa sadar di belakang sana si kecil sudah selesai dari buang air kecilnya dan berdiri dengan kedua tangan terlihat di atas dada menghadap Alin dan Daniel. Siap menjerit keras.
"Daddy ...!"
***
"Apakah kamu sudah membaca beritanya? Bagaimana ini Daniel?" Sasi khawatir. Pasalnya nanti akan ada banyak masalah akibat dari berita simpang siur itu.
"Nek, tenanglah. Aku masih mengusahakannya." Daniel menarik tangan neneknya untuk duduk di sofa kembali.
"Bagaimana Nenek bisa tenang? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Alin dan Arlo?"
Ya, benar, Sasi telah mengetahui bahwa Alin lah yang selama ini diceritakan oleh Daniel. Waktu itu Daniel sempat terkejut ketika wanita yang ditunjukkan fotonya oleh Daniel adalah orang yang sama dengan yang membantunya kemalingan dulu. Dan Sasi bersyukur, jika Alin lah yang mendampingi hidup Daniel.
"Aku sudah mengamankan mereka di apartemenku, Nek. Jadi, bisa sedikit tenang." Daniel menjawab.
"Syukurlah." Sasi bernapas lega. "Tapi kenapa kau tidak membawanya ke sini saja?"
"Bagaimana bisa? Papa pasti akan melarang. Lagipula aku belum menikah dengannya, belum bisa untuk tinggal bersama," jawab Daniel.
"Ada benarnya juga. Tapi Nenek masih khawatir."
"Baiklah, kalau itu sudah teratasi," ucap Sasi lega.
"Tapi, Nek, Daniel bingung. Apa Papa yang melakukan semua ini agar aku berpisah dengan Alin?"
Sasi menggeleng. "Nenek tidak tahu, tapi papamu akhir-akhir ini memang terlihat sibuk."
"Bisa saja kan dia pelakunya, secara dia pernah mengancam akan melakukan apa pun supaya aku berpisah dengan Alin. Bisa jadi ini adalah siasatnya," jelas Daniel.
Daniel berargumen yakin. Pasalnya jika ayahnya mengancam, itu memang benar akan dilakukan. Ayahnya adalah tipe yang tidak main-main dengan ucapannya.
"Yang jelas akibat berita itu, berbagai masalah akan timbul, Daniel. Terutawa reputasimu juga akan kena," tutur Sasi.
"Maka dari itu aku sudah mengutus Vano untuk menghapus semua artikel yang memuat tentang berita itu, Nek. Aku juga menyuruhnya untuk melacak siapa yang menyebarkan berita itu. Semoga saja bisa mendapatkan titik terang."
Sasi mengangguk. Berharap saja semoga masalah ini cepat terselesaikan.
"Apalagi untuk meredam anggota dewan direksi yang selalu bertanya tentang kebenaran berita itu, aku akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan semuanya," sambung Daniel.
"Tega sekali mereka yang menyebarkan berita ini," keluh Sasi.
"Apalagi, mereka pasti punya dendam pribadi kepadaku. Itu sangat jelas." Daniel menyimpulkan.
__ADS_1
Sasi mengangguk paham. Ini bukan sekali saja masalah yang terjadi. Dulu juga banyak terjadi karena ingin menjatuhkan posisi Daniel. Namun, untungnya Daniel bisa mengatasinya dengan bersih.
Daniel menatap neneknya lalu menggenggam tangan renta itu.
"Nek, Daniel akan menikahi Alin setelah semua masalah ini selesai," ungkap Daniel.
Sasi sampai menutup mulutnya karena terkejut. Tidak menyangka dengan perkembangan cucunya itu.
"Menikah? Apa dia setuju?"
"Setuju, Nek. Dia menerimaku lagi. Kami akan bersama." Daniel tersenyum senang.
"Astaga, selamat. Nenek jadi ikut senang." Sasi memeluk Daniel erat saking senangnya mendapatkan kabar itu.
"Makasih, Nek. Restui hubungan kami."
"Pasti, Nenek akan jadi orang yang pertama merestui hubungan kalian," jawab Sasi mantap.
"Tapi sekarang yang sanksi adalah papa. Papa pasti bertindak nekat," ungkap Daniel.
"Nenek akan berusaha membujuk, barangkali hatinya yang keras itu bisa melunak. Serahkan pada Nenek. Yang penting kamu, urus pernikahanmu dulu." Sasi melerai.
"Terima kasih, Nek. Nenek adalah orang ter the best sejagat raya." Daniel memuji.
"Bisa saja kamu. Urus tuh calon kamu, jangan ditinggal lagi," tukas Sasi.
"Utama itu."
Daniel terkekeh. Mendapatkan restu sudah, sekarang ia hanya perlu menyelesaikan masalah yang terjadi di media massa, dan mencari dalang di balik kejadian ini.
Tentang masalah ayahnya, Daniel masih memikirkan solusinya. Ayahnya tipe orang yang nekat, kalau Daniel tidak bergerak cepat mungkin nantinya akan ada masalah lagi yang timbul akibat ulah ayahnya itu.
Tahu sendiri, Kan, Pras bagaimana?
Sekarang ia hanya perlu mencari siapa yang menyebar berita itu.
Akan tetapi, siapa?
---
Selamat siang semuanya, lagi pada ngapain ini?
Kira-kira siapa ya yang nyebarin berita itu? Ada yang bisa tebak?
Jawab dikolom komentar, ya....
__ADS_1