Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Kepolosan Arlo


__ADS_3

"Mom, Dad! Akhirnya kalian pulang juga!" teriak Arlo yang tahu siapa sosok yang berjalan di dari arah pintu.


Alin tersenyum, lalu meraih Arlo dalam gendongan. Dicium anaknya itu dengan tulus, seakan untuk mengobati rasa rindu anaknya yang ditinggal dua hari. Setelah selesai, ia menurunkannya lagi.


Bocah itu pun merengut karena kesal dirinya ditinggal sendiri, padahal baru saja dua hari Daniel dan Alin menginap. Bagaimana kalau satu atau dua bulan. Bisa-bisa Arlo mogok makan.


"Kalian ke mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Arlo dengan mata sembab.


"Kenapa anak Mommy menangis, huum? Merindukan Mommy, ya?" tanya Alin sambil mengusap air mata Arlo yang menetes pelan.


Arlo tetaplah anak kecil yang bermanja kepada ibunya, meskipun dengan segala bidang yang ia sukai dan talenta besar yang ia miliki, Arlo tetaplah bocah yang merengek ketika ditinggal ibunya.


"Mommy meninggalkan Arlo di sini. Ini pasti karena Daddy yang memaksa, kan? Iya, ini pasti ulah Daddy." Arlo menunjuk Daniel sambil memajukan bibirnya.


Daniel yang ditunjuk hanya memundurkan wajah. Merasa diselidiki oleh anaknya sendiri. Ya, meskipun itu adalah hal benar, tapi tetap saja Daniel tidak akan mengaku.


"Iya, ini pasti ulah Daddy. Daddy kan suka memaksa, dulu saja mengurung Mommy!" Arlo kesal.


Daniel meringis ketika anaknya mengatakan itu. Ia jadi teringat kejadian di masa lalu di mana, ia pernah menyekap Alin.


"Kami ada urusan, Arlo. Jadi, tidak bisa membawa Arlo pergi," jawab Alin seadanya.


"Urusan apa yang Arlo tidak boleh ikut?"


Alin dan Daniel saling berpandangan, mencari jawaban yang pas. Masa ia harus mengatakan tengah sibuk sendiri bermalam bersama, kan tidak etis.


"Ya urusan, urusan perusahaan." Alin kembali menjawab.


"Kan Arlo juga mau lihat bagaimana urusan perusahaanya, Mom. Arlo kan mau jadi pebisnis hebat seperti Daddy. Jadi, Arlo harus belajar."


Alin tersenyum miris, bagaimana ia akan berkilah lagi? Anaknya itu sungguh menimpali perkataanya dengan tepat.


Untung saja di sebelah sana ada Sasi yang melihat situasi itu dan langsung berupaya menghentikannya. Ia membawa makanan ke atas meja makan sambil mengamati Arlo.


"Eh, Alin, Daniel, kalian sudah pulang? Sini, duduk dulu," ucap Sasi sambil membawa minuman dan beberapa camilan.


Alin bangkit dari simpuhannya dan menggandeng Arlo untuk berjalan menuju sofa. Tentunya dengan Daniel yang berada di belakang membimbing keduanya.

__ADS_1


Arlo duduk di pangkuan Alin karena merasa rindu dengan ibunya. Seakan tidak mau melewatkan waktu sedetik saja untuk melepaskan ibunya.


"Wah, banyak sekali makanan. Arlo pasti sangat senang tinggal di sini, kan?" sahut Alin. Sambil mengamati makanan banyak yang ada di atas meja.


"Dia antusias sekali. Tapi Arlo selalu menanyakan di mana kalian. Daniel, apa malam pertama kalian menyenangkan?" Sasi menaik turunkan alisnya. Menggoda adalah kesenangan sendiri bagi Sasi.


Daniel melirik Alin di sana, sementara yang dilirik hanya membulatkan mata kaget. Sebenarnya bukan malam pertama lagi, karena mereka sudah melakukan beberapa kali. Pertama kalinya adalah di club dulu.


"Mm, menyenangkan sekali. Kan, Sayang?" Daniel melirik Alin dengan sebelah alis yang terangkat, lebih tepatnya menggoda. Sementara dari Alin hanya dihadiahi pukulan mematikan di bahu Daniel.


"Begitu, ya, memang pengantin baru." Sasi pun ikut meledek. Sambil tersenyum penuh arti kepada Alin.


Sementara Alin di sana hanya menahan malu atas perbuatan Daniel. Apalagi Sasi ikut juga, semakin membuat pipi Alin memerah.


Berbeda dengan Arlo yang nampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh orang-orang dewasa itu. Ia tidak paham. Tapi ya namanya Arlo juga penasaran.


"Malam pertama itu apa?" tanya polos bocah itu.


Daniel yang sedang minum sontak menyemburkan minumannya ketika bocah itu bertanya dengan polos. Pria itu nampak kesusahan menelan saliva karena pertanyaan mencekik itu. Pun dengan Alin yang sama bimbangnya ketika mendengar pertanyaan frontal dari Arlo.


"Mm, malam pertama itu seperti tidur bersama begitu," jawab Daniel gagu.


"Oh, berarti Arlo dan Mommy sering malam pertama, dong? Kan kami sering tidur bersama," kata Arlo lagi. Bocah kecil itu sepertinya akan membuat ayahnya kebingungan.


Daniel menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kenapa ia malah terjebak dengan jawabannya sendiri?


"Arlo, apa sih pertanyaan kamu? Anak kecil belum seharusnya bertanya seperti itu. Suatu saat ketika kamu dewasa nanti, kamu akan tahu dengan sendirinya," timpal Alin.


"Alin hanya bertanya, Mom. Ah, Arlo rasanya ingin cepat dewasa dan ingin tahu apa itu malam pertama. Arlo juga mau malam pertama," jawab Arlo lagi dengan polos.


Sementara Daniel di sana hanya menahan kekehan saja atas jawaban bocah itu. Memang bibitnya itu sangat interaktif.


"Apa, sih, bahasan kalian? Arlo duduk sendiri sana, Mommy capek kalau dipangkuin terus," ucap Sasi mengalihkan topik.


Arlo lantas turun dari pangkuan Alin dan menempatnya dirinya di kursi sebelahnya.


"Oh, iya, Arlo. Mommy bawain kue kesukaan kamu." Alin membuka paperbag dan meletakkan kue kesukaan Arlo di atas meja.

__ADS_1


"Wah, terima kasih, Mom!" Arlo antusias, mengambil kue yang dibawakan ibunya.


"Papa ke mana, Nek? Apa dia tidak pulang lagi?" tanya Daniel.


"Pulang, tapi katanya tadi ada urusan begitu. Entah ke mana perginya," jawab Sasi.


"Oh, Daniel kira pergi lagi." Daniel kembali meminum minumannya.


"Mom, Dad, sebentar lagi ada acara pentas. Arlo juga mau tampil. Apa mommy dan Daddy bisa hadir untuk menyemangati Arlo?" Arlo menatap kedua orang tuanya.


"Mommy pasti hadir, dong. Memangnya kapan pentasnya akan dilakukan? Dan Arlo mau unjuk bakat apa?" tanya Alin sambil mengelus kepala anaknya.


"Satu minggu lagi. Dan Arlo mau unjuk kebolehan bermain piano," jawab Arlo.


"Memangnya bisa main piano?" Daniel menimpali.


"Bisalah."


"Benarkah?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Arlo memang bisa. Dulu juga sering bermain piano." Alin menimpali ucapan Daniel tadi. Memang waktu diluar negeri Arlo sudah mempelajari dasar-dasar bermain piano.


Daniel menggeleng sambil memberikan standing aplouse kepada anaknya. Tidak menyangka dengan talenta yang dimiliki anaknya. Sebenarnya ada berapa lagi talenta yang dimiliki anaknya itu? Kenapa sangat misterius?


"Daddy akan belikan piano kalau begitu," ucap Daniel.


"Kan lombanya sebentar lagi, Dad. Kenapa harus beli piano sekarang?" Arlo menimpali.


"Ya, itu sebagai sarana belajar saja, kan kamu mau tampil. Jadi, ya harus totalitas," ucap Daniel.


"Baiklah. Kalau begitu. Aku ikut," jawab Arlo.


"Nih, makan daging biar cepat besar. Biar makin pintar." Daniel memberikan sepotong daging ke piring Arlo.


Arlo menatapnya dengan aneh, kemudian mengangguk patuh saja dan memakannya. Lalu mengacungkan dua jempol kepada ayahnya.


"Pokoknya kalian harus datang di acara pentas."

__ADS_1


__ADS_2