Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Bibit Unggul


__ADS_3

"Sudah menemukannya?"


"Belum, Tuan. Belum ada laporan juga dari pihak tim IT kita. Situs-situs yang memuat berita itu juga bungkam ketika ditanyai," jawab Vano.


Pencarian orang yang telah menyebar isu itu masih berlanjut. Daniel mengundang Vano untuk pergi ke apartemennya dan mengawasi dari sana. Setelah hari itu, masih ada sedikit kegoncangan yang terjadi, tapi untungnya Daniel bisa menghadapinya.


Kini tinggal beberapa masalah yang harus dituntaskan. Untung saja Daniel cepat menanganginya, kalau tidak rencananya untuk bekerja sama dengan perusahaan ternama bisa rusak karena isu itu.


Kedua pria itu nampak serius memperhatikan. Mencari dalang di balik semuanya tentulah sangat sulit. Apalagi pasti orang itu sudah memiliki rencana yang lebih terarah.


Arlo yang baru saja dari dapur menatap penasaran ke arah ayah dan asistennya. Dengan snack camilan yang ia pegang, bocah kecil itu lantas mendekat dan bertanya kepada dua pria itu.


"Kenapa, Dad?" Arlo menengok.


"Ini, Daddy lagi cari tahu siapa yang sebarin foto itu." Daniel menjawab tanpa melihat Arlo. Ia masih menatap layar laptop di depannya.


Arlo melirik sekilas, lalu menggeleng. Sudah saatnya dia menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah ini.


"Belum ketemu?" Daniel menggeleng.


Arlo lantas meletakkan snack di meja, lalu mendesak agar duduk di antara Daniel dan Vano. Bocah kecil itu mengambil laptop milik Vano dan mengotak-atiknya layaknya seorang hacker yang sudah ahli dalam bidangnya.


Semua itu tidak luput dari pandangan Daniel, pria itu menatap ke arah sang asisten yang sama bingungnya. Bingung dengan Arlo yang akan melakukan apa.


Jemari Arlo bergerak lincah di sana. Matanya melirik berbagai data yang terpampang di layar laptopnya. Butuh waktu sekitar lima belas menitan untuk membuahkan hasil dari penelusurannya.


"Nah, sudah," ungkap Arlo.


"Sudah apanya?" Daniel bingung.


"Ya, ini. Alamat yang mengunggah foto itu pertama kali. Sebuah website kecil yang berhasil aku lacak alamat IP-nya."


Daniel nyaris menganga mendengarnya. Bahkan Vano pun ikut takjub. Lantas kedua pria itu bertepuk tangan karena Arlo yang berhasil. Padahal tim IT perusahaan masih melakukan pencarian, tapi dalam sekejap Arlo bisa melakukannya.


"Bagaimana bisa?" Daniel masih takjub.


"Ya, bisalah. Memangnya siapa lagi yang waktu itu meretas sistem perusahaan Daddy selain aku?" Arlo berkata lugas.


Lagi dan Lagi Daniel dibuat terkejut. Pantas saja alamat peretas itu sama dengan alamat rumah Alin, ternyata memang anaknyalah yang meretas perusahaanya. Terdengar konyol. Bagaimana bisa anak kecil itu begitu mahir?


Anaknya sendiri? Bagaimana bisa Daniel tidak kaget. Ternyata seseorang yang dia remehkan malah menjadi ancaman terbesar sendiri bagi Daniel.

__ADS_1


"Jadi, Tuan Muda kecil yang melakukannya?" Vano masih heran.


"Iya. Bagaimana susah mengembalikannya?" Arlo tersenyum sinis. Tersenyum licik di sana.


"Astaga."


Vano bahkan hampir pingsan mendengarnya. Ia bahkan ingin menangis ketika tahu pelakunya adalah anak dari atasannya sendiri. Sudah puas ia dimarahi Daniel waktu itu karena tidak bisa secepatanya memulihkan kerusakan itu.


Dan ternyata, pelakunya adalah anak kecil?


"Jadi benar kamu yang melakukanya, Arlo?" Daniel masih tidak percaya.


"Iya, Dad. Bukankah aku dulu sudah bilang jangan menyentuh mommy atau akan dapat balasan yang setimpal? Ya itu balasannya," jawab Arlo.


Daniel masih ingat ketika Arlo mengancamnya waktu itu. Ternyata benar anak itu melakukannya, bahkan ancamannya lebih mengerikan dari pembunuhan. Ibaratnya melenyapkan secara pelan-pelan.


"Melakukan apa?" Alin datang dari dapur sambil membawa makanan dan minuman.


"Itu loh, Mom. Mereka kaget karena aku yang meretas perusahaan Daddy," jawab Arlo.


"Kamu meretasnya?" Alin juga tidak percaya.


Alin hanya menggeleng tidak percaya. Ia memang sudah tahu jika anaknya itu berbeda dari anak seusianya, tapi untuk meretas perusahaan Daniel sebagai balas dendam, itu Alin yang tidak percaya.


"Daddy sampai pusing cari orang yang bisa memulihkannya, Arlo. Pelakunya ternyata kamu––anak kecil?" Daniel merasa aneh.


"Jangan sembarang anak kecil, aku rusak sistemmu, bisa bubar perusahaanmu, Dad," ancam Arlo terdengar mengerikan. Membuat Daniel gugup mendengarnya.


Daniel mendelik. Kenapa dia malah takut diancam anaknya sendiri?


Sementara Vano di sana bertepuk tangan sambil menganga. Tidak percaya dalang di balik kerusakan waktu itu adalah seorang anak kecil. Benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Wah, benar-benar hebat! Paman salut, biasanya seusia Tuan Muda, paman masih suka bermain kelereng," ungkap Vano.


"Arlo juga suka bermain kelereng." Arlo menanggapi.


"Tapi kalau Daddy berani jahatin mommy, aku akan merusak perusahaanya," ancam Arlo..


"Astaga, Arlo." Daniel mengelus dadanya.


"Tuan Muda yang merusak, saya yang akan kena imbas. Jadi lebih baik jangan," timpal Vano kepada Arlo.

__ADS_1


"Kenapa, Paman?" Arlo penasaran. Mendekati Vano di sana.


"Paman bisa digantung hidup-hidup," bisik Vano kepada Arlo. Sangat privasi.


"Uhhh, mengerikan." Arlo menutup mulutnya tidak percaya. Lantas menatap ayahnya di sana.


Daniel yang diperhatikan hanya menaikkan sebelah alis. Daniel masih saja kaget karena mengetahui kemampuan anaknya. Arlo, benar-benar anak yang penuh dengan kejutan.


"Benar-benar bibit unggul," gumam Daniel.


Alin yang mendengar itu hanya merotasikan mata. Lantas ia mempersilahkan Vano untuk memakan hidangannya tadi.


"Silakan dinikmati. Jangan terlalu dipikir berat. Nanti bisa stres," ungkap Alin.


"Terima kasih." Vano menggangguk.


Daniel menatap Vano sinis. Kenapa malah asistennya yang mendapatkan perhatian dari Alin? Menyebalkan.


"Lalu bagaimana, Tuan Muda kecil? Rencana apa yang bisa dilakukan?" tanya Vano kepada Arlo. Barangkali ia mendaatkan saran yang bermutu.


"Aku sudah melacaknya. Alamat pemosting di situ. Barangkali paman bisa pergi ke alamat itu dan menelusurinya," jawab Arlo.


"Baik." Vano paham, lantas mencatat alamat tersebut.


"Kalau begitu saya izin pergi dulu. Terima kasih Tuan Muda atas bantuanya," ucap Vano.


"Sama-sama Paman! Rekrut aku jadi asistenmu, ya," ucap Arlo yang dihadiahi tatapan takut dari Vano.


"Waduh, yang seharusnya jadi atasan kan Tuan Muda, masa saya." Vano menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Tidak mengerti dengan apa mau Arlo.


"Tapi aku mau jadi asisten Paman Vano," jawab Arlo.


Membuat Vano kelimpungan sendiri. Bagaimana bisa anak bossnya sendiri menjadi bawahannya? Sangat tidak logis. Bisa-bisa Vanolah yang akan kembali hanya tinggal nama saja.


Daniel di sana hanya berdecak kagum dengan anaknya itu. Sangat persis dengan dirinya waktu kecil. Interaktif juga cerdas. Bibitnya memang benar-benar unggul.


"Benar-benar bibit yang unggul," gumam Daniel. Menyenggol lengan Alin.


Alin yang disenggol hanya menaikkan sebelah alis. Berpikir kenapa Daniel malah menatapnya dengan aneh. Menarik turunkan alisnya, seraya menyenggol berulang kali lengannya. Apakah pria itu sedang kerasukan? Apa kehabisan obat?


"Benar, kan?"

__ADS_1


__ADS_2