
"Senang bekerja sama dengan Anda." Daniel menjabat tangan seorang pria sebagai rekan bisnis barunya kalinya ini.
Daniel membungkukkan badan sebagai tanda penghormatana. Setelahnya bangkit lalu hendak beranjak ke tempat lain setelah meeting dadakan di sebuah restoran.
"Masih ada lima belas menit lagi, Tuan. Haruskah saya menghubungi Nyonya Besar?" tawar Vano yang sudah berdiri di sebelah Daniel.
"Tidak usah. Aku akan ke sana. Urus jadwalku selama tiga puluh menit ke depan," titah Daniel.
"Baik, Tuan."
Daniel memasukkan tangannya ke saku celana lalu melihat ke arah luar untuk beranjak ke rumah. Pasti neneknya itu akan memarahinya karena membatalkan janji makan malam bersama tadi malam, maka dari itu Daniel hendak memberikan sebuah hadiah sebagai sogokan.
Namun baru melangkah beberapa kali, Daniel menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal berjarak tidak jauh dengannya. Daniel mengernyit, lalu tanpa pikir panjang melangkah ke arah di mana orang berada tersebut.
Daniel mencekal tangan itu. Mengundang tatapan kaget dari sang penerima.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Daniel intens.
Alin yang kaget memegangi dadanya. Lantas ia melepaskan cekalan Daniel di tangannya. Menjaga jarak dengan pria itu. Tidak bisa dikilahkan ketika Daniel mulai menelusuri tatapan dari atas hingga bawah Daniel.
"CV? Kau mau melamar pekerjaan? Apa selama ini kau kesulitan keuangan?" Daniel menerka.
"Untuk apa kau peduli?" sinis Alin. Wanita itu terlihat sangat risih ketika Daniel menanyainya.
"Bagaimana dengan Arlo? Apa dia baik-baik saja?" tanya Daniel mengalihkan. Beberapa hari ini Daniel sibuk mengurus pekerjaan, makanya belum bisa mengunjungi Arlo.
"Baik. Dia baik. Untuk apa kau menanyakannya?" ketus Alin.
"Sebagai calon ayah yang baik, aku harus membiasakannya."
Ucapan Alin berhasil membuat mata wanita itu membulat. Alin langsung menatap Daniel dengan tatapan tidak biasa yang langsung disambut dengan senyuman licik Daniel.
"C-calon ayah? Jadi, kau berniat menikahi Nola?" Alin masih berusaha untuk tenang.
"Bukan dia, tapi kau," jawab Daniel berhasil membuat Alin mati kutu.
"Aku tidak akan mau menikah denganmu." Alin masih kekeh.
"Aku tidak butuh persetujuanmu." Tangan Alin mengepal mendengar itu.
"Bagaimana bisa kau menikahi wanita yang tidak kau cintai, hah? Lagipula kita sudah berakhir malam itu juga." Alin tetap teguh, sementara Daniel nampak tersenyum licik di sana.
"Seperti kau sudah tahu saja isi hatiku," jawab Daniel singkat.
__ADS_1
"Kau––terserah, aku tetap tidak mau." Alin memalingkan muka.
"Aku akan memaksa." Jawaban mudah dari Daniel itu membuat Alin naik pitam.
Wanita itu hendak bersuara, sebelum ia melihat seseorang yang ia benci berada di restoran yang sama dengannya––sehingga Alin memutar cara untuk bisa balas dendam. Melihat Daniel berdiri tidak jauh dengannya, ia segera mendekat dan memegang tangan Daniel lalu berdempetan dengan pria itu.
Daniel di sana terpekur. Ia masih intens menatap wanita yang saat ini bersandar di bahunya dengan nyaman. Nyaris Daniel menahan napas selama beberapa saat karena perlakuan dari wanita yang menolaknya mentah-mentah.
Sebenarnya ada apa?
"Daniel," panggil Alin lembut yang mampu menggetarkan hati Daniel.
'Sial, apa yang terjadi denganku? Kenapa dadaku mendadak berpacu dengan cepat seperti ini?' batin Daniel di sela kegugupannya, tapi ia masih menampilkan wajah datar agar tidak ketahuan.
"Tuan Daniel?" ucap seseorang.
Daniel teralihkan dari pikiran panjangnya mengenai sikap Alin. Di depannya tengah berdiri seseorang berpakaian rapi menyapa dirinya.
"Kau ...."
"Perkenalkan, Tuan. Saya Raka, dari perusahaaan LeeDesain." Raka mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Daniel.
Daniel menerimanya.
"Alin, kau ...?"
"Sayang, bukankah tadi kita mau makan siang? Cepatlah, perutku sudah berbunyi sejak tadi," kata Alin kepada Daniel. Kian mengeratkan pegangannya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Raka.
Daniel yang melihat itu hanya menaikkan sebelah alis. Ia bingung, sekaligus kaget. Kian tak tertahankan ketika Alin menggesekkan kepalanya ke lengan Daniel.
"Mm, kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama?" usul Raka.
Alin menatap Daniel lekat. "Bagaimana, Sayang? Apa kau tidak keberatan?"
Sayang? Raka merinding mendengar itu. Lantas memandangi Daniel yang hanya terdiam.
Berbeda dengan Daniel, pria itu malah nyaris pingsan di tempat mendengar panggilan mesra itu. Terlebih ketika melihat wajah cantik Alin yang bersinar hari ini, semakin membuat Daniel gugup.
Ini tidak baik bagi kesehatan jantung Daniel!
"B-boleh," putus Daniel terbata-bata. Lantas membimbing ke salah satu meja yang sebelumnya tempat Daniel meeting itu.
Daniel duduk dengan tangan yang masih di peluk oleh Alin. Ia sedikit kesusahan, apalagi saat ini dipandangi oleh orang lain, Daniel semakin risih.
__ADS_1
"Bisakah kau melepasnya sebentar saja?" tanya Daniel.
"Ummm, aku tidak mau. Aku mau bermanja denganmu hari ini." Alin menggeleng lucu, melihat Daniel dengan intens. Tanpa disadari seseorang di sana tengah mengepalkan tangan dengan kuat.
Daniel berdehem, lalu mengambil menu makanan yang ada di atas meja.
"Mau pesan apa, Tuan Daniel? Sekalian saya pesankan," ungkap Raka.
"Umm, sepertinya cukup shrimp creole saja. Apa kau maju juga?"
"Apa pun yang kau pesan." Alin mengangguk.
"Bukankah kau tidak suka dengan seafood?" Raka menjawab. Ia menatap Alin di sana dengan intens.
Hal itu membuat Alin dan Daniel menatap ke arahnya. Alin yang mengerti itu langsung menatap Daniel penuh kasih sayang.
"Selama kekasihku suka, aku akan suka," jawab Alin tanpa mengalihkan pandangan dari Daniel.
"Kekasih?" Raka bertanya sinis. Mendengus sebal.
Daniel berdehem, kemudian ia tiba-tiba bangkit dari kursi dengan wajah yang memerah. Ia begitu gugup, sampai-sampai rasanya ia ingin melarikan diri.
"A-aku akan ke toilet sebentar," pamit Daniel langsung pergi.
"Daniel!" panggil Alin. Aneh, pikirnya.
Kini terjadi kecanggungan, hanya ada Raka dan Alin di sana. Sampai pesanannya datang, tidak ada yang membuka suara sama sekali.
"Bagaimana kau akan memakannya? Bukankah kau tidak suka dengan semua yang berbau seafood?" Raka menatap Alin.
"Sekarang suka," jawab Alin singkat.
"Mmm, apa benar kau punya hubungan dengan Daniel? Mantan kekasihnya Angela?"
Alin mendongak. "Kenapa? Apa aku tidak berhak? Bukankah Angela juga sama, merebutmu dariku?"
"Alin, masalah hari itu sebenarnya––"
"Tidak apa. Aku tidak akan mengingatnya lagi." Alin memalingkan muka.
"Aku minta maaf atas itu. Aku yang bersalah, tapi apa semua yang telah kita lalui bisa dilupakan begitu saja? Apa kau tidak mencintaiku lagi, Alin? Tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan agar kita bisa bersama seperti dulu lagi," ungkap Raka.
Alin menatap dengan lekat Raka. Omongan pria itu memang ada benarnya. Bukankah manusia memang tempatnya salah dan dosa? Lalu apakah sebagai manusia lain kita tidak bisa memaafkannya?
__ADS_1
"Aku mau."