Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Manfaatkan Menantumu


__ADS_3

"Mas, aku minta uang."


Darma mendongak dengan tatapan sengit kepada istrinya. Ia sudah lelah bekerja, apalagi kondisi perusahaannya sedang tidak baik-baik saja, ditambah sekarang istrinya itu memohon meminta uang.


"Minta uang? Bukannya satu minggu lalu sudah kuberi?" tanya Darma.


"Ya, itu kan sudah habis. Perawatan mahal, Mas. Sekarang ya aku butuh lagi," tukas Warda.


"Kau kan tahu kondisi perusahaanku sedang tidak bagus, lalu kenapa menghamburkan uang sesukamu, Warda?"


Warda mendelik. "Itu hanya sedikit saja, kenapa dipermasalahkan?"


"Ini bukan masalah sedikit atau banyak! Tapi kita harus berhemat. Perusahaan sedang tidak baik, jadi jangan menghamburkan uang seperti itu. Itu sebagai cadangan kita nanti kalau ada masalah," tukas Darma.


Warda memberenggut kesal, ia tidak suka dengan suaminya yang melarangnya melakukan hal yang dia suka.


"Kau tahu perusahaan kita sedang tidak baik, ada kecurangan dan aku belum menemukan dalangnya. Perusahaan rugi besar karena pengkhianatan orang dalam," tukas Darma.


Warda melirik sinis. Kalau sudah begini, hanguslah sudah uang bulananya. Perawatan, belanja, dan lain sebagainya tidak akan terpenuhi. Tiba-tiba saja ide cerdik terlintas di benaknya.


"Kenapa tidak minta saja menantumu untuk membantu, Mas? Daniel kan bisa segalanya," ucap Warda.


Darma sedikit berpikir, yang pada akhirnya ia menjawab, "Susah. Dia memang menantuku, tapi untuk meminta bantuan tetap saja sudah. Aku sudah mencari cara, tapi tidak ada hasil."


"Ya, kamu suruh tuh anak kesayangan kamu itu buat membujuk Daniel membantu perusahaan kita. Masa tidak mau membantu usaha ayah mertuanya, sih." Warda masih bersikeras.


"Alin?" Darma menaikkan sebelah alis.


"Iyalah, siapa lagi anak kesayanganmu itu selain dia. Rayu saja Alin, dan katakan bisnis kita di ujung tanduk, suruh dia bicara pada suaminya untuk menyuntikkan dana ke kita. Beres, kan?" Wanita paruh baya itu menjelaskan.


Darma terdiam. Memang Alin adalah kartu As dirinya. Alin pasti tidak akan menolak rengekannya apalagi jika Darma yang melakukannya. Namun, Darma pernah melakukannya sekali, tapi sampai sekarang tidak berhasil juga.


"Gunakanlah sesekali anakmu itu," sindir Warda. "Daniel kan kaya, manfaatkanlah sedikit."


Darma menatap sang istri dengan lekat. Ada benarnya juga. Dalam kekacauan perusahaan seperti ini hanya Daniel lah yang bisa membantunya keluar dari masalah. Dan ia harus meminta bantuan.


***


Di sisi lain di keluarga Maheswara.


Pras tengah duduk di halaman depan sambil membaca koran. Pagi ini ia ingin bersantai dengan tidak memikirkan apa pun. Berita hangat pagi ini menyambutnya, terlebih ketika terdapat jajaran nama anaknya pada berita paling hot di koran.


"Kakek," panggil seseorang.

__ADS_1


Pras menoleh, mendapati Arlo di sana yang tengah menatapnya dengan senyuman. Setelah puas melihat pria paruh baya itu langsung melihat ke arah koran lagi.


"Kakek baca apa?" tanya Arlo.


"Koran," jawab Pras singkat.


Arlo mengangguk. Jawaban dari Pras sedikit mengecewakan. Arlo kira kakeknya itu sudah sedikit luluh dan menyayangi dirinya. Namun, ternyata belum juga.


Arlo pergi dari sana, dan berlari menuju dapur. Ia berniat untuk membuatkan kopi kakeknya karena tadi dia tidak melihat minuman penghangat pelengkap kegiatan membaca koran di pagi hari. Namun, Arlo tidak tahu cara membuatnya. Juga tinggi meja sangat jauh dari tinggi badannya.


Arlo tersenyum ketika melihat pembantu rumah tangga berjalan menuju dapur. Arlo melambaikan tangan, mengintruksikan untuk mendekat.


"Bibi!" panggil Arlo.


"Iya, Den?"


"Tolong buatkan kopi, ya?"


"Den Arlo mau minum kopi?" Arlo menggelng.


"Bukan aku, Bi. Tapi kakek. Buat sesuai selera kakek, ya?" Pembantu rumah tangga itu langsung membuatkannya.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya kopi itu sudah siap dan ditaruh di atas nampan. Semula pembantu rumah tangga itu yang akan membawanya, tapi lebih dulu dicegah oleh Arlo.


"Tapi, Den, ini panas."


"Tidak apa––akh!" Tidak sengaja Arlo memegang pinggiran gelas, bukan nampannya. Jelas saja tangannya terasa terbakar karena kopinya memang diseduh dengan air yang cukup mendidih.


"Astaga, Den Arlo!" Pembantu itu khawatir.


Arlo menggeleng sambil tersenyum meskipun sedikit kebas tangannya. "Tidak apa, Bi. Ini tidak sakit. Jangan khawatir. Sini, aku yang berikan. Aku janji berhati-hati."


"Tapi, Den, Den Arlo nanti terluka lagi seperti tadi."


"Tidak, Bi. Arlo akan hati-hati. Berikan." Arlo menegadahkan tangannya.


Karena dipaksa, pembantu rumah tangga itu memberikan nampan berisi minuman itu kepada Arlo. Arlo yang sudah menerimanya segera berjalan dengan perlahan menuju depan rumah untuk memberikan kopi tersebut kepada Pras.


Penuh kehati-hatian, Arlo akhirnya sampai di depan rumah dengan selamat. Ia perlahan meletakkan kopi tersebut di atas meja di sebelah Pras, lalu menyenggol tangan Pras agar bisa tahu keberadaanya.


"Kakek, ini minumnya," ucap Arlo.


Pras tersadar, melihat kopi panas di atas meja. Lalu menatap anak kecil yang saat ini tengah menatapnya penuh senyuman.

__ADS_1


"Arlo tadi lihat tidak ada minuman, makanya Arlo bawain kopi untuk kakek. Diminum, ya, Kek." Arlo tersenyum kembali.


Pras menaikkan sebelah alis. Benarkan bocah itu membuatkan kopi? Bagaimana bisa?


"Kamu membuatnya sendiri?" Pras menyelidik.


"Bukan, aku menyuruh Bibi yang membuat. Arlo kan belum besar, jadi tidak sampai tangannya untuk bikin sendiri," jawab Arlo.


Pras mengangguk. Tanpa sepatah kata lagi mencicipi kopi tersebut. Tanpa tahu bahwa anak di depannya itu tengah menyembunyikan tangan di belakang badan.


"Bagaimana, Kek? Enak?" tanya Arlo antusias.


"Hmm."


"Baguslah kalau Kakek suka. Arlo senang," ucap Arlo.


Pras berdehem sebagai jawaban, tapi di sudut matanya ia bisa melihat Arlo tengah menyembunyikan tangan kiri di belakang badan. Entah apa yang terjadi pada anak itu, ia tidak tahu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat menikmati kopinya, Kek." Arlo pergi sambil membawa nampan.


Arlo berjalan pergi, sebelum ia sampai di dapur. Arlo memegangi jemari tangan kiri yang terasa panas karena memegang gelas tadi. Ia meniupnya sedikit agar rasa sakitnya berkurang.


"Huhhh, cepat sembuh, cepat sembuh," gumam Arlo sambil meniup-niup tangannya.


Arlo terus meniupnya, ia juga membasuh tangannya menggunakan air supaya cepat sembuh. Biar saja Pras tidak tahu bahwa cucunya berusaha keras sampai terluka seperti ini.


"Arlo, kamu kenapa?" tanya Sasi.


"Ah, tidak kenapa-kenapa." Arlo berkilah.


"Bohong, mana sini lihat dulu." Sasi membulatkan mata ketika tahu tangan Arlo memerah.


"Astaga, ini kenapa bisa merah? Jawab, Arlo," desak Sasi.


"Kena gelas yang isinya air panas." Arlo menjawab polos.


"Kok bisa?"


Arlo terdiam, ia mencoba cari alasan lain.


"Mau minum kopi, tapi tidak sengaja terkena hantaran panas dari gelas, makanya seperti ini." Arlo masih menjawab.


"Ya ampun, Arlo. Kamu kan bisa minta bantuan. Sini, diobatin dulu."

__ADS_1


__ADS_2