
"Angela!"
Angela terlonjak kaget ketika namanya tiba-tiba dipanggil oleh seseorang. Dia menoleh, dan mendapati seorang pria berdiri di sebelahnya. Raka.
"R-Raka?" Angela gagap.
Raka di sana hanya menatap sambil menampilkan wajah datar. Pandangannya lansung teralih pada sosok pria paruh baya yang duduk berhadapan dengan Angela.
"Kenapa kau di sini? Bukankah katamu kau di rumah?" sinis Raka.
Angela gugup. Sial, kenapa kekasihnya itu bisa di restoran yang sama dengan dirinya?
"Raka, kenapa bisa ada di sini? Bukankah kau sedang bekerja?" Angela mengalihkan topik.
"Kenapa? Kaget kalau aku memergokimu seperti ini?" sinis Raka menatap.
Angela bak cacing kepanasan. Bisa hancur rencananya jika sampai Raka tahu dirinya berkencan bersama pria lain seperti ini.
"Angela, siapa dia?" tanya pria paruh baya itu.
"Selingkuhanmu?" timpal Raka sambil menunjuk pria tua tadi.
Angela menggeleng. "Selingkuh apaan, sih. Ini tidak benar. Aku hanya bertemu dengannya karena ada urusan bisnis!"
"Urusan bisnis apa yang sampai suap-suapan? Apa kau pikir aku ini pria bodoh?" Raka mendelik.
"Kenapa menuduhku seperti itu, hah? Apa kau tidak percaya lagi?" Angela menaikkan sebelah alis.
"Awalnya aku tidak percaya, aku kira mereka hanya mengatakan omong kosong agar kita berpisah, tapi setelah hari ini aku semakin yakin bahwa kau memang berselingkuh, Angela!" sentak Raka.
"Selingkuh apanya!"
"iya! Berselingkuh dengan pria yang lebih kaya dariku, karena usahaku di ujung tanduk! Aku berpikir bahwa kau adalah alasanku untuk bertahan, tapi ternyata tidak sama sekali!"
__ADS_1
Angela mengerutkan kening ketika Raka mengatakan itu. Ia tidak tahu kenapa kekasihnya itu tiba-tiba tahu dirinya berada di sini. Sementara Raka di sana menatap dengan sengit dan terus saja memperhatikan Angela yang nampak hanya berdiam diri saja.
"Angela, siapa pria ini?" tanya pria tua itu lagi.
"Katakan, kau selama ini berselingkuh di belakangku, kan? Setelah apa yang aku kasih kepadamu, bisakah kau menungguku sebentar saja untuk mengurus bisnisku yang hampir tumbang? Tapi kenapa kau malah berselingkuh dengan pria lain, dibanding menungguku, Angela?!" Raka menggoncang bahu Angela dengan kasar.
Angela menepis tangan Raka yang berada di bahunya. Ia menatap dengan sinis sosok pria yang sedang memarahinya itu.
"Benar, aku memang berselingkuh! Puas?"
"A-apa?" Raka tercekat.
"Aku memang selingkuh! Aku berselingkuh karena aku butuh uang! Sedang meminta uang kepadamu saja susahnya minta ampun! Jadi aku harus cari jalan lain untuk memenuhi keinginanku!" Angela yang bergantian untuk menyentak.
Raka di sana menampakkan wajah bingung. Kejujuran itu membuat dirinya sakit. Namun, sekarang Raka tahu alasan di balik perubahan sikap Angela kepadanya akhir-akhir ini, ternyata karena memang soal harta.
"Kau berselingkuh karena aku miskin? Setelah aku memilihmu dengan menyakiti Alin, kau membalasku dengan cara seperti ini?" Raka hampir tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ya! Kau saja yang bodoh. Dirayu sedikit saja sudah goyah! Lagian wanita mana yang mau dengan pria miskin sepertimu, hah?" Angela berkata sinis.
Angela bangkit dari kursinya dan bergerak mendekati pria paruh baya yang menjadi teman kencannya itu. Memegang lengan layaknya seolah menandakan kepemilikannya di sana.
"Aku sudah memiliki kekasih baru. Yang tentunya lebih kaya darimu," tukas Angela.
Raka menatap sengit kedua insan yang tengah bergandengan itu. Ada dendam tersendiri ketika melihat wanita yang biasanya bersamanya malah menggandeng tangan pria lain.
Raka yang sudah terbalut emosi bergerak maju dan melayangkan satu pukulan kuat di bagian rahang pria tua itu. Sontak saja perbuatannya membuat ricuh orang sekitar. Raka mencengkeram kerah baju pria itu lagi lalu melayangkan pukulan lagi.
"Sialan, kau!" geram Raka sambil hendak memukul lagi.
"Raka, stop!" lerai Angela berusaha memisah.
"Karena pria ini kau berpaling, kan?" sinis Raka. Kembali melayangkan pukulan.
__ADS_1
"Raka, aku bilang stop!" Angela menarik tangan Raka untuk menjauh dari pria tadi. Lantas memberi jarak beberapa meter.
"Kau gila, hah?" Angela berkata sinis.
"Ya! Aku gila karenamu! Aku gila karena lebih memilihmu daripada Alin! Wanita gila harta sepertimu pantasnya tidak ada di sini! Tidak pantas untuk hidup!" teriak Raka.
"Apa kau bilang? Aku tidak pantas hidup? Menyesal memilihku daripada Alin? Salahkan saja dirimu! Apa kau pikir aku mencintaimu begitu? Hah, jangan banyak bermimpi! Bahkan dari hari itu, aku hanya ingin membalaskan dendamku! Bukan benar mencintaimu, Raka. Renungkan sejenak tentang itu," tukas Angela.
"A-apa?"
"Kau pikir aku mencintaimu? Tentu tidak. Jangan bodoh. Sejujurnya aku lebih suka Daniel dibanding dengan dirimu jika saja Alin sialan itu tidak mengacaukan segalanya. Dan apa kau percaya jika aku menikah waktu itu aku tidak akan meninggalkanmu? Mana mungkin aku meninggalkan Daniel yang notabenenya anak tunggal kaya raya dibanding dengan remahan sampah seperti dirimu, Raka?"
Raka kembali dibuat tidak bisa berkata-kata. Pahitnya ia rasakan sekarang. Terbongkar sudah semua kebenarannya. Paket komplit dengan Raka yang mendapatkan hinaan sehingga kesakitkannya bertambah dua kali lebih banyak.
"Kenapa? Kaget karena tahu kebenarannya? Aku tidak pernah mencintaimu. Semua perkataanku hanyalah omong kosong semata. Kurang jelas?" Angela kembali berkata semakin sengit.
"Dan sekarang, aku mau kita putus!" sentak Angela.
Raka kembali membulatkan mata. Puncak kemarahannya kali ini adalah berkat pengakuan wanita itu. Raka akhirnya menyadari bila dirinya hanyalah sebagai pelampiasan semata karena rasa bosan. Dan bodohnya ia menganggap semua itu sebagai persetujuan.
"Baik! Jika itu maumu, tapi aku pastikan tidak akan membantumu jika ada masalah apa pun!" bentak Raka.
"Terserah! Lagian siapa juga yang akan meminta bantuanmu. Lagipula aku sudah punya orang yang bisa membantuku dalam segala hal." Angela sambil melihat pria tua di sebelahnya.
Raka membuang muka. Muak rasanya. Ia tidak mau melihat wajah wanita yang membuatnya jijik itu.
"Baiklah! Jangan menyesali apa pun setelah hari ini!"
"Tidak akan!"
Raka tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan tempat. Sebelumnya ia mengambil tas dan membawanya pergi. Terjawab sudah semua tentang posisi Raka selama ini. Ia hanya dijadikan pelampiasan.
Raka yang sudah naik di dalam mobil hanya bisa membanting stir karena merasa kesal. Ia meraup wajahnya dengan kasar diiringi suara teriakan kesakitan luar biasa. Raka terluka, kedua kalinya lagi.
__ADS_1
Dulu, ia memutuskan untuk meninggalkan Alin dan memilih dengan Angela. Ia kira perjalanannya akan mulus. Namun, Angela malah meninggalkannya di saat ia tidak punya apa pun, sementara Alin––dulu, wanita itu adalah wanita yang mau berada di sampingnya dalam keadaan punya ataupun tidak berpunya. Dan meninggalkan Alin, adalah kebodohan paling pahit yang Raka lakukan.
"Benar katamu, Alin. Aku sudah merasakan penyesalannya. Aku menyesal meninggalkanmu."