Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Bukan Anak Haram


__ADS_3

"Apa, jadi mereka sudah bersama?"


"Iya, Ma. Aku lihat sendiri kemarin. Mereka keluar dari mobil bersamaan. Apalagi kalau bukan mereka sudah bersama," tukas Angela.


Warda menggeram kesal. Sambil melihat foto yang diberikan anaknya, semakin kesal dirinya.


Mereka berdua tengah berada di sebuah restoran––setelah belanja dari salah satu pusat perbelanjaan. Angela yang nampak intens memberitahukan informasinya kemarin, sementara Warda hanya kaget mendengarnya.


"Bagaimana bisa mereka bahagia di atas penderitaan kita?" Wanita paruh baya itu tidak terima.


"Benar itu. Harusnya Kak Alin tidak mendapatkan kebahagiaan apa pun. Apalagi bersama Daniel––penerus keluarga Maheswara. Aku tidak terima." Angela juga tidak kalah untuk itu.


"Mama setuju."


Angela mencebikkan bibir. "Harusnya Kak Alin mati waktu itu, agar hidupku jadi tenang. Mungkin saja aku juga sudah bersama dengan Daniel."


"Benar juga. Harusnya juga Mama sudah menikmati harta keluarga Maheswara juga," ungkap Warda sambil mengamati wajahnya di cermin.


"Lihat, muka Mama sudah ada garis halus. Waktunya perawatan lagi. Angela, Mama boleh pinjam uang?"


Angela menaikkan sebelah alis, sambil menatap ibunya.


"Pinjam? Bukankah ada uang bulanan dari papa?" tanya Angela sambil menyeruput minuman.


"Ck, semenjak pertengkaran itu papamu itu membatasi uang belanja. Kau tahu juga kan akhir-akhir ini perusahaan papa lagi tidak sehat, jadinya uang untuk perawatan menipis," jelas Warda.


"Tapi aku juga tidak punya uang, Ma. Usahaku juga tidak terlalu sukses." Angela mengeluh.


"Bukankah ada Raka? Minta saja sama dia." Warda memberi usul.


"Akhir-akhir ini dia sibuk, Ma. Entah sibuk apa."


"Cobalah tanyakan. Punya kekasih itu harus ada manfaatnya, Angela. Jangan bodoh." Warda menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum sinis.


"Ya, nanti aku tanyakan."


Angela mengaduk-aduk minumannya. Pandangannya kembali beralih ke ponsel yang ada di atas meja dengan foto yang diambil kemarin waktu Daniel dan Alin tidak sengaja pergi bersama. Angela masih tidak ingat, bagaimana kedua orang itu bersama.


"Tapi, Ma, yang aku heran adalah ada anak kecil di antara mereka berdua," ungkap Angela.


"Anak kecil?"

__ADS_1


"Iya. Dan mereka terlihat sangat akrab. Apa mungkin itu anak Kak Alin dan Daniel?" Angela menatap ibunya.


"Anak? Mana mungkin ah. Kau tahu sendiri kan bagaimana sifat Daniel. Rasanya tidak mungkin kalau mereka memiliki anak diluar pernikahan." Wanita paruh baya itu tidak setuju.


"Bagaimana tidak mungkin? Mama lupa di hari pernikahanku Kak Alin mengatakan dia mengandung anaknya Daniel?" sinis Angela.


"Ya, tapi mana bisa secepat itu? Apalagi Alin menghilang, dan tiba-tiba mengaku hamil. Itu sangat aneh." Warda menyahut.


"Makanya––Ma, bukankah itu Kak Alin?" tunjuk Angela pada seseorang yang ia kira kakak tirinya itu.


Warda menoleh ke belakang dan mengamati. Memang benar, orang yang dia cari. Lantas ia menatap anaknya dengan senyuman misterius.


"Mama ada ide," bisik Warda kepada anaknya. Lantas ia menatap Alin yang nampak hendak menuju salah satu meja.


"Heh, pelakor!" teriak Warda yang mengalihkan semua atensi pengunjung restoran.


Alin menajamkan pendengaran. Ia begitu kenal dengan suara itu. Alin begitu muak ketika semua orang memandanginya dengan aneh, seolah dirinyalah yang paling bersalah.


"Bagaimana rasanya merebut calon suami orang?" sinis Warda.


Alin yang kesal, segera menoleh ke sumber suara. Di sana ia melihat ada ibu dan adik tirinya duduk santai sambil menyeringai.


"Perebut calon suami orang pantasnya diapakan, ya? Kenapa bisa dengan tidak malunya bersenang-senang dengan hasil merebut milik orang lain," sindir Warda diiringi kekehan.


"Maksud Mama apa?" ketus Alin.


Warda tersenyum, lalu berdiri dari duduknya. Menatap Alin yang terlihat sengit kepadanya.


"Perhatian semuanya! Ini hal yang penting, dan tolong didengarkan! Kalian lihat wanita ini, wanita ini adalah perebut calon suami anak saya! Kalian tahu kan Daniel Maheswara, pewaris keluarga Maheswara? Dia dengan tidak tahu malunya menggoda dan mendekati Daniel, padahal sudah berstatus calon suami anak saya!"


Pengumunan dari Warda itu langsung saja ditanggapi oleh orang dengan ramai. Banyak orang yang berbisik menghina, bahkan ada yang memvideonya untuk disebarkan ke dunia maya.


Alin menatap ibunya dengan nyalang. Kedua tangannya terkepal dengan kuat ingin membalas. Melihat ibunya yang menyeringai itu, semakin membuat Alin merasa geram.


"Huuu, dasar pelakor!"


"Terlihat baik, padahal busuk!"


"Bagaimana bisa kau mengambil milik adikmu sendiri, hah? Dasar tidak tahu malu!"


Teriakan-teriakan itu berasal dari orang-orang yang ada di restoran. Semakin menambah kesal Alin. Lantas ia berbalik dan dengan tegasnya menjawab semua teriakan itu.

__ADS_1


"Apa kalian juga ingin tahu bahwa dialah yang merebut tunanganku? Bagaimana bisa tunangan kakaknya sendiri, digoda dan dirayu? Bukankah sama saja dia yang memulai menjadi pelakor?" tunjuk Alin kepada Angela dengan sinis.


Angela yang ditunjuk membulatkan mata. Namun, ia tidak bergerak banyak sebab sudah diatasi oleh Warda. Warda mendorong bahu Alin––terlihat tidak suka.


"Menggoda? Jelaslah tunanganmu itu memilih Angela. Dia lebih cantik dan lebih pintar darimu. Pria mana yang tidak tergoda dengan anakku memangnya?" Warda menjawab sinis.


"Kalau begitu, Lalu kenapa Daniel memilihku? Wanita sederhana sepertiku, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Angela yang sempurna itu. Tapi kenapa malah memilihku, apa karena dia tahu anakmu yang cantik itu ternyata seorang penghangat ranjang orang?" balas Alin.


Warda menggeram kesal. Sial, kenapa sulit sekali untuk menjatuhkan Alin.


"Dan apa katamu tadi? Aku perebut?" Alin terkekeh, sambil melipat tangan di atas dada.


"Aku hanya mencontoh apa yang diperbuat anakmu yang maha sempurna itu. Eh, tunggu dulu. Apa Angela menurun keahlianmu dalam merebut milik orang lain? Bukankah kau juga merebut suami orang?" sinis Alin yang semakin terkekeh melihat wajah pias dari Warda.


"Tutup mulutmu!"


"Oh, aku tahu sekarang. Kenapa kau hobi sekali merebut milik orang. Eh, tapi kenapa kau malah ribut ketika milikmu direbut orang lain? Bukankah itu balasan atas perbuatanmu juga? Seperti itulah rasanya jadi korban atas tindakanmu itu!" Alin menyentak, tidak peduli yang berdiri di depannya itu adalah ibu tirinya.


Warda menahan kesal. Bisa-bisanya ia yang terpojokkan sekarang. Namun, beberapa detik kemudian ia menemukan sebuah ide untuk mematahkan perkataan Alin.


"Bukankah kau memiliki anak haram hasil dari perselingkuhanmu itu?" balas Warda.


Alin mendadak pias. Bagaimana ibunya tahu kalau dirinya sudah memiliki anak?


"Kenapa? Takut karena aku tahu? Alin, Alin, bagaimana bisa ya kau menggoda calon suami adikmu sendiri sampai hamil anaknya? Bukankah itu perbuatan yang keji?" Warda yang giliran melipat tangan di atas dada.


Alin mengeram kesal. Dia tidak suka bila ada orang yang menghina anaknya. Sekalipun itu keluarganya.


"Anakmu itu tidak sah. Dia anak haram," sinis Warda. Namun, ia tidak menyangka jika wajahnya langsung basah karena disiram.


Alin yang sudah tidak kuat, segera mengambil minuman di atas meja dan menyiram Warda sehingga wanita itu basah kuyup. Ia tidak suka anaknya dicap sebagai anak haram, karena tidak ada salah apa pun.


Warda melongo sambil mengusap air jus di wajahnya. Ia menatap Alin tajam karena siramannya tadi.


"Berhenti bicara tentang anakku! Dia bukan anak haram! Dia anakku!" bentak Alin.


Warda hanya sibuk mengelap wajahnya. Memandangi Alin yang kesal.


"Dan apa katamu tadi? Perbuatanku keji? Apa kacamu di rumah tidak cukup besar? Apa aku perlu menambahkannya? Kenapa penjilat harus teriak penjilat?" sinis Alin.


"Apa kau pikir aku akan tinggal diam? Kalian salah besar! Tunggu saja hari di mana aku akan membalas semuanya sampai kalian bertekuk lutut padaku!" Alin langsung pergi begitu saja. Dia tidak jadi untuk memesan makanan.

__ADS_1


Berbeda dengan Angela yang sibuk memberikan tisu kepada ibunya. Pun dengan Warda yang melihat ke arah pintu di mana Alin sudah melewatinya. Sial, dirinyalah yang malah dipermalukan.


"Awas kau, Alin. Kau bermain-main denganku, itu artinya ayahmu yang akan aku jadikan babu," geram Warda.


__ADS_2