
"Sayang, kamu nggak bawa apa gitu nanti buat Arlo?" tanya Daniel sambil membawa mobil.
"Kamu?" Alis Alin naik.
Daniel yang mengerti pandangan itu segera menggarung tengkuk yang tidak gatal. Ia merasa tidak aneh dengan jawabannya. Tapi kenapa Alin malah menatapnya dengan aneh?
"Ya, kamu. Kan kita sudah menikah, masa bahasanya harus formal. Ya, gantilah," jawab Daniel.
"Oh, begitu. Ya, nanti berhenti aja di toko kue dekat perempatan itu. Arlo suka kue."
"Oke." Daniel mangut-mangut.
"Sayang, nanti kita honeymoon ke mana? Kamu ada request an gitu, mau ke negara mana? Atau negara impian kamu?" Daniel kembali bertanya.
Alin mengusap dagunya. "Mmm, kayaknya kalau aku mau ke London deh. Sekalian lihat situasi dan teman-teman di sana gimana waktu aku kembali ke sini."
"Boleh. Aku jadi ingat waktu pertama kali bertemu dengan Arlo di bandara. Feelingku ternyata tepat, kalau dia anakku. Tapi kenapa kamu malah menutupinya dulu?" Daniel menatap Alin.
Alin meremas tepian bajunya karena gugup. Ia jadi teringat masa lalunya yang kelam. Dngan segala ketakutan dan kerapuhannya.
"Aku takut kalau aku dipisahkan sama Arlo, makanya aku sembunyikan. Kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak bisa dipisahkan dengan Arlo?" Alin menatap lekat.
"Gagasan dari mana kalau aku mau memisahkan? Entah apa pun masalahnya aku tidak akan memisahkan seorang anak dan ibu," tukas Daniel.
"Ya, mana kutahu. Kamu terlihat galak dan sarkas waktu itu, jadi aku takut kalau sampai terjadi."
"Dan memisahkan ayah dengan anaknya?" Daniel menaikkan sebelah alis.
"Maafkan aku."
"Kamu tahu, selama lima tahun aku sampai depresi mencari kalian. Aku sudah mengirim orang untuk mencari di mana keberadaanmu, tapi tidak kunjung ketemu."
Bisa Alin lihat kejujuran di mata Daniel saat ini. Sebenarnya waktu itu ia hanya berpikiran sempit dan takut akan kehilangan.
Bukannya Alin ingin memisahkan, bahkan Arlo pun sering menanyakan keberadaan ayahnya kerap malam mendatang. Namun, seringnya waktu berjalan, Arlo sudah mengerti dan tidak menanyakan lagi. Mungkin karena juga paham dengan situasi.
__ADS_1
"Depresi? Tapi kamu hari itu akan menikahi Angela, dan aku masih ingat," sanggah Alin tidak percaya. Bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Daniel bersanding dengan Angela dengan bahagia.
"Aku dijodohkan dengan ayahku––entah apa alasannya, aku tidak tahu. Dan karena kulihat dia gadis baik, aku bersedia menikahinya." Daniel menjawab seadanya. Memang ia sempat berpikiran seperti itu dulu. Angela menurutnya baik.
"Gadis baik?" Napas Alin sedikit tercekat. Setelahnya ia terkekeh meremehkan omongan Daniel tadi.
Daniel yang mendengar kekehan itu menaikkan sebelah alis. Ia tidak tahu maksud dan makna darinya. Namun, bisa ia lihat jelas bahwa keluarga Alin memang sedikit berantakan.
"Gadis baik mana yang tega merebut tunangan kakaknya sendiri. Aku memergoki mereka di sebuah hotel. Aku mengancam mereka dengan menarik semua aset yang aku berikan pada Raka dan menyebarkannya perselingkuhan mereka agar dapat sanksi sosial. Tapi mereka berusaha membunuhku dengan menyuruh orang menabrakku dan melakukannya seolah-olah tabrak lari."
"Apa?!"
Daniel spontan menginjak rem mobilnya setelah mendengarkan hal itu. Ia tidak menyangka kejadian buruk akan menimpa Alin di masa lalu. Daniel menjadi tidak enak dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya, dan untungnya aku selamat. Tapi di beberapa titik tubuhku ada yang lumayan parah rusaknya dan membuatku sedikit ringkih. Karena kecelakaan itu, aku hampir kehilangan Arlo, Daniel. Aku hampir kehilangan anak kita." Alin meneteskan air mata yang tanpa sadar datang begitu saja.
Daniel yang tidak tahan langsung melepas sabuk pengaman dan memeluk tubuh wanita yang bergetar akibat menangis itu. Ia mengusap punggungnya dengan pelan, sambil membisikkan kata maaf yang tidak bisa diartikan lagi. Daniel yang mendengarnya saja sangat sakit, bagaimana dengan Alin yang merasakannya secara langsung?
"Sayang, maafkan aku. Andai saja aku lebih dulu menemuimu, pasti tidak akan terjadi seperti ini," ucap Daniel.
Alin menguraikan pelukan. Menatap Daniel dengan lekat.
"Waktu kamu pingsan waktu itu dokter juga bertanya apakah ada benturan sebelumnya atau tidak. Dan apakah sebabnya itu?" Daniel nyaris tercekat.
"Aku sudah biasa. Kepalaku kerap kali sakit."
"Bagaimana bisa santai? Apa tidak mengeceknya ke rumah sakit besar?"
"Selepas kecelakaan selang beberapa bulan aku memutuskan untuk ke London, dan uang tidak cukup untuk berobat. Hanya cukup kebutuhan sendiri dan tempat tinggal. Aku kan hidup sebatang kara di sana, jadi harus berhemat."
Daniel menatap dengan sendu. Mendengarnya saja membuat ia merinding. Bagaimana sakitnya Alin dalam menjalani kehidupan, ia sampai meringis.
"Tapi untung saja, Arlo jadi anak yang pintar dan normal seperti pada umumnya. Aku dulu khawatir dengan keadaan Arlo karena rahimku yang terbentur," ucap Alin.
Daniel tersenyum. "Dia juga sangat hebat. Usia seperti dia sudah mengerti IT dan itu lebih dari cukup. Dia juga pemberani."
__ADS_1
"Aku juga tidak menyangka akan seistimewa itu." Alin menanggapi.
"Aku tidak menyangka mereka sebejat itu. Aku harus memberikan ganjaran yang setimpal pada mereka," ujar Daniel.
"Tujuanku kembali kan memang untuk balas dendam ke mereka. Dan sekarang, masih setengah jalan." Alin menanggapi.
"Tidak bisa setengah-setengah, harus langsung dimatikan. Aku juga tidak yakin kalau mereka hanya melakukan kejahatan pada dirimu satu itu saja."
"Dulu, sering. Makanya aku diasingkan ke luar negeri." Alin menunduk.
Daniel menangkup pipi Alin dan mengelusnya. Ia tidak terima dengan apa yang telah dirasakan oleh wanitanya. Daniel bersumpah ia akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada pelakunya.
"Aku berjanji, mulai sekarang akan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau melukaimu," ucap Daniel tulus.
Alin mengangguk sambil tersenyum. Ia memegang tangan suaminya yang berada di pipinya. Bersama dengan Daniel, ia merasa utuh sekali.
Tentang masa lalu, Alin tidak pernah melupakannya. Kecelakaan itu sudah membuat dirinya sengsara. Dan ada luka di beberapa bagian. Hal itu juga masih dirasakan sakitnya oleh Alin.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Alin. Bagaimana kalau Daniel berharap kepadanya tapi Alin tidak bisa mewujudkannya?
"Daniel," panggil Alin.
Daniel menoleh dengan tatapan bingung. Ia menatap dalam sosok wanita yang sedang memanggil namanya itu. Daniel melihat ada aura berbeda dari Alin saat ini.
"Kenapa?"
Alin memejamkan, lalu membuka mata kembali. Ia melihat pria di hadapannya dengan lekat. Butuh keberanian besar untuk Alin bisa mengatakan itu.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengandung lagi?"
---
Suport cerita ini dengan like, coment, share cerita ini supaya dikenal banyak orang, ya.
.
__ADS_1