
"Daniel! Cepat ke sini!"
Daniel yang baru saja menampakkan diri di rumah itu sudah dihadiahi teriakan dari ayahnya. Bisa Daniel lihat bagaimana pria paruh baya itu terlihat marah. Entah apa yang membuat marah, Daniel juga tidak tahu.
Daniel memang kewalahan setelah pulang dari rumah Alin lalu kembali ke kantor membutuhkan tenaga ekstra. Ketika melihat ayahnya yang seperti itu, membuat kepenatan Daniel berkurang. Lebih tepatnya penasaran.
Di sana ada juga neneknya yang duduk sambil menatap khawatir, membuat Daniel menjadi semakin penasaran. Segera mungkin ia mendekat, mendekati ayahnya.
"Apa maksudnya semua ini?!" murka Pras sambil melemparkan beberapa foto di atas meja.
Daniel mengambil salah satu foto itu dan mengamatinya. Alangkah terkejutnya dia ketika tahu siapa yang ada di foto itu. Fotonya bersama Alin dan Arlo waktu itu.
Namun, yang Daniel pikirkan sekaranh adalah dari mana ayahnya memiliki foto sepeti ini? Perasaan masalahnya dengan Alin hanya Vano yang mengetahuinya. Tidak dengan siapa pun.
"Jelaskan apa maksud foto itu, Daniel!"
"Mereka keluargaku," jawab Daniel.
Pras menaikan sebelah alis. Kaget.
"Keluarga? Keluarga apa yang kau maksud?" Pras merasa heran.
"Ya, keluarga. Dia wanitaku juga anakku." Daniel mengatakan yang sejelasnya.
Pras membulatkan matanya. Apa katanya tadi, anak? Bagaimana bisa itu terjadi, sedangkan dia tidak tahu apa-apa?
Daniel mengerti itu. Namun, ini adalah saatnya bagi dia untuk mengungkapkan semua yang terjadi. Cepat atau lambat Daniel akan memperkenalkan Alin dan Arlo ke rumah. Hal itu juga pasti akan terkejut. Makanya Daniel memberi tahu lebih dulu.
"B-bagaimana bisa?"
"Bisa. Daniel memang melakukannya waktu itu. Wanita itu wanita yang datang di hari pernikahan Daniel waktu itu." Daniel berkata jelas.
Pras semakin syok. Anaknya itu sudah keterlaluan. Jadi, selama ini isu itu benar?
"Bagaimana kau––"
__ADS_1
"Pa, aku akan segera menikahinya."
Pras kembali dibuat terkejut. Anaknya itu sudah tidak waras. Bagaimana bisa menikah dengan wanita yang berasal dari keluarga Pramudya, setelah semua penghinaan yang dilakukan.
Lantas pria itu menggeleng, tidak mau menyetujui keputusan dari Daniel. Ia sudah punya rencana sendiri yang terbaik untuk putranya.
"Tidak! Papa tidak akan setuju!" kilah Pras sambil menatap tajam.
"Apa kau tidak ingat bagaimana mereka menginjak kita waktu itu? Bagaimana bisa kau akan menikahi dia?"
Daniel mendengus. "Pa, sudahlah. Itu sudah berlalu. Lagipula sekarang ada anak Daniel yang membutuhkan sosok ayah. Daniel akan tetap menikahinya!"
"Kamu melawan Papa demi wanita itu?" Pras mengerjap.
"Pa, ini bukan waktunya memilih siapa yang benar ataupun salah. Daniel di sini posisinya serba salah, anak Daniel sedang menantikan status yang jelas." Daniel menjawab mantap.
Pras masih menggeleng. "Tidak, Papa tidak akan merestui sampai kapan pun!"
"Kenapa? Kenapa Papa selalu menentang hubunganku dengan dia?!" Daniel yang geram lantas menjawab.
"Karena Papa sudah menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis Papa. Dan dia akan ke sini sebentar lagi," jawab Pras.
"Kenapa Papa begitu egois?" sinis Daniel.
"Egois bagaimana? Dibanding dengan wanita itu, anak rekan bisnis Papa lebih baik dan berkelas. Sangat cocok untukmu."
Daniel berdecih. "Sangat cocok untukku, apa untuk usaha Papa?"
Pras menipiskan bibir. Menatap anaknya di depannya yang menatap dengan datar.
"Aku tidak peduli. Aku tetap akan menikahinya dan bahagia bersamanya. Terserah, Papa menyetujuinya atau tidak," putus Daniel.
"Berani kamu melawan Papa demi wanita itu, Daniel?!"
"Pras, benar kata Daniel. Daniel berhak memilih pasangannya sendiri. Dia sudah besar," sela Sasi yang melihat situasi semakin sengit.
__ADS_1
"Memilih? Pilihan Daniel itu tidak pernah benar, Ma, makanya aku yang memilihkan!" Pras menatap Daniel sinis. Sementara Daniel di sana mati-matian menahan amarah.
"Tidak. Kali ini Mama setuju dengan Daniel. Daniel sudah punya keluarganya sendiri––anaknya juga membutuhkan ayah. Daniel memang harus menikah dengan pilihannya sendiri," jawab Sasi sambil menatap Daniel.
"Apa benar anak itu anak Daniel? Bisa saja kan direkayasa? Pasti dia juga sama liciknya dengan adiknya itu. Wanita matre yang gila harta saja," timpal Pras sengit. Tanpa tahu bahwa putranya sedang menahan kepalan agar amarahnya tidak membuncah.
"Berhenti menghina wanitaku, Pa," tegas Daniel.
"Kenapa? Bukankah mereka sama saja? Kelas rendahan yang hanya ingin naik pangkat dengan menumpang di keluarga kita." Pras masih nekat, tidak memedulikan anaknya yang memang sudah terdengar kesal.
"Berhenti Daniel bilang, Pa!"
Daniel mendongak dengan tatapan sinisnya kepada ayahnya. Dia tidak suka jika ada yang menghina Alin, apalagi jika tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Daniel tidak pandang bulu, sekalipun keluarga sendiri.
"Dia bukan wanita seperti itu! Dan jangan mengatakan apa pun tentang dia lagi, atau Daniel akan melakukan sesuatu yang membuat Papa menyesal," ancam Daniel.
"Kau mengancam Papamu sendiri?" Pras terkejut.
"Papa yang membuat Daniel seperti ini! Daniel tidak mau lagi dikekang! Daniel punya pikiran dan pilihan sendiri. Dan untuk ini, Daniel tidak akan mengalah begitu saja."
Tatapan keduanya berubah lebih sengit. Begitu juga dengan Daniel yang serius mengatakan hal itu. Ia lelah menuruti semua kemauan ayahnya dan ia ingin hidup berdasarkan pilihannya sendiri.
Begitu juga dengan Pras, ia merasa geram karena Daniel melawannya. Anak itu memang harus diberikan pelajaran yang setimpal agar tahu bagaimana caranya memuliakan orang.
"Berani kau Daniel?" sinis Pras.
"Kenapa tidak berani? Daniel begitu mencintainya, dan Daniel akan menikahinya cepat atau lambat," tegas Daniel.
Sasi di sana hanya diam sambil mengontrol kondisi kedua pria itu. Ia tidak setuju dengan keputusan anaknya yang menjodohkan Daniel begitu saja. Apalagi Sasi yang sudah tahu kalau anak Daniel sangat menggemaskan, Sasi bertekad untuk menjadi tameng belakang Daniel.
"Entah Papa setuju atau tidak, aku tidak peduli. Bahkan aku bisa melakukan apa pun tanpa restu Papa," ungkap Daniel yang mana membuat Pras menggeram.
"Jadi, jangan sekali-kali menghalangi jalanku. Daniel tidak akan tinggal diam," ancam Daniel.
Daniel langsung beranjak dari ruang tamu, menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Tanpa memedulikan lagi bagaimana tanggapan ayahnya.
__ADS_1
Daniel sudah menemukan kebahagiaanya sendiri, dan ia tidak akan berpaling begitu saja. Di sana juga ada Arlo sebagai belahan hatinya. Daniel ingin mewujudkan mimpi Arlo menjadikan kenyataan. Jadi, untuk mengalah, tidak untuk saat ini.
Gila saja, ia akan dijodohkan dengan wanita lain? Daniel tidak habis pikir. Ia lebih baik hidup sederhana bersama Alin dan Arlo, daripada hidup bergelimang harta tapi tidak merasa bahagia.