
Alin dan Daniel saling berpandangan, tidak ada yang membuka pembicaraan lagi. Keduanya sama-sama menatap dalam diam, seolah saling bertukar perasaan. Namun, tidak bagi Daniel yang nampak penasaran dengan jawaban Alin untuk menjelaskan semuanya.
"Alin! Bagaimana keadaan Arlo? Apakah anakku baik-baik saja?!" sahut seseorang yang tengah berlari ke ruang UGD.
Daniel menoleh ketika mendengar suara itu. Di sana ada seorang wanita yang sama sekali tidak asing bagi Daniel lagi. Namun, apa katanya tadi? Anak?
Nola berdiri di sebelah Alin dengan raut wajah khawatir. Dirinya sampai memegang tangan Alin.
"Ini salahku. Harusnya aku tidak terlalu mementingkan pekerjaan daripada Arlo. Dan sekarang aku begitu khawatir pada keadaanya," ucap Nola.
Alin menggeleng. "Tidak, ini bukan salahmu. Tadi pihak rumah sakit mau menghubungimu tapi nomormu tidak aktif. Jadi mereka menghubungiku dulu."
"Syukurlah, kau ada. Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib anakku bila di tangan orang lain." Nola memejam.
"Tenanglah, dia juga tidak apa-apa. Tidak ada luka yang serius."
Daniel menatap interaksi keduanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mengenai pembicaraan ini. Namun, Daniel juga tidak bisa menyangkal bahwa awal pertemuannya dengan Arlo, Nola lah yang dipanggil ibu oleh anak itu.
"Arlo itu anakmu?" tanya Daniel kepada Nola.
"Iya, Tuan. Kenapa Tuan bisa di sini?" Nola berbalik bertanya.
"Ah, jadi dia yang menabrak Arlo," sela Alin.
"Apa?!" Nola membulatkan matanya kaget. Menatap Daniel penuh tanya.
"Iya, aku tidak sengaja. Tapi aku akan bertanggung jawab. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Daniel menatap Nola, dibalas dengan kerutan di dahi.
"A-apa Arlo benar anakmu? Darah dagingmu sendiri? Tapi kenapa dia memanggil Alin dengan sebutan mommy?" Pertanyaan beruntun itu dikeluarkan Daniel.
Nola tersenyum. "Oh, karena itu. Arlo memang buah hatiku. Tapi dia suka memanggil Alin dengan sebutan itu karena menurutnya menyenangkan memiliki dua ibu. Memangnya ada apa, Tuan?"
Daniel menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."
"Kalau begitu saya dan Alin izin masuk dulu. Sebelumnya terima kasih atas tanggung jawabnya," kata Nola yang menarik tangan Alin untuk masuk ke ruangan itu kembali.
Daniel mengamati kepergian wanita itu. Jangan salah bila Daniel langsung percaya begitu saja. Sebelumnya ia sudah berbuat sesuatu dan menyerahkan kepada Vano.
"Sudah beres, Van?" tanya Daniel yang melihat Vano sudah berdiri di sebelahnya.
"Beres, Tuan. Hasilnya akan keluar beberapa hari lagi."
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi." Daniel lebih dulu berjalan, diikuti oleh Vano di belakangnya.
Sementara di dalam ruangan sana, Nola tengah berdiri dan meminta penjelasan kepada Alin mengenai kejadian tadi. Untung saja Nola datang tepat waktu, jika tidak mungkin sahabatnya itu akan habis.
"Bagaimana dia ada di sini, Alin? Apa dia menyakitimu?"
"Aku tidak tahu kalau yang menabrak Arlo itu dia. Aku tadi cemas, sampai tidak melihat siapa yang ada di sini. Dia hanya bertanya apakah Arlo itu anakku. Dia juga bertanya apakah Arlo itu anakny atau bukan," jelas Alin.
Nola memijit pelipisnya. "Astaga, kenapa bisa secepat ini. Kalian bertiga dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Tadi kalau aku tidak datang, bagaimana kau akan menjawab pertanyaan itu?"
"Entahlah. Aku pun bingung. Kau tahu sendiri kan kalau Daniel itu pemaksa." Alin menangkup wajahnya di tumpukan tangan. Gundah juga jika menjawab pertanyaan itu.
"Tapi, Alin, kau tidak bisa terus bersembunyi seperti ini? Arlo juga butuh seorang ayah. Meskipun dia tidak pernah menanyakan tentang ayahnya, tapi percayalah bahwa dia juga membutuhkan sosok ayah di sampingnya. Jangan egois karena masalahmu semata."
Alin menatap sahabatnya dalam. Apakah dirinya egois jika membiarkan Arlo tidak mengetahui siapa ayahnya? Tapi bagaimana nanti kalau Daniel merebut Arlo darinya?
"Aku takut Daniel merebut Arlo dariku, La. Aku takut itu terjadi." Alin mengeluarkan rasa khawatirnya.
Nola memegang bahu Alin. "Aku tahu itu berat, tapi tidak lama juga dia pasti akan tahu. Orang seperti dia akan mengorek sesuatu sampai ke akarnya. Aku takut bila dia tahu sendiri, malah kau yang terkena imbas, Alin."
"Tapi bagaimana kalau dia merebut Arlo? Aku tidak bisa hidup berjauhan dengan anakku." Alin bertutur pilu.
Nola memeluk sahabatnya yang dilanda kebingungan itu. Ia juga tidak tahu saran apa yang akan diberikan. Sebenarnya Nola juga masih ragu dengan ketulusan Daniel pada Alin. Mengetahui bahwa pria itu memang suka bertindak kasar.
***
"Ma, aku sudah menemukan wanita itu. Dia mirip mama. Dan Daniel berjanji akan membawa dia bersama Daniel." Daniel mengelus figura yang berisi foto ibunya yang tengah merangkul dirinya.
"Tuan, Nyonya besar ingin mengunjungi Anda," ucap Vano.
Daniel menyembunyikan foto itu ke dalam laci, dan melihat seorang wanita paruh baya tengah berjalan ke arahnya. Daniel langsung berdiri menyambut neneknya itu.
"Nenek, kenapa mendadak ke sini?" tanya Daniel sambil membimbing neneknya untuk duduk di sofa.
"Lagian kamu dihubungin selalu sibuk. Ya, nenek ke sini makanya. Kamu malam ini pulang ke rumah, ya, Daniel?" Sasi menatap penuh harap.
"Daniel masih ada pekerjaan, Nek."
Sasi menyentil dahi Daniel dengan keras, membuat sang empu meringis sakit.
"Kebiasaan kalau disuruh pulang suka alasan. Alasanmu itu-itu aja."
__ADS_1
"Sakit, Nek," ringis Daniel.
"Gitu aja sakit. Di mana Tuan Daniel yang terkenal kejam dan otoriter itu, hah? Disentil aja langsung jatuh pingsan," sindir Sasi.
Daniel melirik sinis. Kemudian ia teringat suatu hal.
"Katanya nenek waktu dijambret, itu serius?"
"Iya, waktu ke minimarket. Tapi tenang nenek tidak apa-apa. Ada perempuan yang menolong nenek waktu itu."
"Perempuan?"
Sasi mengangguk. "Iya. Dia tangguh dan juga cantik. Nenek juga sudah tahu rumahnya. Rencananya nenek akan memberikan beberapa bingkisan sebagai hadiah karena sudah menolong."
"Bukannya itu berlebihan?" Daniel menjawab.
"Berlebihan apanya. Itu setimpal dengan apa yang dia lakukan."
Hal itu mendapatkan anggukan dari Daniel. Sasi mencuri-curi pandang kepada cucunya. Ingin mengatakan sesuatu.
"Daniel, nenek ingin bertanya kepadamu tentang wanita yang dibicarakan ayahmu tempo hari. Apakah kamu mencintainya?"
Daniel menatap neneknya dalam. "Kenapa nenek bertanya tentang itu?"
"Mmm, begini Daniel, nenek akan mendukung setiap keputusanmu. Tapi jika kamu tidak terus mengambil tindakan, kamu akan kehilangan yang kamu punya," tutur Sasi.
Sasi mengelus tangan cucunya. "Daniel, nenek tahu kamu mencintainya. Nenek bisa lihat dari sorot mata kamu. Sewaktu kamu mabuk juga, kamu menyebutkan nama Alin. Jangan egois dengan diri sendiri, kalau cinta bilang."
"Daniel tidak tahu, Nek," jawab Daniel.
"Tidak tahu bagaimana? Katakan jujur pada nenek, apa kamu mabuk itu juga karena dia?"
Daniel berdehem. Sebetulnya memang ada unsur itu juga sehingga membuat Daniel memutuskan untuk minum waktu itu.
"Ck, dasar. Bagaimana bisa tidak tahu dengan perasaan diri sendiri?"
"Tapi dia susah didapatkan, Nek. Dia selalu menolak kehadiran Daniel," jawab Daniel.
"Kalau begitu kesalahan ada di kamu. Apa yang kamu lakukan sampai membuat dia ketakutan, hah?"
Daniel terdiam. Ia teringat waktu mengasari Alin dulu. Apakah karena itu Alin berbalik menjauhinya?
__ADS_1
"Daniel, nenek tidak melarangmu berhubungan dengan siapa pun. Selama kamu bahagia, nenek akan dukung." Sasi tersenyum, yang dibalas pelukan oleh Daniel.
"Daniel sayang nenek."