Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Mata-Mata


__ADS_3

"Langkahmu untuk memutuskan Angela dan menerima tawaranku adalah hal paling tepat," ucap Daniel sambil menyeruput kopi pesanannya. Lalu meletakkan di meja.


Raka mengangguk. Dalam diam, ia sedikit merasa aneh ketika melakukannya. Namun, melihat semua penghianatan Angela, Raka kembali merasa dibohongi.


"Bagaimana rasanya diselingkuhi? Begitulah rasanya waktu kau meninggalkan Alin waktu itu. Tapi, ada untungnya karena kalian putus, dia jadi milikku sekarang," tekan Daniel.


Raka mengamati dalam, sebelum akhirnya ia berujar, "Aku sudah mengikuti semua perintahmu. Sekarang, penuhi janjimu juga."


"Kau menagih janji? Kau lupa belum menjalankan semua tugasmu dengan benar?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Apa?"


"Memang benar kau sudah memutuskan Angela, tapi itu belum goals yang ingin kucapai," jawab Daniel.


Raka menatap lamat pria di depannya itu. Raka serasa dipermainkan ketika mendengar perkataan Daniel itu.


"Lantas, apa lagi yang harus kulakukan?" tanya Raka gusar.


Daniel menumpu tangan di atas meja lalu menatap Raka dengan dalam.


"Cari tahu bukti kejahatan Angela yang disembunyikan. Lalu, kirimkan semuanya kepadaku."


"Kejahatan? Memangnya dia melakukan apalagi?"


"Kejahatan masa lalu atau masa mendatang. Pastikan dia tidak mengusik Alin apa pun itu. Suatu saat jika dia mengemis kepadamu, jangan diberi tempat. Biarkan saja dia jatuh sedalam-dalamnya," jelas Daniel.


Raka terdiam. Namun, jelas ia memahami maksud Daniel tadi. Memata-matai Angela, itu lah poinnya.


"Ikuti ke mana dan kegiatan apa yang dia lakukan. Jika ada yang mencurigakan, segera laporlah kepadaku. Tapi jangan sampai kau berbohong, atau perusahaanmu akan hancur saat itu juga," tekan Daniel.


"Apa?" Raka menaikkan sebelah alis.


Daniel menepuk tangan, mengintruksikan Vano untuk membawakan sesuatu. Sebuah map berwarna biru dengan dokumen di dalamnya Daniel letakkan di meja. Mengode supaya Raka membacanya.


"Sesuai yang tertera di situ, kalau kau mengingkari salah satu poin, perusahaanmu akan menjadi milikku sesuai dengan saham yang aku tanam. Kalau kau tidak berhasil menjalankan syaratku, aku tidak akan membantu perusahaanmu dan kau harus membayar ganti rugi kepadaku."


Raka membulatkan matanya kaget karena mendengar hal itu. Di dokumennya jug sudah tertera tanda tangannya yang ia tidak tahu kapan menandatanganinya. Dan Raka tercekat ketika melihat perjanjian tidak wajar itu.

__ADS_1


"Apa? Bagaimana bisa? Kapan aku menandatanganinya?" ucap Raka panik.


"Apa kau tidak ingat waktu kita minum bersama malam itu dan kau sudah setuju menandatanganinya?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Itu tidak sah karena aku sedang berada dalam pengaruh alkohol!"


"Sah karena kau menandatanginya di atas materai. Kau juga sudah mengatakan setuju waktu itu," jawab Daniel.


Raka mendesis. Dia dibodohi selama ini. Memang malam itu ia dan Daniel memiliki janji datang ke sebuah club malam dan minum bersama waktu itu. Namun, Raka tidak tahu jika dalam kondisinya yang mabuk, Daniel memberinya surat dan tanpa berpikir dan membaca lagi Raka langsung menandatanganinya.


Ternyata yang dia tanda tangani adalah surat perjanjian alih hak perusahaan.


"Maka dari itu pilihan ada di tanganmu. Memilih menurut, atau tidak. Dan konsekuensinya sesuai yang tertera di sana." Daniel menunjuk dokumen itu.


Raka mengepalkan tangan. Ia langsung meletakkan berkas di meja kembali dan memalingkan muka karena kesal. Sekarang ia tidak punya pilihan lain jika ingin usahanya tetap berjalan.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan?" Raka yang jengah akhirnya menoleh.


Daniel tersenyum sekilas. Menegakkan tubuh dan menggerakkan jari telunjuknya untuk mengintruksikan Raka mendekat pada dirinya.


Raka mendekat, sesuai kode itu. Tepat ketika Daniel mulai berkata, ia langsung syok berat.


"Apa?!"


***


Setelah perbincangan dengan Daniel waktu itu, Raka sekarang gusar dengan perintahnya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan supaya permintaan itu bisa terpenuhi. Namun, beberapa hari ini Raka sudah menjalankan tugasnya dengan membuntuti setiap ke mana perginya Angela.


Dan setiap mengikuti Angela pergi, Raka merasakan sesak yang luar biasa. Angela terlihat mesra dengan pasangan barunya dan keluar masuk hotel layaknya wanita yang gila pria. Namun, sekarang Raka tidak ada hak lagi, Raka sudah berada di pihak Daniel dan ia tidak mau berkhianat.


Berbeda dengan malam ini, mobil Raka terparkir sedikit jauh dari rumah Angela. Ia membuat satu janji bertemu dengan seseorang yang Raka bayar untuk mengumpulkan bukti pembicaraan apa pun Angela di rumahnya.


"Den Raka," panggil pembantu rumah tangga Angela.


Raka yang mendapat ketukan kaca mobil dari luar langsung menurunkan kaca mobil. Menyuruh wanita paruh baya itu untuk masuk ke mobil. Setelah masuk, Raka segera menutup pintunya supaya tidak didengar oleh orang lain.


"Maaf ya, Den, bibi lama. Soalnya nunggu mereka keluar rumah dulu supaya bisa keluar dengan bebas."

__ADS_1


"Tidak apa, Bi. Apa Bibi memiliki sesuatu yang bisa aku gunakan? Bibi mendapatkan info apa?"


Wanita paruh baya itu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk panjang sebagai alat perekam. Lalu menyerahkannya kepada Raka.


"Ini rekaman pembicaraan antara nyonya dan non Angela, Den."


Raka menerimanya. Lantas memencet tombol yang digunakan untuk memutar rekaman tersebut.


"Lagian Mama, waktu itu Mama juga kan yang kepincut sama papa karena kaya? Mama juga kan yang mengotaki pembunuhan istrinya almarhum papa?"


"Angela, pelankan suaramu itu," desis Warda.


"Kenapa? Papa kan juga tidak di rumah. Jadi aman kan?"


Raka mem-pause rekaman tersebut. Padahal baru beberapa menit, tapi ia tidak sanggup untuk meneruskan rekaman itu lagi.


"Mereka memang melakukannya, Den. Tidak hanya dengan almarhum istrinya tuan Darma, tapi dengan nona Alin juga. Bibi tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka yang ingin membunuh nona Alin, tapi Bibi tidak bisa berbuat apa pun, karena takut dipecat. Gara-gara ketidakberanian Bibi, mungkin nona Alin jadi sengsara waktu itu."


Raka mengusap wajahnya dengan kasar. Ternyata yang dikatakan Daniel benar bahwa Angela tidak sebaik yang ia bayangkan.


"Tidak apa, Bi. Dengan Bibi jujur saat ini juga sudah membantuku," ucap Raka.


"Sekali lagi saya minta maaf, Den."


"Tapi bibi mau kan kalau sewaktu-waktu saya panggil untuk jadi saksi?"


"Saya siap, Den. Saya juga sudah tidak betah lagi kerja di sana." Wanita paruh baya itu mengangguk.


"Bagus. Terima kasih atas infonya. Dan sekarang bibi boleh pergi."


"Kalau begitu saya pamit, Den." Wanita paruh baya itu langsung keluar dari mobil.


Raka mengambil ponsel dan menghubungi satu nomor di sana. Sambil menunggu panggilan terhubung, Raka mengamati alat perekam di tangannya.


"Halo, aku sudah mendapatkan bukti. Kapan kita akan bertemu?" tanya Raka.


"Aku akan mengirimkan alamat, kau ke sana saja dan bawa buktinya."

__ADS_1


Raka mematikan sambungan. Menyalakan mesin mobil dan melesat menuju tempat yang sudah dikirimkan lokasinya itu.


__ADS_2