
"Tuan, di depan ada Nona Alin."
Darma langsung berdiri dari duduknya. Diikuti oleh istrinya yang sama juga terkejut. Dia memang berkumpul di ruang tamu karena ada Raka yang mampir untuk membicarakan sesuatu. Dan secara tiba-tiba hari ini kedatangan anaknya yang sudah lama tidak menapakkan di rumah ini.
"Benarkah? Suruh dia masuk," Titah Darma langsung dihadiahi anggukan oleh pembantu rumah tangga itu.
Tidak lama kemudian dari arah pintu datanglah tiga orang yang melangkah seirama menuju ruang tamu. Darma menatap lekat di sana. Ia kira Alin akan sendiri berkunjung, ternyata bersama Daniel dan Arlo juga.
"Pa," sapa Alin.
Darma mendekat, lalu memeluk tubuh Alin dengan sangat erat. Setelah puas, ia mengurainya dan kembali menatap putrinya yang sangat ia sayangi itu.
"Papa merindukanmu."
"Alin juga."
Darma tersenyum, lantas menatap Daniel yang tengah menggandeng Arlo. Bisa ia lihat mereka bertiga sudah layaknya sebagai keluarga bahagia.
"Silakan duduk." Darma kembali duduk di tempatnya setelah mempersilahkan.
Alin tersenyum sekilas, sebelum ia duduk ia melihat ke arah mantan kekasihnya itu yang juga datang ke rumah ini. Bergantian menatap Angela yang nampak sukar dengan keberadaanya di sini. Namun, Alin tidak pikir rumit, ia punya tujuan datang ke sini.
"Tumben kalian ke sini, ada hal apa?" tanya Darma.
Alin menatap Daniel sebelum menjawab.
"Pa, aku akan menikah dengan Daniel."
"Apa?!" Warda dan Angela bebarengan berkata.
Alin menganguk. Menatap ibu dan adik tirinya itu secara bergantian.
"Iya. Dan, aku harap kalian bisa datang." Alin tersenyum, tapi di balik senyumannya tersimpan seringai tajam yang disembunyikan.
Angela yang mendapat kabar itu langsung syok. Ia kira berita di media waktu itu hanya alibi semata untuk mengalihkan perhatian publik, tapi ternyata malah benar adanya.
Begitu juga dengan Raka yang menatap sendu ke arah Alin. Ia tidak menyangka. Entah kenapa perasaan di dadanya menjadi aneh ketika tahu bahwa Alin akan menikah.
__ADS_1
"Iya, Om. Saya ke sini untuk meminta restu untuk menikahi Alin," sahut Daniel menambahi.
Alin mengeluarkan sebuah kartu undangan dari balik tasnya, lalu meletakkan di meja.
"Aku harap kalian bisa datang," ucap Alin sambil tersenyum manis.
Angela di sana hanya menatap dengan alis yang saling bertaut. Ia sedikit tidak terima.
"Kak, bagaimana bisa kau menikahi mantan calon suamiku?" sinis Angela.
"Kau juga, bagaimana bisa kau merebut mantan tunanganku?" balas Alin tak kalah sinis.
Angela yang dijawab seperti itu menaikkan sebelah alis. Sial, dirinya malah dijebak.
Warda yang mengerti situasi itu segera mengubah mimik wajah dan mendekati Alin segera. Berlagak seolah jadi ibu yang paling menyayangi anaknya.
"Astaga, Alin. Mama senang akhirnya kau bisa menikah. Ya, walaupun menikah dengan pria hasil merebut––tapi bagus, akhirnya kan kau tidak sendiri lagi begitu," sindir Warda, tapi mimik wajahnya dibuat semanis mungkin.
Alin yang diperlakukan seperti itu lantas membalas.
"Makasih, loh, Ma. Menikah adalah sesuatu yang aku idam-idamkan sejak dulu sebelum pacarku direbut. Tapi sekarang aku bahagia, kok, bersama Daniel. Tapi sepertinya kata pria hasil merebut itu benar juga, Ma. Aku kan mengikuti langkah Mama dalam bagian rebut-merebut," jawab Alin dengan senyuman manis.
"Lucu, ya, Angela. Setelah dipikir lagi, kita ini bertukar pasangan, loh. Kau merebut Raka dariku, dan aku merebut Daniel darimu. Bukankah itu suatu kebetulan?" ungkap Alin sambil terkekeh.
Angela di sana sudah muram. Tangannya mengepal dengan kuat ketika wanita di depannya menyindirnya dengan sarkas.
"Hari itu waktu kalian berdua menginap di hotel, aku berada di situ juga loh. Aku ada di ranjang sebelah kalian. Jadi, kita berada di tempat yang sama tapi dengan pasangan yang berbeda." Alin tersenyum miris.
Anggela menggeram. Ia melihat Alin dengan sinis ketika dirinya dijadikan kambing hitam.
"Hmm, tapi tidak apa. Itu sudah masa lalu, dan aku tidak peduli lagi. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu, tapi kalau kau tidak sanggup, ya, tidak usah," timpal Alin lebih sengit.
Angela hendak berbicara, tapi lebih dulu ditahan oleh Raka. Raka yang paham situasi itu segera melerai perdebatan sengit itu.
"Selamat atas pernikahanmu, Alin. Ya, kami akan usahakan menghadiri acaramu," putus Raka.
"Ya, aku harap kau juga bahagia bersama Angela. Masa sudah merebut, tidak jadi satu atap kan ya aneh, kan? Aku juga mendoakanmu semoga selalu bahagia." Alin membalasnya tak kalah lembut.
__ADS_1
Raka di sana hanya tersenyum sekilas. Ia merasa nyeri ketika Alin berkata seperti itu.
"Pa, terima kasih atas waktunya. Aku harap Papa bisa datang dalam acara pernikahanku. Aku pamit dulu," kata Alin tidak mau berlama-lama di rumah yang membuatnya sesak itu.
"Tak bisakah tinggal lebih lama lagi, Alin?" Darma masih rindu dengan anaknya.
"Kami masih ada urusan, Pa. Persiapan pernikahan juga perlu diurus, jadi tidak bisa berlama-lama di sini. Lagipula sepertinya kehadiran Alin membuat panas orang lain," jawab Alin sambil melirik Angela.
Namun, sebenarnya yang lebih dominan adalah Alin tidak mau mengingat semua kesakitan yang ia alami di rumah ini. Sudah cukup dulu dan Alin tidak mau mengulanginya lagi.
"Ayo Daniel, kita pulang," ajak Alin.
Daniel berdiri dari duduknya. Lantas mengajak Arlo untuk pergi.
"Saya juga pamit, Om." Daniel segera membawa Arlo pergi dengan Alin yang membimbing di depan.
Alin dan Daniel meninggalkan rumah itu. Menghilang di sebalik pintu tanpa mengindahkan beberapa tatapan penuh tanya dari orang rumah.
Sesudah keluar dari rumah, Alin merasa napasnya sudah longgar. Ia merasa sesak tadi ketika di dalam. Meskipun ia menjawab dengan percaya diri dan sombong, tapi percayalah hatinya begitu sesak ketika mengatakan itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Daniel mengelus punggung Alin. Ia lihat wanita itu menjadi sosok yang berbeda dari semenjak melangkah dari pintu.
Alin tersenyum sejenak, lalu menjawab, "aku baik. Tidak usah khawatir."
"Memang untuk mengalahkan musuh harus punya sedikit keberanian. Tapi tadi kau sudah cukup lebih baik," tukas Daniel.
"Biasa saja." Alin menyangkal.
"Mom, bisakah kita bergegas pergi? Aku lapar. Perutku sudah berbunyi sejak tadi," celetuk Arlo tiba-tiba membuat keduanya langsung teralihkan.
Daniel terkekeh lalu menggendong Arlo di dadanya. Terlalu gemas dengan anaknya yang lucu itu.
"Lapar, huum? Mau makan apa? Pizza?" tawar Daniel.
"Mmm, boleh." Arlo mengangguk ceria.
"Kalau begitu, let's go!"
__ADS_1
Daniel berlari membawa Arlo dalam gendongannya menuju mobil. Sementara Alin di sana hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang itu. Sungguh aneh menurutnya. Namun, keanehan itu yang membuat Alin tidak mau mengalah dengan siapa pun. Ia sudah menepati janjinya kepada almarhum ibunya.
"Ma, aku sudah menemukan keluargaku sendiri."