Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Wedding Day


__ADS_3

"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Daniel."


"Terima kasih."


Daniel menyalami beberapa tamu undangan yang hadir dalam acara puncak pernikahannya. Menyambut beberapa rekan kerja dan teman semasa kuliahnya dulu. Sementara Alin di sisinya nampak anggun dengan gaun putih pesanannya waktu itu.


"Hai, Bro. Astaga, akhirnya lo taken juga," ucap salah satu teman akrab Daniel.


"Hmm. Kapan nyusul?" Daniel langsung menyahut dengan jawaban yang membuat skakmat lawan bicaranya.


"Ah, jawaban lo terlalu sarkas, Niel. Mentang-mentang dah ada pawang lo seenaknya ngejek gue." Pria itu menampakkan raut wajah kesal.


Daniel terkekeh. Lalu menepuk pundak sahabatnya itu. "Makanya cepat nikah, biar ada yang menemani."


"Jokes lo nggak mutu," tukas pria itu.


"Ahaha, makasih ucapannya. Masuk gih, barangkali ada wanita cantik yang mau." Daniel terkekeh.


"Gue tandai muka lo, Niel." Setelah mengancam, pria itu masuk ke ruangan.


Alin yang melihat interaksi itu hanya menggeleng kepala. Benar-benar aneh menurutnya.


"Daniel, cucuku!" ucap Sasi dengan girang. Ia pun berbalut busana yang anggun malam ini.


"Nenek." Daniel memeluk Sasi dengan erat.


"Akhirnya Nenek melihat kamu menikah, Daniel. Ingat, kali ini harus serius. Jangan main-main. Alin, kalau Daniel nakal bilang sama Nenek. Biar Nenek pelintir telinganya sampai muter," ungkap Sasi.


"Iya, Nek."


"Nenek hobinya mengancam. Sudahlah, daripada di sini Nenek masuk saja," tukas Daniel.


"Baik, baiklah. Nenek masuk dulu, ya. Nenek tunggu di dalam," ucap Sasi.


Alin mengangguk melihat kode dari Sasi. Wanita itu akhirnya berbalik untuk melihat siapa tamu undangan yang akan datang. Tidak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang mengamatinya.


Daniel di sana menatap Alin dengan seringaian. Alin yang tidak sengaja menoleh langsung bersibobok dengan tatapan Daniel yang meresahkan. Wanita itu langsung mendelik ketika dilihat seperti itu.


"Bisakah tidak melihatku seperti itu?" protes Alin. "Aku ngeri, beneran. Kau seperti ingin memakanku hidup-hidup."


"Aku memang sedang memikirkan bagaimana cara melakukannya. Otakku memikirkan banyak hal, apa yang akan kita lakukan setelah pesta ini selesai," jawab Daniel diiringi dengan seringaian.


Alin langsung mendelik mendengar itu. Pria itu benar-benar meresahkan. Apalagi perkataan Daniel seakan-akan memang akan dilakukan nantinya. Membuat Alin ingin pergi saja dari sini.

__ADS_1


"Sepertinya sudah tidak ada lagi, ayo masuk," ajak Daniel sambil melonggarkan lengannya mengintruksikan untuk digandeng.


"Kenapa?" Alin bingung.


"Ck, gandenglah. Masa pengantin jalan berjauh-jauhan," gerutu Daniel.


Alin ber oh ria. Lalu menggandeng lengan Daniel memasuki ruangan. Di sana sudah ada banyak tamu undangan dan acara akan segera dimulai. Namun, Alin sempat melihat Arlo tengah bersama dengan Sasi. Jadi, ia berniat untuk mengunjungi dulu.


"Bagaimana penampilanku? Arlo ganteng kan?" Arlo menyugar rambutnya.


"Ganteng sekali. The best!" puji Sasi.


"Arlo," panggil Alin.


Arlo menoleh ke arah ibunya yang memanggil.


"Mommy ke mana saja? Kenapa lama?" gerutu Arlo.


"Mommy kan menyambut tamu. Kamu sementara nanti di sini dulu," jawab Alin.


"Iya, biarkan nanti Arlo sama Nenek. Alin, fokuslah pada acaramu," sahut Sasi.


"Makasih, Nek."


"Wow, Daddy terlihat tampan sekali!" Arlo menatap ayahnya dan mengacungkan kedua jempol karena melihat penampilan ayahnya yang tampan.


"Aish, tapi tidak lebih tampan dari Arlo," gerutu Arlo tidak suka.


Hal itu membuat Alin dan Daniel sama-sama tertawa. Melihat Arlo merajuk seperti itu menurutnya sangat menggemaskan.


"Hai, Alin," sapa Nola.


"Hai."


"Selamat atas pernikahanmu, ya. Aku turut bahagia bila kau bahagia." Nola bergerak untuk memeluk Alin.


"Terima kasih, Nola. Terima kasih juga atas bantuanmu selama ini." Alin tersenyum.


"Bantuan apanya? Santai saja," jawab Nola.


"Tuan, acaranya akan segera dimulai," sahut Vano datang dari belakang untuk memberitahukan susunan acara.


"Bukankah setelah ini ada agenda pesta dansa? Semua orang akan berpasangan dan menari di lantai dansa. Kau akan bersama siapa, Van?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Ah, nanti saya tidak ikut." Vano menggaruk telinganya.


"Loh, kenapa? Bagaimana kalau sama Nola saja. Nola kan tidak ada siapa-siapa. Iya, kan, Nola?" tawar Alin.


"Alin," tegur Nola.


"Benar itu. Kalian sama-sama free, lebih baik jadi pasangan saja," sahut Daniel melihat keduanya. Sementara Vano dan Nola hanya terdiam canggung.


"Sudahlah, kalian putuskan sendiri. Ayo, kita ke sana," ajak Daniel kepada Alin.


"Aku pergi dulu." Alin pamit, lalu menggandeng tangan Daniel untuk berjalan ke tempat acara.


Acara pun dimulai. Setelah sambutan dan cerita sedikit oleh pengantin, kini diteruskan dengan acara berdansa. Diiringi musik klasik nan merdu, semua orang di lantai dansa bergerak sesuai irama. Tidak ada yang terlewatkan, kecuali tatapan intens dari pelakunya.


Alin menumpukan tangan di atas bahu Daniel, sementara pinggangnya direngkuh oleh Daniel––sehingga jarak keduanya saling berdempetan. Pasangan pengantin baru itu saling berpandangan penuh cinta, mendominasi tempat itu, seolah dunia milik berdua.


"Aku bahagia bisa merasakan momen ini bersamamu," bisik Daniel sambil menatap Alin.


Daniel memutar tubuh Alin merengkuhnya kembali sehingga jarak keduanya saling berdekatan. Alin mengalungkan tangan di leher Daniel. Terdiam saja ketika Daniel mendekat dan menyatukan kening mereka.


"Berada di dekatmu aku merasa utuh. Seolah-olah dunia telah berada dalam genggamanku, Alin," bisik Daniel.


Alin memejamkan mata sambil bergerak seusia irama. Ia merasakan sapuan halus di bagian telinganya ketika Daniel merapikan anak rambutnya. Alin mulai menikmati momen itu seiring dengan perlakuan Daniel kepadanya.


"Jangan pergi lagi. Maksudku benar-benar menetap di sini. Bersamaku, sampai maut memisahkan kita," bisik Daniel.


Alin menarik diri. Lalu memutar badan kembali sesuai irama. Sehingga posisinya dirinya dipeluk dari belakang oleh Daniel. Bisa ia rasakan bahwa pria itu menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Jangan pernah berpikiran untuk pergi dariku, Alin, apa pun yang terjadi nanti, tetaplah di sampingku. I beg you."


Alin melepaskan tangan Daniel yang memeluk pinggangnya, lalu berputar kembali sehingga posisinya menghadap ke arah Daniel. Wanita itu masih saja terdiam sementara tubuhnya masih menyesuaikan irama.


Setelah musik selesai, semua orang pada bertepuk tangan karena melihat keromantisan pengantin baru itu. Alin pun sampai merona mendapatkan cuitan dari orang-orang di sana. Namun, rasa malu itu kembali menerpa ketika Daniel merengkuh pinggangnya kembali dan mencuri satu kecupan di sana. Yang mana membuat tamu undangan berteriak histeris.


"Kau membuatku malu!" gerutu Alin.


"Biarkan mereka tahu bahwa kau milikku sekarang. Aku sudah memberikan stample, dan siapa pun tidak boleh merebutmu."


---


Ikut deg-degan atau enggak, nih? Jujur ini aku yang nulis malah ikutan deg-degan, loh..


Informasi sedikit, part selanjutnya akan up malam hari sekitar jam 7 malam.

__ADS_1


Jadi, stay tune terus.


Jangan lupa dukung cerita ini dengan vote, like, and comment, ya...


__ADS_2