
Warning...
Mereka menyatukan bibir, saling menukarkan saliva, mel*mat penuh perasaan. Lembut, tidak terburu-buru, sangat hangat seraya menjelajahi ronga mulut masing-masing. Jemari Alin meremas tepian kemeja Daniel, detak jantungnya dua kali lebih kencang dari biasanya dan berusaha mengimbangi kelihaian lidah Daniel dalam bibir dan lidahnya yang beradu di dalam mulut Alin.
Tubuh Alin disandarkan di pintu, kedua tangannya diraih Daniel dan dilingkarkan di lehernya, pangutan tidak terlepas sejak beberapa menit lalu mereka menapakkan kaki di suite room hotel ini. Keduanya sudah saling tenggelam dan tidak bisa dipisahkan lagi.
Masih berdiri, lidah Daniel menuruni leher jenjang milik Alin. Wanita itu mendonggakkan kepala––memberikan akses suaminya untuk melabuhkan kecupan-kecupan lembut yang menggoda setiap inci tubuhnya dengan mata yang saling terpejam menikmati momen mereka.
Daniel mengikiskan jarak di antara mereka, tangannya menekan punggung Alin supaya kian menempel pada tubuhnya. Belum cukup puas, Daniel kembali pada bibir merah muda itu––menggigitnya lalu menerobos untuk merasakan kehangatan dari dalam mulut Alin.
Jemari Daniel menarik resleting gaun Alin, tangannya menyelinap masuk pada kelembutan kulitnya dan membelai turun sampai pada titik yang membuat Alin merasa resah. Alin membiarkan, kian mengeratkan lingkaran tangan di leher Daniel dengan mata yang semakin terpejam.
"Alin, lihat aku, Sayang." Belaian lidah Daniel berhenti, menatap Alin yang kian resah. "Aku akan melakukannya dengan perlahan. Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji, ini tidak akan menyakitkan."
Mata Alin terbuka, yang diliputi oleh kabut keraguan tapi Daniel mencoba mengalihkannya. Mereka saling bertatapan, seolah tengah saling menenangkan.
"Aku tidak akan menyakitimu. I promise." Bibir Daniel mendarat di hidung, pipi, bibir, dan mata Alin yang dipejamkan perlahan. Sangat lembut, Daniel mencoba membuat Alin lebih rileks dan tenang. Cukup lama mereka berciuman di depan pintu, sampai dia merasa nyaman dan tenang.
Gaun malam Alin yang dikenakan diturunkan secara perlahan, menyisakan tubuh langsing dan mulus yang hanya tersisa beberapa kain menutupi area sensitifnya.
"Aku suka melihatmu memakai gaun itu. Tapi ... aku lebih suka bila kau tanpa sehelai benang pun di hadapanku." Bibir Daniel kembali mendarat di bahu Alin, menyematkan beribu kecupan di sana.
Hanya butuh beberapa menit saja sampai tubuh Alin polos total, belaian lidah Daniel mengikiskan segala rasa sesak di dada. Sepanjang dada Alin diisap tanpa ampun hingga erangan sexy Alin lolos tanpa sadar.
__ADS_1
Jemari Daniel mulai membuka satu per satu kancing kemejanya, meloloskan dari tubuh atletisnya yang dipenuhi oleh otot kuat––pangutan kembali disatukan tanpa menunggu Alin memperhatikannya lebih lama. Ia tidak mau rasa takut itu muncul, gemar menggoda setiap titik sensitif Alin sebelum akhirnya digendong di dibaringkan diatas ranjang.
"Jika aku menyakitimu, tolong––"
Alin tidak membiarkan kesempatan Daniel untuk berbicara, segera ia meraih tengkuk pria itu dan melahap tanpa ampun bibir yang sejak tadi menggodanya itu. Menyatukan bibir lagi, sedang tangan Daniel menyelinap masuk ke lembah hangatnya yang dipenuhi oleh rambut halus dan digosoknya perlahan.
Alin cukup tercekat, pahanya menjepit, matanya kian dipejamkan. Daniel membisikkan kata-kata manis agar ia rilexs dan tidak memikirkan apa pun selain pergumulan panas mereka. Kabut gairah sudah menguasai mereka, Alin menarik napas––memasrahkan diri dengan membiarkan Daniel menyentuh tempat penyatuan yang menjadi alasan hubungan keduanya bermula.
Cukup dalam posisi itu, Alin sudah tidak bisa lagi memendam erangannya lagi. Berulang kali ia mengerangkan nama Daniel ketika tangan nakalnya sudah digantikan dengan lidah yang semakin membuatnya melayang.
Daniel tersenyum kecil, mulai berdiri dan melepas kepala gasper, menurunkan celananya sehingga teronggok di lantai. Mereka sama-sama tanpa busana, saling menatap dalam sebelum menyatukan lidah kembali.
"Percaya padaku, Sayang, kali ini tidak akan menyakitkan."
"Just do it, Daniel. I want you," parau Alin, mengizinkan.
Tangan Alin meremas sprei tatkala benda itu masuk ke tempat penyatuan dan berhasil memporak-porandakan kewarasannya. Alin tidak merasakan kesakitkan ketika Daniel memaju-mundurkan. Ia hanya merasa penuh dan sesak. Kian tak tertahankan ketika Daniel menggerakkannya lebih cepat––menghujamkan dengan erangan napas pria itu terdengar berat.
"Sayang ...." Daniel mengerang, ketika miliknya tercengkeram begitu ketat di dalamnya. Ia lantas menatap Alin karena takut kehilangan kendali. "Tell me if i hurt you, Alin. Just ... tell me."
Sebab ia mulai kehilangan kewarasan dan takut kehilangan kendali sehingga berakhir menyakiti Alin lagi.
Tetapi sampai beberapa menit lagi, tidak ada protesan dari bibir Alin. Keduanya saling mengerang, larut dalam momen intim itu dan tidak memikirkan hal lain selain mengejar kepuasan masing-masing.
__ADS_1
Daniel menunduk, menyatukan bibir mereka kembali sedang di bawah sana memompa tanpa jeda. Kedua tangan Alin mendekap punggung Daniel, matanya terpejam ketika setiap benda keras itu bergerak liar di dalamnya.
Tubuh mereka sudah tidak karuan, Daniel mempercepat––sampai beberapa kali hujaman ia melakukan pelepasan. Alin berteriak nyaring seraya membekap mulutnya, diikuti dengan Daniel yang mendesah serak ketika cairan hangat menyembur di dalamnya.
Daniel membiarkan miliknya berada di dalam Alin, baru dilepaskan setelah sama-sama terpuaskan. Daniel menjatuhkan lemas dirinya di samping Alin, mengatur napasnya yang terengah akibat aktivitas panas mereka barusan.
"Menakjubkan." Daniel masih berusaha mengontrol deru napasnya. "Bagaimana aku bisa berpaling, jika di dalammu saja seolah dunia dalam genggamanku."
Alin menoleh ke arah Daniel tanpa bersuara.
Daniel menoleh lalu menyatukan bibir mereka kembali. Ia melepaskan, kening mereka disatukan, sebelah tangan Daniel bergerak mengelus pipi Alin yang nampak bersemu merah.
"Denganmu aku merasa sempurna––seolah aku tidak membutuhkan apa pun lagi kecuali dirimu." Daniel meneguk saliva, menatap Alin yang belum bersuara. "Ketika aku bilang menetap, maksudku selamanya akan menetap. Dan selamanya tidak akan pergi."
"Daniel ...."
Daniel menggeleng, ia tidak mau wanitanya mengatakan sepatah kata pun. "Sudah cukup aku sakit waktu kepergianmu, Alin. Jangan mencoba kabur dariku lagi setelah aku memberikan setengah hidupku padamu."
Daniel memeluk dengan erat tubuh Alin dan mengusap bulir keringat yang terus menetes di wajah istrinya. Merasakan degup jantung yang kian bertalu ketika kulit mereka saling menyapa.
Daniel menarik selimut dan membungkus kedua tubuh itu dengan selimut. Tanpa melepaskan pelukan, sedang tangan kanannya digunakan sebagai bantalan kepala Alin. Pria itu menyingkirkan anak rambut yang berantakan akibat kegiatannya tadi.
"Pasti kamu lelah hari ini, tidurlah. Dan terima kasih sudah mengizinkanku menyentuhmu." Daniel mengecup kening Alin dengan lembut.
__ADS_1
"Aku bahagia, Alin. Sangat bahagia."