
"Van, urus berkas dia. Pastikan dia tidak ada lagi di perusahaan. Juga blacklist nama dia supaya tidak bisa mendaftar di perusahaan manapun!" suruh Daniel kepada Vano.
"Pak, jangan! Jangan pecat saya! Saya minta maaf." Sang resepsionis itu memohon kepada Daniel, tapi tidak diindahkan. Tubuhnya lebih dulu di seret oleh dua satpam suruhan Vano.
Semua itu tidak luput dari pandangan karyawan di kantor. Tentang bagaimana Daniel membela wanita itu. Sebagian juga memberikan tepukan sebagai rasa kagum.
Daniel mendekati Alin dan Arlo di sana, menatap dengan khawatir. Daniel langsung dihadiahi pelukan dari Arlo. Pria itu lantas mengecek kondisi anaknya barangkali terluka atau apa pun.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Daniel. Dibalas anggukan oleh Alin.
"Tapi Arlo sebal karena tante itu, Dad. Masa dia mengejek Arlo dan mommy," keluh Arlo sambil memajukan bibir.
Daniel menyentil bibir anak kecil itu. "Kan sudah Daddy pecat sebagai gantinya."
"Tetap saja, Arlo masih kesal!" Arlo melipat tangan di atas dada seraya beraut wajah kesal.
Daniel terkekeh. Lantas ia membalikkan badan sehingga berhadapan langsung dengan para karyawan yang sedari melihat kejadian tadi. Alin di sisi kiri tubuhnya, sementara Arlo di depan Daniel.
"Kalian sudah lihat kan apa akibat dari perbuatan rekan kalian?" tanya Daniel.
"Sudah, Pak," jawab serempak karyawan.
"Bagus. Saya harap setelah ini tidak ada yang bersikap sesuka hati lagi, entah dengan siapa pun itu. Jika ada berita, lebih baik dicerna dulu, jangan asal menyimpulkan! Kalian paham?!" Daniel menatap dengan tegas.
"Paham, Pak."
"Juga, ada satu hal lagi. Saya ingin memperkenalkan seseorang. Mereka berdua adalah keluarga saya, jadi jangan sekali-kali kalian menghinanya, atau nasib kalian sebagai taruhannya!"
Semua karyawan yang mendengarnya hanya bisa menunduk. Patuh. Jika atasannya sudah mengeklaim sesuatu, itu artinya tidak ada yang boleh menyentuhnya.
Daniel langsung menatap Alin dan menggandengnya menjauhi kerumunan. Pun dengan Arlo yang ikut serta. Pergi dari sana untuk keruangannya.
Setelah melewati beberapa lantai, ketiga orang itu tiba di sebuah ruangan. Daniel masih saja menggandeng tangan Alin dan anaknya, tanpa sadar bahwa itu membuat seseorang di sana melongo merasakannya.
"Duduklah dulu," suruh Daniel melepaskan cekalan.
Alin dan Arlo duduk di salah satu sofa. Daniel yang semula pergi kini sudah kembali dengan membawa dua gelas air putih di tangannya. Meletakkan di meja––lalu duduk di sofa yang sama.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku akan ke sini?" Daniel menatap keduanya dengan intens.
"Kan kejutan," sahut Arlo.
"Kejutan?" Daniel menaikkan sebelah alis.
__ADS_1
"Iya. Terkejut tidak?" Arlo menatap lekat. Dibalas sentilan di dahi oleh Daniel.
Alin hanya menggeleng. Lantas ia meletakkan makanan yang ia masak dari rumah tadi. Menyodorkan kepada Daniel.
"Aku memasak lebih, jadi aku membawanya ke sini. Cobalah," ungkap Alin.
Daniel menatap Alin heran. Ada apa dengan wanita itu? Namun, Daniel tidak ambil pusing lagi dengan itu. Ia segera menerima––membuka bingkisan itu dan melihat makanan apa yang dibawa Alin.
Daniel langsung mencicipi makanan tersebut. Lalu memakan berulang kali ketika makannya lezat. Berulang kali ia menatap Alin dengan senyuman saking senangnya mendapatkan makanan.
"Astaga, Daddy." Arlo menggelengkan kepala heran menatap Daniel yang makan dengan lahap.
"Arlo tahu masakan mommy itu memang juara. Tapi tidak sampai begini juga, Daddy."
Daniel hanya tersenyum sebagai jawaban. Lantas ia mengambil tisu di meja lalu mengelap bibirnya. Meneguk air hingga tandas sebagai penutup kegiatannya. Terus saja menatap anak kecil yang nampak heran itu.
"Kenapa?"
"Daddy seperti tidak makan tujuh hari," celetuk Arlo.
"Mati dong."
"Ck, sifat Daddy di sini berbeda dengan yang tadi. Tadi terlihat seram dan menakutkan, tapi di sini malah seperti anak kecil. Arlo bingung." Anak kecil itu memegang dagunya.
"Oh, iya, bagaimana aku hari ini? Tampan kan, Dad?" Arlo menunjukkan senyuman paling ceria.
"Hmm, tampan. Tapi masih tampanan Daddy ini." Daniel mengelus bahunya seraya menatap Arlo menilai.
Arlo cemberut. Bisa-bisanya malah ayahnya yang lebih eksis dibanding dengannya.
"Masa, sih? Mom, lebih tampan mana Daddy sama Arlo?" Arlo menatap ibunya penuh harap.
"Kamu," jawab Alin.
"Yes! Tuh, kan, Mommy aja bilang masih tampanan Arlo kan?" Arlo bersorak ria. Menatap remeh Daniel.
Daniel tergelak. Lantas ia mencubit hidung Arlo karena gemas dengan anak itu.
"Iya, iya, anak Daddy memang tampan. Tidak ada tandingan," tukas Daniel.
Arlo meringis ketika hidungnya dicubit. Lantas tersenyum sambil memeluk ayahnya dengan sayang.
"Kangen," rengek Arlo. Daniel membalas pelukan itu.
__ADS_1
"Kan sekarang sudah ketemu Daddy." Daniel menjawab.
"Tapi beberapa hari ini kenapa Daddy tidak datang ke rumah? Apa Daddy mau ninggalin Arlo lagi?" Anak kecil itu hendak menangis.
Tidak mungkin jika Daniel mengatakan karena ayahnyalah yang melarang Daniel untuk tidak berdekatan dengan Alin dan Arlo.
"Sibuk kerja, Sayang. Kan kerjanya juga buat Arlo." Daniel mencoba menjelaskan.
"Benar, ya? Janji?" Arlo mengacungkan jari kelingking.
"Janji," jawab Daniel.
Daniel lantas menatap Alin. Ada sesuatu yang bergemuruh dalam hatinya.
"Kau tidak apa, kan? Dia tidak melukaimu, kan?" tanya Daniel.
Alin menggeleng. "Tidak. Tapi kenapa dia bisa berkata seperti itu? Berita apa?"
Daniel mengambil ponselnya di saku celana lalu membuka salah satu artikel. Memberikannya kepada Alin.
"Foto kita waktu itu jadi trending topik di sosial media. Dengan kata-kata yang menjerumuskan."
Daniel benar. Bahkan berita itu menjadi pencarian nomor satu di sosial media. Dimuat juga bahwa Alin lah yang menjadi wanita penggoda. Apa-apaan itu?
"Tapi bagaimana bisa?" Alin bingung.
"Aku salah waktu itu, harusnya aku tidak keluar dengan tangan kosong. Orang wartawan pasti yang melakukanya," jawab Daniel.
Alin mengangguk. Risiko berhubungan dengan orang besar, sedikit saja salah sudah gempar satu dunia.
"Tapi ada beberapa foto yang menunjukkan kau dengan Angela. Apa dia menyakitimu?" Daniel khawatir.
"Tidak." Alin menggeleng.
"Jika ada sesuatu bilang saja, jangan sungkan."
Alin mengangguk patuh. Ia menerima saran Daniel. Apalagi tingkah kedua orang itu sangat mencurigakan. Alin berpikiran bahwa berita ini Angela lah yang membuatnya untuk menjatuhkan Alin.
Sementara Daniel berbeda, ia berpikiran bahwa ayahnya lah yang menyebabkan semua kekacauan ini dengan menyebarkan berita. Mengingat dengan ancaman pria paruh baya itu. Daniel berargumen seperti itu.
Vano dengan tiba-tiba datang dari luar. Ia ingin memberitahukan sebuah informasi dari luar perusahaan. Bahwa wartawan sudah banyak berdiri di depan perusahaan untuk menerima konfirmasi dari Daniel mengenai kebenaran isu tersebut. Bahkan beberapa orang nampak nekat.
"Tuan, di bawah ada banyak wartawan!"
__ADS_1