Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Mencoba Masakan Daniel


__ADS_3

Mood Alin seketika turun ketika terlibat percekcokan dengan ibu tirinya tadi. Apalagi dengan menuduhnya menjadi perusak hubungan adik tirinya, yang jelas-jelas Angela lah yang dulunya mengawali. Bisa-bisanya di sini Alin lah yang paling berdosa.


Alin membayar ojek online yang sudah ia pesan ketika sudah berada di rumah. Hendak beranjak, ia melihat satu mobil hitam mewah terparkir di depan rumahnya. Merasa penasaran, Alin segera mengecek ke rumahnya.


"Mommy!" teriak Arlo melihat ibunya pulang.


Alin menyambut pelukan Arlo itu. Lantas melihat ke sekeliling mencari di mana keberadaan sahabatnya itu.


"Arlo, Bibi Nola di mana? Bukankah tadi menemanimu?" tanya Alin.


"Bibi pulang."


"Pulang? Jadi kamu sendirian di rumah?!" Alin khawatir.


"Kan sama Daddy," jawab Arlo semangat.


Dahi Alin berkerut. Untuk apa pria itu datang ke rumahnya siang-siang seperti ini? Apakah dia tidak bekerja?


"Daddy lagi masak, Mom." Arlo yang mengerti arah pikiran ibunya itu lantas menjawab.


"Masak?" Lagi dan lagi Alin dibuat kaget. Perbuatan Daniel dari hari ke hari semakin meresahkan. Dan sekarang, memasak?


"Iya. Daddy hebat loh, Mom. Serba bisa. Buktinya sekarang lagi masak di dapur. Ayo kita lihat. Pasti Mommy takjub." Arlo dengan cepat menggandeng tangan ibunya untuk menuju ke dapur.


Alin menurut saja. Toh, ia juga penasaran dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Sesampainya di dapur bisa Alin lihat bahwa seorang pria tengah berperang dengan alat dapur sampai tercium aroma harum masakan.


"Dad, Mommy pulang!" seru Arlo.


Daniel yang sibuk itu meluangkan waktu untuk menoleh ke belakang. Dia tersenyum sekilas ketika melihat wanita yang selama ini ia tunggu tengah berdiri tegak.


"Eh, sudah pulang?" Basa-basi Daniel.


Daniel menyugar rambutnya ke belakang, mengelap buliran keringat yang membasahi dahinya. Semua itu tidak luput dari pandangan Alin yang nampak terpesona akan ketampanan pria itu.


Daniel menuangkan masakan di piring, lalu memberikan sentuhan terakhir sebelum dihidangkan. Setelahnya membawa piring tersebut untuk diletakkan di atas meja makan.


Alin ikut mengikuti pria itu berjalan. Wanita itu langsung membulatkan mata kaget ketika di meja makan sudah terdapat banyak makanan dengan berbagai jenis. Alin jelas kaget, bagaimana tidak, makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskan?


"Taraaaa, Mom lihat, masakan karya Daddy." Arlo mempresentasikan karya Daniel di atas meja itu. Ingin menunjukkan kepada ibunya, bahwa Daniel itu serba bisa.


Alin mengedarkan pandangan, lalu menatap ke arah Arlo yang semringah juga Daniel yang nampak tersenyum tipis.


"Makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskan?" tanya Alin.


"Ya kita lah," jawab Arlo.

__ADS_1


"Ini mau makan apa buka warung?" Alin menaikkan sebelah alisnya. Bingung juga.


"Sekali-kali lah makan yang banyak." Daniel menimpali. Lalu duduk di salah satu kursi.


"Ayo, Mom! Kita makan." Arlo sudah stand by duduk di kursi.


Alin yang bingung ikut saja duduk di kursi sambil mengamati makanan di depannya. Memang dia akui, makanan itu cukup terlihat enak, apalagi bisa Alin tahu berapa uang yang dihabiskan untuk itu.


"Arlo, kamu mau yang mana?" tanya Daniel sambil melihat Arlo.


"Sayap ayam." Arlo menunjuk sayap ayam goreng yang tersaji di atas piring.


"baiklah. Ini."


Arlo mengambil dan langsung memakannya. Merasakan rasanya sayap ayam yang dimasak oleh Daniel.


Daniel menatap Arlo dalam, berharap mendapatkan antusias dari anak itu.


"Bagaimana enak?"


Arlo memberikan satu jempolnya sebagai jawaban, sementara sebelah tangannya masih memegang sayap ayam untuk digigitnya.


"Makanan Daddy selalu enak." Arlo berbicara sambil mengunyah, sehingga perkataannya terdengar tidak jelas. Namun, Daniel bisa menangkap maksud itu dengan jelas.


"Telan dulu. Baru bicara."


"Enak! Arlo suka!"


Daniel tersenyum mendengar pujian itu. Lantas ia bergantian menatap Alin yang masih nampak bingung dengan semua ini.


"Apa kau tidak mau mencoba?" tawar Daniel mengambilkan salah satu masakannya yaitu olahan udang saus tiram ke piring Alin.


"Cobalah."


Alin mengamatinya sejenak. Kemudian mengambil sendok dan mencoba masakan itu. Menurutnya cukup enak.


"Bagaimana?" Daniel berharap mendapatkan sebuah penghargaan atas masakannya.


"Hmm, enak."


Daniel tersenyum tipis. Kemudian ikut melahap masakannya sendiri. Meskipun ia sibuk hari ini, tapi ia tetap meluangkan waktu untuk mengunjungi anaknya.


"Tapi ini berlebihan. Lain kali jangan membuang uang seperti ini," tegur Alin.


Daniel lantas mendongak. Menatap Alin di sana yang baru saja mengucapkan kata itu.

__ADS_1


"Membuang? Aku tidak membuang uang. Ini juga demi kebaikan Arlo juga," tugas Daniel.


"Tapi ini berlebihan. Jatuhnya mubazir," jawab Alin.


"Sekali-kali memanjakan Arlo tidak apa, kan? Arlo juga suka, kan?" Daniel menatap Arlo.


"Suka!" Arlo girang.


Alin menatap Arlo. Ia merasakan perubahan signifikan Arlo semenjak pertemuannya dengan Daniel. Arlo seperti sudah menemukan separuh jiwanya yang menghilang.


"Bahan masakan ini, kau yang membeli semua?" tanya Alin.


"Aku menyuruh Vano untuk mengantarkan bahan masakan ini. Tenang, di kulkas masih ada bahannya jaga-jaga kalau nanti sewaktu-waktu mau masak," jawab Daniel.


Alin membulatkan mata. "Kenapa kau sangat suka menghamburkan uang? Aku masih bisa memberi makan Arlo."


"Kenapa? Aku ayahnya. Aku berhak memberikan anakku kenyamanan dan kebahagiaan. Dia juga layak mendapatkan perlakuan spesial. Dia anakku. Arlo spesial."


Alin jadi teringat perkataan ibu rotinya yang mengatakan bahwa Arlo itu anak haram. Mendengar Daniel mengatakan itu ada sedikit rasa terenyuh di hati. Bagaimana Daniel yang menyambut dengan lapang hati kehadiran Arlo.


"Dan aku berharap, kau jangan menghalanginya untuk membahagiakan Arlo. Aku juga punya hak," ungkap Daniel.


Alin hanya membisu. Sebelah tangannya menyendokkan makanan ke mulut lagi tanpa menghiraukan pernyataan pria itu. Lagipula Alin tidak mempermasalahkan itu.


Daniel menatap lekat. Lalu kedua tangannya menyatu di atas meja. Ia hendak mengemukakan keputusannya ini yang sudah dipikirkan matang-matang.


"Alin, aku ingin mengatakan sesuatu. Bagaimana kalau kalian pindah ke apartemenku saja? Di sini tempatnya kurang bagus," tutur Daniel.


"Kurang bagus bagaimana?" Alin bingung. Tatapannya intens kepada Daniel.


"Seperti jauh dari keramaian. Kondisinya tidak terlalu baik. Fasilitasnya juga kurang." Daniel menambahi.


"Sepertinya ide Daddy baik juga, Mom. Kita juga lebih dekat kalau mau ketemu Daddy," usul Arlo.


Alin hanya menatap lekat anaknya. Kenapa anak itu malah yang terlihat paling antusias?


Daniel menatap penuh harap. Ia berspekulasi bahwa dengan pindah ke apartemen, Daniel bisa mengawasi keduanya dengan mudah. Daniel tidak bisa terus-terusan izin dengan bertemu Arlo disela kesibukan urusan perusahaan. Belum lagi, beberapa hari ini Daniel mempunyai pekerjaan khusus.


"Pasti rumah Daddy bagus, Mom. Ya, sebenarnya Arlo suka di sini, tapi Arlo juga mau lihat bagaimana dalamnya rumah Daddy."


"Pasti bagus. Nanti ada tempat main game juga." Daniel menambah.


"Benarkah? Wah, asik! Ayo kita pindah, Mom! Arlo ingin lihat," ajak Arlo sambil menarik tangan Alin.


Alin menatap anaknya. Bisa ia lihat ada sirat mata harap di sana. Namun, setelah apa yang terjadi apakah Alin bisa memulainya begitu saja?

__ADS_1


Daniel yang mengerti itu segera bertindak. Ia tahu bagaimana kebimbangan Alin dalam mengambil keputusan. Demi anaknya, ia harus melakukan apa pun itu.


"Demi Arlo, Alin."


__ADS_2