Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Berkunjung


__ADS_3

"Tuan, ini berkas yang Anda minta." Seorang asisten memberikan sebuah berkas kepada atasannya.


Pras menerima. Membuka amplop coklat yang didalamnya berisi beberapa data juga beberapa foto dari mata-matanya. Pria paruh baya itu menelusuri satu per satu foto tersebut dengan seksama.


Posisinya ia sekarang berada di luar rumah, setelah selesai bertemu dengan salah satu rekan kerjanya.


"Beberapa kali Tuan Muda memang bepergian dengan wanita itu. Bahkan sampai terciduk oleh wartawan sampai jadi berita booming waktu itu."


"Seperti yang tertera di berkas, wanita itu dulunya dikirim ke luar negeri oleh ayahnya karena melakukan sebuah kesalahan. Lalu kembali lagi dengan waktu yang lama," sambungnya.


Pras mengangguk. Lantas meletakkan berkas itu kembali ke meja.


"Ada alamat rumah sementara wanita itu, tapi ketika saya cek sudah tidak ada penghuninya lagi. Ketika saya tanya pemilik rumah, katanya wanita itu sudah pindah."


Pras menaikkan sebelah alis. "Pindah?"


"Betul. Dan ternyata Tuan Muda yang membawanya pindah ke apartemennya."


"Dasar anak itu," geram Pras.


"Lalu bagaimana dengan masalah berita itu? Apa dia sudah mengatasinya?" Pras menatap.


"Tuan Muda sudah menyelesaikan semuanya, Tuan. Tapi sepertinya masih ada jumpa pers untuk membersihkan masalah yang tersisa."


"Konverensi pers? Kapan?"


"Untuk kronologisnya saya masih belum tahu, tapi sepertinya sudah terbaca kalau Tuan Muda akan mengajak wanita itu dalam jumpa pers kali ini."


Pras berdecih. "Benar-benar itu, tidak bisa dikasih tahu."


"Kalau tidak ada lagi, saya permisi, Tuan."


Pras mengibaskan tangan sebagai tanda menyuruh pergi. Kemudian ia duduk bersandar ke kursi sambil memijit pelipisnya. Matanya melirik ke arah sebuah foto Daniel berserta dua orang yang terlihat seperti keluarga bahagia.


Pras mengembuskan napas kasar. Anaknya itu susah sekali diberi tahu, padahal itu demi kebaikan diri sendiri. Pras sudah berulang kali memberi tahu, tapi tidak ada satu pun yang didengar.


"Tanggung akibatnya jika tidak mendengar Papa, Daniel."


***


"Dad, kita mau ke mana?" tanya Arlo di pangkuan Alin.


"Ke rumah Daddy. Bagaimana?"


"Hah, ke rumah?"


"Iya, suka tidak?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Suka!" Arlo girang.

__ADS_1


"Ya, ampun, Arlo jangan gerak-gerak mommy hampir mau jatuh," tegur Alin yang kesulitan saat Arlo bergerak di pangkuannya.


Daniel tergelak. Ia memang sudah berencana untuk membawa mereka ke rumahnya untuk dikenalkan. Daniel tidak sabar lagi untuk meresmikan hubungan mereka, supaya dirinya bisa memiliki status yang jelas.


Kecepatan mobilnya di tambah, agar cepat sampai di tujuan. Sesekali Daniel memperhatikan Arlo yang nampak antusias menceritakan pengalamannya. Sungguh, anak itu memang sangat aktif.


Daniel mematikan mesin mobil ketika sudah sampai di halaman rumah. Ia lantas keluar dari mobil diikuti dengan Alin dan Arlo di sana. Daniel menggandeng tangan Arlo ketika hendak melangkah memasuki rumah.


"Nek! Nenek! Lihat, Daniel bawa siapa!"


Sasi yang awalnya duduk di sofa sambil menghadap ke televisi terkejut ketika mendengar suara teriakan. Ia lantas berdiri menatap seseorang yang berjalan melewati pintu depan. Sasi membulatkan mata ketika tahu Daniel membawa siapa.


"Ya ampun, Daniel," kata Sasi kaget.


"Arlo, salim dulu," tukas Daniel kepada Arlo.


Arlo mengangguk, lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangan Sasi. Dibalas dengan cubitan di pipi anak kecil itu.


"Gemes sekali. Lama tidak bertemu ya, Arlo." Sasi tersenyum.


Daniel beralih menoleh kepada Alin yang nampak hanya terdiam.


"Alin, kenalkan ini nenekku."


Alin hanya menatap dengan datar. Ia seperti pernah melihat wanita paruh baya itu. Ketika Alin sudah mengingatnya, Alin langsung menutup mulutnya sendiri.


"Nenek yang kemalingan itu, kan?" Alin histeris.


"Ya ampun, Nek. Apa kabar?" Alin langsung bergerak memeluk Sasi.


"Baik."


Kenapa dunia sempit sekali? Alin menolong seseorang yang ternyata adalah bagian dari keluarganya Daniel. Alin tidak menyangka jika bisa terjadi seperti ini.


Lain halnya dengan Sasi, wanita itu nampak bahagia ketika Daniel menemukan wanita yang tepat. Waktu ditolong waktu itu, Sasi sudah respect kepada Alin dan berharap Daniel bisa mendapatkan wanita yang sopan seperti Alin. Eh, ternyata Alinlah yang menjadi jodoh Daniel.


"Duduk, duduk dulu. Masa terus berdiri kan tidak enak." Sasi mempersilahkan.


Daniel duduk dengan Arlo yang berada di pangkuannya. Sementara Alin berada di sebelah Daniel.


"Bagaimana rencana pernikahan kalian? Apakah sudah ditetapkan pernikahannya?" tanya Sasi.


Daniel menatap Alin. "Belum, Nek. Butuh waktu sampai kami bisa diterima publik. Tapi yang jelas secepatnya."


"Lebih cepat lebih bagus, Daniel. Jangan menunda. Lihat anakmu itu juga sudah tidak sabar memiliki ayah sah."


Arlo yang ditatap hanya mengulum senyum, lalu menatap ayahnya dengan lekat.


"Iya, Nek. Daniel pun tidak menyangka kalau Arlo yang masih kecil ini ternyata sudah pintar melebihi Daniel," tukas Daniel.

__ADS_1


"Wah, hebat dong kalau begitu. Memangnya Arlo bisa melakukan apa?" tanya Sasi lembut.


"Belum bisa, Nek. Kan Arlo masih sekolah," jawab Arlo.


"Belum apa? Masa dia yang meretas sistem perusahaan Daniel, Nek. Yang waktu itu Daniel kebingungan itu loh." Daniel menimpali.


"Hah, benarkah? Masih sekecil ini sudah bisa meretas? Astaga, nenek tidak habis pikir." Sasi memegangi dadanya. Bagaimana bisa anak kecil itu sudah lihai meretas situs orang?


"Iya, Daniel pun sampai hampir pingsan ketika tahu Arlo yang melakukannya. Benar-benar tidak bisa dipercaya," tukas Daniel.


Arlo yang ditatap hanya mengulum senyum. Anak kecil itu merasa malu.


"Eh, tadi belum ada minum, ya? Kalian mau minum apa?" tawar Sasi.


"Tidak usah, Nek," jawab Alin.


"Jus!" sahut Arlo.


"Arlo," tegur Alin. Malu juga.


"Tidak apa-apa, namanya juga anak kecil. Jus yang seperti dulu ya, Arlo?"


"Iya, Nek."


Sasi langsung pamit ke dapur untuk membuatkan minuman. Alin yang merasa tidak enak pamit undur diri dan menusul wanita paruh baya itu ke dapur. Sebenarnya Alin masih malu, tapi ya ia berusaha agar terbiasa.


"Biar Alin bantu, Nek."


"Tidak usah. Ini cuma sebentar, kok."


"Tidak apa-apa."


Alin mengambil alih dan membuatkan sebuah minuman sesuai yang Sasi ambil tadi. Sasi mengamatinya dengan lekat, begitu kagum dengan wanita di sebelahnya itu. Pantas saja Daniel sampai kelimpungan waktu itu.


"Alin," panggil Sasi.


"Iya, Nek?"


Alin menatap heran kepada wanita paruh baya di depannya. Dia ditatap dengan lekat. Seperti tengah merasakan sesuatu. Baik Alin maupun Sasi sama-sama menatap dalam.


"Daniel kehilangan ibunya, dan Nenek harap kamu bisa memberikan kehangatan seorang ibu padanya," tutur Sasi.


Alin melebarkan mata mendengar petuah itu. Lantas menatap Daniel di sofa sana yang nampak ceria bersama Arlo. Alin tidak menyangka jika pria itu sudah tidak memiliki seorang ibu.


"Daniel sangat mencintamu, Alin. Nenek harap kamu pun begitu."


--


Hai, Kak, makasih ya yang udah mau nungguin. Kemarin lagi nggak enak badan, jadinya belum up. Tapi hari ini aku usahain up.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2