Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Mimpi Alin


__ADS_3

"Raka, dari tadi aku bicara loh, kenapa perhatianmu beralih ke arah lain?" marah Angela yang melihat Raka tengah memandangi layar laptopnya dengan serius.


Raka memijit pelipisnya yang berdenyut. Sudah lelah dengan pekerjaan, sekarang ia harus kembali pusing dengan rengekan kekasihnya yang tak kunjung reda. Di sebuah kafe yang tidak jauh dari pusat kota pun tidak mengobati rasa hati Raka untuk menghilangkan kepenatan.


"Aku masih kerja, Angela. Harusnya kau tahu itu," jawab Raka.


"Kerja ya juga jawab aku harusnya bisa, kan? Lagian kamu––ini weekend tahu, harusnya libur kerja." Angela masih tidak mau mengalah.


"Aku sekarang lagi pusing. Kondisi perusahaan juga lagi tidak baik, entah karena apa menjadi tiba-tiba seperti ini."


"Memangnya kau juga yang pusing? Aku juga. Butikku terancam bangkrut karena berita yang menyebar itu. Entah siapa yang menggiring opini seperti itu. Pasti Kak Alin lah yang melakukannya, secara kan dia dendam sama aku."


Raka mengamati Angela dalam. Ia ingin berbagi dukanya, malah kekasihnya ikutan curhat.


"Tapi berita itu benar juga," tukas Raka.


"Apa?!" Angela membulatkan mata. "Maksudmu aku seperti yang diberitakan begitu?"


"Bukan itu, aku hanya mengatakan bahwa dengan adanya berita itu kau harus berubah." Raka menengahi.


"Sudahilah dendammu dengan, Alin. Tidak ada gunanya. Lagipula dia sudah punya kehidupannya sendiri dan berada di rumahmu. Lantas apalagi yang kau inginkan darinya?"


"Dia merebut kebahagiannku," sinis Angela.


"Yang mana? Tentang Daniel? Atau tentang perhatian ayahmu? Dia saja sudah pergi bertahun-tahun dan sekarang tidak kembali ke rumah. Pikirkan bagian mana yang membuatmu merasa dia merebut kebahagiaanmu."


Angela menaikkan sebelah alis. Kenapa kekasihnya itu malah membela mantannya sendiri?


"Kenapa kau berbeda? Apa kau masih cinta dengan mantanmu itu?" Angela mendelik.


"Ini bukan perbedaan. Lagipula, dia juga akan segera menikah, kan? Ini untukmu juga," jawab Raka.


"Maka dari itu aku akan menghancurkan pernikahannya, aku tidak suka dia bahagia." Angela masih teguh dengan pendiriannya.


Raka yang mendengar itu hanya menggeleng. Entah berulang kali ia akan memberikan penjelasan, jika terus ditentang seperti ini.


"Aku mau bertanya. Apa kau memang mencintaiku?" tanya Raka penuh harap, dihadiahi tatapan bingung dari Angela.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ya, mulai dari kita yang punya hubungan terlarang lalu melangkah sejauh ini. Kalau kau tidak mencintaiku balik, apa gunanya?" Raka memang tengah dibebankan dengan pertanyaan itu.


Sementara Angela hanya menyipitkan mata di sana. Tidak biasanya Raka menanyakan hal seperti ini setelah sekian lama.


"Kalau aku miskin––tidak punya apa-apa, apa kau masih mau denganku?" tanya Raka.


Angela hanya menaikkan sebelah alis. Menatap Raka dalam. Lalu setelahnya tersenyum tipis seraya mengangguk.


"Kalau kau mencintaiku, tinggalkan dendammu itu dan jangan membuat ulah lagi," peringat Raka.


"Maksudmu?" Angela sedikit tidak suka dengan ungkapan itu.


"Aku cukup sering melindungimu dari semua yang kau lakukan bersama ibumu. Aku bukannya tidak mau, tapi lama kelamaan jengah juga."


Angela semakin sengit menatap Raka.


"Setelah berita ini, sudahi semuanya. Aku tidak ingin kau mengalami perlakuan buruk atau bisa saja mendekam di penjara. Cukup fokus pada dirimu sendiri, dan jangan berulah lagi."


Angela terkekeh. "Jadi, kau ingin mengatakan aku biang keroknya?"


"Tidak, aku hanya ingin untuk sementara waktu kau jangan membuat isu lagi. Perusahaanku lagi kritis dan satu-satunya jalan adalah bekerja sama dengan perusahaan milik Daniel. Jika kau mengusik Alin sudah jelas pengajuanku tidak akan disetujui."


Angela mendelik. Kenapa malah ia yang dijadikan boomerang seperti ini?


"Please, sekali ini aku mohon. Ini langkah terakhirku untuk bisa bangkit. Mengertilah sedikit." Raka kembali menimpali lagi.


"Demi kebaikanmu juga ini."


Angela berdecih, lalu merotasikan mata ke atas. Ia akhirnya hanya mengangguk sebagai jawaban karena tidak mau terlarut dalam permintaan Raka. Toh, ia masih punya peluang lain.


***


"Arlo, mommy di mana?" tanya Daniel yang baru menapakkan kaki di apartemen. Menghampiri Arlo yang berada di sofa sambil mencoret-coret di buku gambar.


"Katanya tadi mau ke bawah, tapi sampai sekarang belum kembali, Dad." Arlo menjawab tanpa melihat di mana ayahnya berada.


Daniel duduk di sebelah Arlo dan mengamati anaknya yang tengah menggambar pemandangan. Lantas ia membuka salah satu buku kecil yang berada tidak jauh dari anaknya, lalu menggeleng takjub melihat hasil gambar desain baju di buku.


"Ini kamu yang gambar? Bagus sekali," puji Daniel.

__ADS_1


Arlo menoleh ke arah ayahnya. "Oh, itu punya mommy. Arlo pinjam."


"Mommy?" Sebelah alis Daniel terangkat.


"Iya, mommy kan suka sekali gambar baju. Itu buku punyanya. Mommy kan ingin sekali punya butik sendiri," jawab Arlo.


Daniel manggut-manggut sebagai jawaban. Menurutnya desain itu sangat bagus dan menjual sesuai pada kebutuhan konsumen era ini. Daniel tidak tahu bahwa Alin berbakat dalam bidang fashion seperti ini dan menurutnya ini pantas dikembangkan lebih lanjut.


"Apa Daddy bisa bantu mommy supaya bisa punya butik sendiri? Arlo mau bantu, tapi Arlo masih kecil." Arlo mengeluh.


Daniel mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Apa mommy pernah bilang ingin memiliki usaha sendiri?"


"Iya. Bahkan waktu di London dulu, mommy bekerja di salah satu butik. Mommy suka sekali gambar-gambar. Mommy juga bilang ingin jadi desainer yang terkenal," jawab Arlo.


"Oh, iya?"


"Iya. Makanya dari itu, ayo bantu mommy, Dad. Biarkan mommy bisa bahagia karena harapannya terwujud." Arlo menatap ayahnya dengan penuh harap. Sementara Daniel hanya mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Nanti Daddy tanya, ya."


"Oke."


"Kamu gambar apa, sih?"


"Oh, ini. Aku mau gambar sama yang seperti di buku pelajaranku, Dad."


Tidak lama kemudian pintu terbuka dari luar menandakan adanya seseorang yang ingin masuk di sana. Alin membawa barang belanjaan dari minimarket di dekat apartemen berupa barang bahan pokok makanan.


"Loh, Daniel sejak kapan datang kesini?" Alin yang baru datang langsung menyapa Daniel. Seingatnya ketika ia pergi belum ada pria itu.


"Baru saja. Kenapa belanja sendirian? Kan ada pengawal yang berjaga-jaga di depan. Kau bisa menyuruhnya. Tidak usah merepotkan diri," tukas Daniel.


"Ini cuma hal kecil, lagipula itung-itung olahraga juga, kan. Arlo, mau makan apa hari ini?" tanya Alin pada Arlo.


"Apa saja, Mom. Arlo ikut Daddy saja makannya," jawab Arlo.


"Baiklah. Kalau begitu seperti biasanya saja," putus Alin. Langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan makanan.


Sementara Daniel mengamati aktifitas wanita itu di dapur. Ia bertekad untuk menanyakan perihal tadi. Namun, Arlo berhasil mencegahnya lebih dulu dengan mencekal tangannya erat.

__ADS_1


"Dad, ajari aku bagaimana caranya menggambar angsa," tukas Arlo.


"Hmm, baiklah."


__ADS_2