
"Ini datanya sesuai yang Anda pesan, Tuan." Vano meletakkan di atas meja.
Daniel mengambilnya, lalu menelisik. Ia memang menyuruh Vano melakukan sesuatu dan mencari informasi tentang seseorang. Apalagi kalau bukan menyangkut apa yang dirasakan istrinya pada zaman dahulu.
"Sesuai data, memang ada truk yang sengaja menabrak Nona Alin. Dia disuruh oleh seseorang untuk melenyapkan Nona Alin. Dan sekarang dia hidup gelandangan sekarang, kesulitan ekonomi dan alamat rumahnya lumayan dekat dengan tempat pembuangan sampah akhir di kota."
Daniel mengangguk. "Aku pikir dia sudah melenyapkan supirnya agar tidak bukti yang tertinggal."
"Sayangnya tidak, mereka tidak cukup cerdik dengan menghilangkan barang bukti. Jadi, itu peluang kita untuk melacaknya," ucap Vano.
"Bagus, aku suka cara kerjamu. Aturkan jadwalku dan kita akan ke tempat supir itu untuk menanyakan kejadian yang sebenarnya." Daniel berkata mantap.
"Tapi, Tuan. Apa dia tidak akan bungkam? Pasti dia sudah dijanji oleh orang yang ingin mencelakai istri Anda untuk tidak memberi tahu siapa pun," ragu Vano.
Daniel tersenyum sinis. "Siapa yang berani menolak pesona uang? Apalagi kan dia sedang kesulitan ekonomi, dia pasti akan menerima uangku. Kalau masih kurang, aku akan memberikan apa yang dia minta."
Vano kaget. Ia memberikan tepuk tangan kagum pada atasannya itu. Cerdas sekali pikirannya.
"Tapi, apa Anda tidak akan memenjarakannya?" tanya Vano.
"Siapa bilang aku akan membebaskannya begitu saja? Tentu saja itu hanya pancingan agar dia ada di pihak kita, ketika dia sudah luluh kita tinggal menjebloskannya ke penjara." Daniel menjelaskan sekali lagi.
Lagi dan lagi Vano kagum dengan Daniel. Nampaknya rencananya sudah matang sebelum dilakukan.
"Oh, iya, ini ada berkas yang perlu ditandatangani." Vano menyerahkan berkas yang hampir lupa.
Tidak butuh waktu lama Daniel menandatangi berkas itu, lalu menyerahkan kepada Vano kembali.
"Tapi ada satu hal yang ingin saya katakan lagi, perusahaan LeeDesain mengajukan kerja sama dengan kita. Tentu saja performa mereka baik, tapi saya sudah periksa akhir-akhir ini kondisi perusahaan mereka agak goyah. Jadi, bagaimana? Kita tolak atau terima?"
Daniel mengingat nama perusahaan itu. Ia sepertinya tidak asing dengan nama itu. Seperti tengah mendengarnya di suatu tempat.
__ADS_1
"Siapa pemiliknya?"
"Raka Aditya. Mantan Nona Alin, kekasih Nona Angela," jawab Vano.
Daniel mengangguk. Rupanya pria tidak tahu terima kasih itu. Namun, tenang saja, Daniel akan mengikuti permainan yang diperbuat selagi mengumpulkan beberapa bukti yang mendukung dirinya untuk menjebloskan pelaku kejahatan istrinya ke penjara.
"Katakan kita akan mempertimbangkannya dan atur jadwalku untuk bisa bertemu di restoran Forest jam tiga sore," ungkap Daniel.
"Apa Anda yakin, Tuan? Maksudku, perusahaaan mereka––"
"Aku akan menjalankan permainan mereka, Vano. Dan kita lihat bagaimana mereka akan berulah." Daniel tersenyum seringai.
Vano mengangguk mulai paham. Ia lantas membawa berkasnya kembali dan berniat kembali ke ruangan kerjanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan."
Daniel mengibaskan tangan. Ketika ia mendengar suara pintu di tutup, Daniel segera menyandarkan tubuhnya di kursi. Lantas mengambil sebuah figura di meja kerjanya di mana foto pernikahan dirinya dengan Alin terpajang di sana.
"Tunggu sebentar, Sayang. Akan aku buat mereka merasakan ganjaran atas apa yang mereka perbuat," geram Daniel.
***
Adanya suatu urusan, mengharuskan Alin mampir ke sebuah restoran untuk membelikan makanan siang untuk Daniel. Ia memang tidak memaksaknya sendiri, karena belum fasih dengan masakan kesukaan Daniel. Maka dari itu ia memesankannya pada sebuah restoran dulu.
Sembari menunggu makann jadi, Alin duduk di salah satu bangku pelanggan dengan bermain ponsel. Melihat berita apa yang lagi trending waktu sekarang. Rupanya berita pernikahannya masih ramai sampai sekarang.
Alin mengedarkan pandangan, tapi pandangannya terhenti ketika melihat seseorang yang ia kenal tengah duduk di seberang sana. Dia adalah Angela, bersama seorang pria. Dan terlihat sangat romantis.
Tapi, siapa pria itu?
Alin melihat juga mereka saling bersuap-suapan, berperilaku romantis layaknya seorang kekasih. Namun, yang paling menonjol adalah usia dari pria itu, bisa dibilang sudah berumur. Apa mungkin Angela memang memiliki hubungan khusus dengan pria tua itu?
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pria itu mengecup kening Angela dan beranjak pergi dari restoran. Kini hanya Angela yang masih tinggal dengan blackcard di tangannya.
Alin yang penasaran, lantas mendekati meja tersebut untuk menanyakan kebenaran atas apa yang ia lihat. Melihat Angela yang tersenyum-senyum sendiri, Alin semakin curiga.
"Pacar baru, hah?" tukas Alin.
Angela terlonjak kaget, lantas ia mengantongi blackcard di saku bajunya. Ia tidak tahu bahwa kakaknya itu bisa berada di satu tempat yang sama dengan dirinya. Angela bisa mati kutu kalau sampai Alin melihatnya berjalan dengan pria paruh baya yang kaya raya itu.
"Bukan. Klienku." Angela menjawab singkat.
"Klien mana yang sampai mencium kening segala? Apa kau pikir aku bisa dibodohi, Angela?" Alin menatap sinis.
Angela mendongak. "Lalu apa urusannya denganmu? Tidak ada, kan?"
"Kau berniat menyelingkuhi Raka?" Alin sampai tercekat.
"Apa, sih?" Angela tidak suka dengan pembicaraan. "Jangan mencampuri urusanku, lagi. Kau kan sudah menikah, urusi saja suami hasil merebutmu itu."
"Sayangnya kita beda, suamiku aku urus dengan baik, sementara dirimu pacar hasil merebutmu tidak kau urus dengan baik. Apa kau menyelingkuhi Raka karena dia sedang bangkrut dan memilih yang lebih kaya lagi?" Alin menaikkan sebelah alis.
"Kalau iya kenapa? Urusan sama Mbak apa? Udah, deh, jangan ikut campur urusanku lagi." Angela membantah.
"Kau berselingkuh dari Raka yang tulus kepadamu hanya karena harta? Raka di sana tengah berusaha membahagiakanmu, tapi kau membahagiakan orang lain. Lalu kalau kau tidak cinta, kenapa merebutnya waktu itu?!" murka Alin.
Angela berdiri dari duduknya, menatap Alin sengit. "Apa, sih urusannya? Terserah aku, dong, mau bagaimana. Ini hidupku, dan urusanku. Aku mau bertingkah bagaimana ya itu urusanku."
"Begitukah? Terserahmu kalau begitu, suatu saat kau akan merasakan apa arti kehilangan yang sesungguhnya. Ingat itu," geram Alin kepada Angela. Sementara Angela hanya berdecih mendengarnya.
"Ya, ya, ya, terserahku! Kita lihat saja."
Alin sudah pergi lebih dulu karena mengambil makanan, daripada berdebat dengan adik tirinya itu.
__ADS_1
Sementara Angela di sebelah sana hanya melipat tangan di atas dada sambil memiringkan bibir. Bisa-bisanya kakaknya itu ikut campur dalam urusannya. Lagipula Angela berhak menentukan siapa yang pantas bersanding dengannya, tidak melulu harus Raka saja. Lagipula pria itu tengah susah sekarang.