
"Ma, gimana ini? Kenapa mereka malah melempari butik kita dengan sampah?" Angela panik ketika melihat orang banyak di depan tokonya.
"Entahlah, Mama juga tidak tahu. Bukankah harusnya mereka membeli produk kita, kenapa malah layaknya demo seperti itu?" Warda pun tidak kalah kagetnya.
Memang Angela memiliki satu butik tempat karya-karyanya dipajang dan diperjualberikan. Dan entah kenapa hari ini tiba-tiba pelanggannya bar-bar dan mendemo tokonya seperti itu.
"Bos, gimana ini? Mereka semakin membabi buta!" tanya salah satu karyawan butik.
Angela menghela napas, ia juga tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini.
"Bos, mereka mengancam jika tidak menututup toko ini, mereka akan menghancurkan toko ini secara besar-besaran!"
"Apa?!" Angela membulatkan mata.
"Benar, Bos. Kami kewalahan menghadang mereka. Mereka terus saja mengumpat dan mengutuk toko ini!"
Angela meraup wajahnya dengan kesal. Keributan ini berhasil membuatnya pening.
"Tutup pintunya dan tirainya segera!" titah Angela.
"Baik, Bos!"
Karyawan yang mendapatkan perintah lantas menutup lalu mengunci pintu, diiringi dengan tirai yang ikut ditutup supaya tidak terlihat dari luar. Angela sudah memastikan bahwa propertinya aman jadi tidak terlalu takut jika diterobos.
"Ada yang bisa jelaskan kenapa mereka berubah ganas seperti itu? Apa karena kalian melakukan kesalahan sampai costumer marah?" tanya Angela.
"Mmm, mungkin bukan karena itu, Bos. Mungkin karena berita ini." Salah satu karyawan menyerahkan ponselnya.
Alangkah terkejutnya Angela ketika melihat namanya terpampang jelas di salah satu artikel yang dimuat di sosial media. Di sana jelas mengatakan bahwa dirinya memikat Daniel hanya atas harta saja, juga tega merebut kekasih kakak tirinya. Tidak itu juga, ia juga dibicarakan tengah hamil anak dari mantan Alin. Juga melakukan kecurangan pada bisnisnya––dengan kata lain korupsi uang pelanggan.
Warda yang melihat pun membungkam mulutnya tidak percaya. Ia juga berada di berita dengan tuduhan perebut suami orang. Wanita paruh baya itu hanya bisa terdiam dan merutuki siapa yang telah menyebarkan berita itu.
"Apa-apaain ini?!" murka Angela.
"Mungkin karena berita itu, mereka jadi membabi buta seperti itu, Bos. Kekuatan media kan sekarang sudah merajalela."
"Iya, Bos. Mereka mengancam akan membawa kasus ini ke polisi jika toko tidak segera ditutup," sahut salah satu karyawan lagi.
Angela menggeram kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya di samping badan. Ia merutuki siapa saja yang membuatnya kesusahan seperti ini.
__ADS_1
"Tapi ... apa berita itu benar? Apa bos yang melakukan semua itu?" tanya salah satu karyawan dengan berani.
"Kau menuduhku?" Angela menatap sinis.
"Bukan, hanya saja itu sudah booming di sosial media. Dan kemungkinan juga kebenaran. Apa jangan-jangan gaji kami telat karena bos korupsi juga?"
"Sudah berani kau menginterogasi bosmu sendiri?" Angela menatap dengan judes. Ia tidak suka karyawan yang membangkang.
"Kalau tidak melalukan, kenapa seperti cacing kepanasan? Jangan-jangan memang benar lagi. Hihh, merinding juga ya kalau ada wanita seperti itu." Karyawan itu masih tidak mundur.
"Berdrama seolah paling tersakiti, nyatanya dia sendiri pelakunya. Dasar, ratu drama!"
"Tutup mulutmu!" sentak Angela. "Mulai sekarang kau kupecat!"
"Oke! Aku juga sudah malas kerja di sini! Sudah kerjaan berat, gaji telat! Eh, yang punya usaha tukang goda pacar orang. Siapa yang ikut aku keluar dari pekerjaan ini?" Karyawan itu menatap rekan-rekannya. Dan benar saja temannya itu semua menyetujui usulannya.
Angela membulatkan mata ketika mendengar respons karyawan lain. Ia tadi hanya memecat satu orang, tapi kenapa yang lain malah ikutan mengundurkan diri?
"Saya berhenti, Bos."
"Saya juga."
"Heh, siapa suruh kalian mengundurkan diri, hah?!"
"Kami yang sudah tidak betah kerja di sini! Kerja rodi, tapi gaji sulit diturunkan! Memangnya kami robot!"
Sekitaran sepuluh orang karyawan itu segera melangkah pergi secara bersamaan. Tidak mengindahkan teriakan dari Angela yang masih tidak terima di sana.
"Heh! Kembali!" Angela berteriak berharap saja pegawainya itu kembali, tapi tidak.
Angela menatap nanar satu per satu karyawannya meninggalkan butik. Kini ia hanya tinggal ibunya saja. Wanita itu berteriak dengan keras sebagai pelampiasan atas rasa kesalnya.
"Sial! Ini pasti gara-gara Kak Alin!" geram Angela.
"Benar itu. Mama juga menyangka dirinya yang melakukannya. Kan dia memang benci kepada kita," sahut Warda berdiri di sebelah anaknya.
"Akh, sial! Sekarang siapa yang akan mengurus butik kalau semua pekerjanya mengundurkan diri, Ma? Butikku akan terancam bangkrut kalau begini caranya!"
"Ya, mana Mama tahu! Mama juga bingung nanti bagaimana menghadapi orang setelah berita Mama tersebar!" Warda juga membentak.
__ADS_1
Angela menyampar gelas yang berada di meja hingga pecah berkeping-keping. Wanita itu lantas mencengkeram pinggiran meja dengan erat, seakan sebagai aliran kekesalannya.
"Kak Alin sialan! Gara-gara dia usahaku hancur!" teriak Angela.
Warda lantas mendekati anaknya. Memberikan sebuah solusi. Ia masih ingat memiliki sebuah kunci emas.
"Coba telpon Raka. Dia kan punya relasi bagus. Barangkali bisa membantu kita." Warda memberi saran.
"Benar juga," tukas Angela langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomor Raka. Namun, tidak diangkat. Hal itu membuat Angela semakin naik pitam.
Angela melemparkan ponselnya dengan sembarang karena kesal kekasihnya itu tidak mengangkat panggilannya. Ke mana perginya si Raka itu? Kenapa waktu Angela susah, tiba-tiba saja menghilang baik ditelan bumi seperti ini?
"Bagaimana?" Warda menatap penuh harap. Raka adalah harapan terakhirnya.
"Tidak diangkat, Ma."
"Aish, ke mana anak itu perginya? Kita lagi susah malah pergi," geram Warda. Wanita paruh baya itu kesal karena kunci emasnya tidak bisa diandalkan.
Angela memijit pelipisnya sendiri. Kini hanya tinggal dirinya yang mengurus butik karena semua karyawan meninggalkannya. Butik juga terancam bangkrut akibat dari berita itu.
"Bagaimana ini, Ma? Bagaimana dengan reputasi dan usahaku?" tutur Angela sambil terisak.
"Mama juga tidak tahu. Dan bagaimana lagi dengan papamu? Dia pasti akan marah karena berita ini. Semua karena wanita tidak tahu diri itu. Dia pasti biang keroknya," jawab Warda.
"Tapi bagaimana bisa?" Angela menaikkan sebelah alis.
"Bisalah! Ada Daniel di sisinya. Dia hanya menyuruh saja sudah langsung dituruti. Termasuk menghancurkan perusahaan keluarga kita tentunya," jawab Warda.
"Akhhh!" teriak Angela frustasi.
Angela bangkit lalu memukul meja sehingga menimbulkan suara keras. Ia menatap ke arah depan seolah-olah musuhnya sudah berdiri di depan mata.
"Alin sialan! Tunggu saja, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal dariku!"
....
Hai, hai, berjumpa lagi di part 42.
Gimana part ini? Masih kurang greget?
__ADS_1
Komen di bawah, ya...