
"Daddy itu baik banget! Suka kasih mainan, suka peluk Arlo, suka beliin apa yang Arlo mau. Bibi tahu tidak, waktu itu Arlo diajak ke museum lo, seru banget," kata Arlo antusias.
"Wah, Bibi jadi iri nih." Nola menanggapi dengan serius. Ia tidak mau keceriaan Arlo itu luntur.
"Arlo pun juga suka. Tapi beberapa hari ini Daddy menghilang. Dia tidak ke sini. Kira-kira kenapa, ya, Bi?" Arlo menatap lekat.
"Umm, mungkin karena dia sibuk? Kan Arlo tahu Daddy itu pengusaha besar, pasti kan kerjaannya banyak."
"Mungkin gitu, ya." Arlo mengangguk paham.
"Arlo, waktunya mandi! Cepat ke sini!" teriak Alin dari arah dapur.
Arlo yang mendengarnya lantas bangkit dari kursi.
"Bi, aku mandi dulu, ya."
"Iya. Yang wangi, Arlo! Nanti agar temen perempuanmu terpesona!" teriak Nola melihat anak kecil itu sudah beranjak.
"Diam, Bibi!"
Nola terkekeh geli. Lucu sekali anak itu. Kini Nola punya kebiasaan baru, yaitu menggoda Arlo supaya merajuk. Menurutnya gemas saja.
Alin yang sudah mempersiapkan peralatan untuk mandi itu segera menuju ke ruang tamu. Arlo memang selalu meminta untuk mandi sendiri, jadi Alin hanya tinggal menyiapkan kebutuhannya saja.
Alin duduk di salah satu kursi di dekat Nola. Kebetulan sekali temannya itu berkunjung, padahal selalu disibukkan dengan berbagai pekerjaan.
"Aku kadang heran, kenapa Arlo berubah seperti itu," ungkap Alin.
"Aku juga. Tapi melihat bagaimana dia menceritakan betapa antusiasnya dia bertemu dengan Daniel, aku rasa dia memang sudah terikat jauh dengan ayahnya." Nola menambahi.
"Apa keputusanmu Alin? Apa kau akan menurut dengan Daniel?" tanya Nola.
Alin mengembuskan napas kasar. "Aku bingung, tapi Arlo selalu menceritakan tentang Daniel––betapa bahagianya dia."
"Pasti saja. Apalagi dia tahu bahwa Daniel adalah ayahnya."
Alin mengangguk. Namun, sedetik kemudian ia menatap Nola dalam.
"Aku masih ragu. Apakah Daniel baik? Apa dia tidak akan kasar lagi? Aku takut kalau kejadian itu terulang lagi, Nola." Alin khawatir. Pasalnya ia mengingat kejadian di mana seseorang hampir mencelakainya karena bersama dengan Daniel.
"Kalau itu, aku tidak tahu pastinya. Tapi kupikir karena hadirnya Arlo, Daniel pasti berubah," jawab Nola.
__ADS_1
"Apalagi kau tahu kan ayahku, dia bersikeras untuk aku menikah dengan Daniel. Bisnis keluargaku hampir bangkrut, La." Alin memang dijumpai ayahnya beberapa hari lalu dan meminta bantuan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga.
"Alin, aku tidak tahu mana yang terbaik dan terburuk untukmu. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau Daniel sebenarnya sudah melakukan secara diam-diam," ungkap Nola.
"Maksudnya?" Alin menaikkan sebelah alis.
"Kau ingat, waktu aku naik jabatan? Ternyata setelah aku telusuri, ada campur tangan Daniel di belakangnya," jawab Nola membuat Alin mengernyit.
"Bagaimana bisa?"
"Aku awalnya tidak tahu, aku juga berpikir dengan kinerjaku sekarang, untuk naik jabatan sepertinya butuh waktu yang lama. Kebetulan hari itu Daniel ke kantorku, dan katanya investor baru begitu. Waktu aku tanya bos ku, ternyata syarat perusahaan Daniel mau bekerja sama dengan kantorku adalah aku harus dinaikan jabatan begitu."
Alin mendengarkan dengan seksama. Ia mengamati sahabatnya yang mulai menceritakan semuanya.
"Aku kaget, tapi setelah dipikir ini pasti hubungannya denganmu. Kalau tidak, memangnya apa? Daniel menyukaiku? Sangat tidak mungkin." Nola menepis.
"Jadi intinya, dia ingin mendekatimu." Nola menarik kesimpulan.
"Katakan, apa kau tahu siapa yang mengirimkan makanan setiap sore ke rumah? Apa kau tahu juga siapa yang mengirimkan kebutuhan rumah tangga juga?" tanya Nola beruntun.
Alin hanya terdiam. Ingatannya kembali ke masa di mana semua terjadi dengan tiba-tiba. Ketika Alin sulit pun, tiba-tiba ada yang menolongnya. Waktu Alin pulang malam pun, tiba-tiba ada sebuah taksi yang menjemputnya pulang.
Alin langsung menatap Nola dalam. Apakah benar pria itu yang melakukan semuanya? Apakah Daniel yang ikut andil dalam semua aktivitasnya sekarang?
"Tapi kenapa harus diam-diam?" Alin bingung.
"Mmm ... mungkin karena takut penolakan? Kau kan sendiri yang bersikap ketus. Jadi, mungkin dia mau cari jalan lain. Tetap mengawasimu, tanpa menampakkan muka," jawab Nola.
Alin membisu. Daniel diam-diam memperhatikannya, sementara ia malah meregangkan semua jarak. Alin hanya waspada saja, barangkali pria itu hanya main-main saja. Namun, jika dipikir berdasarkan bukti itu, Alin menjadi bimbang.
Nola yang tengah mengamati sahabatnya itu beralih ketika ponselnya berdering. Segera ia mengangkat panggilan dari rekan kerjanya itu.
"Alin, aku harus kembali ke kantor. Ada kerjaan mendadak. Kau tidak apa-apa, kan?"
"Pergilah. Aku bisa sendiri, kok. Pekerjaan lebih penting," jawab Alin.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Daaa."
Alin mengantarkan Nola sampai depan pintu, kemudian ia kembali duduk di kursi. Memikirkan apakah benar apa yang diucapkan Nola tadi. Kalau benar, Alin benar-benar tidak mengerti lagi.
"Loh, Mom, di mana Bibi?" tanya Arlo yang sudah keluar dari kamar mandi, tapi masih mengenakan handuk di tubuhnya.
__ADS_1
"Pulang, tadi ada urusan. Kamu sudah selesai?" Alin mendekati Arlo.
"Sudah. Wangi tidak?" Arlo merentangkan tangannya. Alin mengendus baunya, lalu mengangguk.
"Wangi."
Alin mengamati Arlo dalam. Tiba-tiba sebuah ide di benaknya.
"Mau ketemu Daddy enggak?" tawar Alin.
"Mau!"
"Yaudah, ganti baju dulu. Terus ketika ketemu Daddy." Alin menggandeng tangan Arlo menuju kamar.
"Yey, ketemu Daddy!"
***
"Ini hasilnya." Vano menyerahkan beberapa bukti.
"Berdasarkan penelusuran, Raka dari perusahaan LeeDesain ternyata adalah mantan dari Nona Alin. Mereka putus dikarenakan Raka berselingkuh dengan adik tirinya––yaitu Angela."
Daniel mengamati beberapa lembar foto yang diberikan oleh Vano. Pantas saja jika pria itu mengerti tentang Alin, hubungannya dengan Alin tergolong cukup lama. Sudah bertunangan, dan sebentar lagi akan menikah. Namun, karena insiden itu, Alin begitu membencinya.
"Ibunya Nona Alin sudah meninggal dikarenakan kecelakaan mobil, sementara ayahnya menikah lagi dengan janda anak satu. Karena satu kesalahan, Nona Alin dikirim ke luar negeri lalu ketika kembali ia mendengar berita perselingkuhan itu."
"Pantas saja waktu itu dia terlihat berbeda, karena ini rupanya," tukas Daniel. Teringat kejadian di restoran waktu itu.
"Pasti kan sakit hati karena diselingkuhi, makanya ingin balas dendam. Mungkin karena itu juga, Nona Alin tiba-tiba aneh," jawab Vano.
"Kukira karena tulus," gumam Daniel.
"Apa Tuan?" Vano tidak mendengarnya. Hanya samar saja.
"Tidak." Daniel menggeleng. Ia tidak mau Vano mendengarnya.
Di sela pembicaraanya, tiba-tiba ada suara pintu diketuk dari luar. Setelah disuruh masuk, salah satu karyawan yang mengetuk tadi akhirnya masuk.
Baik Vano maupun Daniel tidak tahu kenapa karyawan tersebut nampak kelelahan dan juga ketakutan. Perasaan tadi keadaannya baik-baik saja.
"Pak Daniel, ada keributan di bawah!"
__ADS_1