
.
.
.
.
.
Panas terik matahari semakin menyengat. Suasana hutan yang biasa sunyi tak berpenghuni kini terdengar riuh penuh tawa.
Di salah satu pohon besar yang di penuhi buah yang sudah matang, terlihat pria serba merah tengah bersusah payah untuk memetik buah tersebut.
Sedangkan di bawah nya tampak beberapa orang tengah mengejek satu sama lain, menertawakan pria bodoh yang tanpa ragu memanjat pohon dengan buah yang mereka tidak tau apa nama nya.
"Heii.. Pria kecil.!.. apa kau sungguh bisa memetik buah.." Seru gadis cantik dengan pakaian yang dominan putih, melihat Hua Hong yang berada di atas pohon dengan raut wajah mengejek.
"Hong kecil, sebenar nya apa yang kau lakukan di atas sana..?" Hua Hui berteriak dengan keras, pria dengan pakaian hitam pudar itu sudah mulai tidak sabar.
"Benar, Hua Hong kau ingin kami menunggu sampai kapan.. Hahh?" Pria yang terlihat lebih bersemangat di Banding yang lain itu adalah Hua Zi .
Lima saudara Hui itu bersatu untuk mengejek satu saudara termuda nya itu.
Saling berteriak memaki dan bercanda.
"Heii.!.. kalian ini tidak tau apa, manusia memang seperti ini jika ingin memetik buah..!" tidak terima di ejek oleh mereka yang lebih tua, pria serba merah itu mulai membela diri.
"Huhh.. apa kau ingin membodohi aku Hong kecil? .. mana ada cara yang begitu aneh.." mengejek lagi dan lagi, Hua Bai yang satu satu nya gadis itu memang paling suka mencari masalah dengan saudara muda nya itu.
"Adik Hong, sebaik nya turun saja.." Hua Lan Berkata dengan perlahan, pria dengan pakaian biru lembut itu memang memiliki karakter yang tenang.
"Kakak Lan memang sangat pengertian.. " Tersenyum dengan canggung, pria serba merah itu melompat turun dari dahan pohon.
Plakk..
"Kau ini.! setelah tidak bertemu selama ribuan tahun masih saja ceroboh.." memukul kepala Hua Hong dengan keras, Hua Zi tidak habis pikir dengan saudara termuda nya itu.
"Aduhh.. kakak Zi memang tidak pernah berubah, selalu saja suka menganiaya adik yang paling tampan ini.." mengaduh dengan kesakitan, pria serba merah itu melihat saudara yang lain bahkan terlihat seperti menikmati menyaksikan ia di tindas tanpa ingin membela nya.
"Apa karna terlalu lama tinggal bersama manusia manusia itu, kau ini jadi lebih tidak normal.." Berkata dengan kesal, Hua Hui melihat saudara termuda nya itu dengan tatapan aneh.
"Kau ini semakin...." Berbicara dengan nada menggantung, Hua Hei memang paling irit Delam hal mengeluarkan kata kata.
"Semakin apa..?" memelotot pada pria serba hitam itu, Hua Hong melihat Hua Hei dengan tatapan garang.
"Semakin bodoh!.."
__ADS_1
Menjawab dengan serempak, lima saudara tua itu tampak sangat puas mengejek Hua Hong.
Tersentak kaget, Hua Hong memasang wajah kasihan dan mimik wajah teraniaya.
" Lihat benda benda berkilau ini, benar benar membuat mata sakit!" berkata dengan menusuk, Hua Bai sebagai gadis memang paling lihai dengan kata kata tajam.
" Kau ini, jahat sekali seperti nenek sihir.." berkata pelan sambil membetulkan hiasan kepala yang ia kenakan, berantakan karna di pukul oleh Hua Zi juga di tarik tarik oleh Hua Bai.
"Apa katamu..! " Berteriak dengan lantang, seperti uap panas keluar dari atas kepala nya. Gadis rumah itu melihat Hua Hong seperti menentukan target yang akan ia bereskan.
Menyadari naluri nya secara alami memperingatkan bahaya, Hua Hong segera berlari menghampiri tuan majikan nya yang duduk bersandar pada pohon di dekat tempat nya.
"Tuan majikan, lindungi pria tampan yang lemah ini.." Berteriak dengan histeris, pria serba merah itu dengan cepat berlindung kepada tuan nya. Dari dulu memang tuan majikan nya akan selalu memberi ia belas kasihan jika di ganggu oleh lima orang yang lebih kuat dari nya itu.
"Lihat pria kecil itu pasti akan meminta perlindungan tuan.." Berkata dengan nada sinis, Hua Bai memang akan selalu di hentikan oleh tuan majikan nya jika sedang mengganggu pria serba merah itu.
"Memang benar, selalu saja menjual tampang memelas itu." saut Hua Zi dengan melas, setelah ini pasti yang di tegur tuan nya adalah mereka.
"Tuan tidak seperti itu lagi.."
Semua menoleh pada Hua Hei yang berbicara, kenapa pria yang sangat jarang bereaksi itu tiba tiba angkat bicara.
Melihat yang lain menatap nya dengan penuh tanda tanya, Hua Hei merasa aneh di lihat seperti itu.
"Kenapa..?"
Menggeleng bersama sama dengan serempak.
"Benar, jika dulu apa mungkin tuan mengajak kita bersantai seperti sekarang? memetik buah atau apa lah ini nama nya." Perkataan Hua Hui di balas anggukan oleh saudara yang lain.
Jika dulu tuan majikan nya akan selalu memberi pelatihan pada mereka, tidak akan ada waktu sesantai ini.
"Tampak nya tuan memang sudah melepas kan ambisi nya." Berkata pelan, Hua Lan membuat yang lain teringat betapa mengerikan nya tuan majikan mereka saat mengejar ambisi nya dulu.
Masih saling berbisik satu sama lain, saudara Hua itu terdiam saat melihat Xiao Xuan membuka mata.
"Kalian ini, selalu saja ribut.." Berkata dengan malas. Xiao Xuan berajak berdiri di ikuti Hua Hong di belakang nya.
"Tuan mereka semua mengganggu ku, aku sungguh kasihan.." Merengek lagi dan lagi, Hua Hong mengabaikan tatapan menghina dari kelima saudara nya.
"Sudah lah.. lalu mana buah yang kau petik..?"
"ohh itu," menjawab dengan canggung, Hua Hong lupa memetik buah untuk majikan nya.
Berlaku begitu saja, Xiao Xuan berjalan mendekat ke arah pohon yang yang berbuah matang.
Meninggalkan Hua Hong dengan wajah kasihan, kelima saudara yang lain tampak menahan tawa. Memandang pria serba merah itu dengan wajah mengejek.
__ADS_1
Saat ada di depan pohon itu, Xiao Xuan tanpa basa basi memukul batang pohon hingga buah yang ada berjatuhan di mana mana.
Jika yang lain sempat membuat aray pelindung untuk diri sendiri, berbeda dengan Hua Hong ..
"Aduhhh,,, Aduhh...Sakit... " buah yang berjatuhan tidak sedikit mengenai nya yang akan menyusul Xiao Xuan.
Hahahahhahh....
Tawa pecah terdengar nyaring di dalam hutan, pria serba merah itu seperti sebuah lelucon di antara saudara nya.
Mengabaikan mereka yang masih saja tertawa, Hua Hong mengambil salah satu dari tumpukan buah yang berceceran di mana mana. Menggigit nya dengan semangat, pria serba merah itu sudah mulai terbiasa dengan makanan manusia.
Begitu juga dengan Xiao Xuan, ia mengambil duduk di antara buah yang bercecer kemudian mencicipi satu di yang ada di dekat nya.
Melihat Hua Hong dan Xiao Xuan yang memakan buah itu tanpa khawatir, Hua Zi bergegas mencicipi buah yang terlihat segar itu.
"Wahhh,, ternyata ini enak.." berseru dengan semangat.
"Kemarilah.. ayo makan bersama sama" berbicara dengan mulut yang penuh mengunyah. Hua Hong dengan lahap menyantap buah segar di hadapan nya.
"Benarkah bagai mana rasa nya..?" tanya Hua Lan yang penasaran.
"Wahhh.. ini sangat menyegarkan.." berkata dengan penuh takjub, Hua Bai yang baru saja mencicipi itu mengundang Hua Hui dan Hua Hei untuk mencicipi juga.
Memakan buah yang berceceran dengan sesekali bercanda, enam orang dengan asal yang berbeda beda itu di satukan oleh Xiao Xuan .
Dulu Xiao Xuan menjadikan mereka sebagai enam mata pedang berbagai sisi formasi nya.
Melihat mereka yang bisa bersantai dan tertawa lepas seperti ini tampak nya sangat menyenang kan.
Xiao Xuan mungkin benar benar harus mengubur ambisi besar nya yang jelas jelas sesuatu yang tidak akan bisa di capai.
Hidup damai dan tenang seperti ini membuat mereka akan lebih bisa menikmati hidup. Tersenyum dengan sendiri nya, Xiao Xuan tampak nya sudah mengambil keputusan.
Seperti ini juga tidak buruk...
.
.
.
.
.
...... BERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENULIS 😉
__ADS_1
... AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA 🥰
...terimakasih untuk teman teman yang sudah membaca.....