RATU HITAM

RATU HITAM
46. Aray Yang Asing


__ADS_3

.


.


.


.


.


Matahari sudah hampir terbenam bergantian bulan.


Sorot kuning kemerahan dari arah barat menandakan hari menjelang malam.


Beberapa orang sudah ber gegas meninggal kan pekerjaan nya dan segera pulang.


Namun tidak sedikit pula yang malah berangkat mencari kesenangan.


Di depan aula bunga, antrian di pintu masuk malah semakin ramai.


Sudah se hari hari nya aula bunga selalu di penuhi pengunjung baik siang atau pun malam.


Meninggal kan keramaian pada waktu menjelang petang. Enam saudara Hua masih ber santai di kedai makan milik Hei Xue.


Mereka seolah tidak mengkhawatir kan keadaan majikan nya sama sekali.


Setidak nya mereka akan mendapat sinyal jika salah satu dari mereka sedang dalam bahaya.


Apa lagi mereka sudah ter ikat kontrak darah antara tuan majikan dengan Hei Xuan. Tentu saja akan ikut merasa kan apa yang di alami majikan nya.


Melihat hari sudah mulai gelap, Hua Hui mengambil inisiatif ber tanya pada saudara Ter tua nya.


"Saudara ter tua, apa sebaik nya kita melihat keadaan tuan..?"


"Nanti saja..!" Saut Hua Zi dengan cepat, ia bahkan sudah memesan olahan udang untuk di cicipi. Lalu apa akan di tinggal begitu saja..?


"Kakak Zi, aku sudah sangat merindu kan tuan.." Ucap Hua Hong dengan wajah memelas, bagai mana pun, tanpa tuan majikan nya. Ia hanya akan menjadi bahan ejekan saudara tua nya itu.


"Benar kata adik Hong, kita sudah hampir se harian tidak ber sama tuan.." Sambung Hua Lan membenar kan saudara bungsu nya itu.


"Tunggu sebentar saja.. Udang ku akan segera sampai..!" Bujuk Hua Zi pada saudara nya yang lain.

__ADS_1


"Kau ini..! Otak mu hanya penuh dengan makanan..!" ejek Hua Bai pada saudara tua nya itu.


"Haih.. baik lah.. baik lahh.." pasrah pria penggila makanan itu pada akhir nya.


Segera ber diri hendak pergi, mereka ber lima melihat Hua Hei sebagai saudara ter tua masih belum bangkit dari duduk nya.


"Kakak ter tua..?" panggil Hua Hong mem buat pria dengan penampilan serba hitam itu mengangkat pandangan nya.


Melihat saudara nya yang lain memandang nya dengan mata ber tanya tanya, Hua Hei menghela nafas pelan.


Apa tidak ada yang menyadari jika ada Aray pelindung pada lantai empat yang di tempati majikan mereka..?


"Ada yang memasang Aray di sana.." jawab nya pada akhir nya. Hua Hei mau tidak mau harus menjelas kan nya pada saudara saudara yang lain.


"Ohh.. Apa iya..?" tanya Hua Hong dengan penasaran.


Saat ia menajam kan pengelihatan nya, pria serba merah itu benar benar dapat melihat jika ada Aray yang sangat kuat ter pasang di lantai empat.


Namun aneh nya itu bukan milik tuan majikan mereka, lalu milik siapa..?


"Apa kita harus lewat bawah..?" tanya Hua Bai setelah sedikit memahami situasi nya.


"Tentu saja..! Kita tidak bisa langsung masuk ke lantai empat.." jawab Hua Lan dengan tenang.


"Tidak..! ter lalu banyak pengunjung di aula bunga." tolak Hua Hui setelah memperkira kan akibat jika mereka menerobos langsung ke lantai tiga.


Selain menimbul kan ke ributan yang tidak perlu, itu juga akan memperburuk reputasi aula bunga.


"Apa kita benar benar harus mengguna kan tangga..?" tanya Hua Hong untuk memastikan.


Mereka harus turun memalui tangga dan kemudian naik dengan tangga lagi..?


Tidak ada yang menjawab, mereka ber lima hanya bisa menatap Hua Hei.


Sebagai saudara ter tua, pria serba hitam itu yang akan memutus kan untuk mereka yang muda.


"Ayo.." Hanya itu yang di ucap kan oleh Hua Hei. Entah ayo menerobos lantai tiga, atau ayo menggunakan tangga.


Saling pandang satu sama lain. Hua Hei sudah lebih dulu ber jalan menuju arah tangga.


Melihat itu, saudara Hua yang lain juga segera menyusul menuruni tangga menuju lantai bawah.

__ADS_1


Melewati satu demi satu lantai, saudara Hua yang memang tidak menyamar kan keberadaan nya menjadi pusat perhatian.


Dengan jubah hitam yang mereka kenakan, itu membuat orang yang melihat merasa asing dengan keberadaan saudara Hua.


Membelah antrian di lantai dasar, enam saudara Hua bergegas memasuki bangunan dengan empat lantai itu.


Suara riuh sorak dan tepuk tangan ter dengar di seluruh sisi.


Sampai di lantai tiga, Hua Hei merasa jika Aray yang berada di lantai paling atas itu benar benar asing.


"Apa kita tidak bisa memecah kan nya..?" Tanya Hua Zi yang juga merasa jika Aray pelindung di atas benar benar asing.


Seolah merasa ter tekan, Hua Hong segera memasang perisai pelindung untuk diri nya sendiri.


"Ini terlalu kuat..!" Seru Hua Bai dengan segera memasang perisai pelindung untuk diri nya.


Begitu pula dengan yang lain, mereka segera memasang perisai pelindung untuk diri mereka masing masing.


"Saudara Hei.. bagai mana sekarang..?" Keluh Hua Lan pada saudara tua nya itu.


Memejam kan mata untuk sebentar, pria serba hitam itu tidak menemukan solusi untuk sekarang.


Tapi setidak nya tuan majikan mereka tidak sedang dalam bahaya.


"Tunggu saja di sini.."


.


.


.


.


.


..... BERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENULIS 😉


...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA 🥰


..... .....

__ADS_1


...••_terimakasih untuk kalian yang sudah membaca_••...


__ADS_2