
.
.
.
.
Keadaan di kota kekaisaran yang semakin membaik membuat ekonomi penduduk mulai pulih.
Begitu pula dengan usaha usaha di pasar yang mulai stabil.
Aula bunga menjadi tempat yang paling terkenal juga banyak di kunjungi mulai dari kalangan rakyat biasa, para bangsawan, bahkan tidak sedikit pejabat dari dalam dan luar kekaisaran datang ke tempat hiburan itu.
Seperti pepatah, semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin yang menerpa.
Akhir akhir ini banyak sekali yang mencoba menyelidiki siapa pemilik dari tempat yang menjual berbagai macam keindahan itu.
Bahkan para anggota kekaisaran akan sesekali terlihat mengunjungi tempat yang menyenang kan itu.
"Cukup.." Ucap gadis muda yang tengah duduk santai menikmati teh di halaman milik nya.
Di samping nya tampak pria dengan pakaian hitam pudar sedang berlutut bagai kesatria sejati.
"Baik tuan.." Jawab Hua Hui segera mengakhiri laporan yang di ingin kan tuan majikan nya.
"Duduk lah.. dan minum ini.." Menyodor kan mangkuk teh yang telah ia isi, Hei Xuan melihat jika Hua Hui masih belum ber diri dari tadi.
"Tuan.. Makhluk rendah ini tidak pantas.." menjawab dengan menunduk hormat, Hua Hui sama sekali tidak berani mengangkat kepala nya.
"Bangun lah,, ini perintah.."
Suara dingin Hei Xuan membuat pria dengan pakaian hitam pudar itu mendongak melihat tuan majikan nya.
Wajah se dingin giok teratai itu mengingat kan nya jika tidak ada yang pernah membantah apa yang terucap oleh majikan nya itu.
Lalu baru saja apa yang ia lakukan, ?
Keberanian dari mana yang membuat ia menjawab perintah tuan nya..?
"Baik tuan.." menjawab dengan patuh, Hua Hei beranjak duduk di kursi yang ber hadapan dengan tuan majikan nya.
"Minum ini.." Meletak kan mangkuk teh di depan pria yang duduk di depan nya itu.
"Terima kasih tuan.." Membungkuk sebelum menerima, Hua Hui segera menghabis kan teh di mangkuk itu dengan sekali teguk.
Hening beberapa saat, setelah pria dengan pakaian hitam pudar itu kembali duduk. Hei Xuan sendiri bahkan tidak terlihat akan angkat bicara.
Melihat tuan majikan nya yang sekarang tampak seperti gadis kecil itu mengingat kan Hua Hui pada penampa kan tuan majikan nya saat dulu, masih menjadi pemimpin dunia bawah.
Memang dari segi penampilan, Tidak lah jauh berbeda. Masih tetap mengena kan pakaian yang di dominasi hitam.
__ADS_1
Namun tubuh tuan majikan nya yang dulu dewasa dan kuat berganti menjadi tubuh manusia yang rapuh.
Meski telah mencapai tahap penyempurnaan, tubuh manusia yang di pakai tuan majikan nya tetap lah tidak bisa sekuat tubuh dari ras iblis.
"Apa yang sedang kau pikir kan..?"
Per tanyaan Hei Xuan menyadar kan pria dengan pakaian hitam pudar itu yang tidak sengaja melamun.
Menatap tuan majikan nya dengan linglung, Hua Hei tampak bingung ingin bicara apa.
"Apa tuan..?" tanya nya pada akhir nya.
"Aku bertanya, Apa yang sedang kau pikir kan..?" Jelas Hei Xuan sekali lagi.
"Ohh.. tidak .. tidak ada tuan.." Menjawab dengan gugup, Hua Hui menunduk dengan gelisah.
Apa yang ia pikir kan hingga melamun di depan tuan majikan nya..?
"Tidak apa,, Bagai mana dengan formasi pelindung di sana..? " Tanya Hei Xuan mengubah topik.
"Sejauh ini masih tidak ada masalah tuan, Tidak ada energi spiritual yang bocor keluar, jadi tidak ada yang menyadari keberadaan ras iblis di sana."
Pria dengan pakaian hitam pudar itu menjawab dengan cekatan pada setiap pertanya an yang di ajukan tuan majikan nya.
Jika di lihat dari kejauhan, mereka ber dua tampak sedang ber bincang santai dan sesekali ber canda.
Meninggal kan penghuni istana hitam yang sudah kembali seperti biasa setelah muncul nya Hei Xuan.
Jauh dari dunia tengah, ter dapat kehidupan lain yang tampak abadi.
Tidak ada kegelapan di mana pun, hanya ada cahaya dan harapan sejauh mata memandang.
Dari istana yang tampak mewah dan megah, istana yang tiap dinding nya terlihat penuh ber kilauan.
Di aula besar dengan pilar pilar tinggi tak terjangkau, berkumpul banyak makhluk makhluk entah apa yang mengeluar kan cahaya dari tubuh nya.
Sesekali ter dengar suara suara bisik yang saling ber sautan .
Tampak pria yang mengena kan cadar putih duduk dengan tenang di singgasana.
Wajah yang ter lihat tegas dengan garis hitam alami di kelopak mata itu benar benar layak di kagumi.
Iris mata berwarna biru tenang yang terasa dingin seperti lautan juga alis mata yang keras sudah menjadi bukti jika wajah tanpa cacat itu sangat lah rupawan.
"Yang mulia..! Segel yang telah di pasang pemimpin sebelum nya untuk mengurung Iblis dunia bawah sudah di pecah kan, bagai mana.."
"Apa..?" Tanya pria dengan rambut putih keperakan itu sebelum pria paruh baya di hadapan nya menyelesaikan ucapan nya.
"Untuk berjaga jaga, yang mulia sebaik nya menyempurna kan darah dewa agar dapat mengalah kan pemimpin dunia bawah." Jawab pria paruh baya itu dengan sangat ber hati hati.
"Lalu..?" Tanya pria putih itu sekali lagi.
__ADS_1
"Untuk itu, tuan harus mengangkat seorang ratu dan melakukan penyucian."
Prangggg...
"Mohon turun kan amarah yang mulia.."
Suara menggema di aula besar itu, seisi aula segera bersujud setelah mendengar suara barang pecah.
Begitu pula dengan pria paruh baya yang tadi baru saja menyekesai kan ucapan nya.
Di atas singgasana, pria dengan pakai an putih itu tampak mengerut kan alis kesal.
"Apa bawahan seperti mu ingin mengatur seorang pemimpin..!" Suara nya terdengar pelan, namun seolah dapat menggema memenuhi seisi aula.
"Hamba .. hamba yang rendah ini tidak berani yang mulia.." Masih dengan bersujud, pria paruh baya itu menjawab dengan gemetar.
"Aku tidak membutuh kan siapa pun mengatur kehidupan pribadi ku.."
Hening seketika...
Orang orang yang ada di aula itu bahkan tidak menyadari jika pemimpin di atas singgasana itu sudah menghilang entah ke mana.
Pria putih yang tidak lain adalah Bai Jin Xi itu tiba tiba muncul di kediaman nya.
Berjalan menuju halaman belakang milik nya Pria putih itu duduk di gazebo yang menghadap langsung ke danau dengan bebebrapa perbukitan yang mengelilingi nya.
Memainkan kecapi yang memang ia tempat kan di sana.
Bai Jin Xi mengingat kembali para tetua yang terus menuntut ia agar mengangkat seorang ratu.
Ratu..?
Dalam pikiran nya tiba tiba terlintas wajah dingin gadis dengan pakaian hitam. Gadis yang menatap nya dengan mata tajam juga penuh kewaspadaan.
Mengingat gadis dengan darah iblis itu membuat Bai Jin Xi tersenyum dengan sendiri nya.
"Aku sudah memiliki ratu.."
.
.
.
.
.
....BERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENULIS 😉
.. JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA 🥰
__ADS_1
..... .....
...__terimakasih sudah membaca__...