RATU HITAM

RATU HITAM
58. Tuan tidak menyayangiku..!


__ADS_3

.


.


.


.


.


Hidup dan mati adalah sebuah misteri yang tak terduga.


Hari ini masih ter senyum dan entah bagaimana dengan hari esok.


Memandang bangunan yang sudah menjadi reruntuhan.


Pemuda dengan hanfu kebesaran seorang putra mahkota itu memandang dengan nanar.


Bangunan yang dulu di tempati saudari nya kini sudah mulai ter lupakan.


Paviliun yang hancur karena ada nya ledakan energi itu bahkan tidak di per baiki sama sekali.


"Apa hanya seperti ini..?" Ber gumam dalam hati.


Seorang anggota keluarga ke kaisaran yang sangat di agungkan bahkan tidak memiliki makam yang layak.


Mengingat selir Yun yang ia anggap sebagai ibu nya sendiri meninggal begitu saja mem buat putra mahkota Xiao Xun geram.


"Aku akan mendapatkan keadilan untuk ibu dan juga saudari ku.."


Tekat nya menekan kan pada diri sendiri.


Menggores belati ke telapak tangan nya hingga mengeluar kan darah.


Mengusap kan darah nya ke dahi hingga kepala.


Xiao Xun ber sumpah akan meng hukum ke tidak adilan di kekaisaran Xiao.


"Matilah kalian semua orang jahat..!"




Meninggal kan putra mahkota yang tengah ber sedih, di ibukota sedang ramai karena salju sudah mulai turun.



Banyak yang ber lalu lalang di pasar ibu kota untuk mencari jubah hangat atau hanya sekedar ber jalan jalan.



Seperti hal nya yang di lakukan pemuda dengan pakaian serba merah yang sedang berdiri di depan penjual jajanan mantao.



Dia tidak sendirian, ada empat saudara tua nya juga di sana.



Benar..! Hanya empat. Karena Hua Hei sedang mengikuti tuan majikan nya mengurus sesuatu.



Masih mengenakan jubah hitam yang sama, Hua Hong bahkan tidak sungkan sungkan mengambil mantao lebih dari yang ia bayar.



"Kira kira kemana ya tuan dan saudara tertua..?" Pria serba merah itu memulai per cakapan sambil ber lalu pergi meninggalkan pedagang mantao.



"Tuan ada urusan penting.." jawab Hua Hui dengan pelan.

__ADS_1



"Aku tahu.. tapi kenapa tuan tidak mengajak ku..?" Merenung sambil memakan mantao di tangan nya.



"Karena kau sangat tidak berguna.." celetuk Hua Zi dengan asal.



"Ahhhhh.. " teriakan Hua Hong membuat orang orang di sepanjang jalan memperhatikan mereka.



"Ada apa adik Hong..? " Tanya Hua Lan yang sedari tadi diam.



"Aku tahu.. ! Aku tahu kenapa..!" lagi lagi pria serba merah itu membuat saudara tua nya kebingungan.



"Kau ini kenapa..?!" Tanya Hua Zi dengan suara keras.



"Tuan.. tuan, pasti tidak menyayangi ku lagi..!" Berkata dengan wajah menyedih kan.



Namun mata ber kaca kaca yang siap menetes kan air mata itu tidak membuat ke empat saudara tua nya merasa kasihan.



Justru hal tersebut membuat amarah Hua Bai memuncak.



Gadis Hua itu mulai mem bentuk pisau angin yang melayang di udara .




"Aku benar benar akan memukul mu..!" Teriak Hua Bai dengan kesal.



Benar saja, pisau angin itu mulai mengejar Hua Hong.



"Ohhh.. tidak..! Tuan sudah membuang ku..! Dan saudara ku juga akan membunuh ku..!" Teriak histeris Hua Hong yang terus ber lari karena di kejar Hua Bai dan juga pisau angin di belakang nya.



"Bagus Bai..! Pukul kan dia untuk ku juga..!" Saut Hua Zi yang juga menyusul saudara muda nya itu.



Menggelengkan kepala melihat tingkah saudara nya yang kekanakan.



Hua Lan memulai per cakapan dengan kakak kedua nya.



"Kakak Hui, apa kah tuan pergi karena aura se malam..?" Tanya pria biru itu dengan hati hati.



Tidak menjawab, Hua Hui hanya melihat ke arah saudara muda nya.

__ADS_1



"Kau mengetahui nya..?" Tanya Hua Hui kembali.



Mengangguk dengan pelan, "Ada burung yang menyampaikan pesan pada ku.." jawab Hua Lan.



"Lalu..?" Tanya Hua Hui lagi.



"Di sana sangat gersang, dan.." menjawab dengan ragu, Hua Lan menatap saudara tua nya dengan bimbang.



"Dan apa..?" Desak Hua Hui agar saudara muda nya itu segera men jawab.



"Dan, tidak ada kehidupan.."



Jawaban Hua Lan tidak membuat pria dengan pakaian hitam pudar itu terkejut.



Sekarang ia mengetahui kenapa tuan majikan mereka hanya membawa Hua Hei bersama nya.



Tempat yang akan tuan mereka datangi terlalu ber bahaya.



Jika dalam keadaan mendesak, Hei Xuan bisa kembali ke wujud naga lalu menghilang di udara seperti asap.



Sedang kan Hua Hei dapat berubah menjadi sulur dan melarikan diri melewati bawah tanah.



Menghela nafas pelan, Hua Hui menepuk pundak saudara keempat nya itu.



"Tuan sedang melindungi kita.."


.


.


.


.


.


.


........PENULIS MENUNGGU KRITIK DAN SARAN DARI PARA PEMBACA😉


...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPAN NYA🥰



.. ..


__ADS_1


••\_terimakasih untuk kalian yang sudah membaca\_••


__ADS_2