RATU HITAM

RATU HITAM
38. Sedang Merenung


__ADS_3

.


.


.


.


.


Setiap orang mungkin pernah terpuruk dalam satu titik terlemah. Namun bagaimana pun kita menyesali apa yang telah terjadi, waktu akan terus berganti tanpa menunggu kita kembali.


Entah apa yang sedang mengganggu pikiran gadis dengan marga Hei itu, duduk termenung sambil menatap kosong pada luar jendela.


Sudah hampir seminggu setelah kepulangan nya dari dunia bawah, gadis itu menolak untuk bertemu dengan siapa pun.


Setiap hari ia hanya akan melamun di depan jendela kamar nya.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan dari pintu depan paviliun milik Hei Xuan.


"Tuan majikan.. apa Hua Hong boleh masuk..?"


Di luar pintu terlihat pria dengan penampilan serba merah yang berkilau an.


"Tuan majikan..?"


Hening....


Meski pria merah itu mencoba memanggil ber kali kali, tetap saja tidak ada jawaban apa pun dari dalam paviliun besar itu.


"Haihhh..." Menghela napas panjang, Hua Hong menyerah setelah cukup lama di depan pintu.


"Tuan..! Hua Hong akan kembali dulu.." Berbalik dan melangkah pergi dengan wajah lesu. Pria merah itu menuju ke ruangan makan.


Di meja makan, semua penghuni istana hitam sudah duduk di kursi masing masing.


"Tidak di jawab lagi..?" Tanya Hei Xue yang melihat jika pria serba merah itu memasuki ruang makan dengan wajah lesu.


Semua yang ada di dalam ruangan itu ikut melihat ke arah pintu.


Berbeda dengan keluarga Hei yang masih berharap, Saudara Hua bahkan tampak tidak ingin bertanya.


Pendengaran ras iblis yang sangat tajam membuat mereka mampu mendengar apa saja yang di katakan Hua Hong saat berada di paviliun tuan majikan mereka.


Menggeleng dengan lemah, Hua Hong memberi jawaban pada tatapan bertanya tanya dari Hei Yue dan yang lain nya.


Melangkah menuju tempat duduk nya, Hua Hong duduk dengan malas melihat berbagai masakan di depan nya.


"Ada apa dengan Xuan sebenar nya.." Berkata dengan resah, Hei Yue yang setiap hari mencoba berkunjung ke tempat tinggal putri nya itu juga tidak dapat membuat Hei Xuan mau keluar.


" Tenang lah sedikit.. Mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran nya.." jawab Hei Qian mencoba menenang kan mantan selir kekaisaran itu.

__ADS_1


"Iya ibu, tapi ini sudah hampir satu Minggu.. Bagai mana aku bisa tenang.." memijat kening nya karena pusing, Hei Yue semakin merasa jika ia sama sekali tidak mengenal putri nya sendiri.


"Ahhhhh...! Aku tahu..! " Berseru dengan keras, Hei Xue mengaget kan semua orang di meja makan.


"Xue.. Pelan kan suara mu..!" Tegur Hei Qian pada putra nya.


"Ini pasti karena suami nya itu pergi.. Xuan pasti sangat sedih kan..!"


Melihat Hei Xue dengan malas, Hua Hong adalah yang paling malas membahas sesuatu yang di bicara kan oleh paman majikan nya itu.


"Kakak Xue, jangan mengada ada.." Berkata tanpa minat.


Hua Hong tiba tiba saja terbelalak kaget saat menyadari apa yang di maksud oleh Hei Xue.


"Ohhh...! Pria putih itu.." Seru Hua Hong dengan cepat.


Plakkk..


Memukul pundak Hua Hong dengan keras, Hua Bai yang duduk paling dengan pria merah itu terlewat semangat.


"Iya benar.!. Pria ter tampan yang pernah aku lihat.!." Seru nya tak kalah semangat.


"Pria yang mengaku suami tuan itu..?" tanya Hua Lan setelah mengikat apa yang sedang mereka bicara kan.


"Ohhh.. pria Bai dengan garis darah...."


Tak..


Suara sumpit beradu dengan meja terdengar nyaring memotong ucapan Hua Zi yang hampir kelepasan.


"Ahhh.. Aku .. aku maaf.." Tersadar jika ia hampir saja membongkar rahasia, Hua Zi dengan cepat berdiri kemudian membungkuk pada saudara tertua nya.


Di mata Hua Zi, Selain tuan majikan nya. Hua Hei akan tampak lebih mengerikan saat sedang marah.


"Sudah Sudah... Cepat makan atau masakan nya akan dingin.." Ucapan Hei Qian membuat suasana kembali tenang.


"Ayo mulai makan nya.." Berkata dengan tenang, Hei Yao yang dari tadi diam memulai memakan masakan di meja.


Suasana meja makan yang biasa di selingi dengan berbincang bersama, beberapa hari terakhir tampak sepi tanpa minat.


Hei Xue merasa aneh dengan suasana sunyi di meja makan, padahal dulu saat masih berbisnis, dia selalu makan sendiri sewaktu waktu.


Mungkin karena sudah terbiasa makan bersama sambil bercanda, sekarang bahkan hanya tidak ada satu orang dan ia merasa sangat sepi...?


Mengalihkan pandangan pada Hua Zi yang juga tampak malas menyantap makanan di depan nya.


Jika hari hari biasa, Hua Hong juga Hua Zi akan menjadi sangat bersemangat saat waktu nya makan tiba.


Begitu pula dengan saudara Hua yang lain, piring makan mereka bahkan hanya terisi dengan sedikit sayur. Tidak mengambil daging sama sekali.


Haihhh...


Hei Xue menghela nafas sebelum melanjut kan makan nya.

__ADS_1


" Kenapa makan sedikit sekali..?"


Terdengar suara datar seorang gadis dari arah pintu.


Segera mengalih kan pandangan, dari ambang pintu terlihat gadis yang mereka nanti nanti kan.


Mengenakan pakaian hitam polos, Hei Xuan juga mengikat rambut ekor kuda tinggi tinggi. Tampak seperti hari hari biasa nya.


"Wahhh Tuan majikan.." Hua Hong bergegas menghampiri majikan nya.


"Kenapa..?" Merasa aneh dengan Hua Hong, pria merah itu melihat nya dengan tatapan menyelidik.


"Bukan apa apa.. Hanya saja.. " Berkata dengan nada menggantung, Hua Hong melihat tuan majikan nya dari atas hingga bawah.


"Sudah lahh.. Duduk dan makan, ! Kau terlihat semakin kurus.." Melangkah di ikuti Hua Hong di belakang nya.


"Salam Tuan.." Saudara Hua yang lain dengan segera membungkuk memberi hormat setelah Hei Xuan duduk di kursi nya.


"Lanjut kan Makan.." Menjawab dengan singkat, Hei Xuan mulai meletak kan beberapa masakan di atas piring makan nya.


"Terima kasih tuan.." Kembali melanjut kan makan dengan semangat setelah kehadiran Hei Xuan.


Hua Zi dengan segera mengisi piring makan nya dengan banyak olahan daging.


"Ini Xuan, makan lah yang banyak.." Meletak kan irisan daging sapi panggang di piring milik Hei Xuan, Hei Yue melihat putri nya yang hampir seminggu ini mengurung diri.


"Iya.."


Melihat ibu nya dengan tatapan datar, Hei Xuan tampak kaku membalas perlakuan ibu nya.


Suasana makan yang penuh candaan kembali dalam Sekejap, Hua Hong terus saja berbicara setelah melihat tuan nya.


"Tuan.. Kenapa kemarin tuan mengurung diri..?" tanya pria merah itu dengan sangat hati hati.


"Sedang Merenung"


"Apa..?" Berseru dengan serempak, enam saudara Hua menatap aneh pada tuan majikan mereka. Jawaban macam apa ini..


Sedang Merenung..?


.


.


.


.


.


........**BERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENULIS 😉


.. JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA 🥰**

__ADS_1


..... .....


...__terimakasih sudah membaca__...


__ADS_2