
.
.
.
.
.
Diluar hari sudah semakin larut, namun bangunan mewah dengan dua lantai itu masih penuh dengan pengunjung.
Batu permata merah yang di lelang masih belum mendapat kan pemenang nya, Suasana di pelelangan semakin memanas.
Jika saja tidak ada larangan untuk berkelahi di dalam rumah judi, mungkin saja sudah banyak korban ber jatuhan dari ber bagai pihak.
Saling serang harga dan cek cok adu mulut sudah ter jadi untuk waktu yang lama.
"Setarus ribu keping emas..!" Suara teriakan seorang pria yang juga berada di lantai dua.
"Wahhh..! ini benar benar dunia orang kaya..!"
"Benar..! mereka tanpa ragu membuang uang di sini..!"
"Aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak itu.."
Suara riuh kembali ter dengar saling ber sahutan.
"Apa ada yang menawar lebih tinggi..?" Tanya pemandu acara yang ber diri di atas panggung.
Harga tawar batu di hadapan nya ini benar benar jauh lebih tinggi dari pada perkiraan nya.
"Jika tidak ada yang menawar di hitungan ke tiga, maka permata merah ini akan menjadi milik tuan dengan nomor 4..!" Seru nya memberitahu kan pada para pengunjung.
"Tidak ada yang berebut dengan ku .! Cepat hitung saja..!" Teriak pemuda yang tadi menawar di ruangan nomor 4.
"Adik Hong, siapa yang berada di nomor 4..?" Tanya Hua Lan pada saudara ter muda nya itu.
Mengalihkan pandangan nya sebentar, Pria dengan pakaian serba merah itu mengerutkan dahi.
Ber pikir beberapa saat, ia merasa pernah ber temu dengan pria yang terlihat tidak asing itu.
"Ohhh.. itu adalah Xiao Tian, pangeran ke empat." Jawab Hua Hong kemudian.
"Wahhh.. anggota kekaisaran..?" Saut Hua Zi setelah men dengar jawaban.
"ternyata seorang pangeran.." Gumam Hua Hei yang masih bisa di dengar saudara nya yang lain.
"Seratus ribu keping emas bukan apa apa untuk anggota kekaisaran kan..?" Saut Hua Bai dengan nada ber main main.
"Hehe hehe..." ter tawa misterius sambil saling melirik satu sama lain secara ber gantian.
"Tuan bagaimana..?" Tanya Hua Lan pada tuan majikan nya.
Menutup mata dengan tenang, Hei Xuan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Seratus dua puluh ribu ...!" Seru Hua Zi untuk menaik kan harga.
Teriakan Hua Zi membuat hitungan pelayan pria yang ada di atas panggung ber henti.
__ADS_1
"Wahhh.. siapa lagi orang kaya ini.."
"Apa seluruh emas sedang ber kumpul di sini.."
Suara bising saling ber sahutan kembali ter dengar.
"Berani nya dia...!" Geram Xiao Tian yang ada di bilik nomor empat.
Bagai mana tidak, seratus ribu keping emas nya hampir bisa mendapat kan batu per mata merah.
Namun sekarang, siapa lagi yang tiba tiba muncul menaik kan harga.
"Tuan di nomor satu me naik kan harga menjadi seratus dua puluh ribu..!" seru pelayan pria yang ada di panggung.
Semakin mahal ter jual maka semakin besar pula komisi yang akan ia dapat kan.
Jika di dalam rumah judi masih ricuh dengan kenai kan harga tawar.
Di depan bangunan dengan dua lantai itu bahkan ter jadi ke kacauan yang lebih besar lagi.
Prajurit yang kehilangan kesadaran ter geletak di mana mana.
Di antara para prajurit itu ter lihat sosok pria dengan surai perak ber jalan dengan ter gesa gesa.
"Yang mulai.." Sambut Li Si dan Li Fu setelah melihat majikan mereka.
Benar..! Ke dua pengawal itu di perintah kan oleh Bai Jin Xi untuk mem buka jalan.
Mengabai kan ke dua pengawal nya, Bai Jin Xi ber gegas menuju pintu masuk bangunan yang di tempati gadis nya itu.
Benar sekali..!
Melihat gadis nya di tatap oleh orang lain saja sudah membuat pria serba putih itu naik darah.
Mempercepat langkah kaki nya, Bai Jin Xi tanpa ragu segera menendang pintu besar yang ada di hadapan nya.
BRAKKK...
Suara teriakan ketakutan dan histeris memenuhi bangunan dengan dua lantai ter sebut.
Para pengunjung ber larian ke mana mana, ke kacauan tak ter hindar kan lagi.
Mengabai kan ke ributan yang sebenar nya di sebab kan oleh nya, Bai Jin Xi segera melesat menuju lantai atas.
Tempat di mana gadis nya berada.
Sedang kan Hei Xuan yang menyadari kedatangan pria putih itu gelagapan tanpa sebab.
"Sial...!" umpat gadis itu dengan tiba tiba.
Belum sempat ke enam saudara Hua bereaksi, Bai Jin Xi sudah berada di hadapan mereka.
Melihat Hei Xuan dengan kilat mata yang di penuhi ke cemburu an.
Memasang kan tudung kepala pada gadis nya, Bai Jin Xi segera mengangkat Hei Xuan dan membawa nya pergi.
Saat mereka ber jalan di lantai bawah, suasana menjadi hening seketika.
" Heii..! Turun kan aku .!" Berontak Hei Xuan setelah ter sadar dari keter kejutan nya.
__ADS_1
"Diam..! Atau aku akan mencium mu..!"
Jawaban Bai Jin Xi benar benar membuat gadis itu tutup mulut dengan segera.
Bagai man tidak, di tengah ke kacauan seperti ini.
Mereka sudah menjadi pusat per hatian sekarang.
Puas melihat gadis nya diam dan patuh, Bai Jin Xi ber jalan dengan cepat menuju kereta kuda yang sudah di siap kan oleh ke dua pengawal nya.
Se pergi nya mereka ber dua, tidak ada yang bereaksi di antara para pengunjung untuk beberapa saat.
"Heii..! Bukan kah itu dewa judi..!" Seru salah seorang pengunjung setelah ter sadar dari lamunan nya.
"Benar..! itu dewa judi yang tadi datang..!"
"Iya benar..! itu jubah yang tadi di kenakan..!"
Suasana kembali ricuh setelah beberapa orang yang baru saja di bawa keluar memakai jubah yang biasa di kenakan dewa judi.
Pemuda yang menggempar kan ibu kota belakangan ini.
"Wahh.. ter nyata benar benar dewa judi..!"
Tapi terasa ada yang janggal dari apa yang mereka lihat barusan.
Kenapa seorang pemuda kecil itu di gendong oleh pria yang ter lihat lebih dewasa...?
Apa kah mereka ber dua kakak beradik..?
Tapi lihat, posisi nya menggendong di depan tanpak sangat mesra..
Mereka ber dua ter lihat seperti pasangan kekasih..?
Tapi mereka sama sama pria kan..?
Ber bagai per tanyaan muncul menjadi bahan diskusi para pengunjung.
Lalu apa sebenar nya jawaban dari semua per tanya di otak mereka..?
"Apa mereka gay..?"
.
.
.
.
.
..... BERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENULIS 😉
.... JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN AGAR PENULIS DAPAT MENGHASILKAN KARYA YANG LEBIH BAIK LAGI KEDEPANNYA 🥰
..... .....
......••_terimakasih untuk kalian yang sudah membaca_••......
__ADS_1