Rebirth: Pembalasan Dendam Tuan Muda

Rebirth: Pembalasan Dendam Tuan Muda
10. Siasat Licik Rahman


__ADS_3

Hai readers..


Karena Rahasia sang menantu miskin sudah hampir end untuk session 1 nya maka thor bikin baru dengan thema mengubah takdir.


Jangan lupa support thor dengan like, vote dan gift yang banyak yaaaaaa.


Diusahakan bakal up 2x sehari ya. Makanya keep support author ya..!!


Happy Reading!!


***


“Kamu! Kamu pulang aja dulu.” Kata Rahman menunjuk kea rah Alendra, dengan tatapan dingin sambil mengeluarkan beberapa lembar  uang dengan nilai tertinggi, sambil menyerahkannya kepada Alendra agar Alendra pulang dengan uang itu. 


“Tidak perlu! Ia akan pulang bersamaku. Karena sehabis ini kita masih akan bekerja mengevaluasi design bersama 1 tim yang lainnya.” Kata Athena sambil kembali bangkit berdiri dari duduknya. Menatap Rahman dnegan wajah malasnya.


“Eh, duduk dulu, okelah si penganggu ini boleh ikutan jadi nyamuk disini. Kita selsaikan makan malam kita dulu saja, gimana?” kata Rahman dengan lirih sambil menekan bahu Athena agar duduk lagi di tempatnya. Dan Athena pun duduk sambil mengibaskan bahunya yang tadi terpegang oleh Rahman.


Rahman yang melihat hal itu hanya bisa mendesah dengan kesal dengan kelakuan tunangannya, kalau bukan ingin menaklukan wanita cantik di depannya yang selalu membuat penasaran, maka ia tidak sudi merendah seperti ini.


Rahman mempersilahkan mereka makan dengan tenang sambil mengambilkan makanan untuk Athena, tapi sayangnya Athena memberikan makanan itu kepada Alend yang ada di tengah tengah pasangan yang absurd ini. Alend sendiri makan dengan rasa yang benar benar tidak enak, bukan karena makanannya yang tidak enak namun situasinya membuat menelan makanan pun  jadi malas. Sehingga makanan enak bak nyangkut di tenggorokan.


 Tapi, Rahman tetap tidak putus asa, ia menuangkan minuman di gelas Athena, dan menuangkan juga buat Alendra dengan malas malas. Demi suksesnya sebuah misi, ia dengan tenang mau mau saja melayani Alendra walau dengan dengan hati yang mendongkol.


Rahman tersenyum dengan gurat licik yang ada di wajahnya saat melihat Athena meminum minuman yang ia tuangkan tadi. Sementara menatap reaksi dari tunangannya, ia meminum minumannya sendiri dengan perlahan.


Seperti biasa, ketika jamuan makan seperti ini, yang dihidangkan tentu bukan air putih, atau mineral water, melainkan wine, vodka atau minimal beer. Yang diminum Athena tentunya adalah wine kelas tinggi yang biasa diminum bersama dengan steak atau main course lainnya. Begitupula yang diminum oleh Alend, yang membedakan adalah gelas yang dipakai oleh Athena sudah di beri obat yang ditaburkan di dalam gelas, tentunya obat itu tidak berasa dan tidak berwarna. Sehingga Athena juga tidak akan bisa tahu bahkan merasakan apa apa, apalagi curiga. Karena selain menuang di gelasnya, Rahman juga menuang di gelas Alendra. Melihat Alendra baik baik saja, Athena langsung meminum minuman dari gelas yang di sodorkan oleh Rahman tadi.

__ADS_1


Karena Rahman hanya terfokus pada Athena, jadi ia tidak melihat kalau sepasang mata milik Alendra menangkap tatapan licik serta senyuman penuh kemenangan yang di layangkan oleh  Rahman.


Alendra langsung bisa menebak kemungkinan kemungkinan siasat licik dari tunangan bosnya itu. Jadi ia mulai berhati hati dengan makanan dan minuman yang di sediakan itu. Bisa jadi kalau makanan dan minuman ini mengandung sesuatu.


Tiba tiba, perut Alend merasa mules. Alend jadi sedikit waspada, ia meminta ijin ke toilet, agar mempercepat apa yang mau dilaksanakan oleh Rahman. Ia tahu pasti ada siasat licik yang akan dilakukan oleh Rahman kepada Athena.


“ Maaf  bos, saya ijin ke toilet dulu. ” Kata Alend dengan wajah menahan sakit di perutnya, ia melirik Rahman yang menatapnya dengan tatapan senang. Pasti sakit perutnya berhubungan dengan apa yang menjadi siasat dari Rahman, pikir Alend.


“Bos hati hati sama orang itu, kayaknya dia merencanakan sesuatu,”bisik Alend kepada Athena, dan Athena hanya mengangguk tanda ia mendengar apa yang dikatakan oleh designernya itu.


Alend segera meminta obat sakit perut kepada salah satu waiters dan setelah waiters itu memberikan obat itu, Alend segera meminumnya dengan dosis yang cukup banyak, supaya ia tidak perlu ke toilet lagi dan bisa memusatkan perhatiannya kepada pergerakan tunangan si bos.


 Benar saja perkiraannya, ternyata  beberapa saat kemudian, Athena terlihat pucat dan memegang kepalanya.  Alend harus hati hati dan gak boleh gegabah dalam hal ini. Athena belum sepenuhnya pingsan tapi kelihatan lemas tak berdaya.


“Kurang ajar tuh tunangannya si bos. Jangan jangan dia memakai obat perangsang? Duh, gawat!!” monolog Alend sambil memperhatikan tunangan bosnya yang mulai mencoba menggendong bosnya untuk dibawa entah kemana.


“Mbak tolong saya, bos saya hampir pingsan, tolong bawa barang saya dan barang bos saya ya, supir bos sudah menunggu di luar.” Kata Alend yang dengan cepat menuju kea rah meja yang dia tinggalkan.


“Bos!! Ada apa? Apa yang sakit?” tanya Alend dengan segera, menepis Rahman yang mencoba memegang tubuh bosnya. 


“Tolong aku, ke rumah sakit.” Perintah Athena yang lemas akibat obat apa yang dimasukan oleh Rahman.


“Mbak, tolong bawakan barang barang milik kami, saya akan membawa bos ke rumah sakit. Segera!!’ katanya memerintah waiters itu membawakan barang banarag mereka, meinggalkan Rahman yang hanya bisa terbengong melihat rencananya diambang kegagalan.


“Eh tunggu, aku ini tunangannya, aku yang lebih berhalk membawanya ke rumah skait.” Kata Rahman sambil berusaha merebut Athena yang saat ini sudah ada di dalam gendongan ALend.


“Tadi kalian kan dengar sendiri kalau ia menyuruh aku yang membawanya, lagian kami kesaini tadi berdua dan membawa supir. Jadi kamu tidak harus cemas akan masalah ini.” Bantah Alend yang tanpa menunggu jawabana dari Rahman lansgung membawa tubuh bosnya itu keluar diiringi oleh waiters yang dibawanya tadi.

__ADS_1


Ia langsung mencari sekuriti dan menyuruhnya untuk mencari mobil bosnya dan karena Athena adalah pengunjung VVIP, maka tak sulit bagi mereka untuk emnemukan mobile milik si bos.


“Terima kasih dan ini tipsnya.” Kata Alend sambil mengambil lembar uang biru satu satunya yang berada di dompetnya. Lalu waiters itu hanya mengangguk saja, dan masuk kembali ke dalam.


“Pak, antarkan bos ke rumah sakit terdekat, karena bu bos diberi obat oleh tunangannya di dalam tadi.” Kata Alend dengan nada dingin kepada supir bosnya itu. Si supir tanpa banyak bertanya langsung membawa nona bosnya itu ke rumah sakit besar yang terdekat dengan lokasi hotel.


 “Lend, tubuhku panas banget!” Athena dengan suara sedikit menbdesah. Supir keluarga Athena hanya bisa melirik saja mendengar hal itu.


“Tenang aku akan membawamu ke rumah sakit, sehingga efek obat itu akan dihilangkan oleh dokter.” Kata Alend menenangkan. Supir pun mempercepat laju mobilnya supaya ia bisa menolong bosnya itu sampai ke rumah sakit dengan lebih cepat.


Karena Rumah Sakit dekat dengan tempat kejadian, jadi supir berhasil membawa nona bosnya itu dengan cepat, tentu saja ia juga tidak mau dipersalahkan oleh kakek sang nona kalau sampai ia tidak becus menolongnya.


“Sudah sampai, Na! Kamu pasti akan tertolong.” Kata Alend menenangkan gerak gerik Athena yang sudah mulai gelisah.


“ Panas!!” Athena bahkan sudah membuka kancing kemejanya, yang segera dihalangi oleh ALendra, dan langsung membopong tubuh Athena untuk ditaruh di brankar rumah sakit.


“Sus, bos saya di kasih obat di dalam makanan atau minumannya sehingga seperti ini. Tolong suus!” kata Alend kepada suster yang dengan sigap membawa Athena ke ruangan intensif agar segera ditindak lanjuti.


 Alend pun hanya bisa menunggu di depan pintu ruangan dengan harap harap cemas.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2