
Alendra melirik ke arah tubuh Alejandro yang sudah terbujur kaku dengan mata yang melotot ke arahnya, sama sekali tidak membuat dirinya menjadi gentar untuk membalaskan dendam pada orang terakhir yang paling membuat keluarganya menjadi morat-marit yaitu keluarga Adijaya. Baik orang tua Rahman dan Rahman sendiri adalah orang yang bertanggung jawab atas hancurnya keluarga Atmaja.
Mereka tentunya harus bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan terhadap keluarga Atmaja hingga saat ini keluarga Atmaja harus membuang nama keluarganya dan menggantinya dengan nama baru.
Untung saja dengan kelicikan dan kepandaian yang dimiliki oleh orangtua kandung dari Alendra membuat mereka bisa bertahan hidup sampai dengan sekarang walaupun harus melarikan diri ke luar negeri dan juga harus membuang impiannya untuk membesarkan anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Atmaja dan pewaris tunggal dari semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Atmaja.
"Bagaimana dengan keluarga Rahman Adijaya yang aku tugas in kalian untuk selalu memantau? Apakah kalian sudah berhasil untuk menghancurkan perusahaan mereka?" tanya Alendra dengan nada dingin.
"Sudah kami laksanakan, kalau untuk perusahaannya kita sudah lakukan, tinggal kita culik Rahman sesuai seperti yang bos mau." kata salah satu ajudan Alendra yang memang diperintahkan oleh Alendra untuk menghancurkan keluarga Adi Jaya dimulai dari hidupnya terlebih dahulu lalu kemudian akan menculik Rahman yang merupakan pewaris tunggal dari keluarga Adi Jaya sehingga ketika Rahman dihabisi maka keluarga AdiJaya tidak akan memiliki penerus lagi sama seperti ketika mereka menculik Alendra dan berniat untuk sehingga keluarga Atmadja akan kehilangan penerusnya.
"Bagus! Aku menantikan part terakhir dari kehidupan penerus dari keluarga Adi Jaya. Aku akan balik dulu, sudah lama aku tidak bertemu dengan Athena. Aku tidak mau ia cemas dengan kondisi disini, bisa membahayakan kandungannya." kata Alendra sambil berlalu.
Sebetulnya jiwanya terlalu lelah untuk memikirkan semua yang terjadi saat ini, mungkin dengan bertemu dengan a pen a maka jiwanya akan waras kembali dan memperoleh kekuatan baru.
Butuh suntikan kekuatan untuk menghadapi Rahman abdijaya yang selama ini telah memporak-porandakan keluarganya dan membuat dirinya berpisah dengan orang tua kandungnya sehingga orangtua angkatnya bisa dengan semena-mena memperlakukan dirinya bak kacung dan memanfaatkan dirinya sedemikian rupa.
***
Sesampainya Alendra di rumah kakek ia langsung membersihkan diri di ruang bawah, karena Ia tidak mau Athena melihat dirinya dalam kondisi yang sehabis membunuh Alejandro dan juga lawan-lawannya itu.
Begitu masuk di ruang keluarga dia langsung disambut oleh istrinya yang sudah menampakan perut buncitnya dengan nada gembira karena memang sejak kasus penyerangan atmadi di di apartemennya itu Alendra tidak pulang ke rumah kakek karena dia ingin membersihkan sisa-sisa orang-orang yang telah menyerang mereka.
Dia tidak mau ambil resiko dengan membiarkan penjahat-penjahat itu hidup dan bakal membahayakan nyawanya dan nyawa keluarganya di kemudian hari.
"Mas Alend, kamu pulang..."
"Eh katakan sekali lagi? Apa kamu memanggilku?" tanya Alendra dengan senyun di wajahnya. Biarlah saat dirinya di rumah dan bertemu dengan Athena dirinya menjadi manusia yang sesungguhnya bukan seperti iblis berwajah Dewa yang datar dan dingin serta menakutkan bagi lawan-lawan yang sudah berani mengusik keluarganya.
"Mas Alendra... kamu gak suka kupanggil begitu?" tnyanya dengan nada malu malu dan bagi Alendra itu sangat menggemaskan.
"Suka lah, soalnya biasanya kamu kan manggilnya cuman Alend gitu aja." kata Alendra sambil tersenyum lagi, rasa-rasanya ketika berada di sisi Athena, Alendra menjadi malaikat suka sekali tersenyum.
Wajar kalau Alend dijuluki malaekat karena wajahnya yang tampan bak dewa dan badannya yang berotor dan atletis membuat semua wanita akan langsung bertekuk lutut kaau melihat penampakannya.
"Mas, aku takut selama kamu gak pulang ini." kata Athena dengan nada lirih, membuat Alendra tidak tega melihatnya.
"Maaf ya kalau aku gak sempat mengabari kamu. Aku harus membereskan mereka supaa mereka tidak lagi mengganggu kamu dan keluarga kita." katanya dengan tegas.
"Hmm, aku tahu kok, kakek sudah memberi info kalau kamu tidur di markas besar pasukan pengawal bayangan dan di apartemen kita. Kamu gak sepi di apartemen seorang diri?" tanya Athena.
"Aku di apartemen hanya untuk mengecek dan menjebak orang yang hendak melukai kamu saja, setelah mereka semua ketangkap, aku langsung mengurus mereka di markas. Ah sudahlah, aku tidak ingin membahas hal yang gak penting. Gimana dengan anak kita? Sehat?" tanyanya sambil mengecup perut istrinya yang membuncit dan mengelusnya membuat Athena sedikit kegelian dibuatnya.
__ADS_1
"Sehat dong papa!" kata Athena sambil menirukan suara anak kecil.
Tingkah Athena membuatnya gemas, lalu tanpa aba aba Alendra langsung menggendong Athena ala bridal yang membuat Athena berteriak ketakutan saat dia merasakan dirinya melayang, lalu ia segera mengalungkan tangannya ke leher suaminya yang kuat itu agar dirinya tidak jatuh.
"Astaga mas!Kamu bikin aku takut!" kata Athena sambil memukul bahu suaminya itu dengan cukup kencang, namun malah tangan Athena yang kesakitan karena badan Alendra sekarang begitu liat dan kuat.
"Aduh!" jerit Athena dengan kesal.
"Kenapa?" tanya Alendra yang bingung kenapa istrinya menjerit kesakitan, apa perutnya sakit gara gara ia gendong ini.
"Badan kamu sekarang keras banget ih..." rajuk Athena yang masih kesakitan paska memukul bahu Alendra tadi.
Alendra meletakan istrinya di ranjang tempat tidur mereka dengan hati hati sambil memijit tangan istrinya yang kesakitan karena memukul bahunya.
"Makanya jangan suka memukul mukul." peringat Alendra karena ia tidak mau istrinya kesakitan karenanya.
Athena menganggukkan kepalanya dengan mimik wajah lucu, membuat Alendra segera mencium bibir istrinya itu dan ********** karena ia rindu dengan istrinya.
Tangan Alendra yang sudah menjelajah kemana mana di tubuh istrinya harus kembali, karena ponselnya bergetar keras, tanda ada panggilan yang masuk.
Wajah Alendra langsung mengeras karena ada interupsi yang membuat dirinya gagal melakukan make out bersama dengan istrinya, padahal Alendra sudah sangat bergairah melihat istrinya yang cantik dan tubuhnya sekarang tambah seksi karena kehamilannya.
"Sayang, itu telepon di angkat dulu, siapa tahu penting, "kata Athena dengan nada canggung karena baik Alendra maupun Athena sudah dalam kondisi siap untuk ehem ehm.
Athena hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu karena pakaiannya juga sudah berantakan.
***
"Kenapa?" tanya Alendra dengan nada dingin karena yang menghubunginya adalah ajudannya .
"Target sudah siap eksekusi!" kata ajudannya dengan tegas.
"Baiklah aku akan segera kesana." kata Alendra yang segera keluar dari rumah besar kakek. Tiba tiba ia dihadang kakek yang ternyata baru datang.
"Mau kemana? Sudah beres "tanya kakek dengan nada ingin tahu.
"Tinggal satu saja nih!" kata alendra sambil bersiap.
"Baiklah, nanti kakek akan kesana kalau Athena sudah tidur. Aku akan bilang Athena kalau kamu pergi mengurus pekerjaan!" kata Kakek sambil menepuk bahu ALendra.
Alendra hanya mengangguk dan langsung pergi. Hatinya sudah luap dengan emosi hendak segera mengakhiri semua permasalahan yang menjerat keluarga dan juga mengancam nyawa Athena.
__ADS_1
***
"Bagaimana?" tanya Alendra sesudah dirinya sampai di kantor polisi.
Awalnya Alendra mau menghajar sendiri Rahman dan ayahnya itu, namun ia mengurungkan niatnya karena ia tidak mau mengotori tangannya.
Rahman dan ayahnya terbukti menjadi mafia uang dalam pemerintahan, maka ayah Rahman saat ini mendanai beberapa pejabat korup dan saat ini ditangkap karena operasi tangkap tangan yang di lakukan oleh KPK.
"Mereka tidak tahu kalau kita yang ada di balik semuanya itu." kata ajudan Alendra dengan senyum mencemooh di wajahnya.
"Hmm masih sombong?" tanya ALendra dengan sinis.
"Tentu!Minta makanan enak katanya." Kedua orang itu sudah ada di dalam tahanan KPK dan merasa jumawa karena merasa akan tetap bisa keluar dari jerat hukum.
"Kasih! Lalu habisi." kata Alendra sambil menatap layar CCTV dimana Rahman dan ayahnya masih menyombongkan dirinya.
Ajudannya menganggukan kepala dan kemudian menyembunyikan pistol berperedam di balik bajunya.
Ia bertugas membawa makanan dan kemudian mengeksekusi kedua manusia sombong itu.
"Heh!Lama sekali kau ini!Kami itu sudah lapar." kata Rahman sambil menjejak meja yang ada di hadapannya itu melihat ajudan Alendra berjalan pelahan mendekati mereka sambil membawa makanan.
"Taruh sini dan segera keluar kamu, kami mau istirahat!" katanya dengan mengucapkan sumpah serapah, namun sejurus kemudian mulut mereka terdiam karena moncong pistolnya sudah teracung di kepala Rahman dan ayahnya.
"Ah Ampun!... argh!" suara teriakan mereka seketika digantikan kesunyian.
"Berisik!!"
.
.
.
END
wkw kw kw tamat ya guys!
Yang mau ekstrapart langsung komen yaaaa...
Makasih yang sudah mau baca dan kasih vote dan like.
__ADS_1
Nantikan karya baru thor yang berjudul The Sweet Revenge!!
Happy reading!!