
Hai readers..
Karena Rahasia sang menantu miskin sudah hampir end untuk session 1 nya maka thor bikin baru dengan thema mengubah takdir.
Jangan lupa support thor dengan like, vote dan gift yang banyak yaaaaaa.
Diusahakan bakal up 2x sehari ya. Makanya keep support author ya..!!
Happy Reading!!
***
“Hush! Yang bener kalau ngomong! Silahkan mas Alend duduk! Perkenalkan diri dan kemudian kontribusi apa yang pernah dikerjakan?” tanya Athena dengan gaya anggun dan bijaksana. Bener bener seperti titisan seorang Dewi. Dia itu cantik dan menggemaskan sekaligus anggun dan bijaksana. Pokoknya bersama dengannya seakan berada di surga. Nyaman dan adem.
“Dia ini adalah saudara Novandra yang pernah menang di aplikasi sebelah. Tapi dia tadi bilang kalau karya miliknya dibajak oleh adiknya. Untung dia selalu menyematkan watermark pertanda bahwa itu pekerjaannya.”
Sebelum Alendra menjawab, si Cia sudah langsung menjawab buat Alend. Alend hanya bisa manggut manggut saja
“Yang aku tanya adalah mas Alendra, bukan Patricia.”
“Lha aku kan sekarang adalah managernya alias pembimbing gitu, ya aku membelanya lah!”kata Cia dengan nada santai, membuat Athena tampak ingin naik darah.
“Mas Alend bisa menunjukan buktinya?” tanya Athena dengan nada tegas, ia tidak ingin Cia lagi lagi menjawabkan Alend.
“Setiap karya saya memiliki sebuah watermark yang hanya saya yang tahu. Orang yang jeli pasti bisa melihatnya dalam setiap gambaran saya. Jadi kalau bos ingin mengeceknya, saya bisa menunjukannya.” Kata Alend berusaha menenangkan debaran jantungnya saat dirinya berhadapan dengan Athena yang cantik jelita.
“ Oke coba saya bisa melihat karya kamu? Tapi sayangnya kita juga tidak punya pembanding ya?” kata Athena dengan nada halus dan menenangkan.
“Kita punya majalah design edisi pemenang Star Design, bos!” kata Cia dnegan berapi api.
“Emang terlihat secara jelas ya?” tanya Athena lagi dengan menaikan seblah alisnya. Sumpah ya, wajahnya jadi terlihat semakin cantik.
__ADS_1
“ Lumayan jelas kok bos! Coba bos cek, ini majalahnya sudah saya bawa tadi. Rencanannya tadi saya mau membedah watermark milik Alend ini. Tapi keburu dipanggil oleh bos!” kata Cia dengan sedikit cengengesan. Tanggapan Athena sedikit dingin, tanda ia ingin kalau Cia diam. Cia yang sadar dan peka, langsung terdiam.
“ Mana design buatan kamu sendiri?” tanya Athena kepada Alend yang langsung ditanggapi oleh Alend dengan mengeluarkan gambar design miliknya. Majalah yang dipegang oleh Cia juga langsung di sodorkan kepada bosnya supaya bosnya bisa melihat kesamaan atau tanda air yang selalu disematkan Alend pada setiap karyanya.
Mata Athena membulat sempurna melihat design milik Alendra. Ketajaman dan detail gambar merupakan kelebihan dari setiap design yang dimiliki Alendra. Dan lagi semua gambarannya itu jelas dan terlihat menarik. Lalu ia mulai membanding bandingkan gambar satu dengan yang lainnya. Ia melihat bahwa bentuk dan karyanya hampir mirip. Tapi setelah ia memperhatikan gambar itu berulang ulang, ia masih belum tahu watermark yang disematkan Alend di dalam gambarnya.
“Aku belum menemukannya! Apa aku kurang jeli?” tanya nya sambil menyodorkan kedua gambar itu kepada Alend.
“Coba dengan gambar ini.” Katanya sambil menyodorkan gambar yang lainnya, yang disimpan di dalam tas gambar miliknya.
“Kamu sangat berbakat dan memiliki banyak design yang bisa berguna untuk kamu kelak.” Kata Athena memuji.
“Bos belum pernah muji siapa pun.” Kata Cia dengan lirih, pertanda Athena mengapressiasi setiap gambar yang tadi disodorkan kepadanya.
Athena tidak peduli dengan perkataan Cia sekalipun ia tadi juga mendengarnya. Ia kembali mamasang matanya dan berfokus kepada gambar yang sedang ia pandang i.
Namun lagi lagi ia hanya menggelengkan kepalanya dan menyerah.
“Hah?”
“Ini aku tunjukan, di setiap gambar itu ada profil taman disana dan di setiap gambar pohon yang disitu ada tanda tangan aku, Alendra dalam gambar pohon itu, sebenarnya aku terinspirasi untuk membuat tanda tangan dengan tulisan aesthetic, jadi gambar itu berdasarkan huruf yang sambung menyambung. Orang yang tidak memperhatikannya hanya menganggap itu gambar biasa, padahal itu adalah tanda tangan. Kayak semacam tulisan rahasia gitu. Inilah watermark made in Alendra.” Jelas Alendra sampai membuat kedua wanita itu hanya bisa terbengong dan melongo saja. Alendra melihat Athena yang mangap mangap kayak ikan koki kehabisan air, jadi ingin menciumnya. Soalnya gemes juga ya.
“Amazing!!! Briliantt!!” kata Cia sambil bertepuk tangan, sedangkan Athena hanya bisa menatap Alendra dengan tatapan takjub.
“Aduh, itu mah biasa saja. Aku suka dengan dunia seni, menggambar, menciptakan lagu…”
“Apa? Kamu bahkan bisa menciptakan lagu? Luar biasa banget kamu!” Masih Cia yang memuja dan memujinya.
“He he he ya biasa sajalah!” kata Alendra merendah, ia melirik ekspresi Athena, apakah ada ekspresi kagum yang sama seperti yang di berikan oleh Cia? Ternyata Athena kembali datar dan dingin.
“ Kamu kan masih jomblo? Gimana kalau kamu jadi pacarku saja? Aku soalnya suka gemes kalau lihat orang yang berbakat kayak kamu.” Kata Cia dengan tepat sasaran. Perkataan Cia sontak membuat Athena seperti tersedak dan kemudian batuk batuk. Sedangkan Alendra Abbiyu hanya bisa tersenyum kaku, bingung mau merespon apa dengan apa yang dikatakan oleh Cia ini. Mau ditolak kok kayak sombong, mau diterima jangan jangan hanya bercanda saja.
__ADS_1
“Bos, kamu kenapa? Kok tersedak? Padahal kagak minum kok tersedak?”kata Cia sambil menepuk nepuk punggung bosnya dengan keras sehingga bosnya semakin terbatuk.
“Sudah!! Cukup!!” katanya sambil mengkode dengan tangannya kalau ia sudah berhenti terbatuk karena tersedak salivanya sendiri mendengar Cia menembak Alendra di depan matanya.
“Aku ambilin minum ya bos!” kata Cia yang langsung keluar menuju ke pantry yang terletak di dekat toilet.
Sebelum Athena berhasil mencegah Cia, orangnya sudah menghilang di balik pintu menyisakan Alendra dan dirinya dalam suasana yang sedikit awkward.
“Nanti malam kamu ikut aku untuk menemui klien. Klien ini adalah sahabat tunanganku. Kamu gak usah banyak bicara dengan tunanganku karena dia hanya jadi tunangan aku karena perjodohan saja.” Jelasnya dengan singkat. Alend juga tidak tahu ada perasaan tidak suka saat tahu kalau wanita cantik di hadapannya itu memiliki tunangan, walau hanya karena perjodohan.
“ Baik bu bos!” sahutnya dengan cepat.
“Kamu siap siap, bawa semua gambar design yang kamu punya.” Katanya sambil membereskan mejanya sendiri.
“Berangkat sekarang bu?” tanya Alend dengan nada bingung. Ini masih sore kayaknya dan kayaknya ini juga belum masuk waktu pulang kantor.
“Kita berangkat sekarang karena menilik pakaian kamu yang kurang formal jadi kita beli pakaian dulu. Lalu kita akan sekalian makan diluar karena saya sendiri bahkan belum menyentuh makan siang!”
“Apakah kita berangkat bersama dengan kak Cia?’ tanya Alend sambil mengikuti bu bosnya itu.
“Emang kamu gak bisa kalau tidak bersama Cia?” tanya Athena dengan raut wajah datar dan kata katanya yang terdengar dingin.
“Bisa bisa, bu!”
“Jangan panggil bu! Kayak aku sudah tua saja.” Gerutunya tambah kesal dengan panggilan yang disematkan Alend kepadanya, masa Cia yang jelas jelas lebih tua dipanggil kakak dan dirinya yang jauh lebih muda malah dipanggil ibu. Emang ibu ibu arisan? Pikirnya kesal.
.
.
.
__ADS_1
TBC