
"Hai Mom, Dad...." Tania berpelukan singkat dengan Nyonya Tyas sementara Tuan Mark tersenyum mengangguk.
"Akhirnya kalian sampai juga..." Ujar Nyonya Tyas. Rin memperhatikan satu persatu orang-orang yang ada di sana. Pandangannya terhenti pada Reiz yang sedang duduk bersandar dengan wajah datar dan kedua tangannya yang melipat di depan dada.
"Jadi ini yang namanya Rinata?" Tanya Nyonya Tyas pada Rin. Rin tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Iya saya Rinata, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya, panggil Mommy saja. Ayo silahkan duduk." Ujar Nyonya Tyas dengan ramahnya. Rin mengerutkan keningnya, kenapa ia harus memanggil wanita itu dengan sebutan Mommy. Tania dan Rin mendudukkan dirinya di sofa.
"Oh iya, perkenalkan saya Tyas, Mommy nya Reiz. Ini suami saya, Mark. Dan ini Tomi, kakaknya Reiz." Nyonya Tyas memperkenalkan satu-satu anggota keluarganya pada Rin. Rin hanya tersenyum sambil mengangguk, ia benar-benar bingung. Kenapa dan untuk apa ia berada di sana?
"Ternyata mereka keluarganya Tuan Reiz, tapi kenapa aku di bawa kesini?" Tanya Rin dalam hati.
"Dan Tania, dia ini istrinya Tomi." Sambung Nyonya Tyas.
"Oh jadi Nona Tania itu kakak iparnya Tuan Reiz? Aku sempat salah sangka tadi." Batin Rin. Gadis itu menghela nafas lega sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh yang lainnya.
"Maaf Nyonya, sebenarnya ..."
"Jangan panggil Nyonya..." Belum sempat Rin melanjutkan pertanyaannya Nyonya Tyas sudah memotongnya.
"Emm... Maaf Mom... Mommy, ini sebenarnya ada apa ya?" Tanya Rin terputus-putus.
"Begini sayang, jadi kami sudah tahu semuanya. Tentang kamu yang tinggal di tempat Reiz selama satu minggu ini." Nyonya Tyas menjeda ucapannya. Sementara Rin menelan saliva nya, apa yang akan di lakukan keluarga Reiz padanya setelah tahu ia tinggal di tempat Reiz? Apa mereka akan mengusirnya?
"Nyonya saya..." Ucapan Rin terputus, ia menatap Reiz yang sedari tadi diam saja tanpa melihat kearahnya.
"Maaf tentang semua itu, saya akan pergi secepatnya dari apartemen Tuan Reiz...." Rin menundukkan wajahnya. Ia merasa tak enak pada keluarga Reiz, apa mungkin Reiz kena marah oleh orang tuanya karena dirinya yang tinggal di apartemen Reiz? Jangan sampai ia di usir lebih dulu oleh keluarga Reiz, lebih baik ia yang pergi duluan.
"Ya tentu saja kau harus pergi dulu dari apartemen Reiz, dan untuk seminggu ke depan kau tinggal di sini bersama kami." Jawab Nyonya Tyas.
"Maksudnya?" Tanya Rin yang tidak mengerti.
"Kau tinggal dulu sementara bersama kami, setelah menikah baru kalian tinggal bersama lagi." Jelas Nyonya Tyas yang membuat Rin semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Menikah? Siapa yang akan menikah?" Tanya Rin lagi.
"Tentu saja kau dan Reiz.'' Jawab Tania yang membuat Rin membelalakkan matanya.
"Apa?" Rin berharap ia salah dengar.
"Rinata, Reiz akan menikahi mu minggu ini." Tuan Mark membuka suara. Rin mengalihkan pandangannya pada Tuan Mark.
"Ta... Tapi kenapa Tuan Reiz menikahi saya?" Rin tergagap.
"Tentu saja kalian harus menikah, kalian sudah tinggal bersama bukan?" Tanya Tuan Mark.
"Ya kami memang tinggal bersama, karena aku bekerja pada Tuan Reiz sebagai asisten rumah tangganya..." Rin mencoba menjelaskan.
"Tapi kami..." Ucapan Rin terputus, semua pandangan orang yang berada di sana berpusat padanya. Kecuali Reiz yang sedari tadi memang membuang pandangannya. Rin menelan saliva nya, ia benar-benar gugup di tatap seperti itu. Dan kenapa Reiz diam saja, tidak menolak atau paling tidak mengatakan sesuatu.
"Tidak ada salahnya kalian menikah, kalian sama-sama sudah dewasa dan belum memiliki pasangan bukan?" Tanya Nyonya Tyas.
"Tapi..." Rin menatap Reiz, berharap pria itu ikut menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Kita akan menikah seminggu lagi. Dan untuk sementara kau tinggallah di sini." Reiz akhirnya membuka suara. Rin membeku, bagaimana mungkin Reiz setuju begitu saja untuk menikahinya.
"Mom, Dad aku pulang dulu." Reiz beranjak bangun dari duduknya.
"Hei Reiz, kau tak berpamitan padaku?" Tanya Tomi.
"Dan padaku juga?" Sambung Tania. Reiz memutar bola matanya malas, kenapa sepasang suami istri ini begitu menyebalkan.
"Saya pamit Tuan Tomi dan Nona Tania." Ucapnya datar.
"Dan dengan calon istrimu?" Sambung Tania lagi. Reiz mengalihkan pandangannya pada Rin yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Rin, aku pamit." Rin mengangkat wajahnya menatap Reiz, seakan meminta penjelasan dari semua ini. Tapi lagi-lagi, hanya tatapan dingin Reiz yang di dapatnya.
"Hati-hati di jalan, boy." Tuan Mark bangkit dari duduknya di ikuti sang istri.
__ADS_1
"Kau tenang saja, nanti Mommy dan Daddy yang mengurus semua kebutuhan untuk pernikahan kalian." Ujar Nyonya Tyas sambil tersenyum lembut, Reiz hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum singkat di wajahnya.
**********
Reiz mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidurnya, ia menghela nafas berat sambil mengacak-acak rambutnya. Reiz tak habis pikir apa yang sudah Tomi katakan pada orang tuanya sehingga memaksanya menikah dengan Rin.
Reiz bahkan tak pernah berfikir tentang pernikahan sebelumnya, yang ada di pikirannya hanya kerja dan mengurusi perusahaan keluarganya saja. Karena hanya itulah cara menjaga kepercayaan yang sudah di berikan kedua orang tua angkatnya, yang sudah memberikan kehidupan kedua baginya.
Reiz mengusap kasar wajahnya, bagaimana hidupnya kedepannya nanti. Menikah dengan seorang gadis yang baru di kenalnya? Hah, Reiz tak bisa membayangkan. Dekat dengan seorang wanita pun ia tidak pernah, dan sekarang tiba-tiba dia harus menikah.
**********
"Ini kamar Reiz, untuk sementara kau tidur di sini ya?" Ujar Nyonya Tyas seraya mengantarkan Rin ke kamar Reiz yang berada di mansion itu. Mereka berdua duduk di sisi tempat tidur.
"Nyonya, saya..."
"Mommy sayang, bukan Nyonya..."
Rin menghela nafas panjang.
"Mommy, aku.... Aku tak bisa menikah dengan Tuan Reiz." Rin menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa kau tak bisa menikah dengan Reiz?"
"Kami tidak saling mencintai dan kami juga baru kenal seminggu yang lalu..." Cicit Rin.
"Rinata, cinta bisa tumbuh setelah kalian sering bersama dan menghabiskan waktu berdua." Nyonya Tyas mengusap lembut lengan Rin.
"Lagipula Mommy dan Daddy yakin, kau adalah wanita yang tepat untuk Reiz." Sambungnya sambil tersenyum lembut.
"Mommy belum tau tentang aku, aku hanya...." Ucapan Rin terputus.
"Mommy, dan semuanya sudah tahu sayang. Tentang siapa kau dan bagaimana pertemuan pertama kalian."
"Mommy tahu?" Rin terbelalak, ia sama sekali tak menyangka.
__ADS_1