
Reiz meletakan tubuh Rin di tengah tempat tidur, ia kemudian membaringkan dirinya di samping Rin dan menatap Rin dengan tatapan datarnya.
"Reiz, kau mau apa?" Tanya Rin, ia benar-benar gugup.
"Apa perlu ku jelaskan padamu apa mau ku?" Reiz bergerak ke atas tubuh Rin, ia menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya. Rin menelan salivanya, apa mungkin Reiz akan meminta haknya sekarang?
"Reiz..."
Rin membeku ketika Reiz melabuhkan kecupan di keningnya. Begitu dalam dan lama.
Reiz menarik wajahnya, di tatapnya wajah Rin yang nampak merona.
"Reiz..." Rin meraba keningnya. Ia menatap Reiz yang masih menatapnya dengan datar. Dan pelan tapi pasti Reiz mendekatkan wajahnya kembali pada Rin, kali ini pandangannya tertuju pada bibir mungil Rin yang berwarna merah muda. Tanpa aba-aba Reiz mendaratkan bibirnya di sana, membuat gadis itu kembali membeku.
Apa Rin sedang bermimpi? Reiz menciumnya? Ini ciuman pertama bagi Rin, dan Reiz sudah merebutnya. Sama halnya seperti Rin, ini juga pertama kalinya Reiz mencium seorang wanita. Jadi tak heran jika keduanya sama-sama kaku.
Meraka berdua melepas tautan bibirnya ketika merasa kehabisan oksigen. Reiz membelai pelan wajah Rin dengan jemarinya.
"Bolehkah aku meminta hak ku malam ini?" Bisik Reiz tepat di telinga Rin, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Rin menatap dalam Reiz, ia merasa aneh kenapa tiba-tiba Reiz mau menyentuhnya? Tapi apa salahnya? Bukankah mereka sudah sah menjadi suami istri?
Rin mengangguk pelan, pertanda ia mengizinkan Reiz untuk melakukan hal itu padanya. Dirinya tak munafik. Ia juga ingin merasakan sentuhan dari pria yang di cintainya itu.
Setelah mendapat izin dari Rin, Reiz membuka kaosnya, dan menarik perlahan tali bathrobe Rin hingga terbuka membuat isi di dalamnya terlihat jelas. Reiz mematikan lampu tidurnya dan segera melancarkan aksinya melanjutkan kegiatan panas malam itu.
Hanya suara ******* dan kecupan yang terdengar di dalam kamar temaram itu.
Tangan Rin mencengkeram erat lengan Reiz yang berada di atasnya, menggigit bibir bawahnya menyalurkan apa yang di rasakannya.
"Apa sakit?" Tanya Reiz di tengah kegiatannya.
"Kita berhenti saja." Ada perasaan tak tega ketika Reiz melihat wajah Rin yang seperti menahan sakit.
"Tidak, Reiz." Rin mencegah Reiz yang hendak bangkit, menarik lengannya membuat Reiz tetap pada posisinya.
"Teruskanlah..." Satu tangan Rin menarik tengkuk suaminya, membuat keduanya kembali larut dalam ciuman. Rin mulai kehilangan fokus, dan Reiz melanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan.
Rin memeluk erat leher Reiz saat lelaki itu berhasil menembus dinding pertahanannya.
__ADS_1
"Maaf." Reiz mengusap setitik air mata Rin yang mengalir. Rin hanya menggeleng pelan. Kembali menarik tengkuk itu dan keduanya kembali larut dalam ciuman.
Tubuh keduanya semakin tak terkendali karena terbakar gairah, merasakan sensasi yang pertama kali mereka rasakan. Erangan itu terdengar setelah mereka mencapai puncaknya.
Reiz bangkit dari atas tubuh Rin dan menarik selimut menutupi tubuh polos mereka berdua. Rin membalikkan badannya, mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah. Tangan Reiz terasa melingkar di pinggangnya, dan memeluknya dari belakang.
Tak ada lagi kata yang terucap di antara mereka berdua...
**********
Pagi harinya.
Rin mengerjapkan matanya ketika sinar matahari menembus kaca jendelanya yang telah terbuka. Rin mendudukkan tubuhnya sambil mengucek matanya. Matanya membulat menyadari dirinya dalam keadaan polos tak memakai sehelai benang pun.
Ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Kenapa dirinya bisa telanjang? Rin mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
"Reiz." Gumamnya.
Jadi semalam bukan mimpi? Reiz benar-benar menyentuhnya?
Rin terdiam dalam lamunannya. Sejujurnya ia senang sudah menjadi milik Reiz, tapi ia juga takut kalau suatu hari nanti Reiz malah pergi meninggalkannya. Mengingat betapa dinginnya pria itu.
Lamunan Rin buyar ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya, ia mengadahkan kepalanya.
"Cepat mandilah, yang lain sudah menunggu kita untuk sarapan." Ujar pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.
Rin memandang Reiz, lelaki itu sudah nampak rapi dengan kaus turtle neck dan juga celana jeansnya. Rambutnya masih nampak sedikit basah malah menambah kesan seksi pria itu.
"Cepatlah!" Seru Reiz. Rin gelagapan, menyudahi adegan terpana dengan suaminya sendiri. Segera ia bangkit dari duduknya.
"Aduh.... Sakit." Belum juga melangkah Rin sudah terduduk kembali karena merasakan sakit di area intinya.
"Kalau butuh bantuan, seharusnya bilang." Ucap Reiz dengan datar. Dirinya kemudian menggendong tubuh mungil Rin yang berbalut selimut, Rin menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang pria itu.
**********
Rin menyisir rambut panjangnya yang masih nampak sedikit basah, ia tersenyum kecil mengingat setelah mandi tadi Reiz menggendongnya lagi bahkan pria itu yang menyiapkan pakaian untuknya. Reiz memperlakukan dirinya dengan sangat baik walaupun masih dengan mode datarnya.
__ADS_1
"Ayo Reiz, kita sarapan." Ajak Rin dengan penuh semangat. Ia bahkan sudah berani merangkul lengan Reiz. Reiz hanya mengangguk.
"Kau kenapa? Apa masih sakit?" Reiz memperhatikan cara jalan Rin yang nampak sedikit aneh.
"Em... Hanya sakit sedikit." Jawab Rin malu-malu.
"Kita sarapan di kamar saja." Reiz menghentikan langkahnya yang baru akan menuju lift.
"Eh... Tidak usah Reiz. Kita sarapan di bawah saja, lagipula Mommy dan Daddy sudah menunggu kita." Rin menarik tangan Reiz.
"Tapi kau..."
"Aku baik-baik saja, Reiz." Potong Rin. Rin tersenyum dalam hati, ternyata Reiz bisa perhatian juga padanya.
Setelah sampai di ruang makan, Reiz mengedarkan pandangannya sampai berhenti di salah satu meja tempat keluarganya sedang berkumpul.
"Wah... Wah... Pengantin baru, kenapa lama sekali turunnya?" Tanya Tomi begitu Reiz dan Rin sampai di meja mereka.
"Selamat pagi Mom, Dad." Sapa Reiz, ia tak mempedulikan pertanyaan Tomi sama sekali.
"Pagi Mom, Dad, Tomi, Tania." Sapa Rin juga.
"Pagi sayang, ayo duduk." Jawab Nyonya Tyas dengan ramahnya. Tuan Mark hanya tersenyum sambil mengangguk.
Reiz dan Rin duduk bergabung bersama mereka. Rin segera meraih gelas yang berisi air minum, ia merasa sedikit haus.
"Rin, bagaimana semalam? Apa Reiz bermain kasar?" Tanya Tania membuat Rin tersedak air minumnya.
"Pelan-pelan, sayang." Nyonya Tyas mengusap punggung Rin.
"Maaf Nona, tidak baik bicara saat sedang makan." Jawab Reiz.
"Tapi aku kan penasaran, bagaimana malam pertama kalian?" Jawab Tania dengan wajah ingin tahunya.
"Iya Reiz, bagaimana? Apakah berjalan lancar?" Tuan Mark membuka suara, membuat Reiz menatapnya tak percaya.
Kenapa Daddy nya jadi ingin tahu juga? Bukankah mereka semua sudah merasakan bagaimana malam pertama? Pasti rasanya sama saja.
Sementara Rin hanya menundukkan wajahnya yang merona. Kenapa juga malah membahas hal seperti ini di meja makan?
__ADS_1
Jangan lupa like & komennya ya 😘 biar semangat updatenya.