Reiz And Rin

Reiz And Rin
Di mana Rinata?


__ADS_3

"Hei Reiz, kau jangan terlalu kaku, di dalam lift ini hanya ada kita bertiga. Kau lihat, istrimu jadi ketakutan begitu karenamu." Tania terus saja berbicara, Reiz tak menjawab, sejenak ia mengalihkan pandangannya pada Rin.


"Rin suamimu kaku sekali, aku jadi penasaran bagiamana kalian jika sedang melakukan hubungan suami istri." Bisik Tania yang masih bisa di dengar Reiz.


"Tania..." Rin jadi malu sendiri. Tania hanya tersenyum.


Reiz membuka pintu ruangannya, di sana nampak Tomi sedang membaca beberapa berkas.


"Sayang..." Panggilan lembut itu membuat Tomi mengangkat wajahnya, seketika ia tersenyum lebar melihat sang istri. Ia langsung berdiri dan menghampirinya.


"Baby, kau di sini?" Tanyanya seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Tania dan melabuhkan kecupan singkat di bibir istrinya.


"Ya, aku membawakanmu makan siang." Tania tersenyum manis.


"Kenapa tidak memberitahu ku?" Tanya Tomi dan lagi-lagi ia mengecup bibir merah itu.


"Kejutan sayang." Jawab Tania sambil mengusap wajah suaminya.


Rin hanya terpaku melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Kenapa suaminya tak bisa seperti Tomi, memperlakukan istrinya dengan begitu manis. Ia mengalihkan pandangannya pada Reiz yang sudah duduk di kursinya, lelaki itu malah fokus ke laptopnya tanpa mengatakan apapun padanya.


Kenapa lagi-lagi dirinya begitu sensitif.


"Rin, kenapa kau hanya berdiri saja? Duduklah." Suara Tania membuyarkan lamunannya. Rin mengalihkan pandangan pada Tania yang duduk di pangkuan Tomi. Rin menundukkan wajahya, ia segera duduk di sofa yang berada di sana.


"Reiz apa sudah waktunya makan siang?" Tanya Tomi.


"Masih lima belas menit lagi, Tuan." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa lama sekali?" Keluh Tomi.


"Tuan sebaiknya anda memanfaatkan waktu lima belas menit itu untuk mengecek berkas yang sudah aku serahkan tadi." Lanjut Reiz yang masih fokus dengan laptopnya.


"Hah... Kau terlalu displin Reiz." Keluhnya lagi.


"Sayang sebaiknya kau selesaikan dulu pekerjaanmu. Kalau tidak, nanti kau bisa di pecat oleh asistenmu sendiri." Bisik Tania, ia segera bangkit dari pangkuan Tomi.


"Ok, Baby." Lagi-lagi Tomi mengecup bibir istrinya.


"Aku ke sana dulu." Tania menuju sofa dan mendudukkan dirinya di samping Rin.


"Suami mu memang seperti itu Rin, sangat disiplin dan menghargai waktu. Tapi terkadang sifat seperti itu sangat menyebalkan." Tania tertawa pelan, Rin tersenyum menanggapi.

__ADS_1


**********


"Rin masakanmu nampak lezat, boleh aku mencobanya?" Tanya Tania ketika melihat sup ayam buatan Rin. Kini mereka sedang menikmati makan siang bersama di ruangan itu.


"Tentu saja, aku memang sengaja memasak banyak." Tania segera menyendok makanan itu.


"Em... ini enak sekali Rin. Sayang, kau harus coba." Tania menyuapkan sup itu pada suaminya.


"Kau benar Baby, ini enak." Puji Tomi


"Reiz kau beruntung sekali memiliki istri seperti Rin, sudah cantik pandai memasak pula." Lanjutnya. Reiz hanya melirik ke arah Tomi, dan melanjutkan makannya.


"Jadi kau tak beruntung memiliki istri yang tidak pandai memasak sepertiku?" Tanya Tania yang berpura-pura sedih.


"No, Baby. Walaupun kau tak pandai memasak, tapi aku akan selalu mencintaimu." Rayu Tomi membuat senyum Tania mengembang. Sedangkan pasangan suami istri lainnya hanya mendengarkan mereka dan tetap fokus pada makanannya.


******


Mobil yang di kendarai Tania melaju dengan kecepatan sedang. Mereka berdua sudah dalam perjalanan pulang.


"Tania, bisa kau turunkan aku di sana saja? Aku ingin mengunjungi makam ibuku." Tanya Rin menunjuk sebuah pintu gerbang area pemakaman.


"Tidak perlu, aku ingin sendiri. Aku merindukan ibuku." Jawab Rin dengan senyumnya.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kau jangan lupa untuk memberitahu suamimu ya?" Tania menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di tempat tujuan. Rin menangguk. Ia keluar dari mobil Tania.


"Nanti kau pulang bagaimana? Apa aku minta supir untuk menjemputmu?" Tanya Tania di balik jendela mobilnya yang terbuka.


"Tidak perlu, Tania. Di sini banyak taksi, aku akan pulang naik taksi saja."


"Em... Baiklah kalau begitu."


"Hati-hati di jalan." Meraka berdua saling melambaikan tangan.


Rin melangkah memasuki area pemakaman. Sudah lama rasanya ia tak mengunjungi tempat itu, Terakhir kali ia kesana bersama Reiz beberapa bulan yang lalu.


Rin mengeluarkan ponsel dari tasnya, bermaksud menghubungi Reiz, tapi kemudian ia urungkan.


"Aku akan pulang lebih dulu sebelum Reiz. Lagi pula Reiz tak pernah peduli padaku, ia bahkan jarang sekali menghubungiku." Batin Rin. Wanita itu memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya.


Rin duduk di samping makam ibunya, mengusap pelan nisan itu.

__ADS_1


"Ibu, bagaimana kabar ibu? Apa ibu baik-baik saja di sana?" Seperti biasa Rin selalu mengajak bicara makam sang ibu.


"Ibu, apa ibu tahu sekarang aku sudah menikah? Aku menikah dengan Reiz, lelaki yang dulu menolongku." Rin menjeda ucapannya.


"Aku sangat mencintainya, Bu... Karena dia satu-satunya lelaki yang membuatku nyaman.


Tapi sayangnya dia sama sekali tak mencintaiku, sikapnya selalu dingin terhadapku...."


Rin tak bisa menahan air matanya, ia menangis terisak di samping makam sang ibu. Inilah adalah caranya untuk mengungkapkan apa yang di rasakannya selama ini, tak ingin berbagi cerita dengan siapa pun. Hanya menangis di samping makam sang ibu, itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.


Tak terasa hari sudah sore, Rin yang sudah lelah menangis memutuskan untuk pulang. Tapi pada saat ia bangkit dari duduknya, kepalanya tiba-tiba terasa amat pusing.


"Kepalaku pusing sekali, ini pasti karena aku terlalu lama menangis."


Rin memijat keningnya. Dengan hati-hati ia berjalanan meninggalkan area pemakaman itu. Belum sempat menuju pintu keluar, Rin sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Beruntung ada sepasang lengan yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


**********


Reiz membuka pintu apartemennya. Sunyi dan sepi. Dimana istrinya yang selalu menyambut kedatangannya walaupun ia selalu melewatinya begitu saja.


Reiz menuju kamarnya, ternyata di sana juga sama, kosong. Kemana Rin? Bukankah ia sudah pulang sejak siang tadi bersama Tania. Apa Tania mengajak istrinya pergi?


Reiz meraih ponsel dari saku celananya, ia segera menghubungi Rin. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya panggilan itu terhubung.


"Rin, kau dimana?" Tanya Reiz begitu panggilannya terhubung.


"Rinata ada di rumah sakit." Jawab seseorang di sebrang sana. Reiz mengerutkan dahinya mendengar suara yang tak asing baginya.


"Tuan Edra?"


"Ya, ini aku Edra. Rinata sekarang ada di rumah sakit Healty." Edra langsung menutup panggilannya.


"Halo.." Reiz menatap ponselnya, ternyata panggilannya sudah terputus.


"Bagaimana bisa ponsel Rin berada di tangan Edra? Apa yang Edra lakukan pada Rin?"


Reiz kembali menyambar kunci mobilnya. Secepatnya ia menuju tempat yang di beritahukan Edra.


**********


Edra duduk di depan ruangan tempat Rin di rawat. Tadi saat di pemakaman tanpa sengaja ia melihat Rin yang hampir terjatuh, Edra segera menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2