Reiz And Rin

Reiz And Rin
Kenangan pahit


__ADS_3

Reiz menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, pikirannya kacau memikirkan sang istri yang tengah hamil.


"Rinata hamil? Dia sedang mengandung anakku, bagaimana bisa aku terlibat sejauh ini dengannya?" Reiz memejamkan matanya.


"Aku sangat mencintaimu Drake, tapi kenapa kau malah mengkhianatiku?!"


"Maafkan aku Marissa... Tapi aku mencintai Eliza, dan tak akan pernah bisa melepasnya, apalagi ia sudah hamil sebelum aku menikah denganmu..."


"Kau jahat Drake, kau jahat....!!!"


"Argh...!!!" Reiz mengusap kasar wajahnya, deru nafasnya memburu. Bayang-bayang tentang masa lalunya hadir kembali. Di mana saat ibunya menangis histeris setelah mengetahui ayahnya ternyata memiliki wanita lain dalam hidupnya.


"Mom.... Jangan pergi, jangan tinggalkan aku..." Tangis Reiz kecil pecah saat melihat ibunya sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah. Reiz kecil bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat sang ibu mengakhiri hidupnya dengan terjun dari balkon kamarnya.


"Daddy jahat....!!! Karena Daddy aku kehilangan Mommyku! Dan sekarang Daddy malah membawa wanita asing dan juga anaknya kerumah ini. Aku benci Daddy! Aku benci kau, Tuan Drake William!!"


Reiz menjatuhkan dirinya di lantai kamar mandi, seraya mengusap kasar wajahnya. Kenangan pahit itu selalu menghantui hidupnya, membuatnya tak ingin terlibat dengan wanita, karena tak ingin menyakitinya.


"Apa yang harus ku lakukan? Aku tak ingin menyakitinya, aku tak ingin seperti ayah kandungku, ia membuat ibuku bunuh diri. Disakiti oleh orang yang kita cintai rasanya berkali-kali lipat lebih sakit..."


**********


"Kenapa Reiz lama sekali di kamar mandi?" Gumam Rin yang sedari tadi memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.


"Tak apa jika Reiz tak menginginkan kehamilanku, aku masih bisa menjaganya sendiri." Rin mengusap perutnya yang masih datar.


Klek, pintu kamar mandi terbuka nampak Reiz keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Aku kira ia bunuh diri di kamar mandi gara-gara tahu kalau aku hamil...." Rin tertawa dalam hati.


"Astaga, Rin apa yang kau pikirkan? Kalau Reiz mati, kau akan menjadi janda. Bagaimana nasib anakmu nanti?" Rin menggelengkan kepalanya. Daripada pikirannya semakin melantur kemana-mana lebih baik ia mandi saja.


"Reiz aku lapar, aku tak sempat memasak untuk makan malam..." Ucap Rin begitu selesai mandi.


"Aku sudah memesan makanan." Jawab Reiz yang tetap fokus pada laptopnya.


"Reiz, kau kerja dari pagi hingga sore di kantor, dan malam hari di rumah pun masih saja fokus dengan pekerjaan. Tak pernah ada waktu sama sekali untukku." Batin Rin,  wanita itu menghembuskan nafas berat.


"Lebih baik keluar kamar saja, menunggu makanan datang."


Rin mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu,


"Oh iya, aku belum memberi tahu Mommy dan Daddy tentang kehamilanku. Haruskah aku beri tahu mereka sekarang?" Rin menatap layar ponselnya.


"Tapi ini sudah malam, sebaiknya besok saja aku beri tahu mereka." Rin mengurungkan niatnya, menaruh benda pipih itu di atas meja.


**********


"Jadi Rexy sudah menikah? Dan sekarang istrinya sedang hamil?" Tanya Tuan Drake pada Edra.

__ADS_1


Tadi setelah dari rumah sakit, Edra langsung kembali ke mansionnya dan menyampaikan kabar itu pada Ayah dan Ibunya.


"Iya Dad." Jawab Edra.


"Drake, apa itu artinya sebentar lagi kita akan memiliki cucu?" Tanya wanita di samping Drake.


"Iya Eliza, sebentar lagi kita akan memiliki cucu." Tuan Drake tersenyum lebar.


"Drake, aku senang sekali." Nyonya Eliza memeluknya.


"Aku juga." Tuan Drake membalas pelukan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Mereka berdua nampak sangat bahagia.


"Andai kau tahu Rexy, kalau kami sangat menyayangimu." Batin Edra.


**********


Rin mengerjapkan matanya karena silau cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamarnya.


"Jam berapa ini?" Gumamnya sambil mengucek mata. Di lihatnya jam yang menempel di dinding.


"Jam delapan? Astaga aku kesiangan." Rin segera bangkit dari tidurnya.


"Dimana Reiz? Apa sudah berangkat?" Rin bangun meninggalkan tempat tidurnya.


"Sepertinya Reiz sudah berangkat." Rin mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah mencari suaminya di setiap ruangan tapi ternyata tidak ada.


"Ck, kepalaku pusing sekali." Decak Rin sambil memijat keningnya.


*


"Reiz... Reiz..." Tomi melambaikan tangannya di depan Reiz. Sudah lebih dari lima belas menit ia melihat sang asisten yang hanya  duduk melamun di depan laptopnya.


"Ada apa Tuan?" Reiz baru tersadar.


"Ck, seharusnya aku yang bertanya. Kau kenapa?"


"Aku tidak apa-apa." Jawab Reiz singkat.


"Tidak apa-apa tapi melamun. Apa kau sedang ada masalah?" Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, menatap Reiz yang terhalang meja.


"Aku tidak apa-apa." Ulangnya.


"Menjauhlah, Tuan." Sambungnya.


"Jangan bohong Reiz, apa kau ada masalah dengan istrimu?" Tanya Tomi yang masih penasaran. Reiz menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa bosnya itu menyebalkan sekali.


"Rinata hamil." Jawabnya singkat. Tomi tercengang mendengar jawaban asistennya itu.


"Istrimu hamil?" Ulangnya, Tomi menegakkan badannya.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


"Wah.... Selamat Reiz, sebentar lagi kau akan menjadi ayah, dan itu artinya aku dan Tania akan segera mempunyai keponakan." Sorak Tomi seraya menepuk bahu asistennya itu.


"Apa kau sudah memberi tahu Mommy dan Daddy?" Lanjutnya, Reiz menggeleng.


"Kenapa? Tunggu, kau bilang Rinata hamil? Tapi kenapa sepertinya kau tak senang?" Tomi menatap aneh pada Reiz, Reiz membalasnya dengan tatapan tajamnya.


"Reiz, kau ini kenapa? Kau tak senang istrimu hamil?" Tomi kembali bertanya.


"Entahlah." Jawab Reiz singkat. Tomi kembali tercengang.


"Kalau kau tak ingin istrimu hamil, seharusnya kau tak mengajaknya untuk membuat anak." Ledek Tomi.


"Sebaiknya Tuan selesai kan saja pekerjaan Tuan." Sinis Reiz.


"Reiz... Reiz... Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi seharusnya kau senang karena Tuhan sudah mempercayakan padamu dan juga Rinata untuk menitipkan seorang anak pada kalian."


Tomi menyandarkan dirinya di meja Reiz.


"Aku akan memberi tahu Mommy dan Daddy." Tomi meraih ponsel di saku celananya, sementara Reiz hanya diam saja.


"Halo Mom..."


"Halo Tom, ada apa?" Jawab Nyonya Tyas disebrang sana.


"Aku punya kabar gembira untuk Mommy dan Daddy..."


"Kabar gembira apa sayang?" Nyonya Tyas terdengar penasaran.


"Mom tau? Sebentar lagi Mommy dan Daddy akan memiliki cucu."


"Cucu? Maksudmu? Apa Tania sudah hamil, Tom?"


"Bukan Tania, Mom. Tapi Rinata."


"Rinata hamil? Kau serius?" Tanya Nyonya Tyas seakan tak percaya.


"Tentu saja Mom. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Reiz." Tomi menyerahkan ponselnya pada Reiz. Dengan malas Reiz menerimanya.


"Halo Mom."


"Reiz, apa benar istrimu sedang hamil?" Tanya Nyonya Tyas dengan antusias.


"Iya Mom..."


"AAAAAA..... Reiz, selamat kau akan segera menjadi ayah. Akhirnya sebentar lagi Mommy dan Daddy memiliki cucu." Nyonya Tyas terdengar sangat senang di sebrang sana.


"Reiz, bisa kau dan istrimu pulang malam ini?" Tanya Nyonya Tyas.

__ADS_1


__ADS_2