
"Selamat malam, Tuan Rexy dan Nona Rinata." Sapa Edra.
"Malam." Jawab Rin, sedangkan Reiz hanya diam saja.
"Silahkan duduk, Tuan Edra." Sambung Rin. Suasana canggung seketika tercipta karena tatapan dingin Reiz tertuju pada Edra.
"Ada perlu apa hingga kau datang kemari?" Reiz akhirnya membuka suara.
"Ekhm, begini Tuan Rexy. Maaf sebelumnya jika kedatanganku mengganggu, aku hanya ingin meminta tolong padamu."
"Minta tolong?" Ulang Reiz.
"Iya Tuan Rexy, ini mengenai Gwen Caroline."
"Gwen Caroline?" Gumam Rin yang merasa nama itu tak asing baginya.
"Iya Nona Rinata, Gwen Caroline Rivers. Kakak anda." Jawab Edra. Seketika Rin melebarkan matanya.
"Ada apa dengan Kak Gwen? Di mana dia sekarang?" Tanya Rin cepat, ia terlihat khawatir. Edra melirik sepasang suami istri bergantian. Apa Rin tak tahu apa yang terjadi dengan Gwen?
"Gwen di dalam penjara." Jawab Reiz dengan datarnya. Rin mengalihkan pandangannya pada Reiz.
"Apa Reiz? Kak Gwen di penjara?" Wanita itu terkejut.
"Bagaimana bisa? Memangnya kejahatan apa yang sudah ia lakukan?" Sambungnya.
"Dia terlibat pembunuhan berencana, dan juga sudah membuat kita kehilangan calon anak kita."
"Maksudmu?" Rin masih belum mengerti.
"Gwen, dia yang sudah secara sengaja menabrakmu beberapa bulan lalu." Jawab Reiz membuat Rin terkejut.
Wajah Rin memucat mendengar ucapan suaminya.
"Itu tidak mungkin, kenapa Kak Gwen mau mencelakai ku?" Tanya Rin tak percaya.
"Akan ku jelaskan nanti." Jawab Reiz membuat Rin terdiam dengan berbagai pertanyaan di benaknya.
"Jadi Tuan Edra, apa hubunganmu dengan Gwen? Dan kau ingin minta tolong apa padaku?" Reiz beralih menatap Edra yang sedari tadi diam menyimak percakapannya dengan Rin.
__ADS_1
"Bisakah kau mencabut tuntutanmu terhadap Gwen?" Tanya Edra ragu-ragu membuat Reiz mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau memintaku untuk mencabut tuntutanku? Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Reiz menatap tajam pada Edra. Pria itu balas menatap Reiz.
"Aku mencintainya. Karena itu aku memberanikan diri untuk datang kemari. Aku berjanji akan membawanya pergi jauh, Gwen tak akan mengganggu hidup kalian lagi." Jawab Edra dengan yakin membuat pasangan suami istri itu tercengang.
"Kau mencintainya?" Tanya Reiz.
"Ya, sudah lama aku mencintainya. Tapi Gwen tak pernah mau melihatku, karena ia begitu tergila-gila padamu." Jawab Edra tatapannya berubah sendu. Sedangkan Rin menatap kedua pria itu dengan bingung.
Edra bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Reiz dan Rin. Tanpa di duga ia berlutut di hadapan mereka.
"Tuan Edra, apa yang kau lakukan?" Tanya Rin yang terkejut mellihat tindakan Edra.
"Aku mohon, bebaskan Gwen. Beri dia kesempatan sekali lagi. Aku sangat mencintainya, sudah bertahun-tahun aku mencari keberadaannya tapi tak pernah berhasil menemukannya." Edra menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku bahkan sampai sengaja membuat ayahnya, Albert Rivers berhutang padaku dan berharap ia akan menyerahkan Gwen padaku. Tapi nyatanya ia malah menyerahkan Rinata yang menjadi penebus hutang saat itu." Ucap Edra panjang kali lebar dengan posisi yang masih berlutut. Reiz dan Rin kembali terkejut mendengar ucapan Edra.
Ketiganya terdiam beberapa saat.
"Tuan Edra, lebih baik kau pergi sekarang. Tentang Gwen, aku akan memikirkannya." Reiz bangun dari duduknya, ia melangkah pergi meninggalkan Edra dan Rin di sana.
"Maafkan aku Nona Rinata atas kejadian beberapa waktu lalu." Ucap Edra masih dalam posisi berlututnya.
* * * * *
"Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya, dia adik kelasku saat kuliah dulu. Setelah menunggu beberapa waktu, aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku padanya, tapi aku malah melihatnya sedang bersama Rexy. Gwen terlihat berlari mengejar Rexy sambil membawa sebuah hadiah. Dan saat itu juga aku tahu kalau Gwen menyukai Rexy, dia bahkan rela melakukan apa saja untuk bisa dekat dengan Rexy. Dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Aku takut kalau Rexy akhirnya memiliki perasaan yang sama dengan Gwen. Hingga aku putuskan untuk berhenti mengejarnya.
Aku tak ingin Rexy menganggapku lagi sebagai seorang perebut. Dulu aku sudah merebut ayahnya, dan sekarang aku tak mau merebut Gwen darinya.
Tapi nyatanya aku salah. Rexy sama sekali tak menyukai Gwen, ia bahkan terlihat begitu dingin dengan Gwen. Bukan hanya dengan Gwen, tapi hampir dengan seluruh wanita yang menyukainya. Rexy terlihat dingin dan tak pernah mempedulikan mereka sama sekali.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengejar Gwen, aku tetap datang ke kampus walaupun kenyataannya aku sudah lulus. Tapi tiba-tiba saja Gwen malah menghilang. Aku sama sekali tidak tahu di mana keberadaannya.
Aku akhirnya melibatkan ayahnya, membuat Albert Rivers berhutang padaku dan berharap ia mau menyerahkan Gwen sebagai penebus hutangnya padaku. Ku akui caraku memang licik, tapi itu satu-satunya cara agar aku bisa memiliki Gwen.
Dan pada saat itu aku sangat marah karena malah kau yang di serahkan Albert padaku. Aku melampiaskan amarahku padamu, hingga hampir melecahkanmu. Maafkan aku.
__ADS_1
Dan terakhir, aku mendapat informasi kalau Gwen berada di dalam penjara karena kasus pembunuhan berencana. Gwen sengaja menabrakmu karena ia marah dan cemburu saat tahu kalau kau sudah menikah dengan Rexy."
Perkataan Edra masih terngiang di telinga Rin. Apa sebegitu cintanya Gwen pada Reiz hingga rela melakukan apa saja, bahkan hampir membunuhnya?
"Reiz, kenapa kau tak bilang padaku kalau Kak Gwen yang melakukan ini?" Tanya Rin, kini keduanya sedang duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku tak ingin membuatmu kepikiran." Jawab Reiz singkat.
"Tapi Gwen kakakku, Reiz."
"Aku bahkan selalu menunggu kepulangannya." Lirih Rin.
"Kau masih menganggapnya kakak setelah apa yang ia lakukan padamu?" Tanya Reiz
"Kenyataannya ia memang kakakku. Terlepas seperti apa hubungan kami, bagaimana perlakuannya terhadapku, Gwen tetap kakakku." Ucap Rin, matanya nampak berkaca-kaca.
"Seandainya aku tahu kalau Kak Gwen mencintaimu, aku akan menolak untuk menikah denganmu..." Lirihnya lagi, membuat Reiz menoleh.
"Tapi aku tidak pernah mencintainya!" Tegas Reiz.
"Dan kau menyesal menikah denganku hanya karena Gwen?" Tanya Reiz tak percaya.
"Reiz, maksudku..." Rin menyadari sepertinya dirinya salah bicara.
"Kau tidak lihat bagaimana Edra?" Sela Reiz.
"Ia begitu mencintai Gwen. Bahkan ia rela melakukan apa saja demi Gwen, dan kau ingin aku menyakitinya dengan menerima Gwen? Apa kau lupa kalau Edra adalah kakakku?" Sorot mata kecewa terlihat jelas di mata Reiz, membuat Rin merasa bersalah.
"Reiz, aku..."
"Tidurlah, ini sudah malam." Potong Reiz, pria itu membaringkan tubuhnya membelakangi Rin.
"Reiz, maaf." Rin memeluk Reiz dari belakang.
"Tidurlah." Ucap Reiz tanpa membalas pelukan Rin.
Keesokan harinya.
"Kau kenapa?" Tanya Tania ketika melihat Rin seolah tak bersemangat. Kini mereka sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapan bersama.
__ADS_1