Reiz And Rin

Reiz And Rin
Kedatangan Edra


__ADS_3

Keduanya kembali ke kamar setelah selesai sarapan. Hari ini hari libur, jadi Reiz tak pergi ke kantor.


"Apa kau ada urusan hari ini?" Tanya Rin. Biasanya suaminya itu selalu saja sibuk walaupun hari libur.


"Tidak, kenapa?" Reiz balik bertanya.


"Apa kau mau mengantarku?"


"Kemana?"


"Ke makam ibuku, aku merindukan ibuku."


"Tentu."


**********


Reiz dan Rin sudah tiba di area pemakaman. Rin berjalan lebih dulu di ikuti Reiz di belakangnya. Area pemakaman itu cukup ramai mungkin karena hari libur.


"Kau mau kemana?" Tanya Rin yang melihat suaminya berbalik arah.


"Aku tak ingin mengganggumu." Jawabnya.


"Kau pasti ingin hanya ingin berdua dengan 'ibumu'." Sambung Reiz.


"Tapi kau jangan pergi jauh-jauh. Aku takut ada yang menculikku." Canda Rin. Reiz tertawa kecil mendengarnya, membuat wanita itu terpana.


"Ya Tuhan, suamiku. Kau tampan sekali jika tertawa seperti itu."


"Sudah cepatlah sana." Reiz menghentikan tawanya.


"Ingat! Jangan jauh-jauh."


"Iya Nyonya."


***********


Pria itu melangkahkan kakinya menuju salah satu makam. Ia duduk di sisi makam dan membersihkan daun kering di atasnya.


"Aunty Marissa, bagaimana kabar Aunty di sana?"


"Semoga Tuhan dan para malaikatnya memperlakukan Aunty dengan baik." Ucap Edra seraya mengusap nisan makam tersebut.


"Apa Aunty tahu? Hubungan Rexy dan Daddy Drake sudah membaik? Kemarin Daddy bercerita kepadaku dan Mommy kalau Rexy sudah memaafkannya. Aku bisa melihat betapa bahagianya Daddy. Aku berharap suatu hari nanti Rexy juga bisa memaafkan ku dan Mommy Eliza dan juga menerima kami.


Aku ingin dekat dengannya seperti saudara pada umumnya. Seperti Rexy dan juga Tomi. Tapi aku hanya bisa melihatnya saja dari kejauhan."

__ADS_1


Edra menghela nafas berat, sudah bertahun-tahun ia ingin dekat dengan adik tirinya tersebut. Tapi tak pernah bisa, bahkan Rexy membencinya sejak awal kedatangannya.


"Dan aku berharap Aunty mau memaafkan aku dan juga Mommy. Karena kamilah penyebab Aunty meninggal."


Edra selalu menyempatkan diri untuk ke makam Marissa, dirinya selalu bercerita dan juga berulang kali meminta maaf. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada Marissa.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Edra tersentak mendengar suara yang sangat di kenalnya. Ia bangkit dari duduknya dan membalikkan badannya. Seseorang berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan dinginnya.


"Ehm, Tuan Rexy anda di sini?" Tanya Edra berusaha mencairkan suasana yang kaku, apalagi melihat tatapan dingin Reiz padanya.


"Apa yang kau lakukan di makam ibuku?" Tanya Reiz lagi. Ia masih menatap dingin pada Edra.


"Aku hanya berkunjung saja." Jawab Edra.


"Tapi sepertinya ibuku tak butuh kunjungan darimu." Jawab Reiz dengan dinginnya. Edra terdiam sambil menatap Reiz, wajar saja jika Reiz masih membencinya.


"Maaf. Aku pergi saja." Baru saja Edra melangkahkan kakinya, Rin datang di antara mereka.


"Reiz, kau di sini?" Tanya Rin membuat pandangan Reiz beralih pada istrinya.


"Tuan Edra?" Gumam Rin pelan. Edra menatap sejenak pada pasangan suami istri tersebut, lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Reiz, kau kenapa?" Tanya Rin yang melihat suaminya diam saja. Ia mengalihkan pandangannya pada makam yang terdapat disana.


"Tidak apa-apa. Ayo kita pulang." Reiz menarik tangan Rin dan membawa istrinya pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan pulang, keduanya kembali membisu, sesekali Rin melirik ke arah Reiz yang kembali memasang wajah datar.


"Ada apa dengan Reiz? Dan apa yang di lakukan Edra di makam Nyonya Marissa?"


**********


Reiz berdiri menatap keluar jendela kamarnya, nampak lampu-lampu dari bangunan yang tinggi menjulang dan juga kendaraan yang lalu lalang menambah keindahan malam. Karena mansion mereka terletak di pusat kota.


Reiz kembali mengingat kejadian tadi siang saat bertemu dengan Edra. Edra yang selama ini di anggapnya sebagai pria yang jahat karena telah merebut Daddy Drake dari ibunya nyatanya tak seburuk pikirannya.


Setelah mendengar semua ucapan Edra saat di makam tadi, Reiz jadi merasa bersalah pada Edra karena selama ini selalu berpikiran buruk pada kakak tirinya itu.


"Kakak?" Bahkan seumur hidup Reiz tak pernah memanggil Edra dengan sebutan 'Kakak' walaupun usia mereka berdua terpaut dua tahun.


Sepasang tangan melingkar di perut pria itu, menyadarkannya dari lamunan.


"Reiz, kau kenapa? Sejak kembali dari pemakaman kau jadi pendiam lagi. Ada apa?" Tanya Rin sambil menyandarkan tubuhnya di balik punggung Reiz.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Bukankah sudah biasa aku seperti ini." Jawab Reiz kembali datar. Rin melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuh Reiz agar menghadapnya. Di tatapnya mata tajam pria itu.


"Apa karena Edra? Dia kakakmu kan?" Tanya Rin membuat Reiz mengerutkan keningnya.


"Kau tahu darimana?" Reiz balik bertanya.


"Mommy Tyas sudah menceritakan semuanya, semua tentangmu." Rin menatap dalam pria itu. Terdengar helaan nafas berat di sana.


"Ya, dia memang kakakku."


"Apa kau membencinya?" Tanya Rin hati-hati. Reiz melangkah membelakangi Rin.


"Ya, pada awalnya aku memang membencinya. Dulu aku berfikir Edra adalah pria yang jahat, karena telah merebut Daddy Drake dari ku. Tapi..." Ucapan Reiz terputus.


"Tapi nyatanya ia tak seburuk apa yang ada di dalam pikiranmu kan?" Rin kembali mendekat, kembali memeluk tubuh itu dari belakang. Merasakan kehangatan dari pria itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Reiz dengan pandangan kosong. Rin melepaskan pelukannya, ia berdiri di hadapan Reiz. Menyusuri wajah tampan itu dengan jemari lentiknya, membuat Reiz memejamkan matanya merasakan sentuhan Rin.


Reiz membuka matanya, meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Dilihatnya Rin yang tersenyum manis padanya.


"Aku rasa, kau sendiri tahu apa yang harus kau lakukan." Jawab Rin, menatap dalam mata suaminya.


Tok... Tok... Tok


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh.


"Masuk saja, tak di kunci." Jawab Rin. Pintu terbuka, nampak seorang pelayan di sana.


"Maaf Tuan Reiz dan Nona Rinata, di bawah ada Tuan Edra William ingin bertemu." Ucap pelayan itu membuat Rin dan Reiz saling menatap.


"Katakan padanya untuk menunggu sebentar." Jawab Rin diiringi dengan senyuman.


"Baik Nona, saya permisi." Pelayan itu undur diri.


"Ayo kita temui 'Kakakmu'." Rin menarik tangan suaminya.


**********


Edra nampak duduk seorang diri di ruang tamu yang luas itu. Sesekali ia menarik nafasnya dalam berusaha menenangkan diri. Ada ketakutan tersendiri dalam hatinya, ini pertama kalinya ia mendatangi mansion Anderson. Bagaimana kalau Reiz menolak kedatangannya? Tapi tadi pelayan sudah memintanya untuk menunggu, itu artinya Reiz mau bertemu dengannya.


Edra bangkit dari duduknya begitu melihat Reiz dan Rin berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat malam, Tuan Rexy dan Nona Rinata." Sapa Edra.


"Malam." Jawab Rin, sedangkan Reiz hanya diam saja.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Tuan Edra." Sambung Rin. Suasana canggung seketika tercipta karena tatapan dingin Reiz tertuju pada Edra.


__ADS_2