
Kau kenapa?" Tanya Tania ketika melihat Rin seolah tak bersemangat. Kini mereka sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapan bersama.
"Iya sayang, ada apa? Apa kau sakit?" Sambung Nyonya Tyas.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Rin dengan senyum terpaksa. Di liriknya Reiz yang tengah menatapnya dengan datar. Sepertinya suaminya masih marah karena ucapannya semalam. Sejak bangun tidur tadi Reiz tak berkata apapun padanya.
"Reiz, kau apakan istrimu?" Tanya Tomi sambil menyenggol pelan lengan Reiz.
"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Reiz dengan datarnya.
"Reiz, apa ada sesuatu yang terjadi? Semalam Edra kemari bukan?" Tuan Mark membuka suara.
"Edra kemari? Untuk apa?" Tanya Tomi. Mereka berempat tak tahu tentang kedatangan Edra semalam karena mereka pergi untuk menghadiri sebuah acara.
"Ya, pelayan bilang Edra datang semalam. Apa yang Edra bicarakan?" Tanya Tuan Mark pada Reiz.
"Edra memintaku untuk mencabut laporanku pada Gwen." Jawab Reiz. Membuat orang-orang di meja makan itu terkejut kecuali Rin. Mereka semua tahu tentang apa yang sudah Gwen lakukan pada Rin, hanya Rin saja yang tak mengetahui tentang itu.
"Apa? Edra memintamu untuk mencabut laporan? Tapi kenapa?" Tanya Tomi.
Reiz akhirnya menceritakan tentang apa yang terjadi semalam, tapi hanya secara garis besarnya saja.
"Jadi Edra mencintai Gwen? Aku bahkan tak tahu soal itu." Tomi sedikit terkejut mendengarnya.
"Ya, aku juga tak tahu soal itu." Lanjut Reiz.
"Kalian ingat bagaimana dulu Gwen begitu tergila-gila pada Reiz? Edra pasti sangat sakit hati ketika melihatnya." Sambung Tania. Sementara Rin hanya menundukkan wajahnya.
"Eh maaf Rin, aku tak bermaksud untuk...." Tania baru tersadar akan ucapannya.
"Tak apa, lagi pula itu sudah lama bukan?" Rin tersenyum menenangkan. Tania tetap saja merasa tak enak.
"Jadi, apa keputusanmu Reiz?" Tanya Tuan Mark.
"Mommy harap kau bisa mengambil keputusan yang terbaik." Sambung Nyonya Tyas. Reiz menatap kedua orang tua angkatnya.
"Aku akan melakukan sesuai dengan keinginan Kak Edra. Ini pertama kalinya ia meminta sesuatu padaku." Jawab Reiz. Tuan Mark lihat mengangguk, dan istrinya tersenyum simpul.
"Uhuk, uhuk." Tomi tersedak makanannya, membuat perhatian semua orang di meja makan berpusat padanya.
"Honey, pelan-pelan." Tania menyerahkan segelas air pada suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih, Baby." Ucap Tomi setelah meneguk air itu.
"Ehm, tadi kau menyebut Edra dengan sebutan apa? Kakak?" Tanya Tomi
"Dia memang kakakku." Jawab Reiz masih dengan mode datarnya.
"Sejak kapan kau mengakui kalau Edra adalah Kakakmu?"
"Sejak kemarin. Kenapa? Apa ada yang salah?" Reiz balik bertanya.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Kau dengan mudahnya memanggil Edra dengan sebutan kakak?'' Tanya Tomi seakan tak terima.
"Karena Edra memang Kakakku." Reiz mengulang perkataannya. Tanpa peduli ekspresi kesal Tomi.
"Kau bisa memanggil Edra dengan sebutan kakak, tetapi tidak denganku? Mulai sekarang kau harus juga memanggilku dengan sebutan kakak." Ucap Edra tak mau kalah.
"Kau atasanku, Tuan." Reiz menolak.
"Reiz..." Geram Tomi. Tania dan Rin berusaha menahan tawa melihat wajah kesal Tomi.
"Astaga, kalian ini kenapa ribut hanya karena panggilan?'' Nyonya Tyas kembali menjadi penengah.
"Reiz, sebaiknya kau turuti saja permintaan Tomi." Sambungnya sambil menggelengkan kepala.
**********
Reiz melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di sisinya ada Rin yang duduk sambil memainkan jarinya.
"Reiz, apa kau masih marah?" Takut-takut Rin bertanya, ia bahkan tak berani menatap mata tajam suaminya.
"Marah untuk apa? Apa kau fikir aku masih punya hak untuk marah?" Jawaban Reiz terdengar dingin.
"Reiz, maksudku..."
"Sudahlah, tak perlu di bahas lagi." Potong Reiz. Rin menghela nafas berat, tak seharusnya ia berucap seperti itu semalam.
Mobil mereka berhenti di kantor polisi, nampak Edra sudah berada di sana.
"Selamat datang Tuan Rexy." Sapa Edra yang sudah berdiri di depan kantor polisi menunggu kedatangannya.
Reiz hanya mengangguk, sementara Rin menyambutnya dengan senyum. Ketiganya melangkah memasuki tempat itu
__ADS_1
"Tuan Rexy sebelumnya aku mau berterima kasih karena kau mau bersedia untuk memenuhi permintaanku, aku berjanji akan membawa Gwen pergi jauh agar ia tak mengganggu kalian lagi. Aku akan memulai hidup baru dengannya." Ujar Edra dengan tulus. Mereka sedang berada di ruang tunggu menunggu kedatangan Gwen.
"Kemana kau akan membawa Gwen?" Tanya Reiz.
"Aku akan membawanya keluar negeri. Aku juga akan memulai bisnis baru, aku tak mau selalu bergantung pada Daddy Drake."
"Kau mau meninggalkan orang tuamu?" Tanya Reiz terlihat terkejut akan rencana Edra.
"Ya, sepertinya begitu. Aku ingin menjadi anak yang mandiri, tak lagi bergantung pada orang tuaku."
"Lalu bagaimana dengan Daddy dan Mommy mu?'' Tanya Reiz. Terdengar helaan nafas berat dari Edra sebelum menjawab pertanyaan Reiz.
"Bukankah Daddy masih memiliki seorang anak yang lain?" Edra balik bertanya.
"Dan aku rasa, kau yang lebih berhak atas semua yang Daddy miliki. Kau anaknya dari pernikahannya yang sah, tak seperti aku. Aku hanyalah seorang anak yang terlahir tanpa ikatan pernikahan. Walaupun kedua orang tuaku sekarang sudah menikah, tapi statusku tetaplah sama." Lanjut Edra, terlihat jelas kesedihan di matanya. Reiz hanya terpaku, tak pernah ia terpikir tentang itu semua. Sementara Rin hanya jadi pendengar yang baik, menyimak percakapan mereka berdua.
"Reiz, Rinata, Edra?" Ketiga orang itu mengalihkan pandangan.
"Kak Gwen?" Rinata bangkit dari duduknya, menatap Gwen yang nampak berbeda.
"Kak Gwen kemana saja? Aku sangat merindukan Kakak." Rin tak segan memeluk Gwen, sementara Gwen hanya diam mematung.
"Kakak baik-baik saja?" Rin melepas pelukannya, Gwen tak menjawab, ia menatap Rin dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Gwen, duduklah." Edra membuka suara.
Gwen duduk di antara Edra dan Reiz, wanita itu menundukkan wajahnya sambil memainkan jari-jarinya di bawah meja, ia terlihat gugup.
"Kenapa mereka bertiga datang menemui ku? Apa yang akan mereka lakukan padaku?" Batin Gwen.
"Gwen Caroline Rivers, aku mencabut laporanku. Hari ini kau akan bebas." Ucap Reiz sambil menatap dingin pada Gwen. Wanita itu mengangkat wajahnya.
"Kau mencabut laporanmu?" Tanya Gwen tak percaya.
"Ya, aku mencabut laporanku karena permintaan Tuan Edra."
Gwen mengalihkan pandangannya pada Edra. Seolah bertanya kenapa pria itu meminta Reiz untuk membebaskannya. Tapi Edra hanya tersenyum menanggapi.
"Ku harap kau tidak lagi mengulangi lagi kesalahanmu. Aku mencintai Rinata, jadi jangan pernah kau mengganggunya lagi." Reiz bangun dari duduknya di ikuti Rin.
"Dan jangan jadikan pengorbanan Kakakku menjadi sia-sia." Sambungnya seraya menggenggam tangan Rin.
__ADS_1
Hati Gwen terasa sakit melihatnya, ia sudah tidak mungkin lagi bisa meraih pria yang sudah lama dicintainya itu.